
~Happy Reading~
Devan melihat ke arah layar ponselnya, ia melihat sepasang kakak beradik saling berpelukan dengan penuh rasa haru, meski ia ikut merasa terharu, namun ia juga merasa terabaikan,
"hwa...kak Joe, aku ga dipeluk?" rengeknya hingga membuat sepasang kakak beradik itu melepaskan pelukan mereka,
Alexa dan Joe terkikik melihat Devan merengek dengan menampilkan wajah cemberutnya,
"sudah malam, sesuai janji mu tadi, harus segera istirahat" ucap Joe mengabaikan rengekan Devan,
"ya kak, terimakasih" Alexa pun bersiap, beranjak dari duduknya secara perlahan,
"loh...loh,,, Xa, kok kakak ditinggalin sih?" teriak Devan tak terima "kak Joe!!!!"
Joe pun meraih ponselnya yang diletakan di atas meja dan melihat layar ponselnya,
"Sudah malam Van, sebaiknya istirahat, kakak tunggu besok di kantor, Assalamu’alaikum" ucap Joe tanpa jeda kemudian langsung mematikan sambungan video callnya sebelum mendengar jawaban sang adik, sontak saja hal itu membuat Devan semakin uring-uringan,
“ih, kakak ngeselin, awas aja besok kalau minta bantuan aku lagi” gerutu Devan di depan layar ponsel yang telah berwarna hitam,
‘eh, kalau aku ga mau bantuin lagi, nanti ga di restuin dong sama Exa’ pikir Devan kemudian, “aish… sekarang kak Joe nyebelin!!!”
***
Keesokan paginya terlihat aktivitas di rumah Devan sudah normal seperti semula, hanya saja terasa lebih ramai karana adanya penambahan anggota baru,
“pagi semua!” sapa Alexa saat sudah di ruang makan, semua orang pun menolah ke arahnya seraya menjawab sapaan paginya, kemudian Joe langsung berdiri dan menuntun sang adik
“loh Xa, kok turun sih, tante baru saja mau antar sarapan mu” gemas tante Rasty pada sang keponakan yang memaksakan diri ikut sarapan bersama, sedangkan kondisinya belum pulih benar.
“Exa sudah enakan kok tante, bosen di kamar terus,” kini Alexa telah duduk di samping Rayhan yang tengah menyantap sarapannya
“Ya sudah, ini makan di sini kalau gitu” tante Rasty pun meletakkan piring berisi makanan yang telah disiapkannya di depan Alexa.
“terimakasih tan”
Mereka pun menyantap sarapan pagi bersama dengan tenang, tanpa ada yang bicara hingga makanan di piring mereka habis.
“Xa, ingat, masih harus banyak istirahat dan jangan keluar rumah!” ucap Joe setelah menyelesaikan makan paginya
“iya kak,”
“Om sudah tambah security juga, jadi untuk sementara mama juga Alexa berdiam diri di rumah dulu, kondisi saat ini sedang tidak aman, kamu juga Ray, harus lebih berhati-hati” timpal Om Ardian
“iya pa, Ray akan jaga diri”
“mama di rumah jangan terima tamu dulu, apa lagi dari orang yang tak di kenal, semalam papa sudah kasih arahan juga sama bibi dan security juga untuk tidak terima tamu yang tidak di kenal”
“iya pa, mama ngerti”
Setelah pembicaraan mengenai keamanan keluarga, mereka pun beranjak untuk melaksanakan kegiatan mereka. Alexa beranjak perlahan ke ruang tengah untuk melihat televisi. Tak banyak hal yang bisa ia lakukan mengingat kondisinya saat ini masih lemah, dan nyeri di dadanya masih terasa.
Berbeda dengan Alexa yang tengah berisitirahat di rumah, Joe di kantor sedang berkutik dengan setumpuk pekerjaan yang ditinggalkannya selama beberapa hari menemani Alexa di rumah sakit. Memang sebagian pekerjaan sudah di handle asistennya, namun tetap saja ada pekerjaan yang memang harus dikerjakannya sendiri.
“Assalamu’alaikum kak..”
“Wa’alaikumusalam, Van, masuklah” Joe pun mendongak dan melihat sang adik tengah membuka pintu ruangannya. Ia pun meninggalkan mejanya dan menuju ke arah sofa yang berada di depannya.
