
~Happy Reading~
“apa itu tadi mama?” tanya Alexa yang telah duduk sembari menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“iya, mama menanyakanmu” Devan meraih telapak tangan Alexa dan meggenggamnya erat,
“hmm, aku juga merindukannya kak”
“yach, tapi untuk saat ini sebaiknya mama tidak mengetahui permasalahan yang terjadi, atau mama akan sangat khawatir dan malah terlihat panik”
“iya kak, sampai kapan situasi ini akan berakhir kak?” Alexa mengehela nafas,
“secepatnya kita bereskan masalah ini, kakak juga ga mau kita terus bersembunyi”
“iya ka, Exa juga tak mau masalah ini berlarut-larut, kalau memang aku bisa keluar untuk memancing mereka, apa kakak dan team kakak siap untuk menangkap mereka?” Alexa menolah menatap sang kekasih yang menatapnya penuh rasa khawatir
“tentu, tapi tidak untuk saat ini”
Devan pun menjelaskan secara garis besar rencana yang telah ia susun bersama teamnya, dan tentu saja rencana itu akan melibatkan Alexa sebagai pemeran utama, hanya saja untuk saat ini mereka masih belum bisa melakukannya karena masih menyelidiki seberapa besar jaringan yang dihadapi, dan lagi pula kondisi Alexa yang belum sepenuhnya pulih.
“kita juga perlu menyelidiki motif Hadi melakukan pembunuhan kepada papa mama dan menyerangku kembali kak”
“tentu, sudah ada sidikit titik terang dari motifnya, kami masih mencari keluarga Hadi yang dulu di amankan meraka”
“kenapa masalah ini begitu pelik ya kak?” ungkap Alexa kembali menghela nafas kasar
“tenanglah, kita akan segera menyelesaikannya”
“ya, Exa juga ingin hidup tenang kak, apalagi Kak Joe yang selama ini Exa cari sudah pulang”
***
Keesokan harinya bibi Ratih sudah beraktivitas seperti biasa di rumah om Ardian, yaitu menyiapkan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga. Aktivitas yang beberapa hari ini sangat dirindukannya, akhirnya dapat kembali ia kerjakan setelah pindah ke rumah Joe.
“bibi sudah siapkan semua?” tanya tante Rasty saat melihat sang asisten rumah tangganya sibuk menata makanan di meja makan.
“sudah bu, bibi merasa bersemangat, jadi tadi bangun lebih awal untuk masak” ucap bibi dengan sangat antusiasnya. Senyumnya tak luntur dari awal bangun hingga saat ini menyiapkan hasil masakannya.
Tante Rasty pun terkekeh mendengar ucapan bibi, beberapa hari terkhir memang semua kegiatan yang biasa dilakukan bibi Ratih sudah dikerjakan orang-orang Devan, jadi bibi hanya berpangku tangan dan dilayani seperti yang lainnya.
“bu Rasty mau disiapkan teh atau susu?”
“biar saya yang buat minuman untuk semuanya bi, bibi siapkan piring saja”
“oke bu, siaapp”
“wah, bibi masak banyak benget ini?” takjub Rayhan saat melihat begitu banyak menu makanan di meja
“hehe, iya mas, bibi semangat banget masak hari ini, eh ga taunya jadi sebanyak ini”
“wah bibi kangen masak ya, makanya dilampiasin sekarang” goda Alexa kemudian terkekeh melihat tingkah bibi Ratih,
“iya mb, bibi seneng bisa masak gini lagi, bibi seneng kita pindah ke sini, maaf ya mas Devan, bukannya bibi ga seneng tinggal di tempat mas Devan kemarin, tapi kemarin bibi ga bisa ngapa-ngapain di sana”
Semua orang menatap bibi dengan tersenyum lebar, kalau orang lain mungkin akan merasa senang karena hanya duduk saja semua keperluan dilayani, tapi tidak dengan bibi Ratih, melakukan pekerjaanya malah membuatnya senang.
“gapapa bi, maaf ya kalau kemarin malah bikin bibi ga nyaman," ucap Devan sembari duduk di samping Alexa, "yach, kalau gitu mulai sekarang bibi bisa melakukan kegiatan yang bibi mau, tapi untuk keperluan belanja keperluan, tetep tidak bisa sembarang keluar ya bi” lanjut Devan memberikan batasan.
“siap mas, yang penting bibi bisa ngepel sama masak”
Semua orang kembali terkekeh mendengar ucapan bibi Ratih, setelah candaan menggoda sang bibi, mereka pun melanjutkan sarapan mereka dan menghabiskan menu makanan yang telah disiapkan.
“Ya Allah bi, lama-lama Ray gendut kalau makan gini tiap hari” keluah Rayhan sambil mengelus perutnya yang kekenyangan, bagaimana tidak kenyang, Rayhan menghabiskan dua piring nasi untuk sarapan kali ini, karena kebetulan makanan yang dimasak adalah menu kesukaannya.
“iya lah bakal gendut, sepagi ini aja udah habis dua piring” cibir Joe yang sedari tadi memperhatikan sang sepupu,
“abis bibi masak banyak, kalau ga habis kan sayang, siapa yang akan menghabiskan?"
“alah, bilang aja masakan bibi enak” timpal Alexa
“hehe, bener Xa, masakan bibi memang tidak ada duanya” Rayhan mengangkat kedua jempol tanganya membuat bibi tersipu malu karena di puji.
Candaan dan tawa menghiasi meja makan pada pagi kali ini, sambil menemani bibi dan tante Rasty yang memberesi bekas makan mereka, semuanya turut mengobrol dan sesekali menggoda Rayhan yang masih duduk bersandar karena kekenyangan.
“hari ini Devan akan pergi dulu kak, ada beberapa hal yang harus Devan urus, rumah ini sudah di jaga beberapa teman Devan” ucap Devan kepada sang kakak setelah semuanya meninggalkan meja makan, kecuali mereka berdua.
“ya, kakak harap masalah ini segera diatasi”
“ya semoga kak, nanti Devan juga akan mengambil ponsel kalian dulu”
“oke, kakak tunggu kabar baiknya”
Devan pun meninggalkan kediaman Joe yang baru saja di tempati, setelah berpamitan dan memberikan wejangan kepada sang kekasih.
Tbc
Terimakasih atas dukungannya 😍😍😍