Alexa

Alexa
Part 19



Suasana dalam ruang seketika diliputi rasa haru saat sepasang kakak beradik itu menangis tersedu. Pertemuan setelah sekian lama menyisakan rasa haru yang luar biasa. Bahkan Devan pun ikut meneteskan air mata.


Alexa semakin terisak dalam dekapan sang kakak, sementara Joe sendiri terus bergumam meminta maaf sembari mengecup pucuk kepala sang adik.


“Kakak pulang, hiks…hiks…”


“iya, kakak pulang, maaf kan kakak”


“Exa rindu kakak,…hiks…hiks..”


“iya, kakak juga merindukan adik kecil kakak”


Sepasang kakak beradik itu enggan melepas rengkuhan mereka seakan jika melepas nya , mereka akan kehilangan lagi, mereka akan terpisah kembali,


namun tiba-tiba


“issshhhh….” Lirih Alexa, ia merintih merasakan sakit di dadanya


Joe pun segera melepas rengkuhannya, dan memastikan kondisi sang adik. Dilihatnya wajah Alexa semakin pucat, dan sekali lagi terdengar rintihan keluar dari bibirnya.


Devan dan Joe seketika merasa panik, membuat Joe akhirnya memanggil dokter dengan memencet tombol panggil di atas ranjang Alexa


“Xa….! Dek! mana yang sakit?” Joe pun semakin panik ketika melihat kondisi Alexa yang semakin lemah


Tak lama kemudian dokter dan perawat pun masuk, dan segera memeriksa kondisi Alexa,


Devan yang melihat Joe terpaku pun sontak menariknya ke belakang untuk memberikan ruang bagi dokter menangani Alexa, mereka hanya bisa berharap kondisi Alexa baik-baik saja.


Setelah diberikan obat, kondisi Alexa berangsur membaik dan kini kembali terlelap dalam mimpi,


“Bagaimana keadaan adik saya dok?” tanya Joe begitu melihat sang dokter selesai menangani Alexa


“Adik Anda tidak apa-apa, karena terlalu banyak bergerak dan tertekan hingga memicu rasa nyeri di dadanya, dan juga karena adik Anda tadi menangis terisak membuat kondisinya jadi seperti ini, tapi tidak ada yang perlu di khawatirkan,,”


Joe dan Devan pun menarik nafas lega setelah dokter menyatakan kondisi Alexa tidak ada yang mengkhawatirkan.


Setelah dokter keluar, Joe pun terduduk lemas di sofa mengingat kejadian yang baru saja terjadi. Karena rasa bahagia dan haru yang mebuncah membuatnya begitu antusias saat memeluk sang adik.


***


Cklek


Terdengar pintu terbuka dari arah luar, nampak sepasang paruh baya masuk dengan tergesa-gesa.


“mama!” pekik Devan pelan saat melihat siapa yang tengah membuka pintu,


semua orang yang berada di dalam pun menoleh kearah pintu, ingin memastikan siapa gerangan yang membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dulu,


“Dev….!” Pekik mama Dania terputus saat Devan menempelkan telunjuk jarinya ke bibir dan menunjuk ke arah Joe yang tertidur dengan dagunya.


Mama Dania menoleh dan melihat putra sulungnya tertidur pulas di sofa bed di dekat jendela dan Alexa yang terlelap di ranjangnya. Lalu ia pun perlahan mendekat ke arah putra bungsunya yang tengah duduk di sofa.


“anak kurang a**r, kenapa di sini ga kasih tau mama!” pekik mama Dania pelan seraya menjewer telinga sang putra, sementara pria paruh baya yang datang bersamanya hanya menghela nafas, sudah menebak apa yang akan terjadi pada putra bungsunya.


'aduh ma, anak mu itu sudah besar, tidak ucap salam tapi langsung menjewernya'


“khem…khem… selamat siang” dehem pria paruh baya itu ketika melihat ketiga orang di depannya bergidik melihat sang putra di jewer di depan mereka, tak lupa ia tampilkan senyum ramahnya,


Seketika itu juga Mama Dania tersadar dari tingkah bar-bar nya saat mendengar sapaan sang suami.


'aduh, kelepasan, malu banget ini, gara-gara anak bandel ini, iih...'


Mama Dania pun menolah kearah seberang sofa sang putra duduk seraya tersenyum lebar menampilkan gigi putihnya.


“Maaf bapak, ibu” Ucap mama Dania merapikan diri kemudian menjabat sepasang paruh baya yang masih dalam kebingungan.


"hmm....Saya Ardian dan ini istri saya Rasty, lalu ini anak saya Rayhan” jawab om Ardian setelah menerima jabatan tangan papa Daniel


“Rayhan om, tante” Rayhan berdiri dari duduknya lalu mencium takzim kedua orang tua Devan.


