
Ia tampak lebih gagah dan berani dengan kondisi tubuh yang telah beralih normal.
Seperti halnya sang istri yang akhirnya kembali lagi seperti dulu, hidup dengan lebih baik setelah dua puluh tahun lamanya menggila dalam kurungan Arsello, dia pun akhirnya telah kembali dengan pesonanya sebagai seorang pemimpin dan juga raja dalam kelompok serigala.
Ia tampak menginjakkan kakinya dengan sangat gagah di atas tebing yang curam pun juga amat tinggi. Dengan menghadap langsung ke arah Valheins, dia terlihat menajamkan kedua matanya, tatapan matanya dipenuhi sorot mata dendam dan ambisi.
Apalagi setalah dia mendapati sang adik telah tewas. Dia tidak akan pernah bisa mengampuni siapapun itu yang menghancurkan kehidupannya, terutama keluarganya.
"Sudah cukup kau mengacaukan dunia!"
Swosh!
Terlihat sekelebat cahaya berwarna keemasan merasuk ke dalam tubuhnya, sesaat sebelum dia mendekat ke arah Valheins dan mengajak pria tua itu untuk berduel.
Sling!
Pedangnya pun ikut bercahaya. Padahal itu bukan pedang yang selama ini menjadi legendaris kebanggaanya. Pedang itu sekarang entah berada di mana, mungkin memang benar, pedang itu bersemayam kembali sampai pada akhirnya suatu hari nanti akan dibangkitkan kembali oleh sang pemilik aslinya.
Sebelumnya Alexa menggunakannya, sebelum dia akhirnya kalah dan mungkin pedang itu sekarang masih tergeletak di dalam istana Valheins. Mungkin.
"Kau tahu, pak tua? bodohnya kamu yang lebih memilih kekuasaan dibanding dengan keluargamu!" ucap Sean dengan sangat dalam.
Wibawanya terlihat sangat jelas seperti pria terkuat dan penuh dengan kekuasaan. Ia bahkan lebih pantas menyandang status sebagai seorang raja. Hanya saja, benarkah dia akan menjadi raja suatu hari nanti?
"Heng! aku tidak bodoh, keluarga hanya akan membebani aku saja, tapi tahta, selamanya akan memuaskanku!" ucap Valheins.
Pria itu masih tampak menyeramkan dengan kondisi bagian mulutnya yang masih berdarah-darah.
Tak tak tak!
Langkah kaki Sean tampak lebih yakin maju ke depan. Dia tampak kesal dengan jawaban yang diberikan oleh Valheins untuknya barusan.
"Sayang sekali, kau memilih jalan yang salah." Ucap Sean masih dengan nada yang begitu dalam, "baiklah, jika kau hanya mau tahta, maka aku akan memberikan tahta untukmu di neraka!"
Swosh!
Trang!
Dengan cepat Sean mencoba memulai pertarungan. Namun baru saja memulai pertempuran, Valheins sudah dengan mahirnya menangkis pedang Sean, hingga akhirnya dia pun selamat dari serangan pertama Sean.
"He.. he.. he..."
Ia terkekeh dengan sombongnya, berpikir dan mengira takdir akan selamanya berpihak padanya, hanya saja, dia tidak pernah tahu, dia bukan Tuhan.
Dia hanya makhluk yang dikendalikan untuk berbuat bodoh dan merusak ciptaan Tuhan. Sadarkah dia akan hal itu?
"Kau tidak punya cukup kekuatan untuk mengalahkan aku." Ucap Valheins masih dengan congkak.
"Kau salah, seumur hidupku hanya akan menyesal jika tidak sampai membunuh kamu! aku salah tidak mengalahkan kamu dahulu, hanya saja, aku tahu, putriku yang memiliki wewenang itu." Ucap Sean.
"Ha.. ha.. ha... putrimu? aku melihat dia sudah hampir meregang nyawa, apa dia benar akan membunuhku?" ucap Valheins masih dengan congkaknya.
Sean melirik anaknya sekilas. Tubuh yang terbujur tidak berdaya dengan aliran darah yang menetes dari arah dadanya.
Mendadak Sean jadi cemas. Pun juga marah.
*Anakku, aku akan melumpuhkannya untukmu*!
Hiyaaaa!!
Trang!
