
"Seharusnya aku meminta para prajurit untuk mengawal kepergian dia, tapi lihat sekarang, semuanya kacau!" Ucap pria tua itu dengan kesalnya.
Dia bahkan tidak pernah mengira, kalau rencananya akan gagal total seperti ini. Betapa bodohnya dia yang malah memperalat tawanannya selama puluhan tahun untuk menghancurkan dan membinasakan kaum serigala yang berperang melawan pasukannya.
Dan sekarang dia bisa melihat sendiri, bagaimana kegagalan rencana akibat dirinya. Namun dia hanya bisa merasa jenuh di atas singgasananya. Dia tidak punya lagi kaki tangan yang kuat untuk bisa menemukan tawanan miliknya.
Seharusnya, jika tawanan miliknya jatuh pada kedua tangannya, maka hal itu tidak terlalu cemas, dia mungkin akan mengendalikan monster itu dengan pikirannya. Hanya saja, dimana monster itu kini berada, dia sendiri bahkan tidak tahu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
"Mencarinya? Apa aku bukan oerang yang sibuk?" Gumamnya dalam kesendirian.
"Tidak! Tapi aku benar-benar harus mencarinya," namun sekarang dia malah begitu yakin. Dia malah menatap ke arah luar yang sudah hancur luluh berantakan akibat peperangan itu dengan kedua mata yang tajam dan penuh percaya diri.
"Tidak ada yang bisa menyingkirkan aku!"
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Dia berjalan menyusuri hutan yang lebat dan semakin dalam berjalan membuntuti Arsello, sampai tibalah mereka di hadapan gubuk tua yang tidak bisa dijelaskan bagaimana kondisinya.
"Ouh."
Namun Arsello hanya tersenyum di depan Alexa, saat melihat gadis itu tampak tidak baik-baik saja melihat gubuk tua yang ada di hadapannya.
"Kau tahu? Aku punya alasan logis untuk tidak merobohkannya," ucap Arsello pada gadis di sampingnya.
"Aku tahu, agaknya kau punya terlalu banyak kenangan manis bersama dengan orang tua kamu." Jawab Alexa malah lebih mengetahuinya.
Sekarang tinggal Arsello yang menatap wajah Alexa dari samping dengan tatapan penuh menebak. Dia bahkan tidak pernah mengira, kalau gadis ini akan sebegitu tepatnya dalam menebak perasaannya sendiri.
"Apa kau bisa melihat pikiranku?" Tanya Arsello tidak ragu lagi.
Mendengar pertanyaan dari Arsello barusan, seketika membuat Alexa tersenyum dan kemudian terkekeh. Entah apa yang lucu baginya, hanya saja, dia memang merasa begitu lucu.
"Hehh.. aku hanya melihat ada kamu dan kedua orang tua kamu yang hidup bahagia di sini," jawab Alexa pada pertanyaan Arsello, "satu pertanyaan untuk kamu, mengapa kau sampai berpikir ingin membalas dendam padaku? Apa hanya karena ayahku yang memenggal kepala kedua orang tua kamu?" Tanya Alexa seketika membuat Arsello memaku sempurna.
Pria itu malah makin tertegun di tempatnya, dan semakin sulit baginya untuk bisa bergerak dari sana. Dia bahkan tidak akan pernah bisa menjelaskan bagaimana dendam itu tumbuh begitu liar dan beringasnya seakan dia sendiri tidak mampu mengendalikan dendamnya sendiri.
Dia teringat masa lalunya yang kelam, pada saat Sean memenggal kepala kedua orang tuanya di hadapan umum, sementara Valheins malah dengan sengaja membawanya ke dalam upacara pemenggalan itu.
Dia menatap hari yang sangat kelabut baginya itu, dengan awan yang menggumpal dan hitam pekat, dengan tangisan kedua orang tuanya yang menderu membuat hatinya terluka.
Dan saat pemenggalan itu telah terjadi..
Dia berubah menjadi sosok yang sangat berani untuk hal apapun. Dia tidak lagi merasa takut, Valheins mendidiknya dengan keras dan menjadi pria penuh dendam. Dan pada saat itu terjadi, dirinya yang hanya anak kecil yang masih berusia sembilan tahun, akhirnya dipaksa menjadi sosok yang dewasa dan juga kejam.
