
Prak!
Dia membanting kartunya setelah merasa cukup lelah dengan kekalahan yang selalu menimpanya.
"Sialan! Kalian mempermainkan aku lagi." Umpatnya tentu saja wajahnya menjadi begitu kacau dan tidak bisa terjelaskan bagaimana rincian kacau itu.
Ha.. ha.. Ha..
Namun yang lainnya malah menertawakan dirinya dengan sangat puas, seakan mereka benar-benar senang melihat kekalahan beruntun yang terjadi pada kawannya itu.
Dia pun segera bangun, dan memilih untuk menilik para tahanan di dalam sel, melihat sudah tidak ada bagian lagi untuknya di atas meja judi, bukankah berjaga jauh lebih baik?
"Lihatlah wajah itu, dia sangat tertekan, padahal hanya kekalahan beruntun yang biasa dia dapatkan setiap harinya." Ledek kawan vampirnya.
"Aku harap besok dia melakukan kesalahan lagi," sahut satunya.
"Sialan! Kalian meledek aku sebegitunya ya, sudah! Tidak ada waktu untukku menerima kekalahan lagi," sahutnya sembari berjalan menuju ke dalam penjara.
Dia tampak berjalan dengan santai, pada mulanya, karena dia tak tahu ada kejadian apa yang terjadi sebelum dia masuk ke dalam sana.
Seperti biasa dia akan melihat semua tahanan dan memastikan mereka semua masih ada di dalam sel. Dia terus berjalan, sembari memukul-mukul tongkat di tangannya, lalu terus berjalan, sampai pada sel yang terkahir.
Dia tidak menemukan apapun!
"A?"
Dia melongok dengan seksama, berharap hanya kedua matanya saja yang buta. Tapi rupanya tidak. Dia memang tidak buta, di dalam sana tidak ada satu orang pun, atau memang penjara ini sebelumnya kosong?
Tapi menurut dia tidak. Bukankah sekitar satu jam yang lalu ketua jaga di sana bilang kalau sel nya bahkan penuh sampai ke ujung, kenapa sekarang mendadak tidak ada tahanan di dalamnya?
Menyadari akan keganjilan itu, sang pria berbaju prajurit itu pun pada akhirnya memutuskan untuk segera berlari keluar, dan berniat melaporkan semua yang dia lihat pada sang ketua.
"Ketua! Ketua!! Ada tahanan.."
Bukk!
"Arkh!"
Namun belum juga dia berhasil keluar, sesuatu lebih dulu menimpa bagian kepalanya, hingga membuat dirinya terjatuh dan ambruk di atas tanah tahanan yang dingin.
Tongkatnya jatuh pula bersamaan dengan dirinya yang mulai kehilangan kesadaran. Dan sekarang, dua pria di belakang tampak tersenyum dan melakukan tos.
TOS!
Mereka kemudian berjalan keluar, tanpa keraguan, juga tanpa basa-basi. Mereka ingin sekali segera menghabisi beberapa prajurit jaga di depan tahanan, lalu segera kabur dari tempat itu.
Dia mengintip di balik tembok, tampak beberapa vampir masih asik melanjutkan permainan kartu mereka, bahkan tanpa menyadari teriakan keras dari kawannya tadi di dalam sana.
"Apa aku perlu membantu kamu? Aku rasa kau cukup kuat untuk itu." Ucap Wilmer pada putranya.
"Baiklah, lihat saja apa yang terjadi, kau bisa lari meninggalkan aku dan membantu yang ada di depan." Jawab Shaga dengan yakinnya.
Dia bahkan tidak pernah mengira, tubuhnya akan menjadi sekuat ini, juga sebesar ini. Uhm, ngomong-ngomong soal besar, entah mengapa otaknya author jadi meleset kemana-mana.
??
Sekarang tampak Shaga dengan tubuh besarnya tampak mulai berjalan keluar tanpa meragukan apapun, termasuk dengan beberapa vampir yang ada di sana.
Dia berjalan dengan santainya, juga dia lakukan seperti biasa, sampai muncullah dia di ambang pintu.
"Hei, boy? Masih asik bermain?" Tanya Shaga sengaja memunculkan dirinya di hadapan mereka.
Sontak saja mereka semua dibuat terkejut. Mereka yang tidak menyadari kehadiran Shaga barusan, mengapa sekarang mendadak ada sosok monster bertubuh tinggi besar yang berdiri di samping mereka?