Papa Daniel pun ikut di samping sang istri setelah meletakkan bingkisan yang dibelinya sebelum sampai rumah sakit.


“Akhirnya kami bisa bertemu dengan anda Pak Daniel dan tentu saja Ibu Dania” ucap om Ardian dengan binar bahagianya,


“Terimakasih karena kalian telah merawat keponakan kami selama ini, sungguh kami sangat bahagia saat mengetahui keponakan kami masih hidup dan sekarang sudah tumbuh dewasa.”


“ah, kami tak perlu ucapan terimakasih pak, justru kami lah yang sangat berterimakasih, karena Joe sudah mau menjadi anak kami. Bisa Anda bayangkan, Devan anak kami yang pertama tapi dia meminta kami memberikannya seorang kakak bukannya adik, pokoknya harus kakak, dia tak mau adik”


Mereka yang mendengarnya melongo mendengar hal tak masuk akal yang baru saja di sampaikan mama Dania, sementara Devan hanya nyengir kuda dengan pipi memerah karena tersipu malu. Merasa entah bagaimana pikirannya dulu, meminta hal yang mustahil karena dia anak pertama.


“Untung saja kami menemukan Joe yang kami rasa waktu itu memang usianya lebih tua dari anak kami, bahkan yang merengek kepada kami untuk membawanya pulang adalah anak bandel ini” ucap mama Dania seraya menepuk keras punggung sang putra yang duduk di sampingnya.


“ah, mama sakit…” pekik Devan setelah menerima tepukan sang mama,


“sssst… kamu yang bilang mama jangan keras-keras, nanti kakak mu dan Adiknya terbangun,” ucap mama pelan sambil melotot sang putra.


Ketiga orang di depan mereka hanya tersenyum canggung melihat adegan absurd pasangan ibu dan anak di depan mereka. Sementara papa Daniel menghela nafas, malu dengan tingkah istrinya.


Mereka pun akhirnya larut dalam obrolan, dan saling menceritakan masa lalau disaat mereka menemukan Joe dan akhirnya merawatnya hingga kini. Tentu saja om Ardian dan tante Rasty sangat antusias mendengar setiap cerita yang di sampaikan mama Dania. Hingga tanpa sadar sepasang telinga dari gadis yang tengah terbaring di ranjang pesakitan pun mendengar setiap kata yang di ucapkan mama Dania.


Air mata Alexa kembali meleleh mendengar kisah sang kakak, ada rasa haru dan bahagia saat mendengar bahwa kakaknya tumbuh dengan baik.


“Xa, kamu sudah bangun?” Rayhan yang tak sengaja mengarahkan pandangannya kepada ranjang sang sepupu pun mendapati Alexa yang tengah membuka matanya melihat ke arah mereka. Dan dilihatnya air mata mengalir dari ujung matanya.


“hei… ada yang sakit? Kenapa menangis?” tanya Rayhan dengan penuh khawatir saat mendekati ranjang Alexa


Alexa pun menggeleng sembari tersenyum.


“Kak Joe…” lirih Alexa karena tak melihat sang kakak duduk di antara mereka


“Kak Joe tertidur, tuh di sofa bed, kakak baru tidur 1 jam lalu saat kami datang ke sini” ucap Rayhan sembari menunjuk dengan dagunya.


Alexa pun menolah dan melihat sang kakak tertidur terlentang dan menutup matanya dengan lengan besarnya.


“Hai…cantik…” sapa mama Dania yang ikut mendekati ranjang Alexa


Alexa pun tersenyum ramah pada ibu angkat sang kakak, sementara sang mama sudah heboh sendiri


“Aih… kamu cantik banget sih, jadi gemes mama… akhirnya mama punya anak perempuan” pekik mama Dania tanpa sadar.


Mendengar pekikan dari suara yang sangat di kenalinya membuat Joe terbangun dari tidur lelapnya.


“mama!” pekik Joe saat melihat sang mama berdiri di sebelah ranjang Alexa, ia pun bangkit dengan cepat kemudian memeluk sang mama, “Joe minta maaf ma”


rasa bersalahnya kembali mendera karena sedari kemarin mengabaikan telpon sang mama, meskipun sudah meminta maaf melalui telpon dan telah menjelaskan duduk perkara yang menyebabkannya tak menjawab telpon namun ia masih merasa belum lega sebelum meminta maaf secara langsung.


"sudahlah, kak," mama Dania mengusap lembut lengan sang putra yang membelit pundaknya


"lepas ih, sekarang mama seneng, mama punya anak cewek" ucap mama tiba-tiba seraya melepas pelukan sang putra


Joe terpaku di tempatnya, sementara mama Dania duduk di samping Alexa,


"halo Alexa cantik, mau kan jadi anak mama"


"eh,..." Alexa mengernyitkan dahi nampak bingung,


tbc


terimakasih atas dukungan semuanya 🤩🤩🤩