Alexa

Alexa
#Adikku



Brak!


Krak!


"Arkh!" suara pekikan kemudian terdengar di kedua telinga Collab, setelah dia baru saja berhasil mematahkan salah satu tangan Valheins dengan kekuatan miliknya.


"Tidak!" gumam Collab dengan lirih, tepat pada telinga Valheins yang berada dalam kekangannya.


Entah mengapa dia menjadi sangat kuat, dengan ledekan yang baru saja dilontarkan oleh Valheins dengan sombong dan juga angkuhnya, dan sekarang berkat hinaan dari Valheins itulah dia menjadi kuat, dan tidak bisa dikatakan pejuang lemah seperti yang semula Valheins katakan.


"Sayang sekali aku bukan pejuang yang lemah!"


Krak!!


"Arkh!" Valheins kembali memekik, manakala satu tangan miliknya juga kembali dipatahkan oleh Collab. Pria ini memang semakin ganas saja melawan Valheins, entah mendapat kekuatan dari mana, tapi yang jelas, Collab sadar dirinya tidak bisa dianggap remeh oleh orang lain, termasuk makhluk sejenis Valheins sekalipun.


"Kau hanya pria yang lemah! sejak dulu kau hanya bergantung pada kakak kandung kamu! sekarang lihatlah dirimu! kau bukan apa-apa sepeninggal Sean dari kelompok kamu!" ucap Valheins mencoba untuk semakin menjatuhkan Collab dengan ucapan nya itu.


"Heng!" namun Collab hanya membalas ucapan Valheins dengan senyum menyeringai di bibirnya, "dasar tua bangka!!"


Hiyaaaaa!!!


Collab mengambil ancang-ancang, hendak berniat untuk membanting tubuh Valheins. Tapi rupanya kekuatan Valheins tidak cukup sampai disitu saja.


Pria itu berbalik mengendalikan tubuh Collab, dan kemudian dengan mudahnya dia membanting tubuh Collab dengan kedua tangannya yang semula sudah patah.


Krak!!


"Aaaaa!!!" teriak Paman Collab sesaat setelah Valheins serasa mematahkan tulang punggungnya, hingga terasa sekujur tubuhnya menjadi beku dan ngilu. Dia salah menduga, dia pikir Valheins sudah habis olehnya, tapi lihatlah sekarang, pria itu rupanya lebih kuat dibanding yang dia kira.


Bruk!!


Dan dengan ganasnya Valheins menjatuhkan tubuhnya di atas bebatuan, yang tajam dan beberapa sampai membuat dirinya terluka.


Namun tak cukup sampai di situ, kaki Valheins mendadak menekan bagian dadanya, membuat dirinya memuntahkan darah kental dari dalam mulutnya sesaat setelah Valheins menginjak dan menekan dadanya dengan sangat keji, seakan senang sekali melihat dirinya terluka parah dan bahkan hampir mati.


Dia bahkan menyimpulkan senyuman liciknya di depan wajah Collab. Mungkin dia sudah lama menginginkan kematian Collab ini, atau mungkin, dia juga menginginkan kematian seluruh makhluk di dunia ini.


"Sudah aku bilang, kau hanya pejuang lemah! masih bisakah kau mengelak akan ucapanku barusan?" tanya Valheins dengan congkaknya pada Paman Collab yang sudah semakin lemah..


"Tidak! kau salah! takdir hanya menuntun aku untuk mundur sesaat, karena memang bukan aku yang ditakdirkan untuk membalas dendam lama di antara kita, tapi dia!" menunjuk ke arah Alexa dengan jari telunjuk tangan kanannya yang bergetar hebat.


Tes!


Dari ujung telunjuk tangan Collab, menetes lah darah kental yang keluar dari luka goresan tangannya dengan batu terjal tempat dia terjatuh. Dan aromanya benar-benar sangat menusuk.


Aroma itu mulai tercium pada lubang hidung Valheins, hingga membuat pria tua itu merasa sangat berselera.


"Humm! aroma darah yang sangat lezat," meraba telunjuk Collab dan kemudian mendapati darah Collab yang juga menetes pada bagian tangannya.


