
Ha.. ha.. ha...
"Macam-macam saja kau mau mencoba melawan aku, kau hanya kutu yang tidak berguna!!"
Sling!
Blam!.
Ia yang pada mulanya berniat untuk menyerang Alexa, namun mendadak serangan itu berbalik ke arahnya, dan kemudian menjatuhkan dirinya di atas tebing yang curam, hingga beberapa batu yang tajam pun terlihat menembus kulitnya yang dingin.
"Arkh!" ia memekik kesakitan.
Sementara itu, di sisi lain, tampak sebuah kenangan mulai terjadi pada sosok Sean. Dia yang berdiri tidak lumayan jauh dari putrinya berdiri tampak menatap Alexa dengan penuh senyuman.
Senyuman yang entah memiliki arti seperti apa itu, tapi yang jelas senyuman di bibirnya itu menyimpan makna yang cukup dalam.
Alexa menatap ke arahnya, sesaat setelah dia menjatuhkan Valheins dan menekan Valheins di atas batu yang menusuk tubuhnya.
Dia tersenyum, menatap sang putri yang telah tumbuh menjadi sosok dewasa, hingga wajahnya benar-benar sangat mirip dengan ibunya, Riyana.
Ia mendekat, bersaman dengan Alexa yang juga ikut mendekat ke arahnya berdiri tegak. Di usapnya wajah Alexa dengan sangat halus pun juga hangat.
Lalu dia peluk tubuh Alexa dengan dekapan tangannya yang menghangatkan.
"Anakku.." panggil Sean dengan lirih, memeluk putrinya dengan penuh kerinduan, namun lebih besar dari itu, dia benar-benar merasa bersalah pada Alexa.
"Ayah, aku menyayangi ayah." Jawab Alexa, tak terasa air mata malah menetes membanjiri pelukannya dengan sang ayah, dia bahkan tidak bisa membendung kerinduan yang selama ini dia rasakan, semenjak dia tahu kalau dia adalah putri kandung dari Sean.
"Ayah tahu kau akan kembali.." ucap Sean lagi, dia juga tampak meneteskan air matanya, air mata kerinduan yang sangat tulus, "tapi ayah tidak akan lama menemani dirimu, pedang itu sudah menemukan siapa pemilik aslinya."
Ucapan dari sang ayah lantas membuat dirinya tercengang. Dia pun lekas terdiam sembari melepas pelukan dari ayahnya dengan sangat terluka.
"Sayang, takdirmu adalah pedangku dan liontin ibumu, jika semua itu sudah menyatu dalam ragamu, maka kau akan menjadi pemimpin kami semua di masa yang akan datang." Ucap Sean masih belum mengatakan maksud ucapan dia yang sebenarnya.
"Jika sudah begini, seharusnya ayah dan ibumu tak perlu cemas lagi mengenai masa depan kelompok kami, kaulah yang akan menyatukan mereka semua." Ucap Sean lagi melanjutkan kata-katanya yang sebelumnya.
"Apa yang anda katakan? kenapa kau berkata seakan kau akan mati selamanya?" tanya Alexa pada sang ayah, dia bahkan tidak pernah tahu, kalau pelukan kali ini dengan sang ayah, adalah pelukan pertama dan terkahirnya.
Dia tak bisa melakukan apapun lagi sekarang. Tubuhnya mendadak mulai mengikis, menjadi debu yang perlahan-lahan mulai terbang terbawa angin yang kencang.
Kejadian serupa juga terjadi di bawah sana pada Riyana. Dia tampak tersenyum senang, akhirnya semuanya telah menemukan ujungnya.
Dia tersenyum dengan kilatan senyuman yang menyimpan arti nan mendalam. Namun Wilmer menyadari senyuman dari Putri Riyana itu.
Ia menatapi sekujur tubuh Putri Riyana yang mulai mengikis dan kemudian serpihan-serpihan daging milik Putri Riyana itu mulai terbang menuju ke langit.
"Tidak, Putri Riyana, kau tak boleh pergi!" ucap Wilmer, di antara banyaknya sahabat yang Sean miliki, Wilmer memang satu-satunya sahabat yang mengerti akan segalanya.
