Alexa

Alexa
Part 47



~Happy Reading~


Ditengah obrolan yang penuh kejutan itu, tiba-tiba pintu terbuka dengan cukup keras.


Brak!!!


Seolah melupakan kalau suara keras itu akan mengganggu orang yang terbaring beristirahat .


Semua orang menolah ke arah pintu, melihat siapa yang membuka pintu dengan buru-buru.


“Exa…!!” pekik wanita paruh baya yang masih terlihat cantik .


Wanita yang tak lain adalah mama Dania itu langsung menghambur memeluk Alexa yang masih tak sadarkan diri.


“anak gadis mama, hiks…hiks…..” mama Dania histeris melihat anak gadisnya terbaring tak berdaya. Sekali lagi dia harus melihat Alexa terbaring di ranjang pesakitan.


Papa Daniel yang mengantarkan sang istri pun ikut bersedih melihat gadis yang sudah di anggap anaknya terbaring sakit, terlebih sang istri yang begitu histeris saat melihatnya.


Devan dan Joe pun menghampiri kedua orang tuanya, menyalami sang papa, kemudian memeluk sang mama agar lebih tenang.


“Aaaa… ma… lepas ma….!!!!” Teriak Devan kesakitan.


Bukan rasa tenang yang didapat sang mama, tapi rasa kesal terhadap putra bungsunya. Saat sang putra bungsu berusaha memeluknya, bukannya membalas pelukan sang putra, mama Dania malah memelintir telinga sang anak.


“Anak kurang a**r!!! bisa-bisanya bohong sama mama!!!” mama Dania begitu geram pada putranya itu.


Baru semalam Devan menghubungi kedua orang tuanya, memberitahukan kondisi Alexa yang terbaring di rumah sakit.


Flashback on


Mama Dania yang tengah menikmati sinetron malam kesukaannya mendengar dering panggilan masuk dari ponselnya yang berada di atas meja, namun tak ingin mengangkatnya lantaran sedang seru menikmati alur sintron yang ditontonnya.


“ma… ada telpon tuh” tegur papa Daniel yang ikut menemani sang istri menonton di ruang keluarga. Sudah jadi kebiasaan papa Daniel akan menemani istrinya menonton sinetron malamnya kalau tak ada pekerjaan yang membuatnya lembur.


“biarin aja pa, lagi seru nih” ucap mama masih fokus dengan layar televisi di depannya.


Dering telpon yang terus berulang tak turut membuat mama Dania terganggu dan masih menikmati acara kesukaannya.


Huffff


Papa Daniel menghela nafas dan segera mengambil ponsel istrinya untuk melihat siapa yang menelpon malam-malam begini.


Devan? Tumben?


Dahi papa Daniel mengerut, tumben putra bungsunya itu menelpon, bukannya sedang masa tugas ya? pikir sang papa.


“Hallo…” ucap papa Daniel akhirnya menjawab telpon dari sang putra.


“Hallo… pa…”


“Hmmm”


“Mama ke mana pa?”


Ucapan papa Daniel yang menyebut nama sang putra bungsu membuat mama Dania menoleh melihat sang suami, yang sepertinya nampak terkejut dengan apa yang di sampaikan putranya.


“kirimkan alamat rumah sakitnya, besok pagi papa dan mama akan ke sana” ucap papa Daniel lalu menutup sambungan telponnya.


“siapa yang sakit pa?”


“besok mama akan tau, sekarang tidur ya ma, besok pagi-pagi kita ke rumah sakit”


“siapa yang sakit pa? bukan Devan kan?”


“bukan ma, sudah sekarang sebaiknya kita istirahat” Papa Daniel mematikan layar televisi di depannya dan mengajak istrinya beristirahat, tanpa memberikan penjelasan terkait apa yang disampaikan putranya.


Baru keesokan harinya saat mereka dalam perjalanan ke rumah sakit, papa Daniel menceritakan kepada mama Dania bahwa Alexa yang sakit, dan menjelaskan bahwa beberapa waktu ini memang Alexa tak pernah pergi ke luar negeri namun dalam kondisi yang tidak aman, lalu secara singkat menjelaskan kalau Alexa harus terbaring di rumah sakit setelah melawan para penjahat yang ingin mencelakainya.


Flashback off


“Ampun ma…. Maaf ma…!!!.” Devan terus meronta meminta sang mama melepaskan telinganya.


Papa Daniel pun mengajak Joe kembali duduk dan menyapa om Ardian dan yang lainnya. Mengabaikan drama kekesalan ibu dan anak itu.


Mama Danie masih saja mengomeli sambil memukul sang putra dengan tasnya mengabaikan tatapan ngilu orang-orang yang berada di ruangan itu. Belum juga rasa sakit di telinga Devan hilang, sudah ditambah pukulan dari tas yang di pukulkan ke tubuhnya, rasanya pasti menyakitkan, begitu pikir mereka.


“Bagaimana kondisi Exa Joe?” tanya papa Daniel pada putra sulungnya setelah mereka duduk dengan nyaman.


“cukup stabil pa, hanya Exa belum mau bangun.”


“kenapa tak menghubungi kami kemarin-kemarin?”


“maafkan Joe pa, mungkin Devan sudah menceritakan secara garis besar kondisi kami, jadi memang Joe tak bisa menghubungi papa dan mama, semuanya demi keaamanan bersama,


“hmm… iya Devan sudah menjelaskan semuanya, yang penting sekarang sudah aman kan?"


“sudah pa, inysaAllah, kata Devan para pelakunya sudah di tangkap, dan orang yang menyuruh mereka sedang dalam pengejaran.”


“Syukurlah….” Papa Daniel merasa lega mendengar penjelasan dari putranya.


“sekarang kita fokus sama kondisi Alexa saja kalau seperti itu.”


“iya pa, maafkan Joe yang kemarin – kemarin tak membantu papa malah membuat papa menghandle pekerjaan Joe”


Tepukan halus di pundak Joe terima dari sang papa “jangan khawatir, papa masih bisa menghandle nya, lagi pula ada Arga juga yang sigap membantu papa”


“sepertinya kedepannya juga akan seperti ini pak” timpal om Ardian yang sedari tadi menyimak obrolan dua pria yang duduk di depannya itu.


“maksud pak Ardian bagaimana?” papa Daniel mengerutkan dahi tak mengerti maksud perkataan paman putra sulungnya itu.


“kedepannya Joe harus menghandle NRC pak, dan mungkin itu akan membuat pak Daniel berada dalam situasi seperti saat ini.


Tbc