Alexa

Alexa
Part 16



~Happy reading~


Alexa dan Rayhan pun tiba di rumah sakit setelah lebih dari 30 menit menempuh perjalanan. Kawasan camping ground yang berada di kawasan perbukitan berada cukup jauh dari rumah sakit.


Setelah memarkirkan mobilnya pria yang menolong Alexa itu segera turun dan memanggil para doker.


“dokter, dokter! tolong!” ucap pria itu seraya menggendong Alexa di lorong rumah sakit menuju unit gawat darurat.


Rayhan pun tampak cemas mengikuti kemana sang sepupu di bawa.


Setelah Alexa di baringkan di ranjang pasien, para dokter dan perawat pun bergegas menangani Alexa yang tampak tak berdaya dengan dada yang bersimbah darah. Sementara itu Rayhan dan pria yang menolongnya duduk di luar menunggu para dokter bekerja setelah mengurus segala administrasi pendaftaran perawatan Alexa.


“maaf,, kakak sebenarnya siapa?” tanya Rayhan memecah keheningan setelah hampir 1 jam mereka terdiam.


Sedari tadi baik Rayhan maupun pria itu hanya berdiam diri dengan wajah lesu dan cemasnya. Mereka mencemaskan bagaimana kondisi Alexa saat ini.


“kakak bahkan tau nama saya dan Alexa, padahal sebelumnya saya tidak menyebutkan nama, dan lalu bagaimana kakak bisa mengisi berkas pendaftaran Alexa tanpa bertanya kepada saya?” ucap Rayhan setelah kondisinya tenang dan bisa mencerna kejadian yang mereka alami tadi.


Ingatannya tertuju pada saat dua orang pria yang tak di kenal mendekat dan menolongnya, dan tembakan yang mengenai pria yang menembak Alexa sangat ia yakini berasal dari salah satu dari mereka. Tapi siapa mereka? Kenapa mereka bisa disana ? dan kenapa mereka mengetahui namanya? Pertanyaan-demi pertanyaan kini menghinggapi pikirannya.


Huh…


Pria itu menghela nafas, berpikir sejanak, mungkin memang dia harusnya membuka diri, tak seharusnya dia bersembunyi selama ini. Kalau saja ia tak bersembunyi mungkin orang yang harusnya dia jaga tak mengalami kejadian buruk seperti ini.


“kau tak mengenali kakak Ray?” ucap pria itu tanpa menolah, kepalanya masih menunduk menatap lantai di bawah kakinya.


“kita baru bertemu tadi, mana mungkin saya mengenal Anda?”


Rayhan pun mengamati lebih detail lagi wajah pria yang duduk di sampingnya, merasa familiar namun tak mengenal.


“kau sudah besar boy, jadi lupa dengan kakak”


Deg


‘Sebutan itu, kenapa pria ini mengetahui nama panggilan kecil ku, hanya kak Joe, om Adi dan papa yang suka memanggil ku dengan sebutan itu, dan tadi lupa dengan kakak?’ batin Rayhan mencerna kalimat yang di lontarkan pria asing di depannya.


“oh my….!” pekik Rayhan pelan sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya “kak…?”


Pria itu menoleh ke arah Rayhan sembari tersenyum


“kak Joe…” ucap Rayhan ragu, dan dia pun mendapatkan jawaban anggukan dari pria asing di depannya.


Joe adalah pria yang duduk di samping Rayhan, pria yang telah menyelamatkannya adalah sang kakak yang selama ini tidak diketahui keberadaannya. Kakak yang selama ini selalu dirindukannya. Kakak yang selalu di tunggu kehadiarannya oleh sang sepupu.


Seketika butiran air meleleh dari ujung mata Rayhan, ia pun terisak dan segera mendekap sang kakak


“kak Joe,,,, hiks…hiks”


Joe pun merasa terharu dengan sikap yang Rayhan tunjukan, ia balas dekapan sang adik dengan erat, menyalurkan kerinduan yang selama ini di pendamnya. Tanpa di minta ujung matanya pun menetaskan air dengan lancangnya.