Termasuk dengan takdir yang satu ini, takdir yang telah tertulis sejak dahulu kala di dalam kitab kuno milik kelompok serigala.
Di dalam kitab kuno itu tertulis dimana pernah yang akan dijaga oleh leluhur serigala itu akan menemukan tuannya sendiri. Dimana liontin yang diwariskan secara turun temurun dari kelompok vampir, juga akan menemukan tuannya sendiri.
Akhirnya tugas utama mereka sudah selesai juga..
"Alexa, aku harus memberitahu dia." Ucap Wilmer berniat untuk menggapai Alexa di ujung tebing, hanya untuk sekedar mengatakan kalau sang ibunda mungkin akan meninggalkan dirinya untuk selamanya.
"Tak apa Wilmer." Namun dengan cepat Riyana malah menghentikan niat Wilmer.
Dia tampak mencegat niat Wilmer untuk pergi menemui Alexa, putri kandungnya, yang telah lama dia rindukan.
"Putri Riyana? kenapa? putrimu harus menemui kamu lebih dulu." Ucap Wilmer tampak sedih melihat takdir yang menimpa Putri Riyana.
"Tidak, sekarang dia juga sedang bersama Sean, jangan ganggu dia, temani saja aku di sini, sampaikan salam cintaku dan juga dalam rinduku padanya, selamanya aku akan sangat mencintai dirinya.."
Swosh!
Hap!
Mendadak sebuah benda menyambar, menangkap sisa-sisa tubuh Putri Riyana yang masih tersisa di sana. Rupanya itu adalah Alexa dan Sean, yang kemudian berpelukan dengan sangat hangatnya, pada detik-detik akhir sebelum akhirnya mereka akan benar-benar dipisahkan untuk selamanya.
"Ayah, ibu, andai aku tahu sejak dulu kalau kalian adalah kedua orang tuaku, aku pasti akan lebih awal menyelamatkan kalian dari semua ini, maafkan aku yang terlambat datang.." Ucap Alexa, air mata tampak menggenang di pipinya, dia tampak sangat terpukul dengan tragedi ini.
Namun sepasang suami istri itu makin erat memeluk Alexa, juga makin pudar tersapu angin yang mengikis kulit mereka sedikit demi sedikit.
"Satu hal yang perlu kamu ketahui, kami berdua sangat menyayangi kamu, sampai kapanpun itu," ucap Riyana, dia sudah terlihat seperti bayangan yang hampir lenyap.
Namun Alexa masih bisa merasakan kehadiran mereka berdua di sampingnya.
"Jaga tanah ini tetap aman, aku yakin kamu bisa mengalahkan Valheins, jadilah yang terkuat dan yang pemberani di antara kami semua, kami selalu menyayangimu, Nak!"
Hanya suara Sean yang menjadi akhir dari segalanya, sebelum akhirnya Alexa ambruk di atas tanah yang basah, setalah kedua orang tuanya benar-benar pergi meninggalkan dirinya di tengah tanah peperangan.
Bruk!
*Aku tidak menyangka secepat ini kita akan berpisah*.
Di sisi lain, Wilmer juga tampak terpukul dengan kepergian sepasang suami istri legendaris itu.
Ia tampak ambruk di sisi Alexa, dan kemudian menatap wajah Alexa yang sendu. Tak bisa dipungkiri, kehilangan kedua orang tua yang baru saja dia temui, siapa pula yang tak merasa sedih?
Namun air matanya entah mengapa berhenti menetes, seiring berjalannya waktu, agaknya dia telah mengering. Lagipula dia juga bukan seorang gadis yang bisa dikatakan lemah.
Dia tidak boleh menangis, tidak!
"Nak, mereka berdua mungkin telah pergi, tapi jiwa mereka, telah melekat di dalam tubuhmu, pedang itu, liontin itu, itu adalah jelmaan mereka, mereka telah hidup dalam tubuhmu."
Sejenak Alexa terdiam membisu, dengan pikiran kacaunya yang berputar-putar dengan rumit, sampai pada akhirnya, dia menyadari, ucapan Tuan Wilmer, mungkin ada benarnya juga.
*Ya, mereka adalah aku, dan a**ku adalah keduanya*!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...