
~Happy Reading~
“apanya yang mirip pa?”
Om Ardian dan tante Rasty pun menoleh ke arah sumber suara, yang ternyata berasal dari putra semata wayangnya. Mereka berdua pun hanya terkikik melihat anaknya yang kebingungan.
“sama-sama tukang merengek” ledek om Ardian hingga terkekeh setelah melihat wajah cemberut sang anak.
“tuh kan ma, iya kan”
Tante Rasty pun ikut terkekeh dengan gurauan sang suami pada anaknya. “iya pa, persis”
Semakin manyunlah bibir Rayhan, “ih mama, papa kok gitu sih”
“tuh kan ma”
“ih mama papa ngeselin” Rayhan menghentakkan kakinya dan meninggalkan kedua orang tuanya yang semakin terkekeh dengan tingkahnya.
‘papa sama mama suka banget sih ledekin anaknya’ gerutu Rayhan sambil menghampiri sang kakak yang telah duduk di ruang keluarga dengan memainkan ponselnya.
“Kenapa sih Ray?”
“papa mama ngeselin kak, ledekin aku terus, nyama-nyamain aku sama kan Devan” Rayhan pun masih mencebikan bibirnya, tanda dirinya masih kesal.
Joe yang melihat raut kesal dari adik sepupunya itu pun menahan tawa, ia khawatir adiknya akan semakin kesal jika dirinya tertawa.
“tuh kan, kakak juga mau ledek Ray kan?”
Niat hati ingin menyembunyikan, eh ternyata ekspresi sang kakak yang menahan tawa tak luput dari penglihatan Rayhan yang duduk di sampingnya.
“Sory… sory Ray..” akhirnya Joe pun ikut terkekeh pelan
“kalian semua ngeselin ih”
***
Ketika malam menjelang, setelah makan malam bersama, Joe dengan penuh perhatian membantu Alexa kembali ke kamarnya. Mereka berdua pun akhirnya duduk santai di sofa yang berada di kamar Alexa.
“kak..” Alexa dengan manjanya bersandar di pundak sang kakak sembari menonton televisi.
“hmmm”
“setelah aku sembuh, ke makam papa dan mama yuk kak, Exa kangen papa mama” ucap Alexa dan memelankan suaranya diakhir kalimat.
“yach..., kakak pastikan keamanan kamu juga dulu ya, sebenarnya kakak juga kangen papa mama, tapi saat ini keselamatanmu harus di utamakan."
“kakak tau? selama ini Exa setiap malam nangis sambil peluk foto keluarga kita.” Alexa sudah tak bisa menahan derasnya air mata yang mengalir dari kedua ujung matanya.
“maafkan kakak Xa” Joe pun mengecup pucuk kepala sang adik dengan mata yang berkaca-kaca.
“kakak jangan tinggalin Exa lagi”
“iya, kakak ga akan tinggalin Exa”
“kakak janji?”
“Iya, kakak janji akan selalu jaga Exa, akan selalu sama Exa”
Berkali-kali Joe mengecup puncak kepala sang adik, rasa bersalahnya kian besar karana tak berada di sisi adiknya selama ini, mendengar kesedihan adiknya selama ini membuatnya ikut sedih. Joe pun sesekali mangusap ujung matanya yang berair,
“maafkan kakak Xa”
Hanya isakan tangis yang terdengar dari bibir Alexa, tubuhnya yang bersandar terus terguncang karena tangisnya. Joe pun mendekap sang adik dan menenangkannya, meyakikankan sang adik bahwa dirinya tak akan pergi meninggalkannya, dan berjanji dalam hati akan memberikan kebahagiaan untuk sang adik, dia pun harus segera menyelesaikan perkara yang membuat Alexa terluka di Camping Ground kemarin, dia harus segera manangkap pelakunya, dengan begitu ia bisa memastikan keselamatan sang adik.
Dddrrrrt….drrrttttt…..
Suasana haru itu tiba-tiba terganggu dengan getar telpon yang berada di saku Joe.
“Hallo..” sapa Joe setelah memastikan siapa yang menghubunginya
“Assalamu’alaikum kak”
“Wa’alaikumusalam, kenapa Van?”
“kakak lagi sama Exa ya?” ucap Devan mengurungkan niatnya memberikan informasi penting pada sang kakak, karena mendengar suara perempuan terisak
“iya, Exa ada di samping kakak”
Sedetik kemudian panggilan telephon beralih menjadi video, di seberang telpon Devan menampilkan wajah bahagianya.
