Alexa

Alexa
#Cerita Tentang Collab Di Masa Lalu



Pria itu tengah terduduk dan termenung di samping raga Alexa. Dia tetap setia menunggu Alexa tersadar meski kata sang ayah mustahil sekali jika gadis itu sedemikian cepatnya bisa sadarkan diri.


Tapi apa boleh buat, dia yang selalu saja tidak percaya pada kata hatinya sendiri, entah mengapa mendadak amat mempercayai dirinya. Dia percaya kalau gadis itu pastilah akan segera bangun.


Dia tahu kalau Alexa bukan gadis seperti biasanya yang lemah dan manja. Dia tahu Alexa adalah gadis yang kuat dan juga tegar. Dia tahu kali Alexa pasti bisa sadar lebih cepat dari dugaan sang ayah.


Ia kemudian memikirkan sesuatu, mendadak dia punya ide untuk mengobati Alexa. Dia pun mulai bergerak mencari tanaman-tanaman liar yang biasa digunakan untuk mengobati luka.


Meski dia bukan seorang tabib, tapi kalau untuk menyembuhkan luka yang seperti ini, pasti amat mudah bagi dia.


Dia pun akhirnya bangkit, meninggalkan Alexa di atas tebing seorang diri, hanya berlindung pada pohon yang tua dan sudah berumur ratusan tahun.


Sejenak dia melongok ke kejauhan, melihat bagaimana kiranya keadaan di pemukiman serigala. Namun dia melihat tempat itu sudah sepi, bagai tak ada kehidupan lagi. Rombongan lalat-lalat yang semula mengacau tempat itu pin sudah pergi entah kemana.


Ia pun mengulas senyuman di bibirnya. Dia tahu kalau sang ayah pasti bisa menaklukkan para kumpulan lalat-lalat itu. Ayahnya memang selalu diandalkan.


Dan sekarang dia bisa bernafas lega. Dia bisa meninggalkan Alexa di sana seorang diri, meski begitu, dia harus cepat, entah kenapa, tapi dia juga tak bisa meninggalkan rasa cemasnya pada Alexa, gadis itu terlalu berharga bagi dia, dan dia telah berjanji, untuk tidak meninggalkan Alexa dalam waktu yang. cukup lama.


Ia pun segera melangkah turun dari bukit, dan mulai mencari tanaman-tanaman yang bisa dia jadikan obat penyembuh luka. Jauh dia melangkah, akhirnya dia bisa menemukan tanaman-tanaman yang dia maksud, dengan bonus air sungai yang mengalir cukup deras.


Dia memang memilih untuk bersabar sampai ke pemukiman. Bukan karena apa, penat sekali kalau harus melakukan perjalanan dalam waktu yang singkat, namun harus mencapai jarak yang begitu jauh.


Ia akhirnya kembali, dia melihat Alexa yang masih aman di tempat dimana dia berbaring semula. Dia nampak menumbuk serta menghaluskan tanaman yang dia dapat sampai benar-benar halus, lalu kemudian mulai mengoleskannya pada luka Alexa.


Lebih baik kiranya dia mengobati Alexa di sini dari pada harus menunggu sampai nanti di pemukiman. Ia takut ia akan terlambat.


Dengan penuh kesabaran dan juga ketelatenan, Shaga terus mengoleskan ramuan tanaman-tanaman herbal itu di seluruh luka yang ada di tubuh Alexa.


Dia juga menyalakan api dan memberi baju yang dia kenakan untuk menghangatkan tubuh Alexa.


Krukkk!!


Mendadak perutnya merasa lapar. Untunglah tadi saat dia ke sungai dia juga membawa hasil buruannya. Dan sekarang dia pun bisa menikmati hasil tangkapannya itu sambil menunggui Alexa yang masih saja belum sadarkan diri.


Sampai malam tiba, dia masih tidak tidur dan hanya menghadap ke arah api unggun yang sengaja dia buat.


Di sisi yang lain..


Sang ayah tengah sibuk menunggui sampainya Shaga dengan Alexa di pemukiman.


Pria itu tampak cemas dengan keadaan putranya yang sama sekali tidak dia ketahui.


