Alexa

Alexa
#Harta Dan Kekuasaan



Sebuah mimpi yang tidak bisa tergambarkan dengan kata-kata. Mimpi yang bisa dikatakan sebagai mimpi buruk, namun mimpi yang bisa merubah hidupnya menjadi lebih berani, lebih tidak bisa tertandingi, dan lebih menjadi sosok dirinya yang sebenarnya.


Mimpi kelabut, yang kemudian terlihat tiga matahari di depan matanya, mimpi ini, entah bagaimana bisa menghampiri dirinya di malam-malam mencekam bersama dengan kelompok serigala yang telah menjadi kubunya selama ini.


Dia lekas terbangun. Keringatnya bercucuran dengan deras setelah mengalami mimpi buruk itu. Ia menata degup jantungnya yang bertalu-talu seakan menabuh genderang perang. Dia mengatur pula nafasnya dengan lebih baik, mencoba untuk tetap tenang setelah mengalami mimpi tersebut.


Mimpi yang selama ini tidak pernah dia alami, mimpi yang entah bagaimana dia bisa menjelaskan betapa indahnya, namun juga betapa buruknya mimpi tersebut.


Dia dikelilingi oleh kabut yang hitam dan juga sangat tebal. Kabut yang membuat kedua matanya secara mendadak menjadi buta, dan tidak bisa melihat apapun. Kegelapan yang sangat sempurna, dengan perasaan merinding dan diselimuti oleh ketakutan.


Seakan di sekelilingnya terdapat ribuan pedang dan tombak yang terus mengarah ke arahnya, sesekali menyentuh kulitnya, namun seakan dia dengan mudahnya menepis rasa pedih akibat sentuhan ujung pedang itu.


Dia memejamkan mata, mendengar bisikan-bisikan halus dan lembut yang menusuk kedua telinganya. Suara-suara dari orang-orang yang tidak dia kenal, suara dari setiap orang yang menginginkan bantuan, yang ingin menindas, dan yang ingin menjatuhkan dirinya, suara-suara itu bercampur menjadi satu dan semakin menekan dirinya bersamaan dengan kabut yang mengelilingi dirinya.


Ia semakin memejamkan kedua matanya, menutup kedua telinganya dengan tangan-tangannya, lalu kemudian, semua itu tertepis dengan hadirnya cahaya tiga matahari yang sangat lembut bersinar.


Ia membuka mata, melihat tiga cahaya matahari yang menyorot ke arah dirinya, menatap kedua matanya dengan sinar jingga kekuningan dari tiga arah.


Satu di arah depan, satu arah kanan, dan satu lagi berada di bagian kirinya. Ketiga-tiganya menatap dirinya dengan penuh kehangatan, tersenyum dan menyiratkan sebuah tanda yang dia sendiri tidak tahu apa maksudnya itu.


Ia tertegun dalam mimpinya, melihat tiga matahari itu yang seakan datang menyambut kehadirannya, dan kemudian secara perlahan-lahan, kabut di sekelilingnya menghilang, lenyap ditelan cahaya matahari yang sangat menyilaukan kedua matanya.


Setelah itu, ia mendadak terbangun. Bisikan lembut angin malam mendadak menyentuh kulitnya, dan membuat kedua matanya lekas terjaga.


Ia terduduk dan menghadap ke arah barat, meringkuk dan menatap keluar jendela kamarnya, lalu menatap bintang-bintang di langit sembari memikirkan apa maksud mimpinya itu.


Ia bahkan semakin larut dalam lamunannya, sampai tak terasa bukan semakin pudar menyinari. Cahaya bulan yang semakin tenggelam oleh sinar mentari pagi yang datang dari ufuk timur, berteman dengan angin sepoi-sepoi di pagi hari, lalu dengan embun yang menetas membuat aroma segar mewangi di pagi yang segar ini.


Lekas dia beranjak dari duduknya, menata rambutnya, menguncinya dengan sangat rapi, lalu terlihat menutupinya dengan jubah miliknya. Jubah yang dia curi dari pasar vampir sewaktu dia baru datang ke tempat ini bersama dengan Linstain dan Gabriell.


