
"Semua ini akan segera berakhir, Tuan Valheins!" Ucap Arsello pada pria tua yang tengah melawannya dengan pedangnya yang gagah berani.
"Heng! Tidak semudah itu jika ingin mengalahkan aku!" Balas Valheins tidak mau kalah.
"Tapi kau melupakan aku di sini!" Sahut Alexa menimbrung pada perbincangan mereka berdua.
Ketiganya masih sibuk menikmati pertandingan di arena lapangan.
Namun mendadak pedang Valheins menyentuh perut Arsello, dan kemudian seketika senyum menyeringai di bibir Valheins.
"Arkh!" Pekik Arsello mendapati pedang Valheins yang semakin dalam menghujam bagian perutnya.
"Paman Arsello!!" Panggil Alexa.
Gadis itu berniat mendekat ke arah Paman Arsello dan ingin membantunya meski hanya untuk sekedar berdiri, namun mendadak sebuah kekuatan menjerat dirinya untuk tidak bisa bergerak dari tempat berdirinya pada saat itu.
Trang!
"Arkh!" Dia pun memekik dan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, sayang sekali, kekuatan Valheins yang menjerat tubuhnya nyatanya terlalu kuat.
"Ha.. ha. Haa... Paman Arsello? Wah, sepertinya hubungan antara paman dan keponakan menjadi semakin baik, ya?" Tanya Valheins berbasa-basi.
Di tangannya pedang semakin dia hujamkan lebih dalam lagi ke perut Arsello, membuat Arsello memekik merasa dirinya hampir mati untuk yang kedua kalinya.
"Ck, ck, ck, spertinya cucuku lupa kalau dia adalah pria yang menodai ibunya selama dua puluh tahun terkahir." Ucap Valheins sembari menjerat dua pasang paman dan keponakan itu dengan sangat keji.
"Lihatlah kalian ini! Sangat lemah dan tidak punya kelebihan apapun!"
Mendengar perkataan Valheins barusan, Alexa menjadi sangat marah. Dia yang kesal dan geram hanya bisa mencoba untuk mengendalikan Valheins dari dalam jeratan kekuatan itu.
Ia menggerakkan tangannya, dan kemudian mengarahkannya ke arah pernah Valheins.
"Tidak seperti yang kau lihat, kakek tua!!"
Swosh!
Trang!
Pedang pun berhasil dijatuhkan, menyingkir dari tangan Valheins, dan mulai terjatuh ke lantai dengan sendirinya.
Dan akhirnya Arsello pun berhasil lepas dari tusukan pedang Valheins.
"Dasar anak ingusan!" Umpat Valheins pada Alexa, dan karena umpatannya itu, dia pun jadi mengalihkan perhatiannya dari Arsello.
Arsello segera mengambil kesempatan tersebut. Dia menyingkir dari tempat dia terkapar, meski dengan sangat lemah dan juga tidak terlalu gagah. Dia akhirnya menggapai pedangnya kembali, dan menusukkannya ke arah Valheins.
Niatnya pada awal.
Sayang sekali, Valheins malah lebih dulu menyadari tindakannya itu.
"Aku akan membalas dendamku dan dendam orang tuaku!" Gumam lirih Arsello.
Sayang sekali gumaman lirihnya itu nyatanya masih terdengar di telinga Valheins.
Hiyaaaaa!!!
Bless!
Dan pedang dalam genggaman tangan Arsello yang semula dia arahkan kepada Valheins, nyatanya arah pedang itu harus berbalik haluan, menusuk perut Arsello, dan kejamnya lagi, dia juga mencabik daging-daging tuannya sendiri tanpa ampun.
"Arsello!!" Teriak Alexa kencang, sayang sekali, dia masih dalam jeratan Valheins.
Brukk!
Pria itu nyatanya ambruk sebelum membalaskan dendam di dalam hatinya atas kematian kedua orang tuanya, dan dendam karena dia pernah dibunuh oleh pria tua ini.
"Heng! Lihatlah! Senjata makan tuan!"
Sementara di luar sana tampak kehadiran bangsa serigala untuk memulai peperangan melawan anggota vampir. Perang yang akan melibatkan dua kelompok dari bangsa serigala, yang berjuang maju ke depan melawan bangsa vampir.
