
Dahulu kala, saat awal mula peperangan itu terjadi...
Saat Sean mengetahui bahwa Tuan Valheins berbuat curang padanya, saat pria muda itu mulai mengetahui betapa liciknya pikiran Valheins mengenai putri yang baru saja dilahirkan oleh istri tercintanya..
"Tidak! Jangan bunuh dia!!!"
Swosh!
Blam!!
Dia merebut putrinya yang baru saja keluar dari rahim Riyana, dan kemudian mendekapnya dengan penuh kehangatan. Namun tatapan mata pria di depannya, sangatlah dingin, sedingin es.
"Apa yang ingin kau lakukan, Tuan Valheins?"
"Aku menginginkan putrimu!"
Peperangan terjadi. Pada saat itu, di tengah-tengah peperangan yang ganas dan juga dipenuhi kebencian, datanglah Wilmer sesaat setelah mendengar pertengkaran itu dari kejauhan, dan dia menjadi begitu cemas, karena kilatan petir itu menyambar ujung istana Valheins, menandakan akan adanya badai kehancuran pada dunia ini.
Dia mendekat, hanya seorang diri, tidak bersama Collab, atau pun bersama istri dan anaknya. Dia mencampuri urusan pertengkaran itu, sampai pada akhirnya, Sean melihat kedatangannya.
Swosh!
Sean melempar anaknya pada Wilmer, tanpa aba-aba.
"Bawa dia pergi dari sini!"
Tring!
Wilmer yang gelagapan hanya bisa berlari dari sana dengan membawa putri dari Tuan besarnya menuju ke arah pemukiman. Namun saat dia telah tiba di pemukiman, Collab dan ribuan pasukannya lebih dulu menghadapi kesulitan dengan penyerangan tiba-tiba yang dilakukan oleh rombongan vampir.
Dia hanya bisa bersembunyi, menyelusup ke dalam rumahnya, dan berusaha untuk menyelamatkan istri dan juga anaknya dari sana.
"Sekarang kita harus pergi." Ucap Wilmer pada sang istri, yang pada saat itu masih setia bersembunyi dengan menggendong putra kecil berusia enam bulan dalam dekapannya.
Sang istri hanya mengangguk saja, lekas saja mereka semua pergi dari pemukiman, dan mengarah ke arah hutan lebat.
Tanpa diduga, Valheins dan Sean malah menyusul mereka. Valheins yang tampak mengejar demi bisa mendapatkan Alexa kecil dalam dekapan Wilmer, dan Sean yang terus berusaha menggagalkan pengejaran Valheins.
Semua pada malam itu teramat kacau. Sampai akhirnya Sean sendiri yang mengambil sebuah keputusan berat dalam hidupnya. Di tengah-tengah pertempurannya melawan Valheins, dia secara diam-diam membuka gerbang menuju dunia manusia, dan kemudian kekuatan pada gerbang itu, menyedot istri dan anak Wilmer ke dalamnya, sementara Wilmer malah terjebak karena Valheins menggagalkan aksinya untuk pergi ke dunia manusia.
"Aku tidak akan membiarkan kamu pergi!!" Ucap Valheins sembari menahan kepergian pria itu.
"Aaaaaaaaa!!!"
Tak mau membahayakan bayi dalam dekapan tangannya, Wilmer akhirnya membuat keputusan sulit. Dia menatap Sean yang pada saat itu tengah berusaha keras menahan Valheins dengan pedangnya.
Dan Sean pun menatap kedua matanya, menganggukkan kepalanya dengan yakin, lalu pada akhirnya..
Swosh!!
Alexa yang kecil dan mungil akhirnya Wilmer lemparkan ke dalam sungai, yang mengalir pada dunia manusia..
Blussss
"Tidak!!!!!!!"
Teriak Valheins melihat satu-satunya harapannya, harus terlempar dan mengalir ke dunia manusia. Sedangkan dia sendiri tidak bisa masuk ke sana, bukan karena dia tak berani, hanya saja, dia bukan ditakdirkan untuk masuk ke dunia itu, selama dia belum mendapatkan kekuatan abadi dalam jantung Alexa.
Dia yang kesal dan geram pada akhirnya mencoba menggunakan kekuatan dalamnya untuk mencekik leher Wilmer, dan mengangkat tubuh itu tinggi-tinggi, meskipun pada saat yang sama, dia pun tengah mencoba menahan serangan dari Sean.
