Alexa

Alexa
#Menyerang Kelompok Vampir



Sling!


Mendadak sebuah kekuatan seakan menghampiri tubuh Alexa di atas batu.


Jleger!!


Seisi langit bergemuruh, petir datang secara tiba-tiba, seakan tidak rela jika gadis itu memberikan benda berharganya untuk seorang pecundang seperti Valheins.


Semua vampir dibuat tertegun, saat mendung menyelimuti langit yang semula biru dan terkena sinar matahari yang sangat terik.


Jubah hitam merah yang mereka kenakan secara serempak itu pun mereka lepas bagian kepalanya, dan seketika hujan turun begitu lebat, mengguyur mereka semua dalam keadaan tanpa ampun.


Semua vampir berbondong-bondong meninggalkan sisi tebing dan juga tuan mereka di sana. Semuanya terlihat mundur dan berpikir untuk tidak menyaksikan pengorbanan Alexa itu.


Dan hal itu jelas membuat sang tuan marah besar.


Dia tak suka jika pengorbanan ini diganggu oleh siapapun, termasuk diganggu oleh hujan yang mengakibatkan semua vampir meninggalkan tempat itu.


"Arsello, aku tidak suka hujan deras mengguyur tubuh gadis ini, dan membuat semuanya pergi, aku ingin mereka semua melihat dan menyaksikan pengorbanan yang cucuku lakukan." Ucap Valheins.


Sekarang pria tua itu tampak seperti sampah yang tidak dipedulikan oleh masyarakatnya sendiri. Dia hanya berdiri kokoh seorang diri, hanya dengan Arsello dan para prajuritnya.


"Mohon maaf, Tuanku, hamba tidak bisa menentang alam, turunnya hujan sudah menjadi kehendak alam, hamba tidak bisa mencegahnya." Jawab Arsello dengan merendah, bagaimanapun juga, dia tidak bisa melakukan apapun untuk menaklukkan hujan yang sudah menjadi kehendak alam, biarkan saja jika tuannya marah, begitulah pikirnya.


"Hhhhaaaaaahhhhh!!" Teriak pria tua itu, seakan tidak suka sekali dengan jawaban Arsello.


Valheins yang marah pada akhirnya tampak mengendalikan pedang di tangan kanannya, dia ayunkan pedang itu menari ke arah belakang, lalu kemudian, sebuah tragedi akhirnya harus terjadi.


Swosh!


Sling!


Brukk!


Satu tubuh jatuh di atas tanah, bersamaan dengan pedang Valheins yang kembali kenyang melahap leher Arsello yang gagah dan juga berani itu.


Tubuh dan kepala pemuda itu dia biarkan terpisah dan tidak dia lakukan apapun untuk menyatukannya. Hidup terkadang memang terlalu kejam, hanya karena suatu hal kecil, Arsello harus terjebak, antara posisi mati dan juga hidup.


"Aku tidak suka seorang pengkhianat, aku juga tidak suka seseorang menodai putriku." Ucap Valheins seraya kembali menatap Alexa yang sudah basah kuyup terkena air hujan.


"Jika alam tidak mau bersekutu denganku, maka lihatlah kehebatan ku dalam menentang kalian semua!!"


Hiyaaaaa!!


Tes!


Tes!


Tes!


Air hujan semakin deras menetes pada sekujur tubuh Alexa, hingga rasa dingin dan membeku pada lukanya membuat rasa pedih itu semakin berkurang.


Dalam otaknya masih terngiang-ngiang panggilan merdu dari seluruh anggota kelompok serigala yang terus mengganggu tidurnya yang nyenyak.


Sampai akhirnya, pada saat pedang Valheins sudah diangkat, dan sedikit lagi akan menebas lehernya..


Sling!


Hap!!


"A?"


Mata Alexa terbuka dengan sangat lebar, dia tatap wajah Valheins yang sangat terkejut dibuatnya. Dia tangkap pedang milik leluhurnya itu dengan sangat sigap, sampai pada akhirnya, dia mulai bangkit dan memutuskan rantai besi yang menjerat sekujur tubuhnya dengan sangat erat.


Entah dari mana dia mendapat kekuatan tersebut, tapi yang jelas, dia selalu yakin kematiannya masih belum terjadi, ajalnya masih lama, dan sekarang, dia yakin dia akan kembali menang.


