Alexa

Alexa
#Hari Baru



"Maaf sekali, nak, aku sempat meragukan kalau kamu anak dari Collab, aku bahkan merasa diriku begitu buruk, terima kasih, jika kau tidak ada, mungkin benar kata gadis itu, negara kita benar-benar akan kehilangan segalanya." Ucap Wilmer setelah mendengar beberapa baris penjelasan yang dilontarkan oleh Ceil padanya.


Sementara pemuda di sampingnya hanya bisa tersenyum senang, akhirnya ucapan dia dipercaya juga oleh pria ini, ya, jelas saja dia merasa risau, bukan karena apa, tapi jelas sekali kalau dia cemas Wikmer tidak mempercayai dirinya semudah itu.


"Ya, aku paham kenapa anda tidak percaya pada ucapanku, jika saja ayahku ada di sini, dia pasti akan menjelaskan semuanya padamu, maaf sekali, karena ayahku tidak sempat menjelaskan semuanya pada anda, aku tahu ini sangat berat, tapi aku memang harus menjelaskan semuanya padamu." Ucap Ceil merasa bersalah karena terlambat memberi penjelasan pada Wilmer.


Ya, sudah sejauh ini, dan dia baru memberi sedikit penjelasan untuk pria tua itu, agaknya dia dan ayahnya memang telah bersalah karena telah menyembunyikan semua rahasia ini sekian lamanya.


"Tidak, Nak, kau tidak bersalah, tidak bersalah sama sekali, seharusnya aku yang sejak awal mengerti pada Collab, bukan malah menghina dia dan terus mengejek dia dengan perkataanku yang menghina." Ucap Tuan Wilmer malah lebih menyesali semuanya dibanding dengan Ceil.


"Sudahlah, semua sudah berlalu, sekarang hanya tinggal menunggu kabar baiknya saja, kapan kau akan segera menimang cucu, aku harap cucu anda mirip seperti anda." Ucap Ceil meledek pria tua di sampingnya itu.


Dan ledekan itu membuat Wilmer hanya bisa terkekeh saja saat mendengarnya. Ya, yang dikatakan oleh Ceil barusan memang benar, Wilmer hanya harus menunggu kehadiran cucu kesayangan untuknya, persembahan dari anaknya, dan setelah itu, dia bisa menata kehidupan masa depan menjadi lebih baik lagi.


Apalagi sekarang hanya dia yang tersisa di antara tiga pejuang yang dulu sempat berkobar dan terkenal pada masanya. Sementara dia juga sudah tua, dia berharap akan lahir pejuang baru yang lebih tangguh dari dirinya setelah ini, dan lebih baik dari itu, dia berharap akan segera menimang cucu.


Lama sekali kedua orang itu berbincang-bincang, sampai akhirnya sekarang mereka terlihat pergi kembali ke rumah darurat yang mereka buat.


Di dalam sana terdapat beberapa bilik untuk ditiduri oleh bebberpaa pria, seperti asrama.


Mereka pun mulai terlelap di dalam mimpi mereka yang indah, mimpi yang telah menjadi kenyataan, mimpi yang akhirnya menjadi nyata seperti halnya mengambil berlian di dasar lautan.


Akhirnya semuanya benar-benar akan berkahir.


Sementara Wilmer dan Ceil yang sudah larut dalam mimpi indah mereka setelah berhasil menghancurkan dan membinasakan semua anggota vampir yang tersisa, bahkan dunia vampir pula, kedua orang di atas awan tampak berbeda pemandangan.


Kedua orang itu tampak saling menatap dengan tatapan hangat, tatapan yang dipenuhi oleh hasrat terpendam di antara keduanya.


Malam yang indah dengan nuansa dia atas awan, dengan pemandangan bintang-bintang yang bertaburan menguasai angkasa nan biru, keduanya tersenyum saling berpelukan mesra, saling mencium dan lebih dari itu, saling memuaskan satu sama lainnya.