“kak joe ke mana saja? Aku dan Exa selalu rindu dengan kakak.. hiks …hiks” Rayhan pun masih merengek sesengukan dalam dekapan sang kakak. Kerinduan yang selama ini terpendam akhirnya tersalurkan, bagaimana ia mencoba percaya dengan sang sepupu bahwa kakak mereka masih hidup dan sekarang terbukti benar adanya. Sang kakak kini berada di hadapannya, dalam dekapannya, dalam keadaan sehat dan bahkan menyelamatkannya dari mara bahaya.


“hiks… hiks….”


“ssst,…..sstt .. kamu masih saja cengeng boy” ucap Joe sembari mengusap punggung sang adik ucapan itu membuat Rayhan semakin terisak.


“hiks… hiks..kakak masih ingat … hiks… hiks….” Isakan tangis itu semakin keras.


“tentu saja, hanya kamu adik kakak yang sangat cengeng”


Untung saja kondisi ruang tunggu dan lorong rumah sakit itu dalam kondisi sepi. Hanya sepasang mata yang tengah memperhatikan interaksi mereka dengan posisi yang tak jauh dari sana. Seorang pria yang tak lain adalah Devan itu nampak terharu dengan isakan tangis Rayhan. Ia pun melihat sang kakak angkatnya menitikan air mata.


“Alhamdulillah, akhirnya kakak mau membongkar identitasnya” gumam Devan pelan


‘aku senang kakak bisa bertemu langsung dengan adik kakak’ ucap syukur Devan dalam hati. Ia sangat bersyukur di balik kejadian yang menegangkan ini akhirnya ada rasa bahagia yang tercipta. Ia pun ikut terharu.


Devan pun mendekati mereka berniat menghentikan drama tangis itu, agar tak berlarut hingga menimbulkan spekulasi negatif dari orang yang melihatnya.


“khem…khem..”


Deheman dari Devan seketika membuat Joe melepas pelukannya. Rayhan pun mencoba duduk tegak sembari mengusap air mata yang masih saja mengalir di pipinya.


“bagaimana keadaan Alexa kak?” Devan pun duduk di sebelah Rayhan kemudian menepuk pelan punggung adik dari kakak angkatnya itu.


“dokter belum keluar” joe pun kemudian menghela nafas kasar, sembari mengusap ujung matanya.


Tak lama setelah itu, sang dokterpun keluar dari ruang penanganan. Dan ketiga pria yang duduk dalam keadaan haru itu segera bangkit dan mendekati sang dokter.


“Bagaimana keadaan adik saya dok?” Tanya Joe dengan cepat setelah berdiri di hadapan dokter yang menangani Alexa.


“adik anda masih tak sadarkan diri, tapi kondisinya cukup stabil, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang ada di dadanya, beruntung peluru itu tak sampai menembus jantungnya”


“alhamdulillah”


“Kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan instensif” ujar kembali sang dokter


“kami bisa melihat keadaanya dok?”


“tentu, setelah kami pindah ke ruang rawat, hanya saja kalian tidak bisa menjenguk secara bersama-sama, harus bergantian dan tidak bisa terlalu lama”


“baik dok, kami mengerti” ucap Devan cepat sebelum Joe hendak memprotes ucapan sang dokter


***


“Ya Allah.. kak!, aku lupa hubungi papa” pekik Rayhan tiba-tiba setelah mereka satu persatu menjenguk keadaan Alexa di ruang instensif.


Kini mereka bertiga duduk di ruang tunggu yang di sediakan di depan ruangan.


“HP ku di ambil penjahat itu kak” ucap Rayhan lesu.


“pakai ini, telpon om, kamu hafal nomornya kan?” ucap Joe seraya menyerahkan ponselnya kepada sang sepupu


Rayhan pun mengangguk dan segera mengetik angka untuk menghubungi papa nya. Pasti papa merasa cemas karena tak ada kabar darinya.


“Hallo.. Assalamu’alaikum” sapa Rayhan begitu sambungan telepon terhubung.


“Wa’alaikumussalam, Ray??”