“Hai.. Exa cantik”
“Hai kak….” Jawab Exa pelan sembari duduk tegak dan mengusap sisa air mata di pipinya.
“kenapa nangis? Hmmm” tanya Devan lembut “Wah… kak Joe!, kakak apain calon istri aku?” ucapan Devan tiba-tiba berubah ke mode kesal kepada sang kakak
“eh, siapa yang calon istrimu?”
“ya Exa lah, siapa lagi, gadis cantik di samping kakak kan cuma Exa”
“seenak jidat aja kamu, klaim kalau Exa calon istrimu” Joe pun masih tak terima dengan ucapan sang adik.
“lah emang bener sih kak, Exa kan calon istri aku, iya kan Xa?” ucap Devan meminta dukungan pada gadis yang tengah tersenyum di sisi kakaknya.
“ah, kalau senyum makin cantik aja deh,” goda Devan sebelum menerima jawaban dari sang pujaan hati.
Blush
Wajah Alexa seketika merona, dengan senyum malu tersungging dari bibirnya.
“tuh kan kak, Exa aja terpesona kok, iya kan Xa, gadis cantik ku”
“apaan sih kak…”
Obrolan mereka pun masih terus berlanjut dengan Devan yang terus memberikan gombalan recehnya untuk Alexa, tentu saja selalu ditentang sang kakak yang tidak terima dengan kelakuan adik angkatnya.
“kakak akan selalu jaga Exa dari orang-orang seperti kamu Van”
“eits,… kakak lupa, kalau kakak yang minta bantuan Devan jaga Exa”
“iya, jagain dia dari orang-orang jahat, dan kakak bakal jagain dia dari orang yang sukanya gombalin cewek kaya kamu”
“eh, kak,… wah, parah nih, siapa yang suka gombalin cewek sih kak? ke Exa doing lho aku kaya gini” Devan nampak kesal dengan tuduhan tak berbukti dari sang kakak,
“oh ya?!, lalu itu gimana sama si Sandra? trus sama si Bela tetangga samping rumah”
Skakmat
Devan seketika terdiam mendengar ucapan sang kakak, lalu akhirnya tertawa hingga terpingkal
“kakak cemburu ya?”
“What?!” Joe terpekik dengan pertanyaan Devan, niat hati ingin menjelekan sang adik, malah dirinya yang tak bisa berkutik, sementara Alexa menyimak dan menggelengkan kepala dengan obrolan absurd kedua kakaknya.
“Xa, jangan percaya deh, mereka itu gebetannya kak Joe, tapi kak Joe aja yang ga berani deketin mereka, eh,tidak semua sih, Sandra aja tuh, kalau Bela mah masih kecil, masih sekolah dia mah, aku cuma bersikap ramah doing lho ke mereka.”
Alexa pun melirik ke arah sang kakak yang menampilkan wajah kesalnya.
“Jangan dengerin dia Xa”
“makanya restuin Devan kenapa sih kak? Atau semua kartu As kakak aku bongkar di depan Exa” tawar Devan untuk mendapatkan lampu hijau dari sang kakak
Joe pun terdiam terlihat berpikir kemudian menghela nafas
“e..”
“Exa juga belum mau nikah kak” sanggah Alexa tiba-tiba setelah melihat kakaknya terlihat berat untuk menjawab
“yach.. Xa, kakak ditolak dong ini?” Devan pun menunjukan wajah cemberutnya, kecewa dengan ucapan sang pujaan hati,
Alexa seketika tertawa, membuat Joe yang berada di sampingnya ikut tersenyum lebar.
“lagian kakak klaim Exa kaya gitu, masa minta cewek kaya gitu sih? mana ada cewek yang mau di gituin sih kak, kaya barang obral aja dong Exa”
“Eh, kode nih berarti…?” Devan yang memang sangat peka pun mengerti akan kode dari Alexa, dirinya kembali bersemangat dan matanya tampak berbinar bahagia, sepertinya akan mendapatkan lampu hijau dari sang pujaan hati
“udah ah kak, jangan bahas itu dulu?”
“lah, kok gitu sih Xa, kalau kakak lamar mau ya?
“udah ah, jangan bahas lagi, Exa itu dari kemarin mau tanya, tapi lupa terus, gimana kakak bisa berada di Camping Ground waktu Exa tertembak?”
Tbc