Alexa

Alexa
#Hampir Menang



Kekuatan Phoenix, yang bergabung dengan tiga jiwa dalam tubuh Alexa, ketiga jiwa yang menciptakan satu kekuatan besar yang bahkan tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Tiga jiwa yang kemudian hidup dan juga bersemayam dalam satu tubuh yang sama, tubuh Alexa, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.


*Di-dia berubah*??


Benak Valheins bergumam ketakutan, jujur saja memang dia sejak awal merasa ketakutan dengan kehadiran Alexa. Karena sejak dahulu kala sudah dijelaskan, bagaimana kekuatan sosok pemilik jantung istimewa itu yang jika Valheins salah menghadapinya, maka dia sendiri yang akan meregang nyawa.


Rupanya memang benar, seolah seluruh kekuatan alam bersatu dan berbaur di dalam tubuh Alexa, mendukung gadis itu untuk mengalahkan Valheins seperti yang sudah digambarkan dalam kitab kuno bangsa serigala.


*Tiga kekuatan yang menyatu*..


*Bermula dari air mata perpisahan*..


*Tercipta bencana berlarut-larut lamanya*..


*Tiada bosan berlari menghindari bencana*..


Matahari mulai bersinar..


Kobaran api menyala-nyala dengan sangat gagah..


Ketiga jiwa bersatu..


Kerinduan terbalaskan..


Kebencian terhapus kan..


Awan gelap mulai terbelah..


Menjadi dua muka yang terpecah..


Cahaya keabadian menyorot mesra..


Sang pengelana telah tiba..


Habislah kegelapan, bangkitlah sinar yang terpendam..


Bom!


Mendadak sebuah ledakan terdengar dengan amat keras memekakkan telinga semua orang, membuat semua orang berhenti memerangi, dan malah menatap ke arah atas tebing, tepatnya di tempat dimana Alexa tengah menunjukkan kehebatannya menguasai seluruh kekuatan di dalam tubuhnya.


Cahaya matahari semakin terasa memanas, hingga terlihat para anggota vampir itu mulai terbakar satu per satu, tubuh mereka hangus lebur dan hancur bak cacing yang menggelepar terkena garam.


"Arkh!"


"Panas! panas!"


"Tidak!"


"Tidak!!!!"


Mereka bahkan tidak bisa lagi melawan, hanya ada beberapa saja yang berhasil berlindung di bawah reruntuhan bangunan, namun sejujurnya mereka hanya menunda waktu kematian mereka saja.


"Lihat ayah, tanpa kita melawan, mereka semua sudah berjatuhan satu per satu, aku rasa seharusnya Alexa melakukan ini sejak tadi, kita tidak perlu susah payah, apalagi untuk melawan..."


Shaga menoleh ke arah belakang, mendapati sahabat Tej yang terkuat di dalam kelompok vampir tengah meleleh pula terkena sinar matahari yang begitu panas membakar ubun-ubun di kepala.


"Tidak! tidak mungkin!!"


Pria besar itu terlihat mencoba untuk melangkahkan kedua kakinya mendekat ke reruntuhan bangunan, namun badannya terlalu besar untuk bisa berlindung di bawah sana.


"Tidak! jangan sentuh aku! panas!! aaaaaa!!!"


"Aku mohon, aku tidak mau ma....." sekujur tubuhnya mulai terbakar hangus, "ti..."


Dia pun akhirnya harus mati secara binasa terbakar menjadi abu di bawah teriknya sinar matahari yang juga tercipta dari pembakaran yang dilakukan oleh Phoenix milik Alexa.


Terima kasih sudah mau menyalakan matahari di sini, kita sahabat baik selamanya.


Gumam Alexa dalam hati kecilnya yang tentu saja dia tujukan hanya untuk Phoenix sahabat barunya.


"Palu Tej!" sambung Shaga dan Wilmer bersamaan.


Kedua pria pasangan ayah dan anak itu pun akhirnya berlalu dari peperangan, dengan sisa-sisa kelompok yang dia miliki.


Mereka semua berjalan dengan perlahan mendekat ke arah tebing dimana pada data itu Alexa tengah membuat Valheins ketar-ketir dengan kekuatan barunya.


Namun tak hanya bisa menguasai situasi sekarang, agaknya Alexa juga akan segera mengalahkan sang kakek pada detik berikutnya.


Entahlah, mungkin saja.


Alexa tersenyum miring. Segerombol debu mendadak keluar dari arah tangan kanannya, menggumpal dan menjadi satu hingga terciptalah sebuah pedang yang sangat tajam, dua pedang yang berpadu menjadi satu, pedang milik ayahnya, dan pedang miliknya, yang sudah sejak dahulu telah tertuliskan hanya dia yang bisa menyentuhnya.


Sling!


Kilatan pedang itu bahkan bisa membuat mata Valheins silau dan menjadi buram. Bukan hanya karena terkena sinar matahari, tapi pedang itu juga menyilaukan kilatan kekuatan yang sangat besar.


Valheins menutup kedua matanya dengan tangan, setelah dia bahkan juga bersembunyi di balik jubah hitamnya dari sinar matahari yang sangat menyengat..


Agaknya hanya beberapa dari kelompok vampir saja yang bisa bertahan, itu pun karena mereka bersembunyi dari sinar matahari.


Dan mereka bahkan tidak bisa melakukan apapun untuk membantu sang raja dalam mengalahkan musuh terbesarnya.


"Pak tua, kau hampir mati terkena matahari, apa kau tidak berpikir untuk langsung mati saja?" tanya Alexa sambil mencoba untuk terus mendekat ke arah Valheins dengan keadaannya yang telah bersiap untuk menyerang Valheins.


Sementara Valheins melihat ke bawah sana, tampak rombongan vampir di bawah kuasanya telah kalah dan malah menjadi pengecut dengan bersembunyi dari sinar matahari.


Ia jadi kesal sendiri, apalagi saat dia melihat Shaga dan Wilmer yang berdiri pada garis terdepan dan bersiap untuk mengeroyok dia dengan kekuatan besar mereka.


Tentu saja dia sudah pasti akan kalah. Meski mereka tidak memiliki kekuatan yang lebih besar dari kekuatan yang dia miliki, tapi jika mereka bersatu dan bekerja sama untuk menjatuhkan dirinya yang sekarang hanya berdiri seorang diri, tentu saja dia hanya akan jadi daging cincang yang alot.


Di bawah sana tampak Shaga yang terus berjalan ke arah tebing bersama dengan sang ayah yang menjadi pemimpin.


Namun dia kemudian berbalik saat dia sudah mencapai di setengah tebing. Dia berbalik dan mengibarkan panji peperangan di depan semua orang.


"Dengarkan semuanya!!!"


Semua orang tertegun di tempat mereka, berdiri dan kemudian mulai mendengarkan ucapan Shaga di depan sana.


"Kita tidak bisa terus menerus hidup seperti ini! hidup dalam kehancuran, tanah yang dirampas secara sepihak oleh monster jahat!"


"Nak, sebenarnya kau berkata monster ini untuk siapa? aku juga mantan monster, dan kamu sendiri juga pernah jadi monster." Gumam Wilmer, tidak sampai terdengar di telinga Shaga.


"Hari ini kita akan membuktikan, kita bisa maju melawan dia!! jatuhkan monster jahat itu!!!"


"Jatuhkan!"


"Jatuhkan monster jahat!"


"Jatuhkan!!"


Semua pasukan terdengar saling menyahut, menyuarakan apa yang mereka inginkan selama puluhan tahun lamanya, dan bersiap untuk merebut apa yang berhak menjadi milik mereka lagi.


"Oh tidak.."


Sementara para vampir yang bersembunyi terlihat begitu ketakutan. Mereka yang bersembunyi di bawah naungan bangunan-bangunan yang runtuh, pada akhirnya saat sinar matahari semakin meninggi, mereka pun tidak bisa lagi bersembunyi.


Kretak!


Kretak!


Kretak!


Di tambah dengan reruntuhan bangunan yang hanya memberi celah tak seberapa itu malah terasa semakin menekan mereka ke dalam tanah, mereka semua akhirnya sudah pasrah dengan nasib yang akan mereka alami.


Satu per satu dari mereka pun mulai terbakar sinar matahari, sementara sisanya tenggelam oleh bangunan yang runtuh dan akhirnya mati juga.


Entah setelah ini mereka akan bangkit kembali atau tidak, yang pasti mereka semua terlihat sudah tidak bisa lagi diselamatkan.


Valheins menyaksikan semua itu dari atas tebing, menatap dengan penuh kemarahan dan kekesalan.


Bangsa vampir yang seharusnya bisa mengalahkan bangsa serigala dengan satu kaki serangan, tapi lihat saja sekarang, jumlah pasukannya yang mencapai sepuluh ribu lebih pada akhirnya hanya tersisa beberapa saja.


Miris sekali.


"Tidak! pengecut!" umpat Valheins menatap tragedi di bawah sana.


Negerinya yang hancur lebur, dengan sisa-sisa peperangan yang sangat ganas, sisa-sisa kehancuran dan juga kebinasaan.


Pasukan yang kini terlihat menuju ke arah dia berdiri, dan hampir membuat dia habis dikeroyok.


"Heng! lihatlah Tuan Valheins, kesalahan kamu karena tidak memilih pilihan yang tepat, sekarang hiduplah seorang diri di neraka, karena kau tidak punya keluarga lagi!"


Sling?


Pedang Alexa sudah bersiap sejak tadi, namun saat Alexa mulai mencoba untuk menyerang, Valheins malah tersenyum dengan miring.


"Heng! kau pikir bisa menaklukkan kakek tua seperti aku?"


"Tidak!"


Dengan secepat kilat Valheins melempar tingkat yang selalu dia sembunyikan di balik bajunya ke atas langit, seketika awan gelap kembali menyelimuti langit yang semual cerah dan biru.


"Anakku, sudah saatnya kamu bangun!!"


Tak hanya itu saja, petir pun mendadak bergemuruh, disertai kilatan yang sangat mengerikan, hak itu bersamaan dengan Alexa yang terlihat berdiri dengan gagah dengan pedang di tangannya.


Trang!


Pedang yang tajam itu berhasil ditangkis dengan pedang milik Valheins. Dan peperangan panas kembali terjadi.


Hanya saja, kejutan yang sangat besar baru saja akan terjadi.


Kejutan yang tidak pernah diduga oleh semua orang bahkan Alexa sekalipun.


Namun Alexa masih tidak peduli. Apapun yang terjadi, seharusnya jika Valheins berhasil dia bunuh, maka semua yang ada selama kendali tangan Valheins juga akan hancur.


Trang!


Trang!


Ia terbang ke atas langit manakala pedang Valheins menjulur ke arahnya, dia berbalik dan kemudian bergerak menyerang balik tubuh Valheins.


Tubuh yang sudah memiliki cukup banyak luka, sebenernya luka itu tercipta dari tusukan-tusukan batu runcing yang semula menghujam tubuh Valheins.


Swosh!


Ia terus berusaha menyerang, meski serangan yang dia lakukan sendiri tidak pernah mengenai bagian tubuh Valheins. Pria tua itu masih punya sisa-sisa kekuatan yang cukup besar.


Keduanya terus berlanjut berperang, sementara kejutan akhirnya kembali dimulai.


Ssshhhh


Klontang!


Klontang!


Klontang!


Suara air hujan menimpa benda-benda di bumi.


Ck!


Ck!


Ck!


"Ha.. ha.. ha... nikmati waktu bermain kita, kau masih belum bisa menaklukkan aku, mari kita bermain bersama, cucu kesayanganku.."


Alexa tertegun sembari menatap langit, menghentikan pertarungannya dengan Valheins sejenak, saat dia mulai menyadari ada yang tidak beres di tempat ini.


Hujan mendadak turun dari langit, mengguyur bumi dengan sangat deras, dan lebih dari itu, hujan ini menurunkan sesuatu yang sangat ganas.


"Monster!!!"


Alexa berbalik menatap ke arah pasukan Shaga yang telah berlari dengan kencang ke arah Valheins.


Hanya tinggal satu jengkal lagi mereka tiba di atas tebing tempat dimana Alexa tengah berdiri berhadapan dengan Valheins.


"Shaga, kembalilah!"


Namun wajah Shaga dan pasukannya sangat gagah berani, mereka terlihat terus saja maju ke depan dan bersiap untuk menyerang Valheins.


Hujan semakin deras, mengalir ke tanah, dan kemudian menggenang di tanah yang retak, masuk ke dalam satu dua tetes, dan pada akhirnya, sesuatu membuat semua pergerakan di atas tanah berhenti secara seketika.


Shaga yang lebih dahulu berhenti, dia merasa ada sesuatu yang bergetar di bawah sana, entah sesuatu apa yang dia rasakan, namun dia bisa merasakannya dengan sangat di kakinya, bahkan sampai ke dalam jantungnya.


Agaknya dia memiliki hubungan yang lumayan erat dengan tubuhnya, entah apa itu, agaknya dia pernah berhubungan dengan sesuatu yang ada di dalam sana.


"Shaga lari!!!"


"Ha.. ha.. ha... tidak akan!!!"


Plak!


"Arkh!"


Brukk!!


Valheins membungkam mulut Alexa dengan segera menggunakan pangkal pedang miliknya.


Dia memukul kepala Alexa sampai gadis itu terjatuh dan tumbang di hadapannya. Darah segar seketika menyembur dari kepala Alexa, membuat Valheins kembali tergiur dengan aroma khas ini, aroma yang sangat menyejukkan, dan aroma yang begitu menusuk hidungnya sampai tidak tahu bagaimana caranya mengatasi keinginannya untuk mengobati kehausan yang mendadak datang.


"Cucuku, kau hanya segelintir pejuang yang kalah di tanganku, sebelum kau hancur dengan sia-sia, lebih baik kau serahkan dulu jantung kamu padaku, ha.. ha.. ha.."


Bom!


Bom!


Bom!


Mendadak sesuatu terjadi, di bawah guyuran hujan yang begitu deras, di bawah tanah yang sangat basah dan mulai menggeronggang.


Tanah dan bebatuan seketika bergerak dengan sangat mengerikan, bak gempa yang mengguncang bumi dengan kekuatan dalamnya, kilatan cahaya memancar dari dalam tanah tempat semua orang berpijak, hingga kilatan itu dengan perlahan-lahan mulai membelah tanah, mengeluarkan sesuatu yang berdiam di dalam sana akhirnya bangkit dengan sangat mengerikan.


Sesuatu yang disebut anak oleh Tuan Valheins, dan sesuatu yang sangat dibanggakan oleh Valheins itu akhirnya sudah waktunya untuk bangun.


"Shaga! lari!! jauhkan semua orang dari sini!!!" teriak Alexa pada detik-detik yang mungkin saja adalah detik terkahir kekalahannya pun dia masih berteriak dan berharap kalau semua pasukan serigala akan baik-baik saja.


Rrrrrrrr!!


Rrrrrr!!


Suara yang sangat berdengung terdengar mulai keluar, bersamaan dengan bebatuan di tebing yang juga mulai terlihat runtuh dan menimpa para serigala di sana.


Shaga tidak beralih mundur. Dia tahu kalau semua ini masih belum berakhir, Valheins selalu punya banyak kejutan, karena itulah dia tidak terlalu terkejut melihat semua ini terjadi.


"Shaga! pergilah! ayo kita kembali!!" teriak sang ayah di bawah sana, dia juga terlihat tengah mencoba untuk membawa lari para pasukan yang tersisa.


Rrrrrrrrrrr


Shaga tidak peduli akan ucapan sang ayah. Dia hanya terus naik ke atas, naik ke atas tebing dan berpikir dia akan menyelamatkan Alexa bagaimanapun caranya.


Kawanan lalat hitam dan memiliki ukuran yang cukup besar mulai terlihat keluar dari dalam tanah, dengan jumlah yang ratusan ribu, bahkan mungkin jutaan ribu, tidak bisa terhitung hanya dengan menggunakan jari.


Semua orang berlari kocar-kacir tak tentu arah, hanya terlihat Alexa dan Shaga saja yang kemudian akhirnya bisa berdiri bersama di atas tebing berhadapan dengan Valheins.


"Aaaaaa!!!"


Di bawah sana para kawanan mulai berjatuhan, terkerubung lalat-lalat mengerikan itu, dan kemudian akhirnya yang saja bisa lari menyelamatkan diri.


"Tidak!! selamatkan aku!!!!"


Dengan secepat kilat lalat-lalat hitam itu melahap semua pasukan yang tersisa, bahkan terlihat pula Tuan Wilmer yang juga tertelan di dalam serangan serangga itu.


"Ayah!!!!"


Ha.. ha.. ha...


Tawa pria tua itu sesaat setelah menyaksikan kehancuran alam semesta akibat ulahnya itu.


"Kau pikir kau akan menguasai dunia ini? mimpi saja jika memang begitu!!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...