Jika sebelumnya pertempuran sengit pernah terjadi dan hampir menghabiskan nyawa separuh dari kelompok vampir, maka kali ini agaknya kejadian serupa akan kembali terulang.
Bahkan di barisan paling depan tampak Wilmer dan Collab yang bersatu menjadi pemimpin yang sangat kuat memimpin barisan ribuan anggota serigala.
Mereka tampak gagah berani menapakai tanah basah yang telah dikuasai oleh bangsa vampir, tanah yang basah dan mengeluarkan suara decakan jika sampai kaki melangkah memijakinya.
"Lihatlah, Wilmer! Medan pernah sudah siap!" Ucap Collab pada sahabat karibnya.
Namun Collab hanya melongo saja. Dia terlihat menganggap remeh peperangan ini, "aku bahkan masih belum menikah, lucu sekali!"
Swosh!
Mendadak seorang wanita dari kubu vampir mendekat dengan kecepatan 100 km per jam ke arah Collab, lalu melingkarkan kedua tangannya di pundak Collab.
"Ouch.." pekik Collab agak terkejut dibuat wanita vampir itu.
Sementara Wilmer hanya bisa menarik garis senyuman di bibirnya saja menanggapi ekspresi Collab yang baginya itu sungguh sangat lucu.
"Hei, pria tangguh, kau datang di saat yang tepat."
"Ya, kau pula datang diwaktu yang sangat tepat, ingin berkencan denganku?" Tanya Collab pada wanita itu membual secara langsung, "sepertinya kau memang jodohku, datang saat aku bergumam." Sambung Collab sambil tersenyum.
"Oh ya?" Membelai dada Collab, lalu berlari ke arah leher Collab.
Humm! Aroma khas serigala mulai menusuk.
"Humm, berpaa usia kamu?" Tanya Collab sekedar basa-basi.
Semua serigala di sana tampak jenuh. Sebenarnya ini awalan pernah yang baru di era modern seperti ini. Mungkin Paman Collab akan segera mencetak sejarah.
"Umm." Masih meraba bagian leher Collab, "kenapa kau malah bertanya usiaku?" Tanya wanita itu masih setengah menggoda.
"Karena aku tahu vampir selalu berusia tua di banding dengan wajahnya." Jawab Collab.
"Usiaku.." wanita itu menyunggingkan senyuman, "seratus enam puluh lima tahun.." berbisik di telingan Collab dengan sangat nakal.
"Ugh!" Collab meleyotkan bibirnya, "kau seusia dengan nenek moyangku.."
"Oh? Benarkah?"
"Ya," jawab Collab.
"Hey, kalian! Jika mau bercinta, pergilah dulu dari sini, hari ini kami mau berperang, kenapa kalian malah membuyarkan niat kami semua?" Tanya Wilmer tampak jenuh menunggu perkenalan awal antara Collab dengan wanita dari kubu vampir.
"Ya, kau benar, tapi..." Wanita itu berlagak seperti kucing yang kehausan, "aku mau berperang dan bercinta dengannya di sini.."
Roammmmm!!
Mencekik!
Menekan tubuh wanita itu di bawah tekanan tubuhnya!
"Ak! Aku! Lepaskan!" Pekik wanita itu gagal menyerang Collab.
"Yeah, kau terlihat sangat manis, sayang sekali, sudah aku bilang, usia kamu jauh lebih tua di banding nenek moyangku," ucap Paman Collab dengan gaharnya.
"Tuan, aku mohon, lepaskan aku, biarkan aku melayanimu untuk sekali saja, biarkan aku.." mohon wanita tersebut.
Wanita itu bahkan masih berpikir bisa mengelabui Collab dengan wajahnya yang cantik dan juga manis. Dia pikir jika dia bisa menjebak Collab dalam balutan kenikmatan, maka kelompok serigala akan jauh lebih mudah untuk dikalahkan.
Sayang sekali, baru saja dia memulai aksi liciknya, Collab sudah lebih dulu mengendus bau-bau kebohongan. Ya, penipuan memang akan selalu tercium dengan jelas meski pelakunya berhasil menutupinya dengan serapat mungkin.
Lagipula tidak semua pria jomblo sampai usia tua itu artinya pria yang bodoh dan bisa dengan mudahnya tergoda hanya dengan jilatan lidah wanita, ada kalanya wanita itu sendiri yang akan terlihat bodoh di hadapan pria semacam itu.