"Alexa, kau belum menjawab perkataan dariku kala itu." Ucap Shaga pada gadis yang kini telah utuh menjadi miliknya.


Mendengar pertanyaan dari Shaga, sontak Alexa tersenyum, mana bisa dia menjawab pada data seperti ini?


Bukankah mereka harus menikmati malam ini penuh cinta? tapi jika memang Shaga membutuhkan jawaban itu sekarang, Alexa pun tidak menolaknya sama sekali.


Wajah gadis itu semakin dekat dengan wajah Shaga, bahkan hidung mereka menjadi satu, berbaur dengan penuh cinta dan kemesraan.


"Jika aku mengatakan, aku sangat mencintai kamu, sejak awal, apa kau akan percaya kata-kata dariku?" ucap Alexa dengan lirih di depan wajah Shaga secara langsung.


Dan perkataan Alexa barusan jelas membuat Shaga langsung tersenyum puas. Dia pun langsung merengkuh tubuh Alexa yang sudah sepenuhnya sembuh dari lukanya itu, dan mulai semakin membuat permainan mereka bertambah asik.


Ya, sampai kapanpun itu, andai kau tak lagi hidup di dunia ini, maka tidak ada salahnya jika aku juga berpikir untuk mati saja, mungkin memang lebih baik untuk mati, daripada harus kehilangan dirimu, aku sungguh tak bisa, benar kan ayah? ibu? apa keputusan yang aku ambil untuk menyerahkan diriku sepenuhnya untuk dia di malam ini adalah keputusan yang tepat?


Ya, aku rasa kalian berkata iya..


"Ugh.. Sha.. ga..."


Mencengkeram kuat pundak Shaga.


"I love you, Alexa..."


"Love you too.."


Seperti cerita pada dongeng-dongeng ternama, yang akhirnya memang berkahir bahagia, seakan tak pernah rela jika melihat kedua orang ini tak bersatu sebagaimana seharusnya terjadi.


Tapi kedua legenda ini jelas membuktikan, kalau mereka tak hanya bisa mencintai, tapi mereka juga bisa melakukan segalanya, seperti menaklukkan musuh dan membangun dunia baru yang lebih damai.


Matahari pun akhirnya bersinar kembali, seperti halnya yang biasa terjadi di setiap harinya.


Perlahan-lahan sinar matahari mulai menembus kulit mereka yang tengah menikmati indahnya tertidur di atas awan. Cahaya matahari itu dengan lembut membangunkan keduanya, dari mimpi indah yang baru saja mereka alami.


Dan sekarang, keduanya benar-benar terbangun dalam keadaan bahagia luar biasa.


Mereka semua jelas berbahagia, bukan hanya Alexa dan Shaga yang juga tengah berbahagia dengan apa yang tengah mereka lakukan di atas sana, tapi mereka yang berada di pemukiman juga merasakan hal yang sama.


Mereka berbondong-bondong menyambut matahari pagi yang memancarkan cahaya kebebasan, memberi angin DNS kehidupan baru yang dipenuhi oleh warna..


Semuanya telah berkahir, mimpi indah di masa lalu yang sudah mereka jalani selama dua puluh tahun terkahir, akhirnya pada pagi hari ini, semuanya berbalas dengan sepadan.


Sebuah kedamaian dan juga kebahagiaan, wajah emrwka bahkan tampak berbinar terkena semburat cahaya dari ufuk timur.


Mereka menyambut datangnya matahari pagi. Dari cahaya matahari yang masih berwarna jingga keemasan itu, terlihat dengan jelas dari atas langit dua orang terbang mendekat ke arah mereka semua.


Dua orang yang datang membawa Kilauan kebahagiaan, dua orang yang pada akhirnya juga akan berkahir menjadi seorang legenda dari dunia merah.


