
"Ayah, kenapa kau selalu merepotkan aku?" tanya Shaga pada sang ayah yang rupa-rupanya masih saja memaku di tempat dia berdiri, bahkan sampai pada saat pria berpalu besi itu mendekat ke arah mereka dengan sahabat baiknya, *Tej*.
Wilmer malah tertegun di tempatnya, dengan pandangan mata yang terus mengarah pada palu bergerigi yang semula hampir menghancurkan tubuhnya.
Namun dia kemudian bergerak, meski gerakan kakinya begitu lambat, karena memang dia tak cukup berani menghadapi situasi yang sangat rumit ini.
Agaknya dia bahkan tidak jauh lebih berani dibanding dengan anak kandungnya sendiri.
Tangannya ditarik oleh Shaga sekuat tenaga, namun langkah kakinya yang gemetar pada nyatanya hanya bisa bergerak melangkah sebisanya.
"Ayolah pak tua, mengapa kau menjadi sangat lambat?" tanya Shaga pada sang ayah.
Dia bahkan terlihat begitu ingin menggendong ayahnya untuk segera pergi. Agaknya pejuang tangguh pun pernah mengalami kejadian lucu dan tak terduga seperti yang terjadi pada mereka.
"Kemarilah anak kecil, bukankah kau ingin bermain dengan big bos?" tanya pria yang bersahabat dengan *Tej*.
Selalu saja tentang *Tej*.
Dan pada saat pria itu mulai mengejar langkah kaki Wilmer, Wilmer pun hanya bisa bergerak membuntuti anaknya, dengan langkah kaki yang gemetaran hebat.
"Anakku, aku tahu aku bersalah, namun jika hari ini aku mati, kau sudah tidak punya ayah lagi," ucap Wilmer pada pria muda yang tengah menggandeng tangannya pergi.
Sejenak keduanya terdiam membisu, hanya langkah kaki keduanya saja yang terus bergantian berlari menjauh dari pria bertubuh besar yang kini masih saja terlihat mengejar mereka.
"Ayah, katakan saja apa mau kamu! aku tidak suka basa-basi seperti itu." Jawab Shaga dengan wajah cemasnya, mungkin dia memang masih merasa cemas dengan big body yang tengah mengejar mereka.
"Nak, bisakah kau menggendong ayah tercintamu ini? aku sungguh tidak bisa lari lagi." Ucap Wilmer pada sang anak.
"Sejak aku lahir kau hanya terus menyusahkan anakmu ini, liat saja apa yang akan aku tuntut dari ayah kemudian hari." Ucap Shaga sembari melepas gandengan tangannya pada Sang ayah.
"Jangan menggerutu, anggap saja aku berhutang nyawa padamu."
Swosh!
Roarrrrr!!
Mendadak tubuh Shaga berubah menjadi sosok serigala yang ganas pun menyeramkan. Dia dengan gagah berani berbalik ke arah pria bertubuh besar yang sejak tadi terus mengejar dan memukul palu miliknya habis-habisan ke arah mereka berpikir bisa menghancurkan Shaga dan Wilmer dengan bersamaan.
Namun Shaga benar-benar berubah, menjadi serigala yang sangat ganas dan kemudian bergerak mencoba untuk menyerang balik pria besar itu.
"Kemarilah, Nak! mari kita bermain!!"
Swosh!!
Krak!!
Shaga melompat dan kemudian menggapai wajah sahabat Tej itu dengan sekuat tenaga.
Dia menghadapi pria muda yang bertubuh besar itu dengan penuh keberanian. Meski tak hanya sekali saja dia mendapat serangan dari palu yang bernama Tej itu.
Namun dia sungguh gagah perkasa, berani dan mendadak menjadi pria hebat yang patut untuk mendapatkan pujian.
Sementara Wilmer di bawah sana hanya terkapar dengan sekujur tubuh yang sudah mulai membaik gemetarnya.
Dia hanya bisa menatapi sang putra yang tengah bertempur dengan sangat berani melawan pria besar itu.
"Itu baru anakku!" gumam Wilmer dengan sangat lirih.
Dia pun kemudian terlihat bergerak meninggalkan tempat dimana dia terkapar sejak Shaga malah melepaskan pegangan tangannya dan malah memilih untuk melayani pria besar itu.
Ia bangkit dari sana dan kemudian berlari menuju ke tengah-tengah pertempuran hebatnya. Dia sudah mulai merasa muak dengan segala hal yang berlalu cukup lambat, dan sekarang dia ingin segera membuktikan pada Alexa kalau Shaga juga pantas untuk dibanggakan.
"Aku sudah muak melawan kalian semua!! mati saja kalian!!!!"
Hiyaaaa!!!
Mendadak semangat juangnya kembali bergejolak. Dengan api yang terus membara tiada henti seakan-akan hatinya berkobar kembali muda dengan tetesan-tetesan darah yang membuat dirinya seakan kembali lagi ke masa dulu, saat dia berjuang dengan peluh bersama Sean melawan mereka semua.
Dan kini adalah saatnya pejuang tangguh menghadapi semuanya dengan gagah berani. Dia tak lagi peduli akan kematian.
Trang!
Swosh!
Blam!
Tidak lagi merasa takut.