Ia mulai berlatih pedang, juga mulai mencoba melatih kekuatannya, tak heran jika dia benar-benar kuat, dan bisa memimpin pasukannya yang berjumlah ribuan. Karena dia memang sudah terlatih sejak kecil.
Dia akhirnya mulai tumbuh menjadi pemuda hebat pada masanya. Hingga pada tragedi di hari itu terjadi, saat Sean dan putrinya berada dalam ancaman yang nyata, dialah orang pertama yang membantu Valheins untuk mengurung Riyana, di dalam tempat yang tidak akan bisa diketahui oleh siapapun, hanya Valheins, itu pun dia tak terlalu yakin.
Dia melampiaskan dendamnya pada wanita itu, dia ingin semua yang menjadi milik Sean direnggut, dan juga dihancurkan. Jika saja Riyana bukanlah putri dari sosok Valheins, mungkin dia akan membunuh wanita itu dengan bengis, tapi sayang sekali, Riyana adalah putri tunggal Tuan Valheins, dan dia juga tidak sembarangan untuk menghabisinya.
Merasa tertekan dengan dendam yang tiada pernah berujung. Dia pun mulai nekad untuk berbuat hal tidak senonoh pada Riyana selama bertahun-tahun, sejak Riyana melahirkan buah hati pertamanya, sampai sekarang, dia masih melakukan hal itu.
Kenikmatan, yang bercampur dengan rasa dendam. Sentuhan yang memabukkan, dengan jiwa yang meronta-ronta seakan tidak bisa membiarkan Riyana lepas begitu saja.
Usia mereka pada saat itu terpaut cukup jauh. Dia yang berusia dua puluh tahun, dan Riyana yang telah genap berusia tiga puluh tahun. Namun dia tak peduli. Wajahnya yang ayu dan juga seluruh tubuhnya yang menggelora, memancing hawa nafsunya untuk dipuaskan, dan akhirnya, berulang kali Riyana pun melahirkan anak untuknya, melahirkan atau menggugurkan kandungannya, yang kemudian dia buang jasad bayi mereka yang tidak bernyawa, dan hal itu, sudah terjadi berulang-ulang kali.
"Kenapa kamu diam?" Tanya Alexa padanya membuat dia yang semula tertegun, akhirnya harus terkejut juga.
"A?"
"Arsello, aku ingin masuk ke dalam rumah ini, bolehkah aku masuk lebih dulu? Jika kamu masih suka bermain dengan masa lalu kamu," ucap Alexa menyindir Arsello dengan tatapan datar.
Namun wajah datar milik Alexa itu bahkan menjadi wajah yang snagat menakutkan. Entah bagaimana alexa membentuk wajah sedemikian rupanya, yang pasti, siapapun yang melihat Alexa, mereka pastilah akan dibuat menunduk karenanya.
Tak terkecuali pada dirinya juga. Dia pun mengakui, dia tidak bisa berlama-lama menatap kedua mata Alexa, seakan ada ruang tersendiri baginya untuk tidak terlalu dekat dengan gadis ini.
"Baiklah, biar aku masuk." Ucap Alexa pada Arsello di sampingnya.
"Apa aku bisa bertanya padamu tentang suatu hal?" Tanya Arsello pada gadis muda di sebelahnya.
"Tanyakan saja, aku mungkin bisa berpikir dua kali apa mau menjawabnya atau tidak."
Dan dari jawaban Alexa di atas, bahkan sudah jelas mengatakan kalau dia sudah tahu persis kiranya apa yang akan ditanyakan oleh Arsello padanya.
"Mengapa kau bilang padaku orang tuaku tidak bersalah, dan orang tua kamu juga tidak bersalah?" Tanya Arsello sambil berjalan masuk ke dalam gubuk tuanya beriringan dengan Alexa.
"Paman Arsello, aku tidak bisa mengatakan semuanya, kau sudah berjanji untuk membebaskan ibuku, dan juga membantu aku untuk mengalahkan Valheins, jika aku berkata sekarang, apa aku masih bisa mempercayai kamu lagi?" Tanya Alexa pada Arsello, dia bahkan telah memanggil Arsello dengan sebutan paman.
Huhh!
