
~Happy Reading~
Hening menyapa setelah Alexa mengatakan kalau orang yang menembaknya datang kembali,
"tapi tak usah khawatir, ruang ini aku pastikan tak diketahui mereka"
"sejak kapan kamu siapin ruangan ini dek?" tanya Joe memastikan bermaksud meminta penjelasan yang lebih detail,
"Exa sudah bilang tadi kak, sudah setahun yang lalu kak"
“kamu sering pakai ruang ini Xa?” Rayhan menimpali karena penasaran, pasalnya ruangan ini terlihat nyaman dan sepertinya sering digunakan.
“iya, aku suka di sini kalau lagi kangen sama papa mama” kilah Alexa karena memang di ruang itu terpampang foto keluarga Alexa sebelum kejadian kelam itu terjadi.
“jangan sampai orang luar tau ruangan ini ya om, tente, bibi” mohon Alexa
“iya mba” jawab bibi yang sedari tadi merasa linglung, karena dibangunkan majikannya tengah malam, dan diajak bersembunyi di ruangan yang ia sendiri baru mengetahuinya. Pantas saja selama ini dirinya tak boleh membersihkan ruang perpustakaan, hanya sesekali dan itu pun selalu ditemani Alexa waktu membersihkan ruangan itu.
Brak!
Samar-samar terdengar pintu didobrak, dan sumber suara sepertinya dekat dengan ruang perpustakaan, mungkin saja kamar Rayhan yang didobrak, karena tadi Alexa meminta Rayhan mengunci kamarnya.
“jangan ada yang bersuara” ucap Joe, dirinya menajamkan pendengarannya untuk memastikan kondisi di luar ruangannya, sementara Alexa berkutat dengan ponselnya.
Suara gaduh pun semakin terdengar, nampaknya ada beberapa orang yang berhasil menerobos ke dalam rumah. Bibi dan tante Rasty pun saling berangkulan untuk saling menenangkan, Joe berdiri dan bersiap di belakang pintu. Rayhan dan om Ardian pun tampak ikut bersiap, sementara Alexa masih tampak tenang setelah membaca pesan.
Brak!
Sekali lagi tedengar pintu didobrak, sepertinya pintu ruang perpustakaan sudah berhasil didobrak dan seketika suasana mencekam semakin terasa, Joe pun berusaha untuk tenang, namun nyatanya kekhawatirannya jelas terlihat. Adiknya belum belum pulih benar, dan keluarganya disini dalam kondisi yang sama khawatirnya.
“Xa…” bisik Joe pelan saat melihat sang adik melangkah perlahan ke sisinya, ikut bersiap di depan pintu
Meski kondisinya tak begitu kuat, Alexa tetap memasang kuda-kuda, dan keributan di luar pun terdengar hingga beberapa lama tiba-tiba hening lalu tiba-tiba ketukan pintu terdengar dari luar membuat Alexa dan yang lain kian menegang.
“Buka pintunya Xa” suara yang begitu familiar terdengar dan sontak saja membuat Alexa segera membuka pintunya.
“Kak…!” pekik Alexa lega dan langsung memeluk seseorang yang tengah berdiri di balik pintu. Sementara Joe dan yang lainnya melongo melihatnya,
“tenanglah, semua sudah aman” bisik orang yang tengah mendekap Alexa bermaksud menenangkannya.
Mereka masih nyaman saling berangkulan hingga deheman dari Joe mengalihkan perhatian mereka, membuat mereka melepaskan rangkulan dan tersenyum malu.
“kalian…..” ucap Rayhan menggantung, tak berani melanjutkan ucapannya,
Sementara Joe sendiri tengah merasa kesal sekaligus bingung.
“ada yang mau menjelaskan?” tanya Joe akhirnya
“nanti akan kami jelaskan, sebaiknya kalian ikut kami terlebih dahulu, aku tak jamin mereka akan mengirim orang lagi atau tidak, cuma Hadi masih belum tertangkap, jadi sebaiknya kita segera pergi dari sini” ucap orang itu sembari menggenggam tangan Alexa,
Joe pun menghela nafas, Adiknya sungguh penuh kejutan, dan sekarang dirinya melihat adiknya bergandengan tangan dengan Devan.
Ya, seseorang yang tadinya memeluk Alexa dan sekarang tengah menggenggam tangannya adalah Devan.