"Kemana dia pergi? kenapa sampai sekarang masih belum sampai juga?" gumam Tuan Wilmer dalam hati kecilnya, merasa cemas akan keselamatan putranya.


Dia terlihat berdiri sejajar menghadap ke arah jalanan menuju ke area para vampir. Dia terus menatapi jalanan yang seharusnya dilalui oleh oleh Shaga dan Alexa untuk sampai kesini.


Tapi semuanya nihil. Dia benar-benar tidak mendapati apapun yang bergerak mendekati pemukiman.


Sementara para penduduk lain yang tersisa tampak sibuk membereskan semuanya, mulai dari mayat, puing-puing bangunan, dan bahkan lalat-lalat mati yang berserakan di atas tanah.


Mereka bahu membahu menyelamatkan pemukiman mereka dari bekas kekacauan yang dibuat oleh para lalat-lalat itu, dan kemudian membangun rumah persinggahan lain yang bisa ditempati secara darurat.


Pria muda yang semula tengah sibuk membantu warga membangun rumah mulai terlihat menatapi Wilmer.


Agaknya dia tahu kalau Wilmer tengah dibuat risau karena putranya masih belum sampai juga ke pemukiman mereka. Perasaan seorang ayah, mana bisa dibandingkan dengan orang lain.


Ia tampak meninggalkan kerja bakti yang tengah dia lakukan dan mulai lah dia bergerak mendekati Wilmer.


"Tuan," panggil pria muda itu pada Tuan Wilmer, tentu saja dengan sangat sopan.


Seketika Wilmer pun menoleh, menghadap ke arah pria muda di sampingnya, dan kemudian menjawab panggilan dari pria muda itu, "ya?"


"Apa kau sedang cemas pada anakmu?" tanya pria muda itu pada Tuan Wilmer.


Mendengar pertanyaan dari pemuda itu, Wilmer pun hanya bisa memalingkan wajahnya dari wajah pemuda itu, dan mulai kembali menatapi jalanan kosong dipenuhi oleh kegelapan malam di hadapan matanya.


Melihat kerisauan yang tak biasa ditunjukkan oleh Tuan Wilmer, pemuda itu pun akhirnya berinisiatif untuk menawarkan bantuan.


"Jika anda mengizinkan, aku akan pergi mencari anakmu," ucap pria muda itu dengan gagah beraninya.


Lagi dan lagi Wilmer tercengang hebat mendengar keberanian tak biasa dari pria berusia sekitar dua puluh tiga tahunan di sampingnya..


Dia masih saja dibuat bertanya-tanya mengapa pria ini begitu gagah beraninya membantu dia dalam peperangan, agaknya dia harus menyelidiki anak siapa yang sedang dia curigai ini.


Entahlah, dia sendiri bahkan tidak bisa berpikir dengan jernih.


"Tuan apa kau mengizinkan aku pergi?" tanya pemuda itu lagi pada Wilmer membuat Wilmer akhirnya harus terbangun juga dari lamunan asiknya yang membuai.


"A? kalau boleh tahu, siapa nama kamu? kenapa kamu begitu gagah dan berani memimpin pasukan perang? apa kamu punya darah tertinggi di kelompok kita?" tanya Wilmer akhirnya mengeluarkan apa yang sejak tadi pagi menjadi pembeku hatinya.


"Maaf, bukan maksud aku untuk membuat kamu merasa tidak nyaman, jika kau tidak mau bicara ya sudah, tidak apa-apa, aku tidak memaksa." Ucap Tuan Wilmer menyambung perkataan semula.


Dia tahu sikapnya barusan sudah lebih dari keterlaluan. Tidak seharusnya dia ingin tahu kehidupan orang lain. Atau mungkin, dia bisa mencari tahu sendiri tentang pemuda ini.


He.. he.. he..


Senyum licik.


"Umm, tuan.." panggil pemuda itu pada Wilmer saat Wilmer menyunggingkan senyuman liciknya tatkala membayangkan apa yang harus dia lakukan jika pemuda ini tidak mau memberitahu identitas aslinya.


"Ya?" sahut Tuan Wilmer.


"Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan sejak awal, hanya saja, saat aku mendengar tuan berbicara dengan ayah, aku jadi ragu untuk mengatakannya, dan ayahku juga jadi ragu untuk mengatakan padamu." Ucap pemuda itu pada Wilmer.


"Apa yang sedang kau bicarakan? apa maksud kamu?" tanya Wilmer merasa bingung dengan perkataan pemuda di depannya.


"Aku ini sebenarnya anak Tuan Collab, aku anak kandungnya." Ucap pemuda itu.


"Apa?"


Mendengar pengakuan dari pemuda itu, siapa pula yang tidak terkejut dibuatnya?


"Kau baru saja mengatakan kalau kau ini anaknya Collab?" tanya Wilmer masih saja tidak percaya.


Ya, saat itu Collab mengatakan padanya kalau dia belum menikah dan mengapa sekarang mendadak ada seorang pemuda yang mengaku dirinya anak dari Collab?


Apa pemuda ini sedang berusaha untuk membohongi Tuan Wilmer?


Sayang sekali pria itu malah mengangguk, sebuah anggukan yang membuat benak Wilmer semakin keras bertanya-tanya, seolah dia tak pernah percaya dengan apa yang diungkapkan oleh pemuda ini.


Mengapa anak itu berbohong pada Wilmer? dasar Collab!


Sudah matipun masih saja membuat orang lain kesal.


Wilmer yang terkejut pun hanya bisa memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang tidak pernah menunjukkan kepercayaan pada pemuda ini. Dia memang berpikir kalau pemuda itu sedang membual.


"Hah?" dia pun hanya terlihat tersenyum kecut, "apa kau pernah mabuk? dasar tukang tipu!"


Umpat Wilmer sesaat sebelum dia akhirnya memilih untuk pergi dan meninggalkan pemuda itu.


Namun saat dia melangkah belum terlalu jauh, dia kemudian kembali dihentikan oleh pemuda itu.


"Tuan.."


Panggilan itu membuat Wilmer berhenti dengan melangkahkan kedua kakinya dengan segera. Meski begitu dia tetap saja tidak berbalik menghadap ke arah pemuda tadi.


"Waktu itu ayahku juga ingin mengatakan semuanya pada anda, tapi saat anda bilang kalau ayahku masih saja belum menikah, dia akhirnya tak punya waktu lagi untuk mengakui aku sebagai anaknya di depan tuan, jadi akhirnya kami diam sampai sekarang."


Jelas pemuda itu makin membuat Wilmer berdecak kesal.


"Ck, aku tahu sahabat baikku tidak mungkin berbohong, kecuali kau yang mengarang ceritanya."


"Terserah jika tuan mau percaya atau tidak, itu hak anda, baiklah, aku akan pergi mencari dimana Shaga dan Alexa berada." Ucap pemuda itu akhirnya mengalah pasrah.


Bagi dia percuma saja untuk menjelaskan semuanya sekarang. Bukankah sangat tidak mungkin bagi dia kalau menjelaskan apa yang telah terjadi di masa lalu tanpa adanya sang ayah yang menguatkan perkataan darinya itu?


Namun tak lama pria itu pergi, Wilmer malah terlihat menoleh ke belakang, melihat pria muda itu kembali dan mencoba untuk menanyakan semua hal yang pria muda itu katakan pada dirinya sendiri.


Mana mungkin dia anaknya Collab? bukankah usia dia sekitar dua puluh tiga tahunan? jika dia anaknya Collab, seharusnya sebelum kejadian mengerikan di malam itu, harusnya anak itu sudah lahir?


Satu hal lagi, aku ingat Collab punya watak penakut dan lemah, mana mungkin dia punya anak yang berani seperti dia? Arkh! dasar tukang tipu!


Gumam hati kecilnya masih saja menyalahkan pria muda yang dia temui dan dia kagumi sebelumya itu.


Dia pun akhirnya segera mengusir jauh-jauh pikiran di otaknya itu, dan mulai kembali melangkah kembali ke tengah-tengah warga.