Mereka tampak mendongak secara bersamaan, lalu karena rasa terkejut mereka, dijatuhkan saja kartu mereka di atas meja, lalu tanpa berpikir lama, segera saja mereka melakukan perlawanan.
"Apa? Dasar serigala bau!!"
Swosh!
Blam!!
Namun satu serangan dari satu vampir berhasil digagalkan oleh Shaga dalam sekejap mata, tentunya dengan sangat mudah. Pria itu bahkan masih sempat memingkis celananya, dan kemudian menangkis kembali serangan yang diberikan oleh vampir yang lain.
"Terima ini!!"
Swosh!
Bukk!
Blam!!
"Arkh!"
Satu demi satu para vampir itu jatuh berhamburan di atas tanah, hanya dengan satu pukulan lembut yang dilayangkan oleh satu tangan kanan milik Shaga. Agaknya pemuda itu sekarang tidak bisa diremehkan.
"Kau sangat rapuh, rupanya selama ini Valheins hanya memelihara tikus sampah yang tidak berguna."
Bukk!
Blam!
Satu tangan Shaga telah berhasil menjatuhkan empat vampir sampai dia buat tak berdaya. Dia bahkan melalui pertandingan ini dengan begitu santai, seakan para vampir ini hanyalah sekedar remahan yang tidak sebanding dengan dirinya.
Entah apa yang terjadi pada Shaga sebelum hal ini terjadi, hanya saja, hal itu membuat Shaga lebih terlihat keren dan kehilangan wajah cupunya.
Sementara itu, sekarang tinggal dua penjaga terkuat di sana, satu ketuanya, dan satu lagi anak buah andalannya. Dan mereka takkan menyerah dengan segala keadaan. Cih! Hanya satu serigala, rasanya pasti jauh lebih mudah, iya kan?
"Biar aku saja yang mengatasi dia, paluku sudah tidak tahan lagi untuk menyerangnya." Ucap salah satu di antara dua vampir yang masih berdiri dengan tegak.
"Baiklah, aku tak tunggu kabar baik darimu." Sahut satunya lagi, kemudian terlihat duduk di kursi dan menata kartu-kartu di atas meja menjadi lebih rapi.
"Lihatlah anak anjing, kaulah yang sampah di antara kami!"
Hiyaaaa!!
Blam!!
Pukulan palu jumbo yang bergerigi pada sisi-sisinya itu terasa sangat mengerikan. Namun Shaga yang sekarang adalah Shaga yang berbeda. Dengan mudahnya dia mengelak, dan akhirnya sekarang, tangan nya sudah berada di leher si vampir sombong itu.
"Salah! Pukulan kamu meleset!"
Krek!!
Leher sang vampir di patahkan hanya dengan satu tangan miliknya saja, hingga membuat seseorang di kursi pada akhirnya lekas bertindak.
Swosh!
Dia melempar kartu-kartu yang semula dia tata dengan rapi, mengarah kepada Shaga yang tengah berdiri di sana.
Kartu-kartu itu berterbangan lalu dari ujungnya tampak muncul ujung yang runcing membentuk sebuah pisau kecil yang sangat mengkilat.
Sling!
"Wow! Aku pikir itu hanya kartu biasa, lain kali aku pasti akan membawanya," gumam Wilmer dari balik tembok.
Swosh!
Kartu-kartu itu dengan cepat berterbangan mengarah kepada Shaga yang masih terdiam. Namun diamnya Shaga, seharusnya bukan hanya sekedar diam bukan?
Dia melirik sedikit, kemudian merasakan betapa bahaya akan segera menghampiri dirinya. Dia lekas bergerak, melompat dan memutar tubuhnya, menghindari kartu-kartu yang rupanya bukan sekedar kartu biasa, jujur saja, itu salah satu senjata yang paling cerdas.
Dia melompat dengan indah, dengan pergerakan yang sangat lincah, lalu akhirnya berhasil menghindari senjata-senjata itu.
Slip!
"Ouch!" Ucap Wilmer agak sedikit terkejut, saat salah satu benda runcing dan tajam itu mengenai tembok yang persis menjadi tempat dia bersembunyi.
Dia mencabut benda itu dari dinding, dan kemudian menatapinya dengan penuh kekaguman.
"Wow, aku harus punya satu." Ucapnya lalu tanpa berbasa-basi lagi, dia kemudian menyimpannya ke dalam saku bajunya.