Dunia yang kini telah berubah menjadi terang benderang, seolah cahaya matahari tak pernah lagi meninggalkan mereka semua, dan sekarang mereka benar-benar hidup dengan kebahagiaan.


"Tuan Wilmer, anda harus melihat ini!" ucap Ceil pada Wilmer sembari menarik tangan Wikmer dan menunjukkan sesuatu yang dia lihat di atas langit.


"Lihatlah, mereka sudah tiba!" ucap Ceil pada Tuan Wilmer, membuat Wilmer seketika menyiratkan senyuman bahagianya bercampur dengan perasaan di dalam hatinya yang mulai menemukan kelegaan.


Akhirnya semuanya benar-benar sudah berkahir.


Kejadian yan. sudah dua pulih tahun berlalu tanpa menemukan adanya jalan keluar, dan hari ini, akhirnya semuanya sudah benar-benar berkahir.


Semua jelas karena dia, semua jelas karena Sean, dan semua jelas karena kita semua, kami semua mengubah nasib kami dengan sangat baik.


Terima kasih telah memutuskan untuk berjuang di tanah ini, jika tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya untuk ke depan, aku mungkin akan benar-benar kehilangan anakku, dan kau juga mungkin akan kehilangan segalanya di dunia ini.


Tak!


Kedua pasang kaki itu mulai menapaki tanah di pemukiman mereka, disambutlah mereka dengan teriakan dan tepukan tangan bersorak dengan bahagia.


Huuuuh!!


Hidup Tuan Shaga!


Hidup Alexa!!


Hidup Alexa!!


Semua orang berteriak dengan keras menyerukan kebahagiaan mereka dan rasa bangga mereka pada dua orang itu.


Semuanya menyambut dengan suka cita, tampak kedua sepasang kekasih itu sekarang telah mengenakan baju kebesaran, bak raja dan ratu di dunia dongeng, semuanya memang terjadi penuh dengan keajaiban.


Keduanya melangkah maju ke depan mendekati semua orang, dan kemudian berhenti di hadapan Tuan Wilmer.


Pada saat itu Wilmer hanya terlihat tertegun dengan kekaguman yang selalu saja dia sematkan untuk dua orang di depannya, yang kini tengah terlihat terus menatap dirinya dengan kebahagiaan.


"Ayah," panggil Shaga pada sang ayah, dia berusaha sebisa mungkin untuk tidak menitihkan air mata di pipinya, pokoknya jangan sampai luruh.


Namun sang ayah malah lebih dulu menitihkan air matanya. Entah pertanda apa, tapi yang jelas, Wilmer benar-benar menangis ada saat itu.


Dia langsung memeluk putra kesayangannya itu, dan mendekap wajah Shaga di pundaknya, apalah daya, dia dan anaknya nyatanya lebih tinggi postur tubuh anaknya, jelas saja dia akan kesulitan jika mendekat Shaga dalam dadanya. Karena pada kenyataannya, Shaga bukan lagi bayi kecil seperti yang dulu dia dekap saat terdampar ke dunia manusia.


"Nak, ayah bersalah padamu, padahal jika kau berkenan, kau bisa membunuh ayah dengan dendam di hati kamu itu, aku tahu kau begitu terpukul dengan kepergian ibu kamu, maaf telah membuat kamu tidak memiliki seorang ibu, ayah akan bertanggung jawab, ayah akan melakukan apa saja yang kau minta." Ucap Wilmer pada sang putra, dia bahkan rela melakukan apa saja yang diminta oleh putranya itu, asalkan putranya kau memaafkan dia.


Bahkan andaikata Shaga meminta dirinya untuk bunuh diri pun dia pasti akan dengan senang hati melakukannya.


tentu saja penyesalan sebab masa lalu terus membayang di otaknya, meski jujur saja, semua itu jelas bukan karena dia, tapi keinginan monster yang menguasai tubuhnya itu.


Keduanya berpelukan lama, sampai akhirnya Shaga benar-benar mengejutkan sang ayah dengan jawaban mautnya.