"Sayang, kau begitu tampan, kau sangat baik, biarkan aku masuk ke dalam kelompok kalian..." Makin meraba dengan liar dada Collab yang telah setengah tersingkap.
Namun Collab tidak tergoda. Dia hanya membiarkan wanita ini sedikit saja bermain lagi di hadapannya, bukankah menikmati tontonan gratis adalah sesuatu yang sangat diharapkan?
"Apa-apaan kau ini," namun sahabat baiknya tampak marah melihat kelakuannya itu.
"Tenang saja Tuan Wilmer, aku tidak suka nenek tua yang berwajah anggun." Jawab Collab.
"Tapi kau hampir tergoda sialan!"
"Tidak! Jangan pukul aku!" Pekik wanita vampir itu saat menyadari Wilmer yang berusaha untuk mendekat dan memukuli dirinya menggunakan tongkat besi, "tuan, aku mohon! Jangan bunuh aku! Tubuhku, tubuh cantik ini akan memuaskan dirimu, kalian berdua boleh menikmatinya.." ucap wanita itu tanpa basa-basi.
Mendengar ocehan wanita itu, Collab memiringkan senyuman di bibirnya, "sayang, aku lebih suka bermain penggal kepala dibanding bermain di atas ranjang, maafkan aku sayang!" Ucap Collab pada wanita itu.
"Tidak, tuan! Aku mohon! Anda pasti tidak akan menyesal menyelamatkan aku!" Pinta wanita itu lagi.
"Sayang sekali, tidak ada pengampunan."
"Tidak!"
Melihat sebilah pedang mengkilat mengarah dekat ke arah dirinya.
"Tidak!!"
"Tuan!!"
Semakin dekat kilatan pedang itu.
"Tidak!!!!!"
Crasssss!!
Blussss!!!
Dan wanita itu terbakar setelah kepala dan badannya terpisah menjadi dua bagian oleh pedang milik Collab. Alhasil tongkat besi kebanggan Wilmer pun pada akhirnya harus berakhir kelaparan.
Collab bangkit dari kungkungannya, tak mau juga api yang membakar vampir tua nan cantik juga menghanguskan dirinya.
"Huhh! Sayang sekali kau begitu tua, aku tidak suka mengencani nenek-nenek." Ucap Collab dengan nada bercanda.
"Baiklah, Nak! Lain kali akan aku ajak kau bermain wanita, tapi sekarang, mari kita bermain pedang lebih dahulu," ucap Wilmer sambil menunjukkan ribuan anggota vampir di depan mata yang sudah siap dengan pertempuran itu, "huhh! Kau harus berlatih pemanasan!"
Hiyaaaaaa!!
Wilmer melangkahkan kakinya lebih dahulu, memimpin para pasukan di belakang maju ke depan ke arah pada vampir itu menunggu kehadirannya.
"Hei! Apa pemanasan malam pertama memang seperti ini?" Teriak Collab di tempatnya, dia bahkan masih belum juga bergerak dari tempat berdirinya meski para pasukan sudah maju ke depan lebih dulu.
Dia tidak mendengar jawaban apapun dari Wilmer. Hanya kemudian suara pedang yang terdengar bersahut-sahutan membuat suara bising dan mengerikan di kedua telinganya.
"Hahh! Aku tidak yakin memang begini pemanasannya!" Ragu namun memegang pedangnya dengan sangat erat, "tapi aku memang harus mencobanya!"
Hiyaaaaaaa!!
Dia pun menyusul maju ke depan, menyerang dan membantu Wilmer mengalahkan pasukan lawan. Api dinyalakan olehnya, dengan kilatan pedang yang membara terlihat sebuah keberanian pada pedangnya yang mengkilat itu.
Rambutnya yang keriting panjang, dengan jenggot tebal pada bagian dagunya seperti punya Wilmer, dia bahkan terlihat seperti pejuang tangguh yang telah lama pensiun, dan akhirnya harus memaksakan diri untuk kembali masuk ke dalam arena pertandingan.
Ya, itulah Collab, paman yang hangat namun juga bisa jadi pria yang sangat kasar saat menghadapi musuhnya. Dan sekarang keberanian itu memang benar ada, yaitu saat dia disadarkan oleh kehadiran seorang gadis yang baginya terlihat sangat lemah di hadapan mata, tapi ternyata, gadis itulah yang membuat dirinya kembali bertempur melawan ketidakadilan.