Maafkan aku yang harus membuat dirimu kehilangan ibumu, sekarang, aku akan membuktikan padamu, putraku, kalau aku juga bisa membalas semua dendam kamu pada diriku sendiri.
Sementara di atas sana tampak Alexa yang sudah mulai mendapat serangan lagi dari Valheins.
Berulang-ulang kali Valheins menyerang tubuhnya dengan menggunakan pedang khas milik Valheins itu.
Namun dia bukan seorang wanita yang bodoh dalam hal pertempuran. Tentu saja dia begitu ahli menguasai bidang tersebut, entah bagaimana bisa dia terlihat baik-baik saja meski sudah beberapa kali mendapat serangan dari Valheins.
Tak jarang juga Valheins menjatuhkan tubuhnya di atas bebatuan tanpa ampun, namun lagi dan lagi, dia masih punya sisa kekuatan untuk berbalik menyerang Valheins.
"Ha.. ha.. ha... apa kau masih belum sadar juga, kalau takdir kamu hanya untuk aku? mengalah saja dan serahkan jantung kamu padaku, baru kita akan benar-benar menyelesaikan semuanya." Ucap Valheins dengan tatapan mautnya.
Tatapan yang memang terasa sangat dingin dan juga mencekam. Agaknya dia sudah bersiap untuk kembali mencoba membunuh Alexa.
Demi jantung istimewa itu, dia menjadi semakin buta.
Namun Alexa tak menyerah, dia hanya terlihat diam dan tidak menggubris perkataan dari Valheins. Baginya membuang waktu saja mendengarkan omong kosong Valheins itu.
Dia terlihat berdiri dengan gagah beraninya, memegang pedang miliknya dengan sangat erat, dan kemudian mencoba untuk tetap berdiri dengan kekuatan miliknya.
Dia pun semakin gahar dengan perpaduan api yang berkobar dari burung Phoenix yang sekarang mungkin sudah menjadi sahabat karibnya.
Sahabat baruku, mari kita bersama-sama..
Ucap batinnya kepada burung gagah berani yang tengah terbang di atasnya.
Phoenix yang saat ini tengah terbang mengelilingi dirinya tampak mengepakkan sayapnya dengan sangat indah, bahkan sampai memercikkan api ke seluruh permukaan bumi, termasuk lautan pertempuran di bawah sana.
Alexa memiringkan senyuman di bibirnya. Sebuah bayangan mendadak terlintas di kepalanya, memberi bayangan indah tentang Phoenix itu, seperti burung sahabat barunya itu tengah mencoba memberitahu pada dirinya tentang siapa dia yang sebenarnya.
Swosh!
"Aku yang datang di malam itu.."
"Aku yang datang mewakili jiwa ayahmu yang terbelenggu, dia adalah tuanku, dan kau juga tuanku," ucap sesuatu yang bersinar di depan mata Alexa, berdiri dengan sangat indah menghadap ke arah wajahnya.
"Aku adalah dia, dan aku adalah kamu, kalian adalah aku, apapun yang kalian katakan, aku pasti akan menurutinya."
Alexa terlihat tertegun di tengah-tengah cahaya api yang menyala-nyala dengan sangat besar, dan sekarang, dia melihat seekor burung bermahkota seperti raja yang dikelilingi oleh sayap emas bertabur berlian yang indah.
Hanya saja, sayap-sayap itu memiliki ujung yang berkobar dengan sangat ganas oleh api.
"Aku datang atas perintah dia, dan dahulu aku datang juga atas perintahnya, karena dia tahu aku bisa melindungi kamu, dan kamu juga bisa melindungi aku."
Swosh!
Mendadak dia tersadar. Sesaat setelah dia sadar, dia langsung mendongak ke atas, menatap wajah Phoenix miliknya yang kemudian juga terlihat menatap kedua matanya dan tersenyum kepadanya.
Ia lekas memiringkan senyuman, manakala tahu apa yang baru saja dia alami.
Ia baru saja menyadari kalau ternyata, burung Phoenix miliknya tidak akan datang dengan begitu saja, dan itu terjadi pada masa lalu, saat dia pernah mengalami sebuah hal yang sangat berkesan dalam kehidupannya.
Yah, ini jiwamu, aku tahu aku tidak pernah bermimpi, dan aku juga tidak pernah merasa dirimu mati, ayah, aku tahu dia adalah kau, dan kau adalah dia, dan kalian, adalah aku.
Dia kemudian tersenyum miring, menutup kepalanya dengan cindung merah yang langsung bersatu dengan jubah merahnya, dan kemudian terlihat berubah.
Dia kemudian membuka kedua matanya menatap tajam kedua mata Valheins, dan kemudian membuat pria didepannya seketika mematung diam.
"Baiklah, mari kita tunjukkan!"
Dia mulai terlihat mengarahkan pedangnya ke atas, tepat di depan wajahnya, sisi tajam dari pedang miliknya itu terlihat begitu mengkilat dan menyilaukan.
Sang Phoenix nampak menjadi debu, masuk dan bersatu dalam tubuh Alexa, dan kemudian lebur bersama jiwa Alexa dan jiwa kedua orang tua Alexa.
"Kemarilah, Valheins!!"
Swosh!
Swosh!
Swosh!
"A? ka-kau?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...