
Krrrrrttt
"Arkh!"
Kaki Alexa mundur ke belakang, bersamaan dengan serangan Valheins yang menyerang bagian dadanya, sampai mengeluarkan banyak darah di sana.
Kini dia terlihat bermandikan darah. Dia sangat kesakitan, dengan sekujur tubuh yang hampir dibuat remuk oleh pria tua di depan kedua matanya. Dia amat merintih, rasanya dia seperti hampir mati pada saat itu.
Namun sang kakek hanya terlihat tertawa dengan puasnya menyaksikan tubuh cucunya yang ambruk tidak kuat lagi untuk berdiri.
"Kau sudah aku peringatkan berulang kali, kekuatan kamu dan kekuatan aku bukan tandingannya, tapi kamu masih dengan sombongnya ingin melawan aku, kamu pikir kamu bisa menghabisi aku dengan gaya kamu yang sok jagoan itu?" tanya Valheins sambil mendekat ke arah Alexa, dan kemudian dengan gagah berani mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, mencoba untuk bersiap mengambil ancang-ancang.
Alexa yang dalam keadaan tengkurap di tanah itu hanya mendongak sekejap, melihat ujung pedang milik Valheins yang mengkilat di matanya itu dan hampir mendekati dirinya.
"Ha. ha.. ha..."
Tawanya begitu antusias, karena dia begitu yakin, kali ini dia bisa mendapatkan jantung Alexa, dan setelah itu, dia bisa mengembalikan kekacauan perang itu menjadi seperti yang dia mau lagi.
"Selamat tinggal cucuku!!"
Bless!
"Aaaaaa!!!"
Alexa menggeliat, merasakan sebuah benda yang tajam menusuk area punggungnya. Teriakan itu sampai ke telinga Shaga, hingga membuat pria yang tengah sibuk menyelamatkan para serigala yang terperangkap di dalam kawanan lalat-lalat itu akhirnya mendongak ke atas.
Dia tidak bisa melihat Alexa dari bawah sana, tapi dari kejauhan dia bisa melihat sosok Valheins yang tampak dengan sangat ambisi menusuk-nusuk pedangnya ke bawah, yang mungkin, itu adalah tubuh Alexa!!
"Aaaaaaa!!!!"
Bles!
Ha.. ha.. ha...
"Rasakan ini cucu kesayanganku! marilah berkorban untukku!!"
"Alexa!!"
Gumam mulutnya dengan lirih. Dia kemudian menatap seseorang yang tengah dia papah itu, dan kemudian memberikannya pada pria yang sejak awal membantu dirinya.
"Kau harus membawanya ke gua, aku serahkan semua padamu!" ucap Shaga pada pria yang mendadak jadi kepercayaannya itu.
Pria itu mengangguk, menggapai tubuh pria dalam rengkuhan Shaga dan kemudian membawa pria itu ke dalam gua.
Sementara Shaga terlihat naik kembali ke atas tebing, dengan sosok yang telah berubah menjadi serigala.
Dia meloncati bebatuan yang terjatuh dari tebing, dan kemudian menggapai tubuh Valheins yang tengah asik mencoba menghabisi Alexa dengan pedangnya.
Roarrrrrrr!?
Buk!!
Blam!!
Buk!
"Beraninya hanya pada wanita! dasar lemah!!"
Bukk!
Dia yang berselimut amarah yang bergejolak hanya terus melampiaskan kemarahannya itu pada wajah Valheins. Ia mencakar wajah pria itu dengan kedua tangannya, dengan kuku-kuku tajam di setiap jari jemarinya, menggigit dan membuang kulit-kulit Valheins dengan taringnya yang tajam, bahkan sampai membuat Valheins terlihat mengalami luka berat pada bagian wajahnya.
"Ini adalah pembalasanku!!"
Roammm!!
"Aaaaa!!"
Dengan gigitan tajam taring Shaga, dia berhasil menyobek dan membuang serpihan daging pada bagian muka kiri Valheins, hingga terlihat pipinya yang sudah amburadul, dengan kulit yang terkelupas secara sempurna.
Bukk!
Namun Valheins tak mudah menyerah. Dia yang terkekang dalam serangan Shaga akhirnya terlihat menendang Shaga dengan bagian lututnya, hingga pria muda itu berhasil menyingkir dari atas tubuhnya.
