Alexa

Alexa
#Atasi Kakek Kandungku



Mereka masih saja berdiri di belakang tembok, mencoba mencari dimana sebenarnya arah bau serigala yang sangat menyengat itu berasal.


Sementara jantung Wilmer malah berdegup dengan kencangnya, karena rasa gugup itu selalu dikatakan lumrah terjadi untuk setiap orang yang sedang berada dalam tekanan.


Dan sekarang dia tampak tidak baik-baik saja, apalagi saat satu sosok vampir tampak mulai mencurigai tempat dia bersembunyi, dan hal itu semakin membuat Wilmer merasa sangat ketakutan dibuatnya.


Dia mulai mencoba mengambil nafas meski dalam perlahan-lahan, dia juga siap memegang senjata panjang di bagian pinggang kirinya, bersiap siaga siapa tahu akan ada satu tindakan mengejutkan yang dia alami dengan para vampir itu.


Sampai akhirnya, perlahan-lahan mulai terlihat kepala vampir itu mulai melongok ke arahnya, dan kemudian..


Sling!


"Arkh!"


Brak!!


Tanpa berpikir panjang, Wilmer langsung menarik pedang panjang miliknya, dan menebas leher vampir itu. Hanya saja hal itu dengan cepat disadari oleh anggota vampir yang lain, dan hal itu membuat mereka lekas memawaskan diri.


Wilmer tidak merasa takut, entah mengapa memang agak mengherankan. Jika sebelum dia menebas salah satu leher vampir itu dia merasa sangat cemas dan ketakutan, maka berbeda dengan saat ini, setelah dia berhasil menebas leher sang vampir, dia malah berubah menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


Dia bahkan masih sempat menyalakan api dari dua batu yang dia gesekkan dan kemudian, dia terlihat mulai membakar kepala vampir yang telah dia habisi.


Blusss!


Dengan cepat api itu melahap sekujur tubuh sang vampir, hingga tidak menyisakan apapun di sana. Dia hanya terlihat menatap puas sebelum akhirnya melihat beberapa vampir yang mulai mendekat ke arahnya, untuk memulai penyerangan.


"Bodohnya aku yang tidak membawa pemantik api dari dunia manusia, seharusnya semuanya akan jauh lebih mudah dengan benda kecil itu, sayang sekali pada saat itu aku tidak berbelanja!" Ucapnya.


Segerombolan vampir tampak mendatangi dirinya, saat melihat salah satu kawan mereka tewas dan telah berhasil dibakar oleh Wilmer.


Sssshhhhh!


"Hei, suara kalian mirip seperti suara ular, itu sangat menjijikan, jangan berusaha meniru suara binatang lain, carilah suara khas buat kalian sendiri!" Ucap Wilmer, pria itu bahkan masih bisa bermain-main disaat bahaya mendatangi dirinya.


"Dasar anjing basah!!"


Swosh!!


Bom!


Bom!


Bom!


Pertarungan di tempat itu terjadi, sama hal nya seperti pertarungan di depan pintu masuk antara dua kelompok yang sama-sama memiliki kekuatan sendiri, dan juga pertarungan antara Alexa melawan kakek kandungnya di atas tebing.


Pertarungan Wilmer terlihat jauh lebih santai, apalagi api yang berkobar melahap sekujur bangkai vampir di depannya itu sama sekali tidak terