Alexa

Alexa
#Hari Baru 2



Seseorang terlihat terduduk di atas kursinya, sembari menatapi kertas laporan atas kasus yang dialami oleh putrinya sekitar empat bulan yang lalu.


Dia tampak pucat dan juga terlihat tak karuan kondisi wajahnya. Ya, terlihat dengan jelas wajahnya yang sudah tampak tua dan menampilkan banyak sekali kerutan di beberapa sudut.


Rambutnya mulai terlihat memutih dan sekujur tubuhnya menjadi sakit-sakitan di atas kursi kerjanya.


Sudah sangat lama semenjak putrinya tewas tanpa meninggalkan bekas, hanya terlihat sobekan kain yang dia temukan di lokasi temuan mayat dua orang tua Alexa.


Sampai sekarang sobekan kain milik anaknya itu masih saja dia simpan dengan sangat rapi bersama dengan memori yang tersimpan dengan rapi di dalamnya.


Entahlah dia berasa gila setiap kali mendengar perkataan kedua sahabat Muba yang mengatakan kalau mereka menyaksikan dua serigala menyantap tubuh Muba hingga tak berbekas.


"*Dia, dia dia memakan Muba, serigala itu, serigala itu*..."


Kreb!


Dia menutup buku di atas meja kerja miliknya, seraya mencoba untuk melupakan semua kenangan buruk yang tidak akan pernah bisa ia lupakan itu.


Dia hendak beranjak dari duduknya, meletakkan berkas laporan itu di atas meja, dan kemudian berdiri.


Namun saat dia berdiri dari duduknya, mendadak salah seseorang terdengar mengetuk pintu ruangannya, dan membuat dia seketika harus berhenti melangkah.


Tok! tok! tok!


Suara ketukan pintu itu pasti berasal dari anak buahnya, yang sudah bisa dipastikan membawa berita penting untuknya. Ya, dia memang sudah paham, apalagi dia bukan baru bekerja di kepolisian, dia sudah menghabiskan setengah dari hidupnya untuk menjabat sebagai jenderal.


"Masuk!" ucapnya sembari kembali terduduk di kursinya. Tak ada pilihan lain selain kembali duduk di kursi jabatannya.


Cklek!


Tak lama setelah dia berbicara, dia kemudian mendapati seorang wanita cantik yang terlihat masuk dengan membawa beberapa lembar kertas, entah apa isi kertas tersebut. Semoga ini ada hubungannya dengan perkembangan kasus Muba.


"Maaf mengganggu waktu anda, pak!" ucap wanita itu sambil berjalan menghadap ke arah sang jenderal.


"Katakan saja apa yang kau bawa!"


Wajah jenderal itu tampak layu, seakan-akan dia tak pernah lagi punya semangat membara seperti yang dia lakukan di masa lalu saat menuntaskan kasus-kasus pembunuhan lainnya.


Dia memang sangat putus asa, kepergian anaknya yang kemudian juga membawa kasus yang begitu rumit nyatanya membuat dia hampir gila.


Ia selalu berharap akan ada seseorang yang memberitahu dia sebuah petunjuk. Tapi pada kenyataannya, selama ini yang dia dapatkan hanya sekedar hal gila, selebihnya tidak ada yang bisa dia dapatkan.


"Pak, kami menemukan informasi tentang pemuda yang dilihat oleh kedua sahabat Muba di malam itu."


Mendengar perkataan pemula dari wanita yang sudah lama menjadi bawahan setianya itu, dia yang semula menopang dagunya dengan tangannya langsung menyingkirkan tangannya tersebut dari posisinya. Ia lekas bersemangat manakala dia mendengar ada perkembangan tentang kasus dari putrinya itu.


Semoga dia benar-benar mendapat jawaban atas semuanya.


...----------------...


Swosh!


Mendadak kedua orang itu telah tiba di balik air terjun, yang kemudian menjatuhkan mereka pula ke dalam sungai, membaut mereka tercebur begitu dalam ke dasar sungai.


"Aaaaaa!!!!"


Byurrr!!


Keduanya tampak terjatuh bersamaan ke sungai, dan seketika sekujur tubuh mereka pun menjadi basah kuyup.


Perlahan kepala Alexa muncul ke permukaan, lalu kemudian disusul oleh Shaga yang juga tampak menyembulkan kepalanya ke permukaan air sungai.


Air sungai yang cukup dalam, air sungai yang terus mengalir membawa mereka keluar dari hutan tersebut.


Keduanya hanya terus tersenyum, saling berpegangan tangan, dan saling tertawa riang.


"Apa kau baik-baik saja sayang?" tanya Shaga pada sang istri.


"Ya, aku baik, kau sendiri kelihatan cukup baik?" tanya wanita itu pada suaminya.


"Ya semenjak ada kamu, aku selalu merasa baik."


Pria itu mengatakan gombalan kuno untuk Alexa yang sekarang bahkan telah resmi menyandang status sebagai istri sahnya.


"Baiklah, sekarang kau mau naik atau kamu mau mengikut aliran sungai ini?" tanya Shaga seolah memberi semua keputusan terhadap Alexa.


"Tentu saja aku mau jalan, kau lihat aku punya kaki, bukan?" tanya Alexa sambil membersitkan senyuman di bibirnya.


Keduanya bak tengah dimabuk asmara, hingga di setiap perkataan dan setiap Senda gurau yang mereka lalui selalu saja dengan tatapan cinta yang begitu dalam.


Ternyata takdir masih juga berpihak baik kepada mereka. Meski keduanya harus melalui perjalanan panjang semenjak pertama kali mengenal, lalu akhirnya menjadi suami istri seperti sekarang, semua itu tentu saja bukan waktu yang cukup singkat untuk dibicarakan.


Sekarang mereka pun tampak bahagia, pantas saja mereka bahagia, mereka telah melalui perjalanan sulit yang mereka lalui selama ini, jadi jelas saja kalau mereka begitu menikmati kebahagiaan mereka sekarang.


Keduanya pun lantas naik ke pesisir sungai, Shaga dengan sigap menggendong tubuh sang istri di punggungnya, dan naiklah mereka ke daratan, lalu terduduk sejenak.


"Hahh!"


Keduanya terlihat menikmati desiran air sungai yang tampak bening, dengan tumbuhan-tumbuhan di sekelilingnya, sejujurnya kondisi alam di sana masih sangat asri.


"Aku tidak tahu bagaimana bisa pintu masuknya berubah," Ucap Alexa pada Shaga. Dia sendiri memang bingung mengapa pintu itu bergeser sekitar dua meter dari tempat semula.


Apa hal ini akan berdampak buruk bagi dunia manusia dan dunia merah selanjutnya?


Entahlah.


"Aku juga tidak tahu," jawab Shaga membalas perkataan sang istri.


Kedua orang itu masih saja dibuat asik menikmati hamparan Padang rumput yang luas di seberang sana, dengan warna hijau muda yang nampak membius kedua mata mereka.


Mereka bahkan terus menerus mengulas senyuman di bibir mereka seolah semua yang ada di hadapan mereka terus saja menari-nari dan berusaha untuk menggoda mereka dengan keindahan panoramanya.


"Rasanya lama sekali semenjak kita meninggalkan dunia manusia," ucap Alexa pada suaminya lagi, "menurut kamu, apa aku bisa menemukan makam ayah dan ibu angkat aku?" tanya Alexa pada Shaga.


Pria itu hanya terlihat menoleh ke arahnya, dan kemudian mengelus rambut Alexa dengan sangat lembut. Dia terlihat begitu menyayangi dan mencintai Alexa.


Kurang apalagi coba pria seperti ini. Dia yang perhatian, dia yang setia, dan dia yang selalu ada entah saat Alexa benar-benar terluka, atau saat Alexa butuh teman untuk meluapkan kegundahan hatinya, Shaga memang selalu ada..


Sejujurnya itulah alasan mengapa Alexa mau menerima Shaga menjadi suaminya.


"Yang jadi pertanyaan untukku adalah, bagaimana kita akan lanjut kuliah? kalau sudah hampir setengah tahun tidak ikut ajaran di kampus?" tanya Shaga pada sang istri, "kita juga harus mengumumkan soal pernikahan kita pada semua orang di kampus, supaya mereka tahu kalau kamu sekarang jadi milik aku." Ucap Shaga dengan senyum genitnya.


Alexa pun tersipu malu. Padahal semula dia adalah gadis yang dingin, yang acuh dan juga gadis yang tak terlalu peduli pada orang sekitar.


Tapi mengapa setelah dia mengenal Shaga dia seolah berubah? lebih cerewet dan banyak tingkah, meski tak sebanyak tingkah Shaga.


Keduanya memang pasangan yang serasi, Alexa yang dewasa dengan kehidupan rumitnya, dan Shaga yang penyayang dengan kisah hidupnya bersama kedua orang tuanya yang lengkap.


Mendengar ucapan dari Shaga barusan, lantas Alexa pun mengulas senyuman di bibirnya. Dia terlihat menatap sang suami dengan tatapan canggungnya.


Entah mengapa dia bahkan tidak percaya kalau dia sudah resmi menjadi istri dari Shaga. Apa itu terkesan lucu?


"Sayang," suaminya memangggilnya, membuat Alexa pun segera tersadar dan mulai menatap ke arah sang suami dengan tatapan kedua matanya yang berbinar.


"Ya?"


Belum juga jantung Alexa redam dari rasa gemuruhnya yang hebat tak tertandingi, sekarang malah terlihat Shaga yang mulai menggenggam kedua tangannya dengan sangat lembut, kemudian mengecup punggung tangan Alexa penuh cinta.


Alexa hanya diam mematung sampai beberapa detik ke depan, sampai akhirnya dia kembali sadar kalau Shaga masih saja mencium lembut punggung tangannya dengan bibir manis Shaga itu.


"Kau tahu betapa aku sangat menginginkan dirimu, aku harap setelah kita bersama, tidak ada lagi orang lain selain aku dan kamu," ucap Shaga dengan dalam.


Ucapan itu jelas membuat Alexa tersenyum simpul. Namun agaknya dia punya jawaban lain yang tak kalah hebatnya dengan perkataan yang baru saja dilontarkan oleh Shaga.


"Tapi aku mau, kenapa tidak mau?" tanya Alexa menjebak sang suami.


Mendadak Shaga pun jadi berpikir keras, mencoba untuk menangkap apa yang sedang dimaksud oleh istrinya ini.


Mengapa Alexa malah memiliki pandangan lain yang tidak sama seperti dirinya?


Ah!


Tidak mungkin wanita ini suka berselingkuh atau membohongi pria, maka mungkin, itu sangat tidak mungkin.


"Kenapa?" tanya Shaga mencoba untuk menumpas tuntas kesalah pahaman yang dia rasakan.


"Kau pikir aku lupa kalau ayah kamu mengharapkan seorang cucu?"


Jleger!


Mendadak jantung Shaga serasa mau berhenti berdetak. Dia bahkan tak menduga kalau Alexa akan berpikir sejauh itu untuk hal seperti ini.


Aish!


Sekarang dia malah jadi malu sendiri kan, huhh! bisa-bisanya dia malah malu gegara Alexa yang menjebak dirinya seperti itu.


Ia pun tersipu memasang wajah canggungnya di hadapan Alexa. Ya, sebenarnya dia sedang mencoba untuk menyembunyikan kekesalan yang dia rasakan itu, tapi entahlah, dia selalu saja tak bisa melakukannya dengan baik.


Sekarang dia pun hanya bisa terus tersenyum dengan canggung, apalagi di sampingnya terlihat sang istri yang terus meledek dirinya dengan tatapan-tatapan aneh yang terus saja dilempar ke arahnya.


Apalah daya, dia bukan pria yang sanggup bertahan saat dalam keadaan terjebak.


"Hahh! sudahlah, jangan pandangi aku terus, aku jadi bingung harus bagaimana." Ucap Shaga pada Alexa, membuat Alexa seketika tersenyum dan terkekeh melihat kelucuan yang ditampilkan wajah Shaga saat merasa gugup.


"Baiklah, jangan pandangi aku lagi, kau selalu saja membuat aku bingung, ayolah, jangan lakukan hal itu lagi." Makin merasa canggung.


Masih menampilkan tatapan mematikan untuk suaminya.


Mengusap wajah sang istri, dan kemudian bangkit dari duduknya.


Kembali menatap ke arah sang istri, dan kemudian melihat istrinya masih melakukan hal yang sama.


"Hahh, apa yang kau lakukan? bukankah kau bilang kau mau bertemu dengan mendiang ayah dan ibu angkat kamu? baiklah, sekarang ikut saja, kita akan cari makan ayah ibu kamu sampai ketemu." Ucap Shaga pada Alexa.


Alexa masih saja berusaha untuk meledek suaminya. Dia jelas sangat nakal, jauh lebih nakal daripada di masa lalu, agaknya dia memang butuh seseorang seperti Shaga untuk membangkitkan senyuman di bibirnya.


Lihat saja dia sekarang, dia tampak sangat bahagia bersama dengan Shaga.


"Mau bangun atau tidak? atau kau mau aku angkat saja?" tawar Shaga berbalik meledek Alexa.


Alexa hanya bisa tertawa saat Shaga dengan santainya mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ala bridge style, dan kemudian membawa gadis itu berlalu dari hutan.


"Apa yang kau lakukan? ah?"


"Aku hanya sedang bingung bagaimana caraku menghidupi vampir yang satu ini lagi."


Plak!


Tangan mungil Alexa tampak menyabet pipi Shaga dnsgan kekuatan yang cukup lirih, tak terlalu keras. Ia tahu tak semua orang bisa menahan pukulan dari tangannya yang terkenal kuat pun juga mematikan.


"Aw! kenapa kamu menampar pipi kiriku?" tanya Shaga pada Alexa.


"Karena kau terlalu cerewet, bisakah kau jangan mengeluh terus tentang aku? aku juga butuh makan, makanan yang enak dan juga lezat, kau sanggup memberiku makanan seperti yang aku minta selama kita menikah?" Tanya Alexa meledek lagi pada sang suami, seakan dia benar-benar suka dengan aksinya meledek suaminya itu.


"Baiklah, malam ini aku traktir cumi-cumi, kau suka?" tanya Shaga pada Alexa.


"Ya, aku suka itu."


Keduanya tampak semakin asik lagi, berjalan dengan penuh cinta dan kebahagiaan, bahkan agaknya mereka telah lupa, bagaimana caranya untuk hidup seperti dulu lagi, bagaimana cara mereka untuk berperang, dan bagaimana cara mereka untuk menjatuhkan musuh.


Namun tak semudah dipandang oleh mata, semuanya nyatanya masih saja memberi celah untuk masalah baru, masalah yang mungkin saja kembali menghadang langkah kaki Alexa dan Shaga.


Tapi sejujurnya kedua orang itu sudah tak perlu lagi merasa khawatir atau pun cemas, karena sekarang, ada seseorang yang akan selalu setia menemani Alexa, menjadi sandaran Alexa untuk melalui setiap masalah yang menghadang, dan pria itu, adalah segalanya bagi Alexa, segalanya yang tak akan pernah bisa tergantikan oleh siapapun itu.


\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Ia meletakkan satu buket bunga di atas makam ibunya. Wajahnya terlihat begitu sendu dan juga sedih. Namun sekarang dia akhirnya bisa melepas segalanya dengan perasaan lega.


Dia yang semula memasang wajah sedih dan raut muka yang ditekuk secara sempurna pun mulai terlihat menarik garis tipis di bibirnya menjadi senyuman yang indah dan menawan.


Hal itu sesaat dia lakukan setelah dia mendapati wajah wanita di sebelahnya yang tampak tenang dan menyiratkan senyuman kebahagiaan untuknya.


Dia pun hanya bisa tersenyum membalas senyuman dari istrinya dan kemudian memeluk istrinya dengan pelukan yang sangat hangat.


"Sayang, aku harap kau tidak menjadi seperti ibuku, yang sangat bodoh dan tak bisa melawan saat suaminya mencoba menghancurkan dirinya, aku harap kamu bisa menjaga diri kamu baik-baik pada siapapun, termasuk aku sebagai suami kamu." Ucap Shaga pada sang istri..


Keduanya terlihat sudah berdiri di samping makam ibunya Shaga. Orang pertama yang mereka temui setelah kembali ke dunia manusia, adalah ibu kandung Shaga yang telah tewas di tangan suaminya sendiri.


*Tapi jika kematianku membuat Kamu bahagia, kenapa aku tak boleh melakukannya? bodoh itu, saat aku menyerahkan nyawa untuk seseorang yang paling aku benci, dan aku tidak suka menyakiti tubuh ini demi untuk memberi kepuasan terhadap musuh sendiri*.


Dan sekarang, mereka akhirnya berlalu menuju ke rumah Shaga yang telah lapuk. Rumah yang masih saja sepi meskipun di sekelilingnya terdapat beberapa rumah sebagai tetangga Shaga.


Entahlah, tidak ada secercah cahaya yang masuk melukiskan senyuman dan kebahagiaan di rumah itu, entah karena apa, padahal rumah itu dulunya ditinggali oleh Shaga dan ibunya dengan penuh cinta.


Shaga menatapi seluruh ruangan yang telah terkuat kosong, hanya terlihat debu-debu yang berterbangan membuat seisi ruangan itu menjadi pengap, dan itu jelas membuat kedua orang di sana tampak menatapinya dengan renungan panjang.


Rumah yang semula diisi dengan ribuan kebahagiaan, senyum dan canda tawa riang, dan sekarang, semua itu telah berubah menjadi sendu dan kelam.


Hahh!


Tapi Shaga tak melakukan apapun selain meratapi kesedihannya yang kembali mengenang masa lalu tentang sang ibunda.


Dia tak mau lagi terlalu larut dalam sebuah kesedihan yang pada akhirnya hanya akan menimbulkan rasa dendam yang sama terhadap sang ayah, Wilmer..


Sementara sang istri di sampingnya pun tak luput untuk terus mendukungnya, mendukung apapun yang dia inginkan, apapun yang dia putuskan, seharusnya dia senang karena meskipun dia tak lagi bisa menatapi sosok ibunda, atau mungkin merasakan kasih sayang dari mendiang ibunya, tapi dia sudah mendapat pengganti yang tak jauh beda dari ibunya.


Ya, sejauh ini dia benar-benar berterima kasih.


"Tidak apa-apa, aku aku akan menyiapkan ruangan khusus untuk kamu mengenang mendiang ibu, aku juga harus mengenang beliau, dia sangat baik padaku." Ucap Alexa sambil tersenyum ke arah suaminya.


Suaminya lekas memeluk erat kembali tubuhnya, hingga tak terasa air mata luruh di pipinya, dia benar-benar merasa terharu akan semua yang terjadi selama ini, semua ini benar-benar memberi pelajaran hebat untuk Alexa, terutama juga untuk Shaga.


"Terima kasih sudah mau menyayangi dan menerima aku apa adanya, aku janji akan membahagiakan kamu selamanya, bahagia lah kamu tinggal di sisiku." Ucap Shaga membisikkan satu kalimat untuk sang istri tercinta.


Keduanya tak hanyut dalam pelukan. Segera saja mereka melepas pelukan dan mengakhiri drama kesedihan yang seharusnya memang sudah berkahir sedari tadi.


"Baiklah, sudah cukup untuk sedihnya, sekarang, kita hanya harus mengemas semua barang-barang di rumah ini yang sudah lapuk dan menggantinya dengan yang baru." Ucap Shaga sembari menatapi ke sekelilingnya, yang tampak tidak baik-baik saja.


Ya, dia mengangkat satu alisnya, tak tahu dari mana dia akan memulai melakukan aksi ini, tapi yang jelas dia pasti harus segera menyelesaikannya.


Rumah itu memang terlihat tak terurus, apalagi setelah kejadian pertengkaran di malam terkahir di rumah itu bersama sang ayah, agaknya dia tak pernah lagi berniat untuk membersihkan puing-puing kaca jendela yang berserakan.


Jangankan untuk membereskan semua bekas kekacauan ini, niat kembali pun saat itu tak pernah terlintas dalam benak Shaga.


"Baiklah, dimulai dari mengambil kaca Kendal yang pecah berserakan," ucap Alexa dengan tatapan yang juga tampak meragukan.


"Baiklah, jadi kita akan memulai sekarang?" tanya Shaga pada sang istri, nampak keraguan itu jelas menimpa wajahnya yang tampan.


"Ya, aku sudah tidak sabar lagi."


Keduanya mulai bekerja sama untuk membereskan rumah mereka. Tampak keduanya yang bekerja dengan keras dan juga dengan keahlian yang baik untuk membereskan rumah itu.


Selanjutnya mereka akan menempati rumah peninggalan Taun Wilmer dan istri sahnya itu untuk hidup di dunia manusia.


Tentu saja Tuan Wilmer pasti tidak akan merasa keberatan dengan keputusan yang mereka ambil itu, mana mungkin dia akan keberatan untuk memberi tempat tinggal untuk anak kandungnya beserta menantu cantiknya itu, sungguh mustahil.


Mereka tampak asik membereskan rumah, mulai dari membuang pecahan-pecahan benda yang berserakan di atas lantai, dan kemudian di susul lagi dengan menyapu lantai sampai bersih, memasang kaca jendela yang baru, mengepel dan mencuci kaca, membersihkan kasur yang berdebu, dan lain sebagainya.


Mereka juga tak lupa pada halaman rumah yang sudah lama tak terurus. Mereka membersihkan halaman rumah itu, menyapu dedaunan yang sudah menumpuk mengotori tempat tersebut, hingga membuat hijaunya rumput hias di depan rumah pun sudah tak lagi terlihat indah di pandang mata.


Dengan cekatan kedua orang itu terlihat merapikan halaman dengan sekejap, sampai akhirnya semuanya sudah rapi..


"Sudah selesai!" ucap Shaga manakala melihat pekerjaan mereka sudah selesai baginya.


"Aku lihat ada beberapa bunga yang tidak terurus, aku akan pergi melihat keadaannya." Ucap Alexa pada Shaga, yang tentu saja mendapat anggukkan persetujuan dari pria itu.


Secepat kilat Alexa membawa kembali beberapa pot yang berisi bunga-bunga milik mendiang ibu kesayangan Shaga yang sudah tak lagi terurus.


"Kau benar-benar ingin memulihkan keadaan." Ucap Shaga pada Alexa.


Alexa hanya terlihat menyunggingkan senyuman di bibirnya, melakukan pekerjaannya dengan sangat rapi, sampai saat dia mendongakkan kepalanya, dengan tak sengaja dia mendapati dua anak kecil yang entah mengapa terus saja memandangi dirinya dengan tatapan mereka yang aneh.


Tidak!


Bukan entah kenapa, tapi sekarang Alexa benar-benar sudah tahu apa alasan anak-anak itu hanya memandangi dirinya dan Shaga dari kejauhan, mungkin saja mereka menyaksikan apa yang tidak seharusnya mereka saksikan saat Tuan Wilmer dan mendiang istrinya masih di rumah ini.


Mungkin saja mereka pernah mendapati kehadiran Wilmer di pertengahan malam, dan itu jelas membuat mereka merasa ketakutan setiap kali melihat rumah di sampingnya berpenghuni.


Kedua anak laki-laki itu masih berdiri di tempat yang sama, dengan kondisi yang sama seperti saat Alexa melihat mereka berdua, itu sekitar beberapa bulan yang lalu.


Namun kali ini Alexa tak mau menjadikan dirinya dan Shaga terlihat menakutkan di depan anak-anak itu..


Meski mungkin kedua orang tuanya tidak berpikir hal yang sama dengan kakak beradik itu, tapi jelas saja kalau terus seperti ini, mereka hanya akan tetap memandang keluarga Shaga dan dirinya adalah makhluk yang paling menakutkan sepanjang sejarah.


Ia pun akhirnya tersenyum dan melambaikan tangannya menyapa.


Dia tak mengeluarkan suara apapun saat menyapa dua anak manusia yang terus saja menatapnya itu, sampai akhirnya Shaga melihat kejadian tersebut.


Ia pun ikut menatap ke arah dua anak di seberang pagar itu, dan kemudian kembali menatap ke arah Alexa.


"Mereka diam saat melihat kamu, berbeda saat melihat aku, mereka langsung kabur."


"Kemarilah, sayang, anak-anak manis." Ucap Alexa sambil memberi arahan pada dua anak itu untuk mendekat ke arahnya.


"Aku tak yakin mereka akan mendekat,," gumam Shaga meragukan tingkah Alexa.


"Ya, kau benar, mereka menduga kalau di rumah ini masih ada monster yang mereka lihat saat itu, mungkin kita perlu memasukkan anjing ke dalam rumah, aku yakin akan terasa lebih hangat." Ucap Alexa sambil memendam rasa kecewa karena dua anak itu masih juga tak mau berdekatan dengan dirinya.


Rasanya memang menyedihkan.


Namun dia berusaha untuk menepis rasa sedih di dalam hatinya itu, dan mulai kembali fokus untuk membereskan pekerjaan yang tengah dia lakukan..


Dia pun mulai kembali asik memperbaiki bunga-bunga milik mendiang ibu Shaga yang tak terurus, dan mulai menatanya dengan sangat rapi di sekitar teras rumah mereka. Dia benar-benar terlihat bahagia dengan semua yang dia lakukan, ya sejauh ini dia memang terlihat seperti itu.


Semua itu mereka lakukan dengan sangat menyenangkan. Hingga akhirnya mereka mulai mendapati ada seseorang di luar rumah, itu terjadi saat Alexa tengah asik memasak di dapur, sementara sang suami malah sibuk membenarkan televisi usangnya.


Tok! tok! tok!


Alexa yang saat itu tengah memasak seadanya tampak dibuat terkejut saat mendengar suara ketukan pintu di luar rumah.


Bukan karena apa, bukankah selama ini rumah Shaga terkenal sepi dari tamu, apalagi tamu jauh, tetangga dekat saja dia jelas tak pernah melihatnya bertamu di rumah Shaga.


Siapa kiranya yang datang?


"Sebentar," teriak Shaga sambil berlalu meninggalkan tv yang rusak, dan kemudian membukakan pintu untuk seseorang.


Cklek.


"Selamat siang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...