Pedang pun mulai saling menyatu, dengan kondisi yang sangat gahar saling menantang pun juga saling menyerang mempertahankan diri sang tuan.
Keduanya tampak sangat mahir memainkan pedang, bermain pula dengan ocehan mulut mereka. Keduanya benar-benar sangat menikmati pertarungan sengit itu.
Di sisi yang lainnya, tampak Shaga yang akhirnya telah tiba di atas menyusul sang Tuan. Ia menatapi di sekitar pertarungan Valheins. Nampak sebujur bangkai milik Collab tidak terurus di tempat terjatuhnya, dengan tubuh yang telah mengering.
"Paman Collab yang malang." Gumam Sean dengan lirih.
Ia ingin peduli, tapi sayang sekali, dia punya tugas yang lebih penting sekarang. Dia pun hanya bisa mengalihkan perhatian kedua matanya menuju ke arah gadis yang tengah terbujur tak bergerak di atas bebatuan yang menggelepar.
Ia menatapi sosok Alexa yang masih saja tertidur dengan pulasnya, lalu kemudian mendekat dengan cemas.
"Alexa! bangunlah! Alexa!?" panggil Shaga sambil mencoba membuka jeratan rantai besi yang dikaitkan oleh Valheins.
Namun dia benar-benar tak berhasil melakukannya. Bukan karena apa, agaknya Valheins juga menggunakan mantra untuk menjerat Alexa di sini.
Dan dia bukanlah pria legendaris yang ditakdirkan untuk memiliki kekuatan hebat seperti pria legendaris yang lainnya.
Ia tak bisa melakukan apapun selain bermanja dengan ibunya, dan sekarang, dia berada dalam situasi rumit yang memaksa dirinya untuk menjadi pria hebat.
Apa mungkin dia bisa?
Dia tampak tak yakin akan menaklukkan mantra kuat Valheins. Hanya saja, dia memang harus melakukannya.
"Alexa, bagaimana aku bisa membebaskan kamu? bagaimana caranya?" gumamnya dengan lirih. Dia bahkan hampir menangis meratapi nasibnya yang terjerat dalam posisi serumit ini.
Namun mendadak dia punya ide bagus. Dia ingat Alexa pernah memiliki liontin milik ibunya. Sekarang liontin itu pasti masih Alexa simpan di lehernya.
Dia segera menyibakkan rambut dan baju Alexa yang menutupi bagian dadanya. Terlihat sebuah liontin yang telah bercampur dengan darah kental milik Alexa.
Segera saja dia tarik liontin itu dari leher Alexa, dan dia tatapi saja liontin itu secara seksama.
Entah ini akan membantu atau tidak, yang pasti dia tahu Putri Riyana juga punya kekuatan seperti Valheins. Jika Putri Riyana sengaja memakaikan liontin ini di leher Alexa, itu artinya liontin ini memiliki keistimewaan.
Ya, itulah pikirnya pada saat itu.
Ia segera mengangkat liontin itu, menggenggamnya dengan erat, lalu memejamkan kedua matanya.
"Alexa, aku tidak tahu ini akan membantu atau tidak, tapi aku percaya, entahlah, semoga kau bangun dan merubah takdir kita semua!"
Sejenak tangannya bergetar hebat. Dia tidak tahu apakah keputusannya ini benar, atau tidak, tapi dia benar-benar percaya apa yang ada dalam pikirannya ini akan berhasil.
Dia mencoba untuk menghilangkan keraguan dalam hati kecilnya. Terlihat dengan jelas wajahnya bahkan berkeringat banyak. Namun dia benar-benar tidak bisa melakukan cara lain.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan tinggi, sembari memegang liontin milik warisan keluarga vampir itu.
Semakin tinggi ia mengangkatnya, semakin banyak menetes pula peluh di keningnya.
"Alexa, aku harap kau segera bangun!!"
Hiyaaaaaaa!!!!
Bles!!
Tanpa ragu, Shaga menusukkan ujung liontin yang runcing itu ke arah jantung Alexa. Entah itu akan membantu atau tidak, dia sendiri bahkan tidak pernah tahu.
Dia hanya meyakini kata hatinya sendiri.
Akankah dia berhasil membangunkan Alexa?
Atau usahanya hanya akan berakhir dengan sia-sia?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...