Ia segera bangkit, meraba wajahnya yang terluka sangat parah, dan mengeluarkan cairan hitam seperti darah.
Ia sangat kesakitan, namun dalam rasa sakitnya itu timbul juga kemarahan yang bertambah bergejolak memenuhi dirinya.
Ia tampak menatap ke arah Shaga, melihat serigala itu tengah berdiri menatap dirinya dengan tajam dan mencoba untuk segera menyerang dirinya kembali.
"Dasar kaum lemah!!"
Hiyaaaaa!!
Pedang dia layangkan, mengarah pada Shaga yang juga tengah melompat dan mencoba menyerang dirinya.
Bles!!
Krak!!
"Arkh!"
Namun sesuatu tidak dia duga sebelumnya. Dia malah tampak terdiam terjatuh di atas tebing dan terlihat meringkuk dengan kesakitan.
Sementara Shaga juga ambruk di sampingnya, dengan pedang yang sudah berada tertancap langsung di leher Valheins.
Shaga bangkit dan merubah dirinya menjadi sosok manusia biasa. Dia kemudian berdiri dengan gagah di hadapan Valheins yang tengah ambruk di atas tanah, dengan tangan yang terus mencoba untuk melepas tusukan pedang di bagian lehernya.
"Kau sudah tua! sudah seharusnya kau mati saja!" Ucap Shaga pada Valheins.
Namun pria tua itu malah kembali bangkit, setelah dia berhasil mencabut pedangnya dari bagian leher kirinya, hingga sekarang dia terlihat seperti zombi buruk rupa yang bermandikan darah berwarna hitam.
Trang!
Valheins membuang pedang yang telah patah pada bagian ujungnya itu, dan kemudian menatap ke arah Shaga dengan tatapan matanya yang mengerikan.
Pada bagian kiri bawah mata terlihat luka dalam di sana semakin memburuk, apalagi sekarang bertambah pada bagian lehernya, dia jelas semakin kelihatan bertambah buruk.
Namun dia masih belum menyerah juga. Dia melihat Shaga yang sangat berani berdiri di depannya dan bersiap untuk apapun yang akan terjadi, meskipun mati sekalipun.
"Kau anak Wilmer! kau hanya sedang berusaha menguatkan hati kecilmu sendiri, menghadapi sang ayah yang telah menanamkan ribuan rasa sakit di dalam hatimu, kau membela kaumnya, kau membela kebodohannya, dan kau berdiri di depan pasukanmu, memimpin mereka yang akhirnya hanya akan mati sia-sia!" ucap Valheins mulai menggunakan hasutannya.
"Tapi bagiku kau yang bodoh, kau mengatakan pasukan kami bukan apa-apa jika di bandingkan dengan pasukan kamu yang berjumlah ribuan, tapi kau harus melihat kenyataan sekarang, kalau pasukan kamu adalah pengecut, yang lari dan kabur saat kau membutuhkan mereka, dimana mereka sekarang? kau tahu dimana keberadaan mereka saat ini? mereka mati, sisanya yang hidup malah bersembunyi, jika aku menjadi kamu aku akan sangat malu." Ucap Shaga pada Valheins dengan wajah yang sangat menakutkan.
"Aku tidak perlu merasa malu, tanpa mereka, aku juga bisa mengalahkan kalian semua!!"
Hiyaaaa!!
Roammm!!!
Secepat kilat Shaga berubah menjadi serigala kembali, melompat dan melawan Valheins lagi tanpa rasa lelah.
Dia terus mencakar dan menghujamkan kuku-kuku tajamnya menembus kulit Valheins tanpa rasa bosan. Bahkan bagi dia pertarungan ini tak beda seperti tengah bermain dengan sangat mengasikkan.
Ia pun terus menikmati permainan yang dia ciptakan dengan Valheins, menikmati jalannya pertarungan yang amat hebat, yang jujur saja baru pertama kali ini dia melakukannya.
Sebenarnya ini adalah kemajuan yang terlihat semakin pesat.
Di sisi lain, Alexa yang semula terjatuh dan tidak sadarkan diri dalam pertarungan melawan Valheins, kini mulai perlahan-lahan sadar dari pingsannya.
Dia terlihat menggerakkan jari jemari di tangannya, dan mulailah dia bergerak perlahan menunjukkan wajahnya dan membuka kedua matanya yang terasa sulit terbuka.
