
~Happy Reading~
Tanpa mereka sadari orang yang mereka bicarakan telah berdiri di ambang pintu. Devan berdiri dengan mata berkaca-kaca. Dirinya menyadari betapa egoisnya selama ini. Devan begitu senang dengan segala aktivitas pekerjaannya yang menantang, namun seakan dia lupa bagaimana kedua orang tuanya merasa begitu khawatir kala ia menjalankan tugas.
Joe menepuk pelan pundak sang adik, lalu merangkulnya, mengajaknya duduk di bangku yang berada samping pintu masuk.
“Apa selama ini Devan begitu egois kak?”
“Tidak, jangan berpikir seperti itu?” ucap Joe menenangkan.
“Papa dan Mama selama ini merasa begitu khawatir, sementara aku, malah asyik dengan duniaku sendiri kak, aku bahkan sangat jarang berada di rumah, tak bisa menemani papa mama, aku juga tak tau selama aku tinggal apakah papa mama sakit atau sehat?” Devan menunduk begitu dalam, mengingat masa-masa tugasnya selama ini.
“mereka khawatir adalah hal yang wajar Van, orang mana yang tak khawatir kala anaknya bertaruh nyawa dalam pekerjaannya, hmm” kembali Joe menepuk pelan pundak sang adik “ tapi perlu kau tau juga, mereka sangat bangga padamu, kau bisa menyelesaikan tugasmu dengan baik, meski kasus yang cukup berat sekalipun kau mampu menunjukan bahwa kamu berhasil menanganinya.”
“Apa kakak serius tak akan mengijinkan aku dan Exa menikah kalau aku tak keluar dari Agent?”
“kakak tak melarangmu untuk tetep berada di Agent, tapi kakak memintamu untuk membantu papa di Perusahaan”
Huff
“sama saja kakak juga memintaku berhenti?”
“eh, dasar, itu dua hal yang berbeda, sejak kapan kakak memintamu berhenti?” Joe merasa jengah dengan pemikiran adiknya, tak biasanya adiknya ini berpikiran pendek seperti ini.
“tapi dengan aku menghandle perusahaan sama saja aku harus meninggalkan profesiku selama ini kan kak?”
“haish… sejak kapan kau jadi b*** begini sih dek” Joe menghela nafas dan menyugar rambutnya ke belakang saking gemasnya “kalau kau bisa atur waktu kan tak masalah, lagi pula memang setiap hari kamu akan menjalankan misi?”
Devan terdiam mencerna ucapan kakaknya, benar juga ya? aku kan bisa handle dari jarak jauh juga, tapi apa aku bisa?
Dari yang semula sumringah setelah merasa bisa menghandle dari jauh lalu kembali meredup kala memikirkan betapa berat hal yang akan dijalani nanti kalau menghandle dua pekerjaan yang berbeda, dan lagi nanti tidak bisa bersama Exa setiap hari, kalau sudah menikah, lalu aku tak selalu menemaninya, ya sama saja. Devan menghela nafas frustasi
“Pikirkan baik-baik, masukan Exa juga dalam pertimbangan mu” Joe menepuk pundak sang adik lalu berdiri “kakak akan masuk, siapa tau Exa sudah bangun”
Tanpa menunggu jawaban sang adik yang masih menunduk, Joe melangkah ke dalam ruangan di mana Exa di rawat. Benar saja, Alexa tengah terbangun dan kini sedang duduk bersandar dengan ditemani sang mama yang duduk di kursi di samping ranjang.
“Kak…” sapa Alexa dengan tersenyum saat melihat sosok kakaknya berjalan memasuki ruangan.
“Kau sudah bangun dek?” Joe mendaratkan kecupan di kening sang adik lalu mengusap pelan pucuk kepalanya “bagaimana kondisimu?”
“sudah lebih baik kak,” Alexa tersenyum “kapan Exa pulang ke rumah kak? Exa tak betah di rumah sakit” Exa menunjukan raut cemberutnya,
“hei, kau ini, baru juga bangun sudah ingin pulang” Joe tersenyum melihat sang adik sudah bisa merengek.
“dari tadi bangun sudah tanya begitu ke mama Joe, katanya bosan di rumah sakit” mama Dania ikut mengadu pada putra sulungnya, berniat menggoda anak gadisnya
“ih, mama, Exa kan bosen, kalau di rumah kan lebih enak, kalian juga tak perlu bolak balik ke rumah sakit”
“justru kalau di rumah nanti mama akan sangat khawatir kalau kondisumu belum pulih”
“Lalu gimana kondisi Rayhan kak?” tanya Alexa tiba-tiba saat teringat dengan sepupunya, ingatan terakhirnya saat melihat Rayhan tak sadarkan diri saat kecelakaan itu terjadi.
“Rayhan sedang masa pemulihan sekarang, kamarin juga sudah ke sini sama om dan tante.”
“Benarkah?”
“Tentu saja dong” bukan sang kakak yang menjawab, tapi suara orang yang di bicarakan itu menyahut dari arah pintu.
“Ray….!!!” Pekik Alexa senang,
Tampak Rayhan datang bersama dengan tante Rasty diiringi Devan yang ikut masuk ke dalam ruangan.
"Apakah sepupuku ini merindukan ku?"
Rayhan mendekat dan mendekap sang sepupu dengan erat. Mengabaikan rasa cemburu yang menyelimuti seseorang di belakangnya, bahkan Exa dengan senang membalas dekapan sepupunya meski dengan satu tangannya.
“Seneng lihat kamu sudah sehat Ray”
“tentu saja Xa, aku juga seneng lihat kamu sudah bangun begini”
Alexa mengerutkan dahi mendengar Rayhan mengatakan ‘sudah bangun’. Emangnya berapa lama dia tidur?
Rayhan melepas rangkulannya memberikan ruang pada sang mama untuk memeluk keponakan tersayangnya.
“Emang berapa lama Exa tidur tan?” tanya Exa pada sang tante setelah melepas pelukan mereka.
Alexa memandang mereka yang berada di ruang satu persatu untuk mendapatkan jawaban.
“3 hari dek” jawan Joe membuat Alexa melongo tak percaya. Rasanya dia hanya tertidur sebentar, tapi kenapa selama itu dia tertidur.
Semua orang tersenyum melihat reaksi tak percaya yang Alexa tunjukan.
“pantes saja Exa merasa lapar saat bangun” celetuk Alexa mambuat semua orang tertawa senang.
Tbc
Hai hai…
maaf ya Author jarang update🙏🙏🙏
Cerita ini sudah mendekati akhir episode ya
Terimakasih atas dukungannya
Love you All…..😍😍😍😍