"Apa kau yakin akan mengabulkan apapun yang aku minta?" tanya Shaga sambil melepas pelukan dari sang ayah.


Ayahnya tak merasa bingung sama sekali. Dia hanya terlihat menatap dengan yakin ke arah wajah Shaga, "ya! katakan saja apa yang bisa ayah lakukan untuk membayar lunas semua yang telah ayah perbuat padamu, Nak!" ucap Wilmer begitu yakinnya.


Pria itu tersenyum senang. Dia punya ide yang cukup brilian untuk mendapat apa yang dia mau. Tentu saja sebelum dia mengatakan apa keinginannya, dia harus menatap dulu wanita cantik bergaun merah hitam di sampingnya, gaun yang sangat indah dengan perpaduan warna merah dan hitam, dengan aksen keemasan yang tertera di beberapa bagian dari gaunnya itu. Alexa jelas lebih mirip dengan Riyana.


Sekilas Shaga menatap mata Alexa, namun dari tahapan mata Shaga itu, Alexa akhirnya tahu apa yang ada dalam pikiran Shaga saat itu.


Apa yang mau kau katakan? hah? kau mau ayah kamu menikahkan kita? apa kau jelas akan memintanya pada ayahmu? dasar kau!


Ucap benak Alexa sembari memberi tatapan penuh penekanan untuk Shaga di sampingnya.


Jelas saja Shaga hanya bisa mengangkat salah satu alisnya dan berpikir dia harus tetap melakukannya, apapun yang terjadi.


"Baiklah, apa yang kau minta dariku, Nak? aku sudah menunggu hampir setengah jam hanya untuk menunggu permintaan darimu."


Ucapan Wilmer jelas sangat melebih-lebihkan, dia bahkan baru saja melalui waktu sekitar dua menit untuk melihat dua muda-mudi di depannya saling bertatapan.


"Baiklah, ayah, tolong nikahkan kami berdua!"


"A?"


Semua orang terkejut mendengar ucapan dari Shaga barusan.


Dia bahkan tidak bisa mengontrol senyum smirk di bibirnya itu, dan hanya terlihat menaruh harapan lebih pada sang ayah. Semoga saja Wilmer mengabulkan perkataan dari Shaga, perkataan yang juga di dalamnya mengandung permintaan yang harus dia turuti.


Apa itu hal yang sangat sulit dan juga sangat berat bagi dirinya?


Tentu saja tidak, dia juga punya pasangan lain yang harus dia nikahkan.


"Aku pikir bukan hanya kalian saja yang minta untuk dinikahkan, ada juga pasangan lain yang harus meresmikan hubungan mereka."


Semua orang kembali tercengang, apalagi saat Wilmer menyambut kedatangan dua muda-mudi yang tengah berjalan maju ke depan, dengan bergandengan tangan, dengan Zeyan dan anak laki-laki lainnya yang berjalan membawa bunga di depan mereka berdua.


Singkat cerita, dua pasangan muda-mudi itu pun terlihat melangsungkan adat pernikahan mereka, dan kemudian matahari semakin cerah menyinari mereka, membuat suasana di hari bahagia setelah kekacauan itu akhirnya benar-benar menjadi hari yang tak akan pernah bisa dilupakan.


\*\*\*\*\*\*\*



"Apa kau yakin akan melakukan ini, nak?" tanya Tuan Wilmer pada Alexa, dia melihat wajah Alexa yang bahkan sangat yakin dengan keputusan yang kali ini dia ambil.


Alexa tersenyum senang. Wajahnya berseri setelah melalui pernikahan dengan Shaga pagi ini.


Mereka semua tampak berdiri di depan gerbang alam lain yang akan menjadi perjalanan selanjutnya dari Alexa dan Shaga.