“gimana?” tanya Joe to the poin setelah mereka duduk berseberangan.
“Hadi masih belum ditemukan kak, anak buahku yang menyelidiki TKP kemarin belum menemukan bukti yang signifikan, lalu hasil interogasi orang-orang yang menyerang Alexa kemarin juga tidak bisa diandalkan.”
“Mereka tutup mulut?”
“kakak berharap Hadi segera tertangkap, kakak masih tak menyangka dia masih ada dendam dengan keluarga kakak”
“dia mendapat perlindungan yang kuat kak”
“tapi dia dengan berani muncul dihadapan Exa waktu itu, dan terang-terangan pergi ke NRC, segitu beraninya dia” Joe terlihat geram mengingat kejadian demi kejadian beberapa hari terkhir
“apa kau sudah tempatkan pengawal bayangan untuk menjaga Exa?”
“sudah kak, sejak Alexa tertembak kemarin aku langsung menempatkan pengawal di sekililing Alexa dan menambah jumlahnya saat Exa pulang kemarin.”
“Terimakasih Van, kakak tak tau bagaimana kondisi Exa kalau kita tak kesana waktu itu” Joe menghela nafas, kemudian tersenyum ke arah adiknya.
Devan pun membalas senyum sang kakak “makanya kakak restuin aku dan Exa ya?”
Devan pun menggerakan alisnya dan tersenyum lebar untuk merayu sang kakak.
Tak bisa diam memang, selagi ada kesempatan untuk mendapat restu, kenapa tidak, hehe
“tidak!” jawab Joe cepat, ‘bisa-bisanya dalam situasi seperti ini masih saja bahas seperti itu’
“ih, kakak… ayolah kak” rengeknya lagi
Joe pun berdiam diri, mengabaikan rengekan Devan yang tidak tau tempat, dalam hati dia terus mengumpat, semenjak adiknya jatuh cinta, kebiasaan merengeknya semakin parah.
“kak….”
“kembali ke markas sana, lagi pula kamu denger sendiri kemarin Alexa belum ingin menikah”
“yach… Kak joe.. bujukin Alexa lah…”
“kalian itu masih muda, Exa juga belum lulus kuliah, dulu siapa yang bilang kalau tak mau ribet dengar urusan cewek”
“eh, itu kan dulu kak, setelah Devan lihat Exa, entah kenapa Devan ingin bersamanya”
Joe pun menggelengkan kepala melihat tingkat kebucinan adik laki-lakinya yang masih duduk merengek di depannya. Memang setelah bertemu dengan Alexa, sikap dinginnya berubah, dan sikap kekanakannya sering muncul. Dia pun sering mendengar kalau dia sudah jatuh cinta. Padahal sebelum bertemu dengan Alexa, sikapnya ke cewek manapun tidak pernah seperti ini, pernah mencoba ramah kepada tetangga samping rumah setelah ditegur papa, tapi tak lama setelahnya malah dibuat risih, karena cewek itu naksir berat dengan Devan.
Hadeh.
‘sekalinya jatuh cinta kenapa sama adik kecil ku sih’ gerutu Joe dalam hati ‘dengan perkerjaan mu saat ini, kakak ga mungkin restuin kalian, Exa akan sering ditinggal kalau seperti sekarang ini’
Cklek
Tiba-tiba terdengar pintu terbuka yang membuat Devan menghentikan rengekannya, mereka pun menolah ke arah pintu, dan terlihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat bugar masuk ke dalam.
“Kamu kenapa Van?”
“Biasalah pa, merengek kaya anak kecil” Joe terkikik dan mangadukan pada sang papa yang baru saja masuk,
Devan pun mencebikan bibirnya mendengar aduan sang kakak pada sang papa
“apa soal Alexa lagi?”
“iya pa”
“kamu tak restuin mereka Joe?” pertanyaan papanya mebuat Devan menatap berbinar pada sang papa, sepertinya ia akan dapat dukungan, dan kakaknya ini tak bisa membantah papanya,
‘ah, kenapa dari kemarin tidak kepikiran minta bantuan papa sih’ pekik Devan girang dlam hati.
tbc