Dengan perlahan dia bangkit, meski sekujur tubuhnya serasa mau patah terbelah menjadi dua. Namun dia tetap bangun, dengan pedang yang masih dia genggam dengan erat pada tangan kanannya.
Dia terlihat begitu kesakitan, namun dia tetap mencoba untuk berjuang melakukan jalan takdirnya, melakukan satu hal yang telah tertulis di dalam buku kehidupannya sejak masa dulu.
"Aku.. tidak akan menyerah!!!"
Brukk!
"Arkh!"
Terlihat Shaga yang terjatuh di atas bebatuan, dengan luka yang juga cukup serius pada bagian dadanya. Dia terlihat berubah menjadi manusia biasa, dan hanya bisa menunggu waktu sampai dia benar-benar pulih kembali.
Hiyaaa!!
Alexa menjulurkan pedangnya ke atas langit, seketika mendung pun berlalu, matahari kembali bersinar membelah kegelapan di langit mendung.
Angin bertiup cukup kencang, sampai-sampai api yang berkobar di bawah sana terlihat semakin ganas berkobar. Para serangga yang sejak tadi terus menyerang pun terlihat mulai pergi menjauh, menjauh sejauh mungkin, mencari tempat yang tidak memercikkan api, dan tempat yang mereka tuju adalah pemukiman kawanan serigala.
"Gawat!!"
Gumam Wilmer melihat kejadian ini dari dalam gua.
Sementara Valheins kembali dibuat mematung saat dia melihat kembali kekuatan Alexa yang lain.
Langit yang membelah menjadi bersinar terang dipenuhi oleh cahaya matahari, cahaya yang sangat panas sampai-sampai kulitnya yang terkelupas makin lama jadi semakin memburuk.
Dia menutupi wajahnya dengan segera menggunakan cindungnya lagi, demi untuk tidak terkena kilatan cahaya matahari yang amat menyakitkan itu.
Namun Alexa tak mau tinggal diam. Dia tampak melakukan sesuatu pada pedangnya, menyalurkan kekuatan ke dalam pedang yang tengah dia pegang dan dia julurkan ke atas langit, dan kemudian dia membuka kedua matanya.
Sling!
Matanya menjadi merah terang, dengan cahaya keemasan yang menandakan kekuatannya yang sangat besar. Warna merah di dalam bola matanya menggambarkan kemarahan yang bergejolak.
Dan artinya dia kali ini benar-benar tidak akan mudah untuk ditaklukkan.
"Sudah cukup kita bermainnya! kau hanya satu di antara ribuan makhluk yang menjadi sampah di tanah ini! kau pantas untuk dilenyapkan!"
Sling!
Swosh!!.
Jleb!
Terbang saja pedang itu ke arah depan, membidik bagian leher Valheins yang pada saat itu mungkin berjarak sekitar sepuluh meter dari tempat Alexa berdiri dengan gagahnya.
Pedang itu mengarah langsung ke arah Valheins, bergerak dan melesat dengan cepat, mungkin sekitar satu mil per detik, dan akhirnya.
"Tidak mungkin! itu sangat mustahil!!"
Swosh!!
Sling!!
Crushh!
Sejenak suasana menjadi tenang, manakala pedang itu sudah melalui bagian leher Valheins.
Kepala Valheins jatuh di atas tanah, dengan tatapan matanya yang kosong tidak berarti apapun.
Brak!
Kepala itu menggelinding dan berhenti di ujung tebing, sementara tubuhnya ambruk di atas bebatuan yang terjal, dan setelah itu, semuanya menjadi tenang.
Bruk!
Puffff!
Namun kali ini malah Alexa yang ambruk. Dia sudah tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit yang menimpa dirinya.
Rasa sakit yang tercipta akibat serangan Valheins sebelum ini, dan rasa sakit itu membuat dirinya mengeluarkan darah dari mulutnya sampai berulang-ulang kali.
"Alexa!!"
Teriak Shaga sambil berlari menuju ke arah Alexa, dan kemudian merengkuh tubuh itu dengan kekuatannya.
Tubuh itu telah berubah menjadi semakin lemah, seakan tidak ada lagi daya dan upaya yang bisa dia lakukan untuk saat ini.
"Alexa, bertahanlah, kau harus bisa bertahan, kau harus bangun!" ucap Shaga sambil terus merengkuh tubuh mungil itu.