"Ka-kau?"


Perlahan dia mulai bangun dan meninggalkan batu tempat dia bersandar untuk dijadikan persembahan.


"Dasar wanita lemah! Sama seperti ibumu!" Ucap Valheins mengarah pada Alexa.


Namun gadis itu tidak menggubris ucapan Valheins barusan, dia hanya terus bangun dan kemudian mencoba untuk berdiri menghadap ke arah Valheins, lalu mendorong pedang pria itu, sampai membuat Valheins tampak tersungkur jauh dari hadapannya.


"Arkh!"


Bahkan pria itu memekik, manakala merasakan kekuatan besar yang muncul dari tubuh Alexa.


Sekarang dia bahkan mengakuinya, kekuatan Alexa jauh dari yang dia bayangkan, penuh ambisi dan rasa marah. Haus dan juga tidak bisa dipatahkan. Gadis di depannya itu tidak akan bisa membuat dirinya tenang.


Pria itu terlihat tergopoh-gopoh, mencoba untuk berdiri meski rasanya masih lemah juga. Padahal dia hanya didorong oleh sebagian kecil kekuatan Alexa, tapi entah mengapa, tubuhnya menjadi sangat lemah, seakan kekuatannya hampir habis dilahap tubuh gadis di depannya.


"Mau apa sekarang? Kau mau melawan aku? Kakek kamu sendiri? Kau tidak ada bandingannya denganku! Ingat itu!"


Gadis itu tidak juga menjawab semua perkataan Valheins barusan. Dia hanya terus menatap dengan tajam dua mata milik sang kakek, yang sejak dulu sudah memilih jalannya sendiri, tentunya dengan menjadi musuhnya, hanya demi untuk hidup abadi.


Sekarang dia telah berdiri dengan gagah, dengan tubuh yang masih basah terkena air hujan yang telah membantunya menepis semua rasa sakit yang ada di tubuhnya.


"Heng! Sudah aku katakan, aku bukan wanita lemah!"


Dia melepas seluruh pakaian yang dibalutkan oleh Shaga untuknya, dan membiarkan tubuhnya terkena tetesan demi tetesan air hujan.


Dia hanya terlihat mengenakan baju terbukanya, bahkan jaket wol milik Shaga pun dia biarkan terlepas begitu saja.


Tampak balutan-balutan rapi kain yang diikatkan oleh Shaga pada tubuhnya perlahan-lahan mulai terlepas, luruh dari tubuh Alexa, hingga menampilkan luka-luka cambukan di punggung Alexa yang terlihat berbeda.


Luka-luka itu tampak membaik, dengan darah yang akhirnya berhenti mengalir, dan luka cambukan yang terlihat mulai menutup dengan sempurna.


Sungguh ajaib, bahkan luka separah itu bisa sembuh hanya karena tetesan hujan yang deras menimpanya, sepertinya dia memang bukan gadis biasa.


"Hahh!"


Valheins pun dibuat memaku, dengan menatap tubuh Alexa yang sudah berubah, menjadi lebih baik tentunya. Padahal dia sendiri yang melihat anak buahnya mencambuk dan menjilat darah cucunya dengan sangat menggiurkan, entah mengapa sekarang tubuh Alexa tampak segar dan baik-baik saja.


"Kakek, pantaskah aku memanggil kamu dengan sebutan kakek?" Tanya Alexa sedikit memberi sindiran halus pada kakek tuanya.


Pria tua di depannya tak terlihat menyahut, hanya terlihat dia terus memawaskan diri untuk hal yang bisa saja terjadi selanjutnya.


Dan sekarang, pria itu agaknya juga tidak terlalu punya nyali untuk menghadapi gadis di depannya itu.


"Kenapa kau terdiam? Kau takut pada cucu kamu sendiri? Lihatlah, jika kau bilang cucu perempuan kamu ini lemah, maka kau sangat salah, karena aku bukan wanita yang terlahir dari ketakutan, aku terlahir dari rahim seorang wanita pemberani, dan pria yang terkenal kuat, maka jadilah aku," dia berhenti.


Sling...