"Ayah Wilmer, aku tahu aku adalah impian dari kalian semua di sini, tapi di sisi lain, aku juga punya mimpi terbesar yang belum bisa aku wujudkan di dunia manusia, andaikata aku tidak kembali, aku tidak tahu apa mimpiku itu masih akan tetap ada atau tertepis begitu saja karena aku meninggalkan mimpi itu di sini." Ucap Alexa dengan yakin.


Di sampingnya, tampak Shaga yang juga menyiratkan senyuman di bibirnya dengan lega. Dia akan mengambil keputusan apapun yang dibuat oleh Alexa, termasuk kembali ke dunia manusia dan meninggalkan tempat ini dengan penuh kenangan.


"Bagaimana jika tejadi sesuatu di sini? apa aku bisa mengandalkan dirimu lagi?" tanya Wilmer lagi pada kedua orang di sana.


"Tenang saja Tuan Wilmer, mungkin aku memang lebih memilih tinggal di dunia manusia, tapi itu bukan berarti aku lepas tanggung jawab dari dunia ini," jawab Alexa sembari tersenyum ke arah Wilmer, "aku percayakan semuanya padamu, kau bisa melakukan semuanya seorang diri, sama seperti yang kau lakukan di dunia manusia, kau juga akan gagah berani meski berdiri di atas tahta dengan berbekal keberanian."


"Tidak, Alexa, aku tidak akan sanggup menggantikan posisi Sean di atas tahta, lagipula usiaku sudah terlalu tua, aku tidak akan mungkin menduduki tahta cukup lama, bagaimana kalau kau mengambil keputusan yang lain? seperti.." menoleh ke arah Ceil, "Tuan Muda Ceil!"


Semua orang terkejut, pun juga Ceil yang berdiri sejajar dengan sang istri yang cantik jelita.


Penampilan Ceil jelas lebih berwibawa dibanding sebelumnya, saat mereka semua belum mendapatkan apa-apa dari perjuangan selama dua puluh tahun terkahir ini.


Tapi sekarang, pria muda itu terlihat gagah perkasa dengan pakaian pangeran yang dia kenakan. Jelas saja dia memang lebih baik menjadi pilihan dibanding dengan Wilmer, apalagi Ceil adalah putra Collab, yang notabene adalah adik kandung dari Tuan Sean.


Dia punya keturunan darah biru seperti Alexa, dan itu jelas mengatakan kalau dialah pria yang berhak untuk memegang kekuasaan di negara ini.


Pria muda itu lantas menunduk memberi hormat pada Alexa di depannya, dia sungguh merasa tidak pantas untuk mendapat hak ini dari Alexa dan Tuan Wilmer..


"Sungguh suatu kehormatan bagiku jika anda berkata demikian, tapi Kakak sepupu, aku tidak akan sanggup menggantikan posisi ayahanda kakak sepupu yang seharusnya itu diwariskan untuk kakak sepupu." Ucap Ceil tak mengurangi rasa hormatnya.


Namun Alexa malah tersenyum simpul. Dia terlihat sangat anggun saat dalam keadaan tersenyum, rupanya sisi Alexa yang tersembunyi dan baru ditemukan sekarang adalah, dia berhati lembut, seperti sutera, dan berjiwa perang, seperti kobaran api yang nyala gagah perkasa.


Dua sisi berbeda yang hidup dalam satu jiwa yang sama. Dia memang memiliki semua keistimewaan itu.


"Tidak, kau pantas menerimanya, kau adalah adik sepupuku, sudah sepatutnya kau memang mendapat hak ini." Ucap Alexa pada Ceil dengan senyum anggunnya.


Alexa tampak lebih bijaksana saat mengatakan hal tersebut pada Ceil.


Sejenak Ceil menatap ke arah Alexa berada, dan melihat dorongan kuat dari Alexa kepada dirinya.


Dia pun akhirnya membuang nafasnya dengan lega. Mungkin inilah takdir yang harus dia ambil, melanjutkan apa yang diwariskan oleh nenek moyang.