Sementara itu, pertarungan masih saja berlanjut. Shaga yang pada akhirnya bisa mengelak dari amukan senjata milik anggota jaga para vampir itu kini tampak berdiri dengan tegak menghadap ke arah sang ketua itu.
Hosh! Hosh! Hosh!
Nafasnya terdengar memburu, dengan keringat yang bercucuran dengan deras membasahi area wajahnya. Dia bahkan terlihat lebih tampan dari sebelumnya, dengan penampilan yang berubah hampir sepenuhnya, jika orang lain, tentu saja tidak akan semudah itu percaya kalau itu adalah dirinya.
"Ayahmu bilang kau anak sialan! Tapi jujur saja, aku jadi iri padamu," ucap Wilmer masih bergumam di balik tembok.
"Kemarilah, Nak, biar aku bereskan kau juga!" Ucap Shaga dengan sangat sangar.
Tak lama setelah itu, sang vampir pun menurut, berlari saja dia secepat kilat, berpikir untuk menyerang Shaga dengan kecepatannya, dan kemampuan menyerangnya.
Swosh!
Blam!!
Tapi tidak akan semudah itu kawan. Kau sudah meremehkan anak monster yang satu ini. Seharusnya kau melihat kedua matanya yang sangat jeli melihat dan memperhatikan gerak-gerik kamu, tentulah kau begitu bodoh, vampir tampan!
Krrrrrttt
Jatuh saja tubuhnya tersungkur di atas tanah, hingga harus menjadi lemah tidak berdaya di hadapan Shaga, dengan malunya.
Dia masih saja setia merayap di atas tanah, sesaat setelah dia berhasil dijatuhkan oleh Shaga. Dia tak punya waktu banyak lagi, rupanya Shaga memang sangat kuat, entah mengapa dia juga pangling melihat seluruhnya dari Shaga yang tampak berubah.
"Jangan mendekat!" Ucapnya dengan penuh rasa takut.
"Kenapa memangnya? Bukankah sebelumnya kau begitu sombong? Dengan mengatakan bangsa serigala bukan apa-apa dibanding dengan kalian?" Jawab Shaga sambil mendekat ke arah pria itu, dengan berjalan lebih perlahan namun terasa sangatlah menakutkan, "baiklah, mari kita lihat mana yang terbaik di sini!"
Hap!
"Arkh!"
"Wow!"
Sang ayah masih dibuat terkagum-kagum dengan kekuatan super yang kini telah dimiliki oleh putranya sendiri, bahkan dia mengakui, dia tidak sebaik Shaga, juga tak memiliki kekuatan semacam itu. Sebenarnya darimana Shaga mendapatkan kekuatan seperti itu?
Arkh!
Kenapa harus memikirkan hal yang memusingkan? Bukankah bagus jika Shaga telah berubah menjadi sosok pria serigala yang tidak dianggap remeh lagi?
"Jujur saja, aku rindu sifat monsterku," gumam Wilmer sembari menyaksikan pertandingan antara Shaga melawan sisa musuhnya yang tersisa di tangannya.
"Tolong jangan habisi aku! Aku mohon lepaskan aku, jangan bunuh aku!" Pinta vampir dalam genggaman tangan Shaga, merasa hidupnya sudah berada dalam ancaman besar. Dan sekarang tidak ada yang bisa dia lakukan selain merengek dan memohon untuk dimaafkan oleh Shaga.
"Ck! Kau bahkan memenjarakan aku dan mengikat kedua tanganku dengan rantai besi, kau pikir jika aku pria lemah, apa yang akan terjadi?" Jawab Shaga.
"Tolong maafkan aku, aku sungguh hanya mendapat perintah saja, aku tidak bermaksud.."
"Aku tidak suka banyak bicara!"
Shaga mulai memperlihatkan gigi taring miliknya yang tajam tepat di hadapan pria vampir itu, dan kemudian..
"Tidak, aku mohon jangan! Jangan!!"
Roammmmm!!
Tanpa berpikir panjang, Shaga memenggal kepala vampir itu menggunakan gigi-gigi taring tajam miliknya, lalu setelah itu, membuang kepala vampir yang telah terpisah dari raganya.
Brakk!
"Menjijikan! Dia pasti sudah tua!" Umpat Shaga sambil membuang tubuh tanpa kepala yang semula ada di tangannya.