Tatapan matanya menjadi sangat tajam menatap ke arah Valheins, jujur saja, hal itu semakin membuat hawa takut semakin menjadi-jadi pada Valheins. Hanya saja, sebisa mungkin pria itu memang tidak menunjukkannya di depan Alexa.


"Jadi berhentilah menyebut cucu kamu ini lemah!"


"Banyak bicara!!"


Hiyaaaa!!


Swosh!


Blam!!


Pertarungan sengit terjadi. Antara cucu dan kakek kandungnya yang serakah. Keduanya bertarung dengan sangat gahar, meski pertarungan ini sangat tidak seimbang.


Sama halnya seperti Arsello yang melawan Shaga dengan menggunakan senjata, Valheins juga mengandalkan senjata untuk menghabisi anak dari putrinya itu.


"Anak muda, selalu berambisi." Ucap kakek tua itu sambil mengarahkan pedangnya menuju jantung Alexa.


Namun..


Hap!


Belum juga pedang di tangan sang kakek menyentuh dadanya, kedua tangannya lagi dan lagi kembali berhasil mencegatnya, menangkap pedang milik leluhur mereka dengan sangat cekatan.


"Ah?"


"Sekali lagi, jika pun aku tua, aku akan selalu berambisi, karena aku terlahir dari keberanian, bukan rasa takut!"


Swosh!!


Bom!


Bom!


Bom!


Ledakan besar terjadi, saat Alexa dengan sigap mendorong pedang itu kembali, hingga membuat sang pemegang pedang akhirnya harus tersungkur dan pada akhirnya jatuh di atas bebatuan.


Sementara itu, di dalam sel tahanan, tampak Shaga yang tengah memberontak, meminta untuk dilepaskan, dan gawatnya lagi, pemuda itu bahkan berusaha untuk merusak sel tempat dia terkurung.


"Sialan!!"


Brak!!


Dia memukul dan menendang berulang kali sel besi itu, sampai agaknya para penjaga merasa kesal dibuatnya.


Empat penjaga tampak mendekat ke arahnya, dan kemudian membuka sel nya.


Satu pemimpin gahar di antara para penjaga itu tampak mendorong leher Shaga dengan sebilah tongkat besi hingga membuat Shaga mundur meratap ke dinding yang dingin.


"Dasar tukang berisik!" Umpat ketua penjaga itu.


Namun Shaga tidak menjawabnya. Dia hanya terlihat bernafas terengah-engah, tanpa bisa melawan. Tiga penjaga sel lainnya terlihat mengarahkan ujung pedang mereka ke arahnya, dan jujur saja, dia tak mau mati sia-sia di tangan para vampir ini.


Hahh! Hahh! Hahh!


"Jika kau mau berteriak dan membuat kegaduhan lagi, maka sumpal mulut kamu sendiri dengan kain," ucap pria ketua penjaga sel itu.


Kemudian pria itu terlihat menurunkan tongkat di tangannya dengan perlahan dari leher Shaga, dan kemudian menatap ketiga anak buahnya.


Mereka bergerak mendekat ke arah Shaga, meski mendapat tatapan aneh dan penuh tanda tanya dari mata Shaga.


"Mau apa kalian?" Tanya Shaga merasa was-was.


Namun ketiga penjaga itu seakan tidak mau mendengarnya. Mereka hanya terlihat menjegal tubuh Shaga, sementara dari arah luar, datang beberapa orang yang membawa rantai besi yang sangat panjang.


"Apa-apaan ini? Lepaskan aku! Lepaskan!!"


Teriak Shaga sampai pada luar sel tahanan, tapi teriakan itu diabaikan oleh semua orang. Dan kini dia dibiarkan tersiksa di dalam sel tahanan seorang diri.



\*\*\*\*\*\*\*\*



Mereka berhenti tepat di depan gerbang para vampir, dengan bergerombol dan saling menguatkan, akhirnya Wilmer dan Collab berhasil menyatukan kekuatan rakyat.


Mereka tampak menatap ke arah pemukiman terpencil dari para vampir, dan melihat keadaan sekeliling.


Namun mereka tak mendapati apapun di sana, entah tanda-tanda keberadaan Shaga dan Alexa, atau apapun, tidak ada sama sekali. Semuanya benar-benar nihil.