“iya pa, ini Ray”


“nomor siapa yang kamu pakai, papa sedari tadi mencoba menghubungi mu tapi tidak tersambung, nomor Exa juga tidak bisa dihubungi”


“huh….” Rayhan menghela nafas panjang, benar dugaannya papanya merasa cemas dan sudah mencoba menghubunginya sedari tadi,


“ceritanya panjang pa, papa ke sini saja, sekarang Ray ada di rumah sakit”


“Rumah sakit??? Siapa yang sakit?”


“Alexa pa, ada insiden yang mambuatnya terluka,”


“ya Allah Ray….! papa sudah mewanti mu untuk menjaga Exa”


“maaf pa, ini di luar kendali Ray, papa segera ke sini ya pa”


“huh,,,, oke papa akan segera ke sana, kirimkan alamat rumah sakitnya”


“iya pa, Ray tunggu, Assalamu’alaikum”


tut


Sambungan telephone terputus setelah om Ardian menjawab salam dari sang anak.


Rayhan pun mengembalikan ponsel sang kakak kemudian mengusap wajahnya kasar. Ia harus bersiap dengan amukan yang akan ia terima dari sang papa.


“om Ardian akan ke sini?” Tanya Joe hati-hati saat melihat adik sepupunya itu nampak frustasi


“iya kak, dan aku harus bersiap. Huh…”


“bersiap?” Joe pun mengernyitkan dahinya, tak mengerti yang di maksud sang sepupu


“papa sudah mewanti ku untuk menjaga Exa kak, tapi sekarang malah Exa terbaring di ruang ICU” ucap Rayhan lemah


“tapi ini memang salahku kak, aku tak bisa menjaganya dengan benar, harusnya aku bisa melindunginya, tapi … tapi….” Rayhan tak sanggup melanjutkan kalimatnya, ia kembali terisak


“ini bukan sepenuhnya salah mu Ray, kakak juga tak bisa melindunginya” ucap Joe sembari mengusap punggung sang adik.


“kalian tak seharusnya menyalahkan diri kalian” ucap Devan mencoba menghibur kedua pria yang duduk di sampingnya “kita doakan semoga Alexa segera pulih, kalian dengar sendiri apa kara dokter, kalau kondisinya stabil”


“huh… kau benar Van,” ucap Joe sutelah berhasil menenangkan dirinya


“Exa pasti nanti akan senang saat dia sadar bisa bertemu dengan kakak” ucap Rayhan sembari menatap nanar kakak sepupu yang duduk di samping kirinya


“Selama ini Exa selalu yakin dan meyakinkan aku maupun mama papa kalau kakak masih hidup dan akan kembali, Exa sangat merindukan kakak”


Joe pun tersenyum mendengar ucapan sang sepupu, ia terharu dengan keyakinan sang adik selama ini. Namun rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya ketika mengetahui selama ini adiknya sangat merindukannya. Ia sangat menyesal kenapa ia tak mengingat adiknya dari dulu. Dia pun tak tau bagaimana kehidupan sang adik setelah kejadian penculikan itu. Dan disaat ia mengingat semuanya, disaat dia ingin menemui adiknya secara langsung, ia malah mendapati kondisi adiknya yang tak baik-baik saja. Ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri sang adik tertembak dan bersimbah darah.


“Van, bagaimana dengan penembak itu?”


“belum ketemu kak. Dia berhasil kabur”


“selidiki lebih lanjut Van, kakak mau pria itu segera tertangkap”


“baik kak,”


“segera tangkap orang itu kak, jangan sampai lolos lagi” Rayha pun ikut menyahut


“aku tadi cukup terkejut saat pria itu mucul di hadapanku , hingga aku bersikap bodoh tak bisa melindungi Alexa”


“Apa maksudmu?” Tanya Joe, masih belum bisa mencerna perkataan adiknya


“kakak tau siapa pelaku penembakan itu?” tanya Rayhan “dia adalah orang yang membunuh om dan tante kak”


Deg


Joe pun seketika mengepalkan kedua tangannya mendengar ucapan sang adik. Kemarahannya kembali mencuat setelah sekian lama menahan diri. Ia tadi tak begitu jelas melihat wajah pria yang menembak adiknya, tapi tak menyangka pria itu berani muncul di hadapan sang adik secara langsung.


Tbc


Terimaksih atas dukungannya ya…


Tunggu update selanjutnya… 😍😍