“om, tante, ikut kami dulu ya, situasi rumah kalian saat ini belum aman, melihat mereka sudah berani terang-terangan menyerang, Devan khawatir mereka akan kembali lagi ke sini,”
“ya, baiklah” ucap om Ardian seraya menuntun istrinya yang masih terlihat khawatir, sementara Rayhan membantu bibi yang masih terlihat terkejut.
Mau tak mau akhirnya Joe pun ikut melangkah mengikuti Alexa dan Devan yang telah berjalan pelan di depan, meski segudang pertanyaan telah bersarang dibenaknya, namun karena kondisi yang tidak memungkinkan, membuatnya harus menahan diri untuk meminta penjelasan.
“Kak, cepatlah!” ucapan Devan seketika membuat Joe tersadar dari pikirannya.
Tak sadar ternyata mereka sudah berada di depan rumah dan hanya dirinya yang masih berdiri, sementara yang lain sudah masuk ke delam mobil yang telah disiapkan Devan.
Joe pun mengamati sekitar dan sudah tampak sepi seperti biasa, tampaknya anak buah Devan telah berhasil meringkus kawanan yang berusaha menerobos masuk ke dalam rumah.
***
Sementara di tempat lain, terlihat seseorang menggeram frustasi setelah menerima laporan dari rekannya
“s***, tinggal sedikit lagi, kenapa selalu saja gagal!”
“sebaiknya untuk sementara kita amati dan selidiki mereka lebih detail terlebih dahulu, jangan gegabah lagi”
“baiklah, untuk sementara aku akan menahan diri,” ucapnya sembari tersenyum smirk, sorot kebencian dan penuh dendam menguar dari mata tajamnya.
***
Devan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali matanya mengintip ke belakang melalui spion di atasnya.
‘kak Joe natapnya gitu banget sih, nyeremin amat.’ Gerutu Devan dalam hati lantaran melihat tatapan kakak angkatnya yang menusuk ke arahnya.
“kita mau ke mana kak?” tanya Alexa yang duduk di samping kemudi
“nanti kamu akan tau, untuk sementara waktu kalian akan lebih aman di sana” ucap Devan beralih melirik ke arah sang pujaan hati yang duduk di sampingnya. “istirahatlah dulu”
“jangan-jangan kakak akan bawa ke tempat itu?” tebak Alexa karena sepertinya perjalanan mereka akan cukup panjang,
Devan hanya memperlihatkan senyum lebarnya sembari mengusap puncak kepala Alexa, sementara mereka yang duduk di belakang menyaksikan adegan romantis itu dengan penuh kebingungan.
“ghmmm” sekali lagi Joe berdehem, membuat usapan tangan Devan terhenti dan kembali ke kemudi.
“santai saja kenapa sih kak, “ rengek Devan akhirnya, dia merasakan tatapan kakaknya menusuk punggungnya,
Joe masih terdiam dengan tatapan tajamnya, sementara Alexa tak berani melihat kakaknya, dirinya akhirnya mengalihkan padangannya ke samping jendela.
Karena langit masih begitu gelap dan rasa lelah akibat ketegangan yang terjadi, semuanya bersandar sembari memejamkan matanya, hanya Joe dan Devan yang masih terjaga karena harus mengemudi, sementara Joe terus mengawasinya.
Setelah tiga jam menempuh perjalanan, Devan memarkirkan mobilnya di sebuah rumah minimalis di pinggir pedesaan. Rumah yang memiliki halaman luas, dengan gerbang yang membumbung tinggi. Sepertinya rumah ini begitu dijaga dan dengan sistem keamanan yang canggih, karena Devan tak perlu turun untuk membuka gerbang atau tak perlu menghubungi seseorang untuk membuka gerbangnya. Gerbang terbuka otomatis saat Devan berada di depan gerbang.
“kak, tolong bangunkan yang laiinnya” pinta Devan setelah mobil berhenti tepat di depan teras rumah.
Tanpa membantah Joe pun membangunkan yang lainnya.
“Xa… kita sudah sampai,” ucap Devan pelan sembari menepuk lengan Alexa perlahan. namun tampaknya Alexa tak merespon, dan membuatnya khawatir
“Xa…!” ucap Devan lebih keras
tbc
Hai....maaf baru update kembali,
Semoga tidak bosan ya,🤩🤩🤩
Terimakasih atas dukungannya 😍😍😍