Ia sangat senang, juga sangat tergoda dengan darah Collab yang berwarna merah padam dan agak kental itu. Meskipun darah itu tidak begitu segar, karena bagaimanapun juga Collab sudah berusia tua. Mungkin itu juga salah satu yang menjadi faktor utamanya.


Ia tersenyum menyeringai, lalu mendekatkan jarinya yang terkena darah dari Collab ke arah mulutnya, lalu menjilatinya dengan sangat menikmati.


Di sisi lainnya, Alexa tampak masih terbaring tak sadarkan diri di atas tempat dia dibaringkan dan juga diikat dengan sangat keji.


Ia tak juga bangun, masih asik dengan dunianya di antara dua alam yang berbeda, alam kematian dan alam dia hidup sebagai gadis yang sangat istimewa.


Dan sekarang dia pun tidak mendengar apapun yang ada di sampingnya, termasuk saat Paman Collab membutuhkan bantuan darinya kala itu.


*Alexa, aku mohon! bangunlah, bangun dan selamatkan kami semua dari pria tua ini*!


Gumam paman Collab dengan lirih, ingin sekali gadis yang dia harapkan itu segera bangun dan menyelamatkan semua orang termasuk juga dirinya dan juga nyawanya..


Ha.. ha.. ha...


Namun Valheins makin kencang tawanya. Bahkan kedua gigi taring miliknya sudah nampak tumbuh secara sempurna, membuat Paman Collab sedikit bergidik ngeri melihatnya.


"Pasrah saja kau saat ini! percuma kau menginginkan untuk pergi, kau memang ditakdirkan untuk memuaskan aku!"


Hap!


"Aaaaaaaaaaa!!!!!!"


Dan pekikan keras pun terdengar, menggaung sampai kepada telinga ketiga orang yang tengah sibuk berlari menuju ke arah pemukiman vampir. Pekikan itu terdengar dari Collab yang akhirnya pada saat itu juga harus meregang nyawa karena kalah bertanding dengan Valheins. Dan agaknya kematian adik kandungnya juga terasa sampai ke dalam hati Sean.


Deg!


Ia berhenti di tengah-tengah perjalannya, membuat Riyana dan Shaga seketika juga harus ikut terhenti. Kedua orang di sampingnya hanya memandang dirinya dengan penuh tanda tanya.


"Sean? sayang? kau tidak apa-apa?" tanya Riyana sambil mengusap bahu suaminya dengan sangat menenangkan.


Tatapannya tidak bisa dia jauhkan dari wajah suaminya sebelum dia mendapat jawaban dari Sean. Agaknya dia benar-benar wanita yang sangat menyayangi suaminya sendiri.


Sudah beberapa detik berlalu Riyana bertanya pada Sean, namun Sean masih belum juga bergeming dari tempatnya, atau mungkin dari lamunannya. Dia masih terlihat mengawaskan kedua telinganya, mendengarkan dengan seksama suara yang barusan mampir ke kedua telinganya.


Dia terdiam cukup lama, berpikir suara siapa kiranya yang dia tangkap itu, sampai pada akhirnya dia menyadari ada satu hal yang telah terjadi. Dan itu mengenai adik kandungnya.


"Collab!!"


Mendengar satu kata dari mulut Sean, kedua orang di samping Sean sontak berhadap-hadapan dan saling menatap satu sama lain. Dengan satu pemikiran yang kemudian kebetulan sama.


*Collab dalam bahaya*!


Tanpa berpikir panjang, segera saja Sean berlari secepat kilat, tidak peduli ribuan rintangan yang dia lalui di depan mata, agaknya dia menjadi buta setelah mendengar teriakan menakutkan dari adiknya itu.


Meskipun teriakan itu sangat jauh terdengar, tapi hatinya dengan yakin menuntun saraf-saraf dalam otaknya untuk tertuju pada satu sosok yang selama ini sangat dekat dengan dirinya, dan itu adalah Collab.


Dua orang menyusul di belakang, dengan lari yang cukup cepat, dengan posisi Riyana yang menaiki punggung Shaga. Serigala itu mencoba sekuat tenaga untuk menyusul Sean yang tengah berada dalam situasi yang kacau..


*Aku harap itu bukan, Collab*!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...