"Arkh!!"
"Wilmer!" Teriak Sean melihat sang sahabat terluka.
"Tidak akan aku biarkan kau hidup tenang! Sebelum kau mendapatkan seratus nyawa yang masih suci, kau tidak akan kembali pada wujudmu yang seperti ini!!"
Tampak dengan jelas satu tangan Valheins yang lain melemparkan sesuatu pada wajah Wilmer, lalu mendadak petir bergemuruh, menurunkan hujan yang sangat besar pun juga lebat.
Dan sejak saat itu, tubuh Wilmer pun mulai bereaksi.
"Aaaaaaaaa!!!!!!!"
Pria itu berteriak keras, saat sebuah kekuatan terasa menusuk ke sekujur tubuhnya, dan kemudian, sebuah perubahan pun terjadi padanya, bersamaan dengan sekujur tubuhnya yang tersedot masuk ke dalam dunia manusia.
"Tidak!!!!!!!!"
Sling!
Dia membuka kedua matanya, sang istri tengah mengelus kepalanya yang terluka parah dan berdarah-darah. Dia melihat dengan jelas, sang istri yang tengah menangis dan terus mengusap wajahnya yang tampak.
Aneh!
Sementara sang putra terlihat dibaringkan di atas rumput di pesisir sungai, tanpa mereka pedulikan.
Segera dia bangkit, dan kemudian menatapi sekujur tubuhnya, lalu terkejutlah dia.
"Aku... Aku..." Ucapnya terbata-bata.
"Iya, aku tahu, tidak apa-apa, kau baik-baik saja, tidak apa-apa.." ucap sang istri berusaha untuk menenangkan dirinya.
Dia kemudian ingat akan suatu hal. Dia melihat ke segala arah, dan kemudian, menyadari akan sesuatu yang terasa hilang.
"Dimana bayi Sean? Dimana bayi itu?" Tanya Wilmer pada sang istri.
"Sean, saat aku bangun, bayi itu sudah tidak ada, hanya ada kamu, selain kamu tidak ada orang lain.."
Alexa tampak menganggukkan kepalanya, pertanda dia mengerti akan cerita masa lalu yang tengah diceritakan oleh Wilmer padanya, bahwa mereka pernah melalui semua hal mengerikan di masa lalu mereka.
"Dan setelah itu, apa yang terjadi sama ayahku?" Tanya Alexa pada Wilmer dan Collab, di sana juga disaksikan oleh Shaga.
"Sayang sekali, kami tidak ada yang tahu bagaimana nasib Sean selanjutnya," jawab Collab dengan mengecewakan.
"Sebenarnya Linstain dan Gabriell pernah bercerita tentang itu padaku, Shaga juga, tapi kenapa cerita mereka lain dari yang aku dengar sekarang?" Tanya Alexa pada mereka semua.
"Hemm," untuk memulai penjelasan, Shaga memang terlihat sedikit gugup, "ya, sebenarnya ayah dan ibu tidak pernah bercerita soal kejadian itu padaku." Ucap Shaga dengan canggungnya.
"Jadi maksud kamu, kamu tahu itu dari Linstain dan Gabriell?" Tanya Alexa lagi, agaknya dia benar-benar akan kecewa dengan jawaban Shaga nantinya.
Dan memang benar, Shaga hanya terlihat mengangguk saja, dan seketika raut wajah Alexa berubah menjadi kecewa.
"Huhh! Sudah aku duga!"
"Kenapa kau ingin tahu tentang kematian ayah kamu?" Tanya Collab pada Alexa.
Sejenak Alexa berpikir, ingin sekali memberitahu kejadian aneh yang dia alami dengan monster itu. Tapi, dia akhirnya memilih untuk tetap diam, dia tak mau membeberkan semua ini pada mereka, mungkin ada baiknya dia menyimpannya sendiri, atau bersama Arsello.
"Tidak apa-apa, hanya bertanya." Jawab Alexa lalu setelah itu, dia tampak berdiri, "sudah malam, aku mau istirahat, kalian bisa pulang." Sambung Alexa kemudian dia mulai bergerak meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam rumah kecil milik sang paman.
*Dibanding mengatakan semuanya sekarang, apa gunanya jika aku masih belum menemukan bukti apapun*..
"Ya, sebenarnya ini rumahku, apa aku juga harus pulang?" Tanya Collab dengan kecewa.