Dan sekarang dia lebih nyaman mengenakan jubah itu, entah mengapa, rasanya nyaman saja.


Ia bergegas keluar dari rumah pamannya, dan kemudian bergerak melangkah menuju ke rumah Wilmer, berniat untuk menemui Shaga di sana.


Namun setibanya dia di sana, dia tidak mendapati apapun, selain wajah sedih Wilmer yang terpampang dengan jelas dan nyata.


Ia tidak berkata apapun setelah melihat Wilmer dengan wajah sedihnya. Meski sejujurnya dia tidak tahu apa yang tengah terjadi, hanya saja, dia juga terlalu canggung untuk bertanya lebih dulu.


Ia berdiri mematung di muka pintu, sembari menunggu Wilmer menyadari akan kehadirannya. Memang rencananya akan selalu berhasil.


Pria itu tampak menyadari akan kehadirannya. Dia mendongak dan menatap dirinya yang masih bersandar di muka pintu.


"A? Alexa?"


"Kenapa Tuan Wilmer? Apa kau punya masalah serius?" Tanya Alexa, entah mengapa dia malah bertanya lebih dulu, agaknya dia lupa kalau sebelumnya dia berpikir untuk tidak bertanya lebih dulu pada pria tua ini. Mungkin dia sudah pikun.


Melihat sosok gadis ajaib di depan matanya, sontak Wilmer terbangun dari duduknya, dan menghampiri Alexa di tempatnya. Dia mendekat dengan raut wajah penuh kecemasan, juga dengan rasa takut.


"Alexa, Shaga tidak pulang sejak kemarin, padahal kemarin tidak terjadi apa-apa, kenapa sekarang dia tidak pulang semalaman? Aku jadi cemas dengannya, Alexa." Ucap Wilmer.


Betapa gagahnya pria itu saat berada di Medan perang, tapi lihatlah sekarang, pria itu bak menjadi kain sutera yang tertiup angin, melambai-lambai dengan lembut dan sangat lemah.


Alexa terdiam sejenak. Dia berpikir tentang hari kemarin bersama Shaga. Namun dia tidak mendapati hal ganjil apapun bersama pria muda itu, kecuali..


"Um?"


Dia mulai ingat akan suatu hal.


Kemarin pria muda itu terlihat sangat gagah berani memeluknya, seakan pria itu sangat rindu dan tidak mau melepas tubuhnya.


Tapi apa yang dilakukan oleh Alexa untuk menghadapi pelukan Shaga itu? Dia menolaknya, menolak pelukan hangat yang diberikan oleh Shaga untuknya.


Tidak bisa dipungkiri, dirinya memang agak ketakutan karena Shaga terlalu berbeda dari biasanya, dan dia yakin, kalau perbedaan itu ada hubungannya dengan virus itu.


Dia ingat betul kemarin dia sempat menyarankan Shaga untuk membuang kekuatan itu dari dalam tubuhnya, namun jawaban Shaga pada hari itu.


"Aku tidak akan melakukannya, aku tidak mau, aku tidak akan pernah mau.."


Dia menolak. Dan dia juga pergi dari hadapan Alexa. Mungkinkah sejak saat itu Shaga tidak pernah pulang lagi?


"Sialan!"


Umpat Alexa menyadari hal gawat itu. Dia kemudian mengabaikan posisi Wilmer di depannya. Ia berbalik saja meninggalkan Wilmer di tempatnya, dan bergegas untuk mulai pencarian mencari Shaga.


Dia berlari ke arah hutan yang lebat dan juga rimbun. Hutan yang sangat gelap meskipun berada di sana saat siang hari. Sejujurnya dia tidak terlalu yakin kalau Shaga akan masuk ke dalam hutan itu, hanya saja, bukankah tidak ada jawaban kalau belum mencobanya?


Dia terus berlari menjauh dari arah pemukiman, menjadi semakin masuk ke dalam hutan yang lebat itu, lalu mencari kesana dan kemari, mencoba mencari jejak dimana kiranya keberadaan pria muda itu.