Dia kemudian berjalan meninggalkan area tersebut, saat semuanya sudah berhasil dia bereskan. Dari belakang tampak Wilmer yang membuntuti tubuh besar itu, dan kemudian menyalakan api dengan cara yang sama seperti yang dia lakukan sebelumnya, menggunakan dua batu yang dia gesekkan hingga menciptakan api yang sangat panas.
"Jangan lupa untuk membakarnya!"
Bluss!!
Api membakar dengan membara pada semua vampir yang ada di sana, hingga terciptalah api unggun yang berbahan bakar jasad para vampir. Dan hal itu sungguh memuaskan untuk mereka.
"Nak, aku harus ke depan, berjalan saja kau membantu Alexa, dia sedang dalam kesulitan." Ucap Wilmer pada putranya, sembari menepuk pundak sang anak dengan satu tangannya.
Namun sang anak hanya menatap tepukan tangan Wilmer di atas pundaknya, lalu membiarkan pria itu pergi meninggalkan dirinya di sana seorang diri, hanya seorang diri.
*Aku masih punya hutang yang belum aku lunasi*!
Dia menatap langit yang masih kelam meski hujan sudah lama reda. Dia juga menengadahkan wajahnya menerima tetesan-tetesan air hujan meski hanya rintik-rintik saja.
Jlger!
Mendadak petir menyambar dengan keras, memunculkan kilatan putih nan menakutkan di atas langit, sementara itu, sebuah senyuman terlintas pada bibir Shaga, senyuman aneh yang terlihat begitu mengerikan
"Alexa, aku akan datang!"
Swosh!
Sekarang larinya bak seperti vampir yang bisa menempuh jarak 10 mil dalam waktu satu jam. Dia begitu terlihat hebat, meski masih ada yang tidak tahu mengapa dia bisa sehebat itu.
Dia mulai bergerak, menyusuri jalanan basah dan sempit di perkotaan, dan kemudian mencari tebing yang dimaksud oleh Wilmer.
Dia melongok kesana kemari, namun sayang sekali, dia sungguh tidak menemukan siapapun di sana. Sampai akhirnya dia memilih untuk turun dari atas tebing, kemudian kembali bergerak mencari keberadaan gadis istimewa yang dia cintai itu.
Hosh! Hosh! Hosh!
Seperti biasa, nafasnya semakin terdengar memburu, bahkan sangat jelas terdengar degup jantungnya yang bertalu-talu seakan tengah menabuh genderang perang.
Dia terus mencari keberadaan gadis itu, berubah saja dia menjadi serigala, namun kali ini, dengan tubuh yang tegap tinggi dan memiliki puluhan otot yang kekar pada sekujur tubuhnya.
Ia berlari semakin jauh, hingga kemudian dari kejauhan, kedua matanya menangkap sebuah pemandangan mengejutkan di sebuah sudut.
Dia berhenti, kemudian mulai mencoba merubah dirinya menjadi manusia biasa, mulai berjalan perlahan-lahan mendekat ke arah dua objek di depan matanya.
Namun dia tak mengeluarkan suara, dia hanya terdiam saat mendengar sebuah kalimat terlontar dari mulut salah seorang di antara mereka.
"Mohon setelah ini kau tidak berpihak pada mereka, karena daging dan otakmu, berasal dari ibumu!"
Deg!
Jantungnya seakan berhenti berdetak, manakala dia mendengar suara itu terucap dari mulut hina seorang Arsello yang licik parah.
Dia mundur beberapa langkah, apalagi saat dia tidak mendapati jawaban apapun dari mulut Alexa, mengapa hatinya mendadak jadi sangat sakit?
Dia kemudian berlari menjauh, berlari sejauh mungkin, merubah dirinya menjadi sosok serigala yang beringas, dan memiliki tatapan mata yang hitam nan menakutkan.
Groarrrrrrr!!
Dia bergerak dengan langkah cepat mendekat ke arah pertempuran, membuat semua yang ada di sana ikut tercengang, dan pada akhirnya, semuanya dibuat melongo karena ulahnya.
Termasuk Collab dan Wilmer, yang menyaksikan sendiri bagaimana Shaga dengan beringasnya mulai menjatuhkan satu per satu vampir di arena pertempuran.
"Rasakan ini!!"
Duashh!!
Tendangan keras Shaga bahkan mampu melumpuhkan sepuluh vampir sekaligus. Entah kekuatan dari mana yang dia dapatkan, tapi agaknya dia semakin terlihat pemarah dan mengerikan.
