
Tak!
Dia kembali dibuat berhenti, saat menatap dengan tajam para anggota vampir yang mendapat tugas jaga sel pada hari itu. Semuanya tampak dingin dan juga kelihatan arogan, tapi mereka semua agaknya tidak lebih dari makhluk dingin yang beku.
Ya, hanya itulah kata-kata yang bisa terlontar dari mulut Wilmer untuk menghina musuhnya yang terlalu banyak memiliki kemampuan khusus.
Dia kembali bersembunyi di belakang tembok dingin dan juga kokoh, mulai mencoba mengawasi setiap keadaan, dan berpikir mungkin saja anaknya berada dalam tahanan.
Ya, seperti pada dugaan awalnya, anaknya memang pemuda yang tidak terlalu memiliki keberanian, tapi anaknya bukanlah seorang pria yang bisa dikatakan pengecut, bukankah dia sendiri yang tahu, putranya tidak akan mungkin lari dari peperangan jika tidak ada satu hal mencekik.
"Ya, seharusnya mereka mencekik leher putraku, kemana kiranya mereka menahan anakku?" Tanya Wilmer, tentu saja dengan bergumam.
Ia kemudian menatap ke sekeliling, tidak ada jalan lain untuk dirinya masuk, entah itu berupa celah, atau mungkin pintu ajaib sekalipun, semua itu tidak ada.
"Sial!" Umpatnya lirih.
Pintu satu-satunya untuk bisa menuju ke dalam sel tahanan dan memastikan putranya ada di sana atau tidak, hanya ada pintu itu, pintu yang sekarang tengah dijaga dengan ketat oleh para anggota vampir yang terlihat, huhh, menyeramkan.
Wajah yang lebih gahar dibanding para vampir remahan yang dia lawan sebelumnya, agaknya dia hanya akan mati kutu kalau berusaha untuk melawan anak-anak itu.
Bagaimana dia bisa masuk ke dalam sana tanpa adanya perlawanan?
Dan dia mulai berpikir dengan keras, mencoba untuk menemukan cara yang lebih tepat untuknya agar bisa masuk ke dalam sana tanpa adanya pertempuran, sampai akhirnya dia memikirkan satu ide yang paling gila.
"Entahlah, aku tak begitu yakin dengan ideku sendiri, bagaimana aku bisa berpikir seperti itu?" Gumamnya merasa bingung dengan satu-satunya ide yang dia punya dalam otaknya.
Hanya saja, bisakah dia mengandalkan satu ide yang bagi dirinya sendiri adalah, tak lebih dari sebuah keraguan?
Dia berpikir lagi, mencoba memikirkan resiko selanjutnya yang akan dia dapat jika sampai bermain-main dengan ide buruknya itu. Pertama, jika penyamarananya terbongkar, maka dia juga harus siap dengan senjatanya untuk melawan mereka semua, kedua, jika dia menang, dan berhasil melewati gerombolan mereka, dia sendiri jadi bingung akan keluar lewat mana lagi, karena selain pintu itu, maka tidak ada pintu yang lain lagi.
"Kudengar pertarungan di depan masih sengit, mereka terlihat agak hebat dari yang dulu," ucap vampir satunya, sementara enam lainnya tengah dibuat asik bermain kartu.
Layaknya manusia, mereka juga sangat asik berjudi di sana, menyempatkan waktu mereka untuk bersenang-senang.
"Ya, dan aku berani menjamin, mereka hanya akan pulang dengan tangisan!"
Ha.. ha.. ha..
Timbal satunya lagi, merasa semua yang akan terjadi pada kelompok serigala hanyalah kegagalan dan omong kosong belaka.
Lainnya menyahut tawa itu, sampai akhirnya mereka tak sadar telah kehilangan celah yang sangat merugikan bagi diri mereka.
Tawa yang kelakar, dengan kecerobohan yang amat luar biasa, mereka bahkan tidak menyadari saat seorang pria mengenakan jubah merah hitam berpenampilan seperti mereka semua tampak masuk dan melewati pengamanan perketatan mereka.
