Alexa

Alexa
Part 44



~Happy Reading~


Merekapun mengistirahatkan tubuhnya , hingga tengah malam tiba, terdengar beberapa orang berjalan mendekat ke ruangan Alexa dirawat.


Alexa yang memiliki kepekaaan yang sangat tinggi, segera membuka matanya, melirik ke kiri kanannnya, memastikan siapa yang mendekat ke arahnya.


Samar-samar terdengar, beberapa langkah semakin dekat, dan Alexa menduga ada sedikit perkelahian di luar ruangan, seseorang berusaha menerobos masuk namun di halangi petugas yang berada di luar.


Meskipun ada perkelahian yang terjadi, sepertinya hal itu tak cukup membuat Joe dan Devan terbangun. Akibat lelah yang di rasakan membuat mereka masih terlelap. Dari dalam ruangan suara keributan hanya terdengar samar, hingga tak banyak orang menyadarinya namun lain halnya dengan Alexa yang sangat menyadari akan kehadiran mereka.


Perlahan Alexa menyibak selimutnya dan menegakkan tubuhnya, mencoba mengambil pisau buah yang berada di atas nakas secara perlahan, kemudian kembali berbaring seperti sumula dengan menyembunyikan pisaunya di bawah selimut disisi kanannya.


Cklek


Pintu ruang rawat Alexa tebuka secara perlahan dan terlihat dua orang mengenakan pakaian dokter dan perawat masuk dengan wajah tertutup masker.


Alexa bersikap tenang dan sedikit melirik ke arah mereka berdua yang berjalan pelan mendekati ranjangnya, Seseorang yang mengenakan seragam dokterpun segera menyuntikan sesuatu kedalam botol infus Alexa, namum belum selesai memasukkan semua cairan yang di bawanya Alexa segera menyerang orang dengan pakaian dokter itu dengan pisau yang disembunyikannya.


Orang berbaju dokter pun mengindar, dan orang yang berbaju perawat yang berada di sampingnya juga terlihat menghindar dan mengenai gelas yang berada di atas nakas.


Pyar!!!


Gelas itu pun terjatuh.


Perkelahian terjadi dalam ruangan Alexa, Alexa dengan cepat mencabut jarum infus yang menempel di tangan kanannya hingga darah segar menetes dari bekas jarumnya.


Saat terdengar suara gelas jatuh, Joe dan Devan terbangun dari alam mimpinya, Setelah menyadari ada yanh tidak beres, Devan segera memulihkan kondisinya dan segera membantu Alexa.


Alexa terlihat kuwalahan dengan kondisi tubuhnya saat ini, dan cukup tertolong saat Devan berhasil memberikan pukulan telak pada seorang yang mengenakan seragam dokter.


“Kak Joe, bantu Exa keluar dari sini!!”pinta Devan saat Joe terlihat akan membantu


Joe pun dengan patuhnya membantu Alexa berdiri dan berusaha membawanya keluar ruangan, sementara Devan berusaha melumpuhkan dua orang yang masuk tadi.


Koridor klinik tampak sepi tapi beberapa orang yang bertugas berjaga tergeletak dengan keadaan tak sadarkan diri. Joe memapah adiknya dengan perlahan memastikannya tak keseulitan untuk berjalan.


“Kita ke mobil Xa, kita harus pergi dari sini” ajak Joe menuntun keluarg Klinik dan menuju tempat parkir,


Alexa mengangguk, dan tak lama kemuadian Devan telah berhasil menyusul mereka dan ikut masuk ke dalam mobil.


“Kak, kakak bisa mengemudi dengan cepat?” tanya Devan yang telah duduk di kursi belakang kemudi,


“kakak usahakan, apa ada yang mengikuti?”


“aku pastikan iya, karena tidak mungkin mereka ke sini hanya berdua, kalian tadi sudah cek kondisi mobi?”


“Kak periksa remnya dulu, blong atau tidak?” pinta Alexa saat Devan memeriksa di belakang, dan Joe masih mengemudikan dengan pelan.


Joe pun mencoba menginjak rem, dan masih berfungsi dengan baik, sepertinya tidak ada masalah dengan mobil yang mereka gunakan, Devan pun tak menemukan alat yang mencurigakan di dalam mobil.


“Xa, bagian depan ada ada alat penyadap atau pelacak tidak?” tanya Devan memastikan kembali


“tidak kak, aman, sepertinya mereka tidak melakukan seuatu pada mobil ini”


Devan merasa sedikit lega, kemudian mencoba menghubungi teman-temannya. Meminta bantuan untuk memebereskan kekacauan yang berada di klinik, menginformasikan kondisinya saat ini.


“Xa, kau baik-baik saja?”


“ya, Exa baik kak” ucap Alexa berbohong, sejujurnya tangan kirinya yang retak terasa sangat nyeri, beberapa kali tadi ia gunakan tangan itu untuk melawan dua orang yang menerobos mausk tadi.


Sesekali Joe melirik ke samping kemudi, ia melihat sang adik menahan rasa sakit, namun tetap berusaha tenang agar ia bisa mengemudikan dengan benar.


“Apa Rayhan baik-baik saja kan?” tanya Alexa pada Devan, tentu saja Devan pasti sudah mengecek kepada anak buahnya situasi di rumah sakit Rayhan di rawat.


“aman, mereka baik-baik saja” jawan Devan dengan singkat, namun cukup membuat Alexa dan Joe paham akan situasi di sana.


Devan kini fokus pada ponselnya, ia berkoordinasi dengan rekanya untuk segera mengakhiri situasi saat ini, apalagi keberadaan anak dan istri dari Hadi sudah di temukan, dan di amankan anak buahnya.


“Kak, kita kembali ke rumah yang tempo hari, kakak ingat?”


“oke, kakak ingat, kakak akan tambah kecepatan kalau gitu” jawab Joe dengan yakin.


Joe merasa ini adalah pilihan terbaik, di sana Alexa juga akan mendapat penanganan dari dokter Kayla, dan keamanan di sana lebih terjamin.


“Kak… ambil jalan kanan!!!” seru Alexa


“kenapa Xa? Ada yang mengikuti?”


Tanya Joe dengan panic mendengar teriakan Alexa, sementara Devan menoleh ke belakang, dan benar saja ada mobil yang mengikutinya, dengan tenang ia pun menyiapkan senjata, dan tetap mengamati mobil yang dibelakangnya.


“Kak, berikan Exa senjata”


Tanpa pikir panjang, Devan menyerahkan salah satu senjatanya kepada sang kekasih, lalu kembali mengamati ke belakang.


Dor!!!!


Tbc