Ia pun mulai membantu para warga yang tengah asik melakukan kerja bakti untuk membangun rumah seadanya hanya untuk semalam ini.


Kaum hawa terlihat memasak dan menghidangkan makanan untuk para pria yang tengah susah payah membangun tempat tinggal sementara untuk mereka.


Namun di sisi lain Wilmer malah melihat seorang gadis yang tadi sempat bercengkerama dengan pemuda tadi.


Gadis muda itu terlihat tengah memangku anak yang disebut adik olehnya, dan tengah mencoba untuk menghibur adiknya yang bernama Zeyan.


Masih dengan rasa penasaran di dalam hati kecilnya, dia pun akhirnya melangkah mendekati gadis itu.


Bukan karena apa, jika menyangkut soal sahabat baiknya, dia memang harus tahu semuanya.


"Bagaimana? apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya gadis itu pada adiknya.


Sang adik terlihat mulai berhenti menangis, dan juga mengangguk kecil membalas pertanyaan dari sang kakak.


"Hemm."


Mendadak Wilmer datang dengan suaranya yang serak, membuat kedua orang itu lantas mendongak dan menatap ke arah wajah Wilmer berada.


"Tuan Wilmer?"


Wilmer tampak mulai terduduk di samping kedua anak itu, dan mulai bergabung dengan keasikan mereka.


"Zeyan, Tuan Wilmer ini yang telah menolong kamu, berterima kasihlah pada Tuan Wilmer." Ucap gadis yang lebih dewasa itu pada sang adik.


"Terima kasih telah menyelamatkan saya tuan." Ucap anak kecil itu pada Tuan Wilmer.


Seketika Wilmer pun tersenyum lugu. Dia mengusap kepala anak itu dan kemudian membalas ucapan anak itu dengan hangat, "sama-sama."


Anak yang semula terlihat baru berhenti menangis itu pun akhirnya mulai tersenyum di depan wajah Wilmer.


Namun Wilmer tak begitu lama pada anak kecil itu. Dia lebih memilih kakaknya, ups, bukan maksudnya dia menyukai kakak anak itu, tapi dia memang perlu mendapat informasi tentang pemuda itu pada gadis ini.


"Siapa nama kamu?" tanya Wilmer sebagai permulaan pada gadis itu.


"Nama saya Ziyana Tuan." Ucap gadis itu menjawab pertanyaan dari Wilmer.


Wilmer pun hanya bisa mengangguk saja mendengar jawaban dari gadis itu.


Dia kemudian menyambung untuk pertanyaan keduanya.


"Berapa usia kamu?" tanya Wilmer pada gadis di depannya.


"17 tahun Tuan," jawab gadis itu dengan ramah.


Tujuh belas tahun, apa dia akan tahu soal masa lalu pemuda itu?


Lama dia terlihat berpikir, akhirnya dia pun kembali berlanjut pada pertanyaan selanjutnya.


"Apa kau kenal dengan pemuda yang sempat menolong kamu tadi?" tanya Wilmer pada gadis yang mengaku dirinya bernama Ziyana.


"Maksud Tuan, Tuan Ceil?" tanya gadis itu berbalik pada Wilmer.


"Sayang sekali aku tidak tahu namanya," ucap Wilmer pada gadis tersebut.


"Aku pikir anda sudah tahu tentang dia." Ucap gadis itu semakin membuat rasa penasaran di hati Wilmer semakin memberontak hebat.


"Apa maksud kamu? tahu tentang dia?" tanya Wilmer lagi pada gadis itu.


"Tuan, siapa pula yang tidak kenal dengan Tuan muda Ceil, dia sangat terkenal di kelompok kami, dia yang sudah membantu ayahnya untuk menyelamatkan kami di setiap penyerangan yang dilakukan oleh para vampir, dia juga yang senantiasa membantu kami menemukan Pemukiman baru yang lebih aman setelah pemukiman kami dijajah oleh bangsa vampir." Ucap gadis itu semakin membuat Wilmer merasa tertegun.


"Tunggu sebentar."


Namun ada satu penggal kalimat yang membuat Wilmer akhirnya gagal fokus.