"Baiklah, aku akan membebaskan Riyana, hanya bebas dalam kataku, tetap di sana, tapi aku akan memperlakukan dia dengan baik." Ucap Arsello pada Alexa, dan seketika membuat Alexa terkekeh.
"Hehh... Jika begitu caranya, apa kau masih takut dengan Valheins? Kau takut dia akan mempertanyakan kemana kamu membawa ibuku pergi?" Tanya Alexa lagi.
"Tidak, aku tidak lagi takut dengan Valheins, tapi jika kau menjelaskan semuanya padaku, jika tidak, maka aku akan selamanya mengurung ibu kamu di dalam penjara."
Kriettt!!
Pintu rumah lama Arsello dibuka, dan di sana memperlihatkan ruangan yang dipenuhi oleh eksperimen. Rupanya dia juga ahli dalam meneliti benda-benda atau mungkin virus aneh yang dia jumpai.
Alexa berjalan masuk ke dalam gubuk tua itu, sementara Arsello malah sibuk dengan penelitiannya yang dia letakkan di dalam sebuah kendi kecil di atas almari.
Semalaman dia meneliti hal ini, dia bahkan harus rela merasa penat selama semalaman, dan itu hanya karena sebuah virus.
Alexa memandangi sekelilingnya, sampai akhirnya dia dipanggil oleh Arsello untuk mendekat.
"Kau mau tahu hasilnya?" Tanya Arsello pada Alexa.
"Dimana kau menahannya?" Tanya Alexa sambil mendekat ke arah Arsello.
"Aku menahannya di belakang, bawah tanah, tidak akan ada yang tahu dia ada di sana." Jawab Arsello sambil membuka kendi di dalam tangannya.
Dia membuka benda kecil itu, disaksikan pula oleh Alexa di sana. Dia membukanya, dan terlihatlah sesuatu yang sangat aneh di dalam sana.
Semalam dia meneteskan beberapa tetes air hujan ke dalam kendi yang sudah dia isi dengan sel tubuh monster yang tahan. Tidak terlalu sulit, monster itu sudah lemah dibuat olehnya, dia menggunakan bius kuno untuk melumpuhkan monster itu, dan dengan mudahnya, dia mampu mengambil sel yang ada pada darah monster tersebut.
Dia melihat semuanya dengan nyata. Sel itu kembali bermutasi menjadi sesuatu yang lebih menyeramkan. Pada saat itu, yang dia pikirkan hanyalah satu hal, mungkin ini yang disebut benda berharga milik Valheins yang tidak bisa diambil dengan sembarangan oleh siapapun.
Sel itu bermutasi cukup cepat, berubah menjadi ulat bergigi tajam berbulu sama seperti monster itu, dan kemudian terlihat ganas juga pemarah.
"Wow!"
Kreb!
Dia menutupnya kembali, dan kemudian meletakkan hasil penelitiannya itu di atas meja.
"Kau lihat? Apa yang bisa kau ketahui dari sesuatu yang aneh ini?" Tanya Arsello pada Alexa.
"Dia bisa bermutasi lagi, kalau terkena air hujan, dan mungkin, dal waktu yang berkepanjangan, bisa menyebabkan seseorang tidak bisa lagi berubah menjadi wujud semula." Jawab Alexa pada pertanyaan Arsello.
Arsello kemudian mengangguk, dan sedikit memuji kepandaian Alexa dengan ekspresinya.
"Jadi, maksud kamu, Shaga juga bermutasi seperti monster itu?" Tanya Alexa lagi, dan hasilnya benar-benar membuat dirinya sendiri terkejut hebat.
"Ya! Dia akan bermutasi, dia akan menjadi lebih pemarah, dan tidak suka belas kasihan, kau tahu? Jika dia sampai terlalu sering berada dalam guyuran hujan, seharusnya kau melihat sendiri apa yang akan terjadi selanjutnya." Jelas Arsello pada Alexa.
Mendengar perkataan Arsello barusan, Alexa jadi memaku di tempatnya, membeku dengan sangat sempurna, dia bahkan tidak bisa berkata-kata lagi, bagaimana jika Shaga benar-benar tidak bisa dikendalikan.
"Um, boleh aku bertemu dengan monster itu?"
Ya, sebenarnya dia ingin memastikan, mungkinkah monster yang ada di dalam sana, adalah seseorang yang dia pikirkan atau bukan.