"Kau yakin dia diculik?" Tanya Wilmer pada Collab merasa tidak yakin, "tidak ada tanda-tanda keberadaan putraku di dalam sana, aku tidak mau memercikkan api pertengkaran pada mereka," ucap Wilmer.


Sama seperti Wilmer yang kebingungan, agaknya Collab pun tidak bisa menjawab pertanyaan dari Wilmer, karena dia sungguh tidak menemukan apapun di dalam sana, bukankah seharusnya ada sedikit tanda-tanda keberadaan keponakannya dan juga Shaga di sana?


Namun semuanya seakan tidak berbekas. Entah mengapa bekas darah Alexa pun tidak terlihat. Entah karena hujan yang mengguyur terlalu deras, atau mungkin tetesan-tetesan darah Alexa itu sudah habis menjadi rebutan para vampir, entahlah, yang jelas di dalam pemukiman para vampir, semuanya terlihat normal, hanya hujan deras saja yang mengguyur tempat itu tanpa ampun.


"Baiklah, mari berpikir bagaimana caranya untuk memastikan apakah putraku ada di sana atau tidak?" Tanya Wilmer pada sang sahabat.


Sementara di belakang mereka, para anggota serigala yang mau maju menemani mereka berdua pun tampak mulai dibuat jenuh. Semangat yang sejak awal mereka bangun dengan keterpaksaan, namun sekarang saat rasa ambisi dan semangat itu mulai tumbuh, entah mengapa semuanya malah tidak pasti.


"Aku juga tidak tahu!" Jawab Collab dengan polosnya.


Mendengar jawaban dari sang sahabat, Wilmer hanya bisa memalingkan wajahnya dengan kesal, "kita kembali saja!" Ucapnya dengan yakin.


Namun salah seorang melihat sesuatu di atas langit. Seberkas cahaya bersinar dari atas langit, menuju ke arah ujung tebing yang curam, dan akhirnya dia melihat seorang gadis yang tengah berjuang melawan Valheins seorang diri.


"Tunggu! Bukankah itu Nona Alexa?" Tanya dia menghentikan langkah kaki Wilmer.


Semua serigala itu pun mulai menatap ke arah yang ditunjukkan salah seorang di antara mereka, hingga akhirnya mereka sungguh mendapatkan pemandangan yang menakjubkan dari arah sana.


"Benar, itu keponakanku," ucap Collab.


Sekarang wajah Wilmer mulai terlihat marah. Entah dia marah karena apa, dia hanya diam tak ingin mengatakan alasan kemarahannya itu pada siapapun.


"Dimana bujangan itu? Bisa-bisanya membiarkan seorang gadis bertarung sendirian!"


Rupanya dia malah marah pada putranya sendiri, mengingat dia tak melihat pemandangan putranya di ujung bukit. Entah kemana anak bujangannya itu sekarang tengah bersembunyi, yang pasti kali ini Shaga membuat ayahnya marah.


"Aku akan mencabut gigi taringmu nanti." Umpat pria tua itu lagi, "sekarang ayo kita bantu anak muda itu! Jangan biarkan dia tewas seperti ayahnya!"


Serentak semuanya berubah menjadi kawanan serigala, dan kemudian dengan gagah berani mereka mulai merobohkan gerbang perbatasan kaum vampir.


Groarrrrrrr!!


Jleger!!


Petir menyambar di atas langit yang berkabut, gelap dan disertai hujan yang sangat lebat masih mengguyur kota para vampire.


Brak!


Brak!


Brak!


Mereka tampak bekerja sama untuk merobohkan pagar besi nan kokoh itu, dan tidak mau menyia-nyiakan waktu yang sudah semakin sempit.


Dengan suara gemuruh petir yang terdengar memekakkan telinga, mereka terus mencoba menerobos gerbang itu, hingga suara kekompakan mereka pada akhirnya terdengar pula sampai ke telinga para vampir.


Kaum vampir yang mulanya memilih meninggalkan sisi tebing tempat persembahan Alexa pun mulai menyadari kehadiran para kawanan serigala. Mereka pada akhirnya mulai merapatkan barisan, dan berjalan secara bersama-sama menuju ke arah gerbang itu.