Menjadi pemimpin yang hebat, yang akan membawa dunia merah menuju kedamaian dan kemajuan.


Semoga dia benar-benar bisa melakukannya.


"Jika anda berkenan, maka saya akan berusaha semaksimal mungkin." Ucap Ceil sambil menunduk kembali, tapi kali ini istri mudanya juga ikut menunduk, memperlihatkan rasa hormatnya pada Alexa.


Alexa pun ikut tersenyum, tapi dia tak menunduk di depan kedua orang itu.


Dia hanya membalasnya dengan anggukan semata. Dia terlihat lebih lembut dari biasanya.


"Baiklah, sekarang saatnya kita berpisah, aku yakin kita akan segera berjumpa lagi." Ucap Alexa pada semua rakyat di dunia merah.


Semua orang terlihat melepas kepergian Alexa dan Shaga dnsgan penuh senyuman, meski hati mereka begitu sedih dan berat, tapi apapun keputusan yang diambil oleh Shaga dan Alexa, mereka akan tetap mendukungnya, sampai kapanpun.


"Nak, satu hal yang harus kamu ingat meski sudah berada di dunia manusia." Ucap Tuan Wilmer sembari menghadap ke arah Shaga dan Alexa.


kedua orang di depan tampak menatap Wilmer dengan tatapan dalam, agaknya mereka juga tak sanggup melihat kesedihan yang sengaja Wilmer sembunyikan dari mereka.


"Ingat, kalau sudah punya anak, jangan lupa aku dulu yang harus melihatnya." Ucap Wilmer pada kedua orang di depannya.


"Ayah, kau lupa kalau aku juga harus mempertanggung jawabkan perbuatan ayah pada para gadis itu," ucap Shaga menimbrung kepada percakapan antara Alexa dan Wilmer.


"Kau ini, aku punya banyak hutang nyawa pada para manusia itu, sejujurnya itulah alasan aku tak mau kembali ke sana, aku pasti akan dihakimi, jika bukan pak polisi, tentu saja anak sendiri.


Lantas semua orang pun tersenyum songar. Mereka bahagia sekali karena akhirnya hari ini, hari yang telah mereka impikan sekian lamanya, hari ini akhirnya terjadi juga.


Meski dalam bahagia mereka itu, tersimpan cukup besar luka dan kesedihan untuk kepergian Shaga dan Alexa.


"Baiklah, sudah cukup kita berpamitan, kau pergi saja, aku akan pergi lebih dulu, aku tidak sanggup ditinggal kalian berdua."


Ucap Tuan Wilmer sambil mundur dari tempatnya dan mengusap air matanya menggunakan kain bajunya.


Sekarang tinggal Alexa dan Shaga yang berpamitan pada semua orang termasuk juga Ceil dan istri cantiknya, Ziyana.


"Terima kasih untuk segalanya, terima kasih telah hadir dan memberi cahaya untuk kami semua, kami selalu berharap kalian akan sering mengunjungi kami semua, bagaimanapun juga kalian telah menjadi legenda."


Shaga dan Alexa tersenyum mendengar kata-kata dari Ceil barusan. Keduanya pun mulai terlihat bergandengan tangan, menatap satu sama lain, dan akhirnya mulai tenggelam menjadi bayang-bayang perlahan-lahan mulai kabur.


Sekarang situasi menjadi senyap. Semua orang tampak kembali dengan pikiran mereka yang kacau balau.


Ya, semuanya kini telah kembali menjadi seperti semula.


Tapi semuanya masih belum terlalu meyakinkan apakah akan berjalan sesuai dengan yang mereka harapkan atau semua ini hanyalah awal yang buruk untuk mereka selanjutnya.


Fuhh!


Semoga saja keadaan tidak akan kembali buruk, semoga saja semuanya akan berkahir dengan damai, berakhir baik-baik saja, dan semoga semuanya akan tetap seperti ini untuk waktu yang cukup lama.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...