*Aku jadi sangat marah*!!
Hiyaaaaaaaaaa!!!!!
Dia lempar satu per satu jasad vampir entah yang sudah terpenggal kepalanya, atau juga yang masih hidup dan utuh, dia tak peduli, semuanya dia masukkan ke dalam api, dan kemudian, dia menguasai arena pertandingan dengan kekuatan barunya itu.
Collab melongo pada saat menyaksikan kekuatan super yang dilakukan oleh Shaga di depannya.
"Bukankah itu Shaga? Apa selama ini dia memang pengecut?" Gumamnya tanpa menyadari arena peperangan sudah berhasil diluluh lantakkan oleh Shaga.
Dia bahkan hampir tidak mengenali pemuda yang kini telah berubah menjadi sosok berbulu dan memiliki tinggi yang cukup, tentunya beserta kekuatan besarnya yang tidak bisa dianggap remeh.
Dan pemandangan itu juga berhasil meraih perhatian dua makhluk di atas jembatan. Keduanya dibuat terkejut dengan kehadiran satu sosok yang sangat besar dan sekarang sudah menjadi pemimpin di arena peperangan.
"Um? Apa dia dari kelompok serigala? Kenapa aku tidak pernah melihat dia?" Tanya Arsello pada Alexa di sampingnya.
Sementara itu, Alexa hanya bisa diam, mengingat dia tak mungkin berkata apapun, karena dia sungguh tidak mengetahui siapa yang sedang bertanding di bawah sana.
*Dia seperti sangat familiar*..
Satu hal yang sempat terlintas di benaknya, dia juga berpikir sudah pasti dia, jika bukan dia maka siapa lagi. Begitulah pikirnya, hanya saja, dia tak begitu yakin, bukankah perubahan yang sangat signifikan itu terlihat sangat aneh?
Mereka masih menatap ke arah pertandingan di bawah sana. Sementara api sudah membakar habis seluruh arena pertandingan, dan sekarang hanya menyisakan lautan api berbahan bakar vampir yang berkobar dengan sangat gaharnya.
"Sialan!" Umpat Arsello sesaat setelah menyadari akan suatu hal.
Dia kemudian mencoba berbalik dan berusaha untuk melihat situasi dan kondisi di dalam sel tahanan. Ya, agaknya pikirannya juga tertuju pada satu target yang dia ketahui.
Shaga!
Beberapa saat yang lalu dia menahan pemuda itu di dalam sel, dan sekarang, hanya ada satu kemungkinan, pria itu bermutasi menjadi sosok menyeramkan, sama halnya seperti yang pernah diceritakan oleh Valheins di masa lalu.
Dia hendak berbalik, dan kemudian ingin berlari, namun sebuah tangan mencegat kepergiannya.
Hap!
Dia pun menoleh, dan menatap siapa pula yang berani mencegat langkah kakinya.
Dan tentu saja tangan itu adalah tangan mungil milik Alexa.
"Biarkan aku pergi!" Ucap Arsello pada Alexa.
"Tidak! Aku tahu kau hanya akan lari dari tanggung jawab kamu!" Jawab Alexa dengan yakin.
"Ikutlah jika kau mau ikut!" Ucap Arsello dengan wajah cemasnya.
Dia bahkan sangat mencemaskan hal yang mengganggu otaknya sekian detik yang lalu. Dia hanya bisa pasrah jika Alexa mau ikut dan membuntuti dirinya, asal dia bisa memastikan semua yang dia pikirkan adalah benar, lalu mengapa dia harus menyulitkan keadaan?
Berlari saja mereka berdua menuju ke arah tempat yang sejak tadi mengganggu dan mengacaukan pikiran Arsello.
Mereka mulai menapaki tanah yang sudah semakin basah dan becek meski sudah berada di dalam ruangan tertutup. Agaknya Valheins tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya untuk memperbaiki tempat itu.
Di depan rumah tahanan milik kerajaan Valheins, tampak para vampir yang sudah berubah menjadi abu, mereka sudah terbakar dan akhirnya hancur luluh tiada tersisa.
Namun Arsello dan Alexa hanya bisa melalui mereka dengan biasa-biasa saja, dan kemudian mulai bergerak masuk ke dalam rumah tahanan itu.
Pada saat mereka tiba di dalam rumah tahanan..
Blam!!
Bom!
Bom!
Bom!!
"Awas!!!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...