Mereka masih saja tertawa berceloteh bodoh terhadap anganggota serigala, jika saja bukan di saat seperti ini, mungkin Wilmer sudah memukul mereka habis-habisan, hanya saja, dia harus memendam erat emosinya untuk sesaat, dia pendam sampai kiranya dia menemukan keberadaan sang putra.
"Dasar anak sialan! Bisanya hanya merepotkan orang tua saja! Awas saja kalau kelak kau tidak bisa menikahi putri istimewa itu, aku akan memukul jidatmu sampai benjol!" Umpatnya dalam hati, ingin sekali dia keluarkan di depan Shaga nanti jika sudah bertemu.
Dia kemudian menatapi ke seluruh sel, banyak sekali rupanya tahanan di sana, kebanyakan adalah vampir yang entah terkena kasus apa yang sampai dijerat dan dirantai di leher mereka dengan wajah kurus kering dengan bibir yang pucat pasi.
"Tolong aku.."
"Tolong selamatkan aku.."
"Bebaskan aku, Tuan, aku mohon.."
Sepanjang perjalanan, dia selalu mendapat permintaan pertolongan dari setiap penghuni sel, sampai akhirnya, pada sel yang paling ujung, yang sangat gelap dan juga tak nampak apapun, dia tidak mendapati suara teriakan seperti itu lagi, dan itu membuat dirinya sedikit merasa penasaran.
Dia pun mulai melongok ke arah dalam, mencoba melihat apa yang ada dalam kegelapan itu, entah mengapa sinar matahari juga tidak menembus selnya, perlahan dia semakin mendekat.
Dia mulai mendengar suara \*\*\*\*\*\*\* nafas yang memburu diiringi dengan suara lain yang sedikit menakutkan baginya.
Namun dia tak juga mundur, dia bukan seorang pendekar yang ketakutan, dia adalah pahlawan yang dipenuhi keberanian. Dan sekarang, dengan bergetar sekujur tubuhnya, dia akhirnya mulai memberanikan diri untuk melongok semakin dekat.
"Kau datang?"
"A?"
Dia begitu terkejut mendengar suara itu, suara yang sangat berat, dan lagi menyeramkan, entah mengapa bulu kuduknya meremang secara sempurna tatkala mendengar suara itu.
Dia pun mundur beberapa langkah. Sesuatu muncul dari kegelapan, dan kemudian menampilkan sosok yang sangat tinggi tegap, dengan dada kotak-kotak yang juga bercampur dengan bulu-bulu tipis menambah sosok itu menjadi sedikit lebih menakutkan.
Lekuk tubuhnya jelas terlihat sangar, dengan dada yang sangat sempurna bentuknya, apalagi bagian perutnya itu, huhh, sungguh mempesona.
Jika dia seorang wanita pun, agaknya dia bisa jatuh cinta dengan keindahan tubuh itu, huhh, benar-benar memunculkan hawa panas dengan seketika.
Dia tertegun sesaat, wajah yang dimiliki monster itu pasti sangat menyeramkan, dan juga penuh dengan amarah besar. Dia tahu, pemilik tubuh ini, seharusnya tidak ada sebandingnya dengan dirinya, namun itu hanya dugaan.
Dia masih dibuat tertegun. Sebuah kilatan cahaya yang menyelisip melalui lubang udara tampak secara perlahan-lahan memperlihatkan wajah itu. Wajah yang semula menjadi pertanyaan dan tebak-tebakan oleh Wilmer, dan akhirnya penantian itu akhirnya akan segera terbayar.
Wajah itu akan hadir menatapnya dengan penuh kejutan. Dan benar saja, saat wajahnya muncul dari kegelapan, Wilmer malah terkejut dibuatnya.
Mata yang berwarna keemasan, dengan tulang-tulang yang keras di sekujur tubuhnya, dan sekarang, tulang itu semakin dibuat keras, apalagi otot-otot yang ada di sana, huhh!
Mengesankan!
Dia tertegun sesaat, sebelum akhirnya, dia berani berkata, bahwa itu adalah putranya.
"A? Shaga?"
"Ayah, apa kau terkejut melihat putramu?"
"Ayah tidak tahu apa yang terjadi padamu, tapi kau kelihatan lebih keren!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...