Dan gadis itu sekarang juga tengah berusaha untuk menjatuhkan Valheins.
Dia tampak sendirian setelah Valheins menjatuhkan Arsello dengan pedangnya yang sangat ganas dan juga pemarah.
Dan sekarang gadis itu juga masih dalam jeratan kekuatan Valheins.
"Cucuku, sekarang adalah saatnya kamu mengorbankan dirimu dan berbakti pada kakek tuamu ini!"
Alexa tidak menjawab apapun, bahkan saat Valheins tertawa dengan puasnya tatkala merasakan kemenangan ini sudah berada di depan mata.
Pria itu pun mulai beranjak dari tempatnya, berjalan menuju keluar istana, dan membawa Alexa ke tebing yang dahulu sempat akan dibuat tempat persembahan untuk dirinya sendiri.
Trang!
Trang!
Swosh!
Blam!
Suara peperangan yang beringas masih terdengar di seluruh penjuru negeri. Kedua pasukan kali ini benar-benar seimbang, ada yang dijatuhkan, namun banyak pula yang bangkit dari jatuhnya.
Dan pada saat yang bersamaan, entah sengaja atau tidak, mendadak Collab melihat sesuatu di langit yang tengah terbang.
Dia mengalihkan pandangannya, melihat lebih jelas lagi benda apa yang tengah terbang itu. Namun dia amat tertegun saat melihat benda yang terbang itu rupanya adalah Tuan Valheins yang membawa Alexa pergi menuju ke arah bukit tempat persembahan.
"Oh, tidak! Dimana kau Shaga? Aku harap kau cepat datang!" Gumamnya.
Dia pun tak berpikir panjang, langsung saja bergerak meninggalkan pasukannya dan Wilmer untuk segera menuju ke arah tebing, merubah dirinya menjadi si kaki empat yang berbulu lebat, dan memiliki kecepatan berlari yang cukup hebat.
"Hei! Pengecut! Mau kemana kau pergi!"
Teriak Wilmer menyadari Collab yang mulai beralih meninggalkan dirinya.
Trang!
Trang!
Namun agaknya dia masih harus fokus melawan beberapa vampir menyebalkan di sekitarnya.
"Sialan! Kau ingin membalasku rupanya!"
Trang!
Sayang sekali dia terlalu sibuk di bawah sana, sampai tidak menyadari sebenarnya Collab lari dari peperangan karena akan menyelamatkan Alexa di atas sana. Semoga kau berhasil Paman Collab.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Di sisi lain, terlihat sebuah keajaiban yang tak biasa. Di tengah lautan awan yang sangat luas, dengan tidak adanya cahaya matahari, membuat suasana dingin nan menusuk, kedua insan itu tengah berciuman menikmati indahnya keajaiban yang jelas nyata di depan mata mereka.
Keduanya berhasil melalui semuanya dengan sangat baik, dan sekarang, mereka pun akhirnya kembali dipersatukan dengan indahnya cinta yang berbalut dengan selimut kerinduan.
Kedua tangannya meraba dengan hangat, menyentuh dan mengusap wajah tampan yang semula dipenuhi bulu-bulu lebat yang menghalangi ketampanan dan kegagahannya itu.
Wajah yang telah dia rindukan selama lebih dari dua puluh tahun lamanya, dan sekarang, dia akhirnya bisa menyentuh wajah itu kembali.
"Aku pikir kau sudah mati." Ucap Riyana sambil mengusap wajah suaminya yang kurus dan juga terlihat begitu dalam.
Namun bibir suaminya slalu tersenyum, menandakan betapa dia bahagia dengan pertemuan dengan sang istri ini, meski dia harus melalui ribuan hal yang tidak akan mampu dia jelaskan selama lebih dari dua puluh tahun itu.
"Tidak sayang," jawab Sean sambil menggeleng pelan, dia menolak perkataan istrinya, dan bahkan lekas menangkap tangan istrinya lalu mengecupnya dengan sangat hangat, "kau tidak akan pernah mendapati aku yang mati, begitupun dirimu." Ucap Sean lalu mengecup kembali bibir istrinya yang ranum, tanpa dia sadari ada anak muda yang masih berdiri sebagai patung di sana.
"Ya, aku baru sadar seperti apa posisi nyamuk itu.."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...