"Pulanglah ke rumah kami, bukankah kau juga nyaman tinggal di sana?" Tanya Wilmer sambil merangkul pundak sang sahabat.
"Aku agak malas mendengar dengkuran kamu," ucap Collab dengan menyedihkan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dia tampak berdiri mengawasi Alexa dari atas tebing. Sementara itu, sang gadis masih terduduk berdiam di atas bebatuan, di tengah-tengah air sungai yang mengalir dengan deras.
Gadis itu masih terlihat memejamkan matanya, dan berusaha untuk fokus dalam semedi nya.
Namun dia tidak lalai. Kedua telinganya yang mampu menangkap suara dari jarak seratus mil sekalipun, dia awaskan, karena dia tahu, bahaya akan selalu datang padanya, termasuk pada saat dia berdiam diri.
Bless!
Benar saja, suara tapak kaki yang melompat dari atas tebing dan kemudian berada di pesisir sungai terdengar pada kedua telinganya, setelah sebelumnya dia mendengar suara angin yang meniup rambut pria itu.
Pria itu terlihat mendekat ke arahnya dengan perlahan, dan kemudian berdiri tepat di hadapan Alexa.
"Mau apa kamu?"
Pertanyaan Alexa di tengah-tengah acaranya itu membuat Arsello tercengang, dan kemudian tertawa terkekeh.
Ahahaha...
"Rupanya kau tahu aku akan datang." Ucap Arsello pada gadis di depannya.
Alexa tampak membuka kedua matanya, dan kemudian mengakhir acara semedinya. Dia kemudian terlihat bergerak mendekat ke arah Arsello, dan menatap pria yang bisa saja dia sebut sebagai paman itu dengan tatapan datar.
"Apa kau sudah menemukan sesuatu?" Tanya Alexa tak mau basa-basi.
"Ada satu hal yang harus kamu tahu, dan aku cemas, Shaga juga terlibat." Ucap Arsello membuat tatapan mata Alexa beralih tajam.
Sementara itu, dari kejauhan, tampak Shaga yang tengah berdiri mengawasi mereka dari balik semak-semak. Dia menatap kedua insan di pesisir sungai, dengan mata emasnya, dan juga dengan rasa cemburunya.
Dia mengepalkan kedua tangannya dengan erat, tidak suka sekali rasanya saat melihat Alexa dan Arsello bersama-sama, apalagi, keduanya terlihat begitu dekat.
Bukk!
Dia tampak geram melihat kedekatan yang terjalin antara Alexa dan Arsello di depan mata. Entah mengapa sejak awal dia memang tidak menyukai gerak-gerik Arsello terhadap Alexa, dan karena itulah, dia mulai menyadari ada sesuatu yang aneh mengenai Arsello.
*Sialan! seharusnya dia tidak begitu dekat dengan Alexa*!!
Entah mengapa dia menjadi begitu pemarah, padahal sebelumnya dia tidak terlalu pemarah seperti ini. Ada yang berubah juga dari dirinya, entah apa itu, yang pasti, dia menjadi semakin kuat dan juga semakin tidak mau dikendalikan.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
"Sialan! sekarang serigala itu hilang! dan dia juga bermutasi, bagaimana aku bisa mendapatkan dirinya kembali?" pria itu tampak dibuat pusing dengan rencananya sendiri yang gagal total.
Ia bahkan terlihat sangat cemas di atas singgasananya, yang bahkan kini berdiri di tengah-tengah kekacauan kota. Sementara, Arsello yang biasa dia gunakan untuk kaki tangannya, sekarang pria muda itu telah memilih untuk pergi darinya, dan itu artinya, dia harus melakukan semuanya seorang diri.
Dia yang meminta para prajuritnya untuk membobol dinding dalam sel tahanan yang ditempati oleh serigala itu, dan membiarkan hujan deras masuk melalui lubang-lubang dindingnya.
Pada mulanya dia berencana untuk menaklukkan semuanya dengan menggunakan monster itu. Tapi dia bahkan tidak pernah menduga, kalau Shaga juga ikutan bermutasi di sana.
Sekarang monster tawanannya hilang, bersamaan dengan kekuatan yang sangat kuat dalam tubuhnya. Jika serigala itu menjumpai orang yang tepat, maka dia harus bersiap-siap untuk keadaan penuh ancaman.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...