Ia takut kalau pria itu akan melakukan hal yang buruk ditengah-tengah emosinya yang melanda. Bukan tanpa alasan, Tuan Wilmer sendiri pernah merasakannya, bagaimana rasa puas itu semakin menggerogoti dirinya saat dalam keadaan marah. Bisa saja Shaga juga akan melakukan hal yang sama.


Swosh!


Larinya cukup kencang juga, bahkan angin topan pun akan kalah kecepatannya jika dibandingkan dengan kecepatan larinya yang seperti kilat menyambar.


Di setiap sudut dia lirik, namun dia tak kunjung menemukan Shaga. Semoga dia lekas bertemu dengan pria itu.


Di sisi lain, Arsello tengah berjalan menuju ke arah gubuk tua tempat dia mengurung wanita tahananannya. Dia terlihat biasa-biasa saja saat melalui kawanan vampir yang masih saja tidak mengetahui itu adalah dirinya, hanya dengan berlindung pada sebuah cindung yang menutupi daerah kepalanya.


Dia juga berharap akan suatu imbalan, siapa tahu dengan mempertemukan Alexa dengan Riyana, maka dia akan lebih mudah menghancurkan Valheins atas perbuatan pria tua itu pada dirinya hingga membuat dirinya harus merasakan kematian yang singkat.


Selain itu, dia juga harus mendengar kisah kedua orang tuanya di masa lalu yang terlihat oleh Alexa. Ia benar-benar ingin tahu mengapa Alexa berkata seperti itu di hari peperangan antara dua kelompok itu terjadi.


Dia tampak semakin mendekat ke arah pintu masuk gubuknya. Dia masih tidak menyadari apapun, karena semuanya memang terlihat seperti biasa saja.


Hingga sampai pada saat dia sudah berada di dekat pintu, dan kemudian dia terlihat menggapai gagang pintu gubuk tersebut, dia begitu terkejut. Rupanya pintu itu sudah tidak terkunci lagi.


Ia jadi was-was. Entah apakah karena kemarin dia yang lupa mengunci pintunya kembali, atau mungkin, gubuk ini sudah kemasukan oleh orang lain.


Dia tidak mau berpikir terlalu panjang di luar gubuk itu. Dia hanya bergerak dengan langkah kakinya yang bergetar, tapi pikirannya nekad untuk melihat jawaban atas teka-tekinya.


Kriett!


Dia membuka pintu itu, dan kemudian, seketika dia dibuat terkejut setengah mati.


"A?"


Pada mulanya dia tercengang, makin lama, wajahnya makin berubah menjadi kemarahan dan juga berselimut tanda tanya.


Wanita yang dia tahan tidak ada di tempatnya, dan sekarang, dia hanya tinggal seorang diri di sana, dengan rantai yang sudah terlepas dari kaki jenjang Riyana.


"Sialan!!!"


Brakk!


Tanpa basa-basi lagi, dia tendang saja kursi kayu itu sampai hancur, lalu dia eratkan gigi-giginya, juga dia kepalkan kedua tangannya dengan penuh kemarahan.


"Valheins! Aku tahu itu kau!"


Dia tak mau berpikir terlalu panjang. Segera saja dia berlari keluar gubuk itu, dan kemudian bergerak menuju ke arah istana milik Valheins, untuk pertama kalinya setelah kejadian pertempuran di hari itu.


Ia masuk menerobos masuk penjagaan ketat yang ada di sana, masuk saja dan kemudian menghadap Valheins. Meski begitu, kali ini dia tidak memberikan penghormatan apapun pada pria itu. Dia hanya terlihat menatap kedua mata Valheins dengan sangat tajam, setajam pisau belati.


Sling!


"Ha.. haa.. haaa... Pengkhianat ini, akhirnya datang juga ke istanaku." Ucap Valheins pada pria yang kini tengah menatap kedua matanya dengan sangat berani.


Dia semakin gahar menatap ke arah Valheins dengan tatapan menantang, juga ingin menghabisi dengan sekuat tenaganya.


Namun tatapan itu justru mulai teralihkan, tatkala satu sosok terlihat muncul dari balik tirai yang menjuntai menutupi sebuah pintu yang terhubung langsung pada sebuah ruangan.