Tubuh mungil yang saat ini masih sangat dia cintai, yang saat ini masih saja dia rindukan dan dia harapkan cinta kasih sayangnya, tubuh itu, meskipun kelihatan mungil, tapi percayalah, di dalam tubuh yang mungil itu bersemayam sebuah kekuatan yang tidak akan pernah tertandingi oleh apapun itu.
"Shaga..."
Hanya panggilan kecil dan lirih itu yang kemudian menjadi akhir dari ucapan Alexa sebelum akhirnya gadis itu memejamkan kedua matanya, untuk waktu yang tak singkat.
"Alexa!!! Alexa!! jangan! aku mohon bangunlah!!"
Dia terus menangis, dia terus merengkuh tubuh mungil itu dengan kedua tangannya, bahkan air matanya terus saja berjatuhan di atas pipi Alexa yang halus dan juga lembut.
Dia tak menyangka kalau Alexa akan secepat ini meninggalkan dirinya. Dia pun hanya terus merenungi nasibnya yang malang karena harus ditinggal pergi oleh Alexa, gadis yang sangat dia cintai.
"Ha.. ha.. ha..."
Namun suara tangisnya mendadak terhenti, manakala dia mendengar dengan keras suara tawa dari sesuatu yang tergeletak di atas bebatuan.
Sesuatu yang masih saja hidup meski sudah terpisah dari tubuhnya.
"Kau pikir akan semudah itu mengalahkan aku?"
Kepala itu mulai menggelinding mendekati tubuhnya dengan kecepatan yang tak terlalu lambat. Dia terlihat tersenyum dengan senyuman yang sangat mengerikan.
Shaga langsung bangkit dari duduknya, melihat kejadian ini, kejadian yang sangat membuat dirinya murka, pun juga merasa muak.
Dia langsung mendekat ke arah kepala itu, dan melihat ketawa mulut Valheins yang sangat menjjikan.
"Mimpi saja kalau mau menghancurkan aku!!"
Tubuh Valheins yang berada di belakang Shaga mendadak mulai bangkit kembali tanpa Shaga sadari. Tubuh itu kemudian berjalan ke arah Shaga, dan mengangkat tangannya dengan sangat tinggi, lalu terlihat tangan dari tubuh tanpa kepala itu mulai mengarahkan pukulannya ke arah Shaga.
Tapi mendadak.
Bukk!
Brak!!
"Arkh!"
Kepala itu berteriak kesakitan, saat tubuhnya dipukul dengan menggunakan dahan kayu yang menyalakan api yang berkobar-kobar dengan sangat ganas.
Dan hal itu jelas membuat Shaga sedikit merasa terkejut. Ia kemudian berbalik, melihat sang ayah yang telah berdiri dengan nafas yang tergopoh-gopoh dengan sangat penatnya.
"Ayah? bagaimana kau tahu aku dalam keadaan bahaya?" tanya Shaga pada sang ayah.
"Tentu saja, aku juga tahu kau harus segera pergi!"
"Tapi bagaimana dengan Alexa?" tanya Shaga pada sang ayah.
Ayahnya menoleh ke belakang, mendapati Alexa yang tak lagi bergerak dari posisinya, dengan keadaan yang sudah sangat menyedihkan.
Tapi dia tahu ini bukan akhir dari segalanya. Dia hanya kembali menatap Shaga dan kemudian beralih menatapi kepala Valheins yang masih saja berjalan-jalan dengan asik mendekati tubuhnya.
Blus!!
"Aaaa!!"
Tanpa berpikir panjang, Wilmer segera melempar dahan kayu yang semula sudah dibakar di dalam api unggun di bawah sana ke arah Valheins.
Seketika kepala itu terbakar dengan sangat mudah, menggelinding ke sana dan kemari dan kemudian terjatuh dari atas tebing bersamaan dengan segalanya yang telah berkahir.
Badan Valheins di tendang begitu saja oleh Wilmer jatuh dari atas tebing, dan tepat mengenai tumpukkan kayu-kayu yang sangat banyak di bawah sana, kayu yang telah menyala apinya dan bersiap menghanguskan Valheins dengan sangat cepat.
"Panas!!! aaaaaaa!!!"
Bahkan saat kepala itu sudah terbakar pun suaranya masih bisa terdengar di kedua telinga Wilmer dan kedua telinga Shaga. Memang pria berkulit alot itu sangat sulit untuk dikalahkan.