"Sayang sekali, aku tidak bisa menolak ucapan kamu, masuklah, hati-hati, jika dia terbangun dan marah, dia bisa saja melahap dan mengikis tubuhmu."
"Seharusnya kau tahu aku tidak selemah itu." Ucap Alexa sambil berjalan menjauh dari Arsello, menuju ke arah tempat dimana Arsello menyekap monster besar di dalam sana.
Dia menapaki sebuah tangga kayu yang mengarah langsung menuju ke ruang bawah tanah. Namun kedua matanya tidak melihat apapun, kegelapan mencekam menyelimuti tempat itu, sampai pada akhirnya, dia menemukan sebuah obor yang terpasang pada pagar kayu. Dia menyalakannya dengan menggunakan kekuatan pada tangannya, dan seketika ruangan menjadi sangat terang.
Blusssss
Dia berbalik, melihat sesuatu yang besar itu terhalang di balik jeruji besi, dengan tubuh yang gagah tinggi sekitar tiga meter, dan bobot yang dia perkiraan mencapai lebih dari sepuluh ton.
Bobot yang sangat besar, dan agaknya amat membuat seseorang ketakutan jika berjumpa dengannya, bertatap muka hanya empat mata, tak jauh berbeda pula dengan dirinya. Dia juga tampak sedikit cemas, kalau-kalau monster ini akan bangun, dan kemudian marah, bukankah dia sudah jelas akan berada dalam masalah besar?
Tapi Arsello tidak begitu buruk juga. Dari arah luar gubuk ini persis seperti gubuk reyot yang, huhh! Sangat miris. Tapi di dalamnya, dia bahkan bisa membuat semuanya jauh berbeda.
Di dalam ruangan bawah tanah itu di bangun secara khusus dengan batu-batu nan kokoh, yang dia susun dan dia rapatkan agar tidak ada celah sama sekali. Meski begitu, entah mengapa ruangan ini tidak begitu pengap. Agaknya Arsello juga salah seorang vampir yang bisa dikagumi.
Ia menatap monster yang pada saat itu tengah berbaring di atas tanah, membelakangi dirinya. Dia berjalan mendekat, kemudian berpegangan saja dia pada sel besi penyekat antara dirinya dengan monster itu.
*Jika mereka tidak tahu bagaimana nasib ayahku di masa lalu, mengapa sekarang aku jadi membandingkannya denganmu? Mungkinkah kamu benar seseorang yang aku pikirkan*?
Dia bergetar hebat. Tampak jelas kedua tangannya semakin erat menggenggam jeruji besi. Sesekali dia meneguk ludahnya, terasa kelu memang, entah mengapa, namun dia tahu, dia masih belum bisa untuk tidak takut menghadapi monster ini.
Dia mencoba lebih berani lagi, melepaskan jeruji besi pada satu tangannya, dan kemudian dengan perlahan mulai memasuki celah-celah jeruji itu. Meski dia tampak sekali bergetar, dan agak ketakutan, namun dia tetap berusaha untuk lebih berani lagi.
Alexa semakin mendekatkan tangannya pada monster tersebut, dan kemudian dengan halus memegangnya.
Swoshhh!
"Ak!!"
Mendadak sebuah kekuatan menghampiri dirinya, melarak tubuhnya untuk datang ke masa lalu, dan kemudian, melihat semua yang pernah terjadi pada monster ini.
"*Selamat datang.. anakku*.."
"*Uaaaaaa... uaaaaaa*..."
"*Kami bersyukur memiliki kamu, terutama ibumu*.." ( *menatap ke arah wanita di atas ranjang* ).
*Cup*!
"*Aku bangga memiliki kalian berdua, maka ke depannya, kita akan hidup dalam kebahagiaan*.."
"*Aku janji*!!"
"*Kemarilah, aku juga menginginkan cucuku," suara dari seorang pria, yang tampak muda, seperti Valheins*.
"*Aku mencintai kamu, Riyana, aku bangga padamu, terima kasih telah memberi kebahagiaan untukku*.."
*Menoleh*..
"*A*?"
*Mendapati sang anak dalam bahaya*..
"*Tidakkk*!!!"
Sling!!
"A?"
"Alexa, apa yang kau lakukan?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...