Ruangan yang telah lama tidak pernah terpakai, juga ruangan yang menjadi begitu dingin setelah malam terkahir dia menempatinya, setelah melahirkan buah hati pertamanya, dan memunculkan perang antara dua kelompok yang harus bertahan sampai sekarang.


Arsello tertegun, saat melihat wajah anggun Riyana yang muncul dari balik tirai, dengan gaun berwarna Sage berpadu dengan warna putih bersih, rambut yang disanggul dan berhias bunga-bunga kecil dan cantik, berwarna ungu dan juga mahkotanya yang indah, bermata biru mengkilat terpasang dengan cantik dan membuat dirinya semakin terlihat manis.


Arsello masih tertegun di tempatnya, menatapi keindahan Putri Riyana yang selama ini dia gauli, bahkan dia jadikan pelampiasan hasrat, tanpa dia sadari betapa anggunnya sosok putri itu. Dia bahkan bukan apa-apa bila dibandingkan dengan wanita itu.


Entah bagaimana hatinya bisa sekeras batu. Dahulu kala seakan dia tidak bisa melihat keindahan itu pada diri Riyana. Entah karena dia yang benci sejak awal pada Riyana dan Sean karena mereka dia duga ada hubungannya dengan kematian kedua orang tuanya, atau memang Riyana berubah menjadi begitu indah semenjak lepas darinya.


Tidak tahu!


"Kenapa? Kau terkejut melihat dia ada di sini?" Tanya Valheins membuyarkan lamunan Arsello.


Pria muda itu pun hanya bisa bergeming, mengakhiri kekagumannya pada sosok Riyana yang cantik, dan kembali menatap tajam ke arah Valheins.


"Seharusnya kau senang karena dengan kembalinya Riyana ke istana ini, bukankah itu artinya tugas kamu sudah selesai?" Tanya Valheins pada Arsello.


"Kau mengambilnya dariku, karena kau merasa takut aku akan mempertemukannya dengan putrinya, benar begitu, bukan?" Tanya Arsello langsung pada Valheins.


Mendengar kata-kata Arsello barusan, Valheins malah terkekeh. Rupanya pria muda itu bukan pria yang tidak bisa menebak.


"Ha.. ha... Ha.. aku hanya mengundur waktu yang tepat, lebih baik kita mempertemukan mereka saat dia sudah jadi bangkai!" Ucap Valheins dengan tajam.


Namun kedua telinga milik Riyana seakan berubah menjadi tuli. Dia bahkan tidak mendengar kata-kata Valheins menyebut seorang putri. Dia ternyata lebih parah dari yang diduga.


"Lihat saja, Valheins! Dia bukan gadis yang bisa kau remehkan!" Ucap Arsello pada Valheins sedikit mengimbuhkan kata-kata ancaman.


"Kau hanya marah padaku karena aku sudah membuat kamu merasakan kematian, jika aku mengiming-imingi tumpukan harta dan kekuasaan lagi, matamu juga pasti akan kembali buta." Ucap Valheins dengan kata-kata sihirnya.


Sejenak Arsello terdiam di tempatnya, melihat nasib buruk yang dialami oleh dirinya. Entah di bagian hidup mana seharusnya dia tinggal, semuanya seakan begitu tabu untuk dipercayai olehnya.


Namun pandangan matanya kembali tajam. Dia tersadar dari sebuah hasutan yang amat sulit dia lepaskan. Harta dan juga kekuasaan, siapa pula yang tidak akan buta dengan dua hal tersebut?


*Tapi bagiku, mengetahui masa lalu kedua orang tuaku adalah yang paling utama*..


Gumamnya dalam hati.


"Tuan Valheins, anda mungkin pernah membutakan saya dengan harta dan kekuasaan, tapi anda tidak pernah bisa mempengaruhi saya dari memikirkan kedua orang tua saya."


*Kalau memang kau yang memaksa kedua orang tuaku untuk mencuri, seharusnya secepat mungkin aku bisa mendapat buktinya*..


"Aku bukan pria yang bodoh!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...