Ya, tentu saja Shaga bisa berbicara demikian, itu karena dia memang sudah menggigit bagian wajah Valheins saat dia bertarung, dan rasanya memang sangat alot.
"Kau belum menjawab pertanyaan dariku, ayah." Ucap Shaga menagih sang ayah.
Ayahnya kemudian terlihat bergerak mendekat ke arah Alexa, dan terduduk berjongkok di sisi Alexa.
Dia melihat wajah Alexa yang masih sama, meskipun pucat seperti mayat, tapi masih menyiratkan sebuah aura kehangatan. Dia percaya ini bukan lah kiamat seperti yang dikatakan sebelumnya.
Justru ini adalah lahirnya cahaya baru, cahaya yang akan menyinari alam semesta dengan sinar kehangatan yang terpancar pada sosok Alexa yang baru.
"Kita belum kehilangan dia, dia hanya perlu waktu untuk pulih, angkat dia dan kita bawa kembali ke pemukiman!" ucap Wilmer sesaat sebelum dia bangun dan kemudian menatap ke arah pemukiman Serigala yang terletak jauh sekitar dua mil dari tempat peperangan itu.
Shaga hanya terlihat bingung. Namun dalam bingungnya itu, dia juga menuruti ucapan sang ayah, mengangkat tubuh Alexa, dan menggendongnya di depan, apa bridge style.
Dia kemudian berdiri di samping sang ayah, dan bersamaan menatapi langit di atas pemukiman yang terlihat gelap gulita.
"Apa itu masih serangga yang tadi?" tanya Shaga menyadari kegelapan di langit itu tidaklah beres.
"Ya, peperangan selanjutnya melawan serangga, kita lakukan sendiri, tanpa adanya Alexa." Ucap Wikmer pada putranya.
"Kenapa? bukankah tadi kau bilang kalau Alexa akan baik-baik saja?" tanya Shaga bertambah bingung.
Mendengar pertanyaan dari Shaga barusan, Wilmer lekas menoleh ke arah dimana putra berdiri dengan gagah menggendong pujaan hatinya.
Dia menatapi Alexa yang tertidur dengan lelap, dan kemudian kembali beralih pada wajah tampan yang Shaga miliki.
Ya, sesungguhnya wajah tampan dari Shaga itu dia yang mewarisinya. Bukan bermaksud untuk sombong.
"Dia perlu waktu untuk pulih, dan itu memerlukan waktu yang tidak singkat, kita harus tetap menunggunya, selama dia berusaha untuk pulih, kita harus memerangi serangga itu seorang diri." Jelas Wilmer pada putranya.
"Tidak!" namun dengan cepat Shaga menolak ucapan dari ayahnya.
Agaknya dia punya pendapat yang lain, yang tentu saja tidak pernah terduga sebelumnya oleh Wilmer. Kareka itulah Wilmer hanya bisa menatap kedua mata putranya dengan tatapan dipenuhi tanda tanya besar.
"Kau lupa kau punya keluarga, kita bukan Valheins, kita adalah keluarga!" Ucap Shaga sembari mengulas senyuman manisnya di depan sang ayah.
Hal itu membuat ayahnya lekas tertawa riang. Meski peperangannya yang panjang masih belum selesai juga, tapi keduanya amat yakin, jalan ke depan menuju kebahagiaan masih membentang dengan luas.
Sekarang bukanlah saatnya bersedih atau menyesali semuanya yang terjadi, tapi sekarang, adalah waktu bagi mereka untuk menciptakan kebahagiaan yang abadi.
"Kau sudah siap untuk berperang lagi?" tanya Wilmer pada putranya, yang kini telah berubah kembali menjadi sosok serigala, dengan punggungnya yang sudah berisikan Alexa.
Di belakang mereka terlihat kawanan serigala yang tersisa yang semula sudah diselamatkan oleh pria sebelumnya.
Shaga hanya mengulas senyuman liciknya, dan tanpa berkata-kata.
"Baiklah, mari kita berperang!!!"
Swosh!!
Kretak!
Kretak!
Kretak!
Namun perjalanan mereka masih begitu panjang, perjalanan ini masih belum menemukan empunya, semua ini masih harus berjalan sebagaimana semestinya, dan mereka, akan selalu bersiap untuk segala hal yang terjadi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...