Namun mereka masih tidak mendapati keberhasilan para kaum serigala. Mereka hanya bisa berdiri menunggu para kawanan serigala berhasil menerobos masuk kawasan mereka.


"Lihatlah, para makhluk berbau itu terlihat sangat lemah," begitulah umpat para vampir dengan senyum licik dan penuh hinaan di bibir mereka.


Di atas tebing yang kokoh, dengan sisi kanan dan kirinya bisa dilalui oleh semua orang dengan mudah, tentunya tebing yang tak terlalu tinggi, namun dari atas sana, pemandangan seluruh kota vampir bisa dilihat dengan sangat jelas.


Gadis itu masih setia berjuang untuk melawan sang kakek, entahlah, tidak untuk membunuhnya, hanya ingin memberi sedikit peringatan terhadap kakeknya.


Pria tua yang seharusnya sudah pensiun, bahkan mungkin perlu meminum vitamin setiap dua jam sekali, namun pria tua itu masih juga memikirkan kekuasaan, bahkan untuk menguasai dua dunia yang berbeda.


Swosh!


"Kau hanya sebagian kecil dari para nyawa yang telah aku habisi dengan pedang ini!" Ucap Valheins sambil menyerang cucunya sendiri tanpa belas kasihan.


Tring!


"Sayang sekali kau adalah kakekku," jawab Alexa.


Gadis itu dengan cekatan menahan serangan dari Valheins, rupanya dia memang gadis yang tidak bisa diremehkan.


Padahal sewaktu dia berada di dunia manusia, jangankan mengikuti kelas silat, atau semacamnya, mengenal dunia pergulatan pun tidak, dia memang ditakdirkan menjadi pejuang sejak kecil, karena itulah seperti apapun jalannya tertutup, maka takdir akan membukanya sendiri, dengan begitu, tanpa mengikuti kelas bela diri pun dia sudah berhasil menaklukkan musuh-musuhnya entah di dunia manusia, atau mungkin di dunia ini, entahlah, semoga saja benar dia bisa menaklukkan musuh-musuhnya di dunia merah ini.


Dia telah ditakdirkan menjadi seorang pemimpin dan penguasa, tapi dia tidak menyangkal semua itu jelas butuh proses yang besar untuk bisa sampai pada tujuan akhirnya..


Sekarang permasalahan utamanya adalah, dia harus melawan kakek kandungnya sendiri. Meski dia belum pernah berjumpa dengan Valheins sebelumnya, tapi sebenarnya dia menginginkan pertemuan yang hangat dengan Valheins. Sayang sekali dia memiliki sosok kakek yang sangat buruk.


Di depan gerbang, perlahan-lahan pagar itu mulai miring, sekali dobrakan dari Wilmer pun akhirnya berhasil merobohkan dinding perbatasan itu.


Brakkk!


Groarrrrrrr


Jlger!


Kretak kretak! Kretak!


Derap langkah kaki pasukan serigala tampak terdengar begitu ganas dan semakin mengerikan. Mereka berbondong-bondong masuk menerobos pagar itu, dan kemudian bersiap untuk melawan ratusan bahkan mungkin ribuan vampir di hadapan mereka.


Sementara itu, di barisan paling belakang, Wilmer malah terlihat berusia dengan gagah berani menatap ke sekeliling mereka yang sudah terisi penuh dengan kawanan vampir yang dingin.


"Bersiaplah!"


Semua anggota vampir tampak bersiap-siap menghadang serangan dari anggota serigala, termasuk juga Collab yang juga tidak bisa mengelak dari pertempuran ini.


Groarrrrrrr!!


Dan akhirnya pertempuran sengit pun kembali terjadi. Pertempuran yang pada akhirnya harus melibatkan dua kelompok yang jumlahnya saja tidak seimbang.


Saat itu terjadi, hanya seperempat pasukan vampir yang menghadang para serigala, tapi nyatanya, jumlah sekecil itu bagi kelompok vampir, adalah jumlah yang sangat besar untuk kaum yang akan dilawan oleh bangsa serigala.


Dan sekarang terlihat dengan jelas pada vampir itu mulai dengan beringas menghabisi para serigala, begitu pun sebaliknya. Mereka menyalakan api, dengan beberapa obor yang telah disiapkan oleh Collab.