Dia yang sudah membantu ayahnya..


"Kenapa kau bilang dia telah membantu ayahnya? apa dia punya seorang ayah yang juga terkenal di kelompok kita?" tanya Wilmer pada gadis itu lagi.


Gadis yang ada di depannya hanya bisa menatap ke arah wajah Wilmer dengan ribuan tanda tanya.


Bagaimana bisa pria ini tidak mengenal Tuan Ceil? aku pikir dia tahu segalanya.


Gumam gadis itu dalam benaknya.


Tidak mungkin! mana mungkin anak itu anaknya Collab?


Benak Wilmer bertanya-tanya, masih tidak percaya apa benar dugaannya dan apa benar ucapan pemuda tadi.


Tunggu!


Dia berkata apa mungkin benar Tuan Ceil ini anak dari Tuan Collab? apa dia meragukan hal demikian?


Mendadak benak gadis itu bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Entah mengapa dia bisa mengetahui apa yang dikatakan oleh Tuan Wilmer dalam hati kecilnya. Apa mungkin gadis ini juga punya kemampuan seperti yang Alexa miliki?


"Tuan Collab menikah karena dipaksa oleh warga masyarakat serigala, dia dipaksa menikah dengan seorang wanita dan mengharuskan punya keturunan saat anda terdampar ke dunia manusia, karena saat itu kami menduga keluarga Sean telah tewas seluruhnya, dan jika Tuan Collab tidak memiliki keturunan, maka siapa lagi yang akan mewarisi kepemimpinan Sean selanjutnya?"


Apa? jadi sebelumnya Collab pernah menikah? dan itu karena keterpaksaan?


Gumam Wilmer dalam hati kecilnya sendiri.


"Tuan, tapi setahun setelah pernikahan mereka, lahirlah Tuan Ceil yang malang," ucap gadis itu pada Wilmer.


Mendengar perkataan dari gadis itu, Wilmer lantas membuka kupingnya jelas-jelas, tak hanya itu, dia pun juga menatap ke arah gadis itu semakin tajam dari tatapan matanya sebelumnya.


"Malang? kenapa kau bilang malang?"


"Iya, setelah satu tahun pernikahan Tuan Collab dengan istrinya, barulah diketahui alasan Collab tidak mau menikah."


"Alasan? kenapa memangnya? dia sendiri bahkan tidak memberitahu aku tentang alasannya tidak mau menikah." Ucap Wilmer agak kesal karena rupanya sang sahabat menyimpan terlalu banyak rahasia darinya.


"Rupanya Tuan Collab pernah mendapat pantangan dari leluhurnya untuk tidak menikah seumur hidupnya, atau dia akan kehilangan seorang wanita yang menjadi istrinya." Jawab gadis itu.


Jadi begitu rupanya? kenapa dia bahkan tidak memberitahu aku?


Lama dia terdiam, berpikir dan merenungi segala hal yang terjadi di masa lalu, sampai akhirnya dia kembali mengingat kalau usia gadis ini tujuh belas tahun, jika dia masih berusia segitu, kenapa dia bisa mengetahui segalanya yang terjadi pada Ceil yang usianya jauh lebih tua darinya?


"Tunggu! kenapa kau bisa mengetahui segalanya yang terjadi sebelum kau lahir? apa kau punya keistimewaan khusus juga?" tanya Wilmer pada gadis itu.


Gadis itu hanya terlihat menyimpulkan senyumannya.


Dia kemudian mendekat ke arah Wilmer dan berkata, "aku terlahir istimewa untuk kedua orang tuaku."


Ucap gadis itu dengan senyumnya yang sangat manis.


Mata yang sipit dengan pipi yang sedikit gembul, dia memang sangat manis.


Namun Wilmer malah kembali mengalihkan pikirannya. Dia kemudian terlihat memalingkan wajahnya dari gadis itu, dan kembali lagi mempertanyakan hal yang sama.


Kenapa kau bahkan menyembunyikan segalanya dariku, Collab! awas saja kalau bertemu kelak, akan aku pukul kepala kamu dengan lenganku!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...