Di atas tanah para vampir itu disiram dengan sesuatu, dengan jumlah yang sangat banyak oleh Collab, lalu beberapa bangsa serigala tampak menjatuhkan obor dari mulut mereka, hingga acara bakar-bakaran di siang hari pada saat hujan lebat pun terjadi.


Meski hujan sangat lebat, namun para anggota serigala tidak menepis keyakinan mereka. Mereka terus berjuang untuk api mereka agar tetap bertahan di tengah derasnya hujan yang mengguyur.


Blusss!


Satu demi satu kepala para vampir yang terpenggal itu mereka bakar di tengah-tengah api yang berkobar bersamaan dengan air hujan deras yang turun dari atas langit.


Sementara itu, Wilmer memilih untuk tidak bertahan dalam posisi di depan gerbang. Dia membiarkan Collab berjuang keras memimpin pasukannya seorang diri. Karena dia tentu punya pilihan lain yang jauh lebih dia utamakan.


*Aku tahu putraku bukan bujangan pengecut, jika dia tidak ada di samping Alexa, dia pasti berada dalam bahaya besar*.


Pikirnya dengan yakin. Dia pun mulai bergerak melewati beberapa gerombolan vampir, dan kemudian menyelisip di tengah-tengah perkotaan besar para vampir.


Perkotaan ini bahkan dihuni oleh ribuan vampir yang masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang tidak bisa ditandingi. Meski rakyat biasa sekalipun, Wilmer tidak mau menyepelekan kekuatan vampir. Sejarah mereka mengatakan, tidak ada seorang pun yang bisa melawan vampir yang hidup sebagai rakyat biasa, kecuali Sean seorang.


Hanya pemuda itu yang berani melawan para vampir, dan bisa memenggal kepala mereka dengan sangat mudah. Terbukti hal itu terjadi pada kedua orang tua seorang bocah tengik yang sekarang menjadi kebanggaan para vampir, yaitu Arsello.


Kedua orang tua Arsello dipenggal kepalanya oleh Sean, atas persetujuan dari Valheins. Hal itu dikarenakan dua vampir itu berani mencuri benda sejarah milik keluarga serigala, dan juga merampas benda berharga milik Valheins.


Dan pada saat itu terjadi, dua kelompok masih hidup rukun bertetangga, hingga acara pemenggalan itu pun disaksikan oleh dua kelompok dari dua ras yang berbeda.


Kedua orang tua Arsello tertangkap pada saat mencoba membawa kabur pedang dan permata milik kelompok serigala yang sudah mereka jaga selama ratusan tahun, dan Sean lah pemuda yang berhasil menangkap mereka berdua.


Dengan persetujuan Valheins, kepala dua vampir itu dipenggal dan dibakar menjadi tontonan asik pada masyarakat karena dianggap sebagai pengkhianatan.


Sebenarnya keberanian dan kegagahan Sean itulah yang membuat Valheins pada akhirnya merestui hubungan cinta Sean dengan putrinya yang bernama Riyana.


Arkh!


Sudahlah, sudahi berbicara yang tidak penting. Kali ini mari kita lihat bagaimana perjalanan Wilmer dalam menemukan putranya.


Dia tampak berhenti dan bersembunyi dibalik tembok yang kokoh, saat dia mendapati beberapa vampir yang berkeliaran di sekelilingnya. Dia tidak bisa bernafas dengan lega, mengingat bau nafasnya, juga bau badannya bisa saja tercium oleh mereka, terlebih lagi sekarang dia tengah berkeringat.


Benar saja, pada vampir itu tampak berhenti, dan kemudian saling menatap satu sama lain, "aku mencium aroma serigala."


"Ya, aroma yang sangat kuat!"


Ternyata memang benar, tidak mudah bersembunyi dari mereka semua, indera penciuman mereka terlalu tajam, dan hal itu akan sangat menyulitkan bagi Wilmer untuk sampai ke tempat anaknya berada.


*Sudah aku duga, mereka tidak akan mudah mengabaikan aku*.


Para vampir itu masih setia mencium aroma darah serigala di dekat mereka, namun mereka masih juga belum menemukan kemana arah bau itu berasal.


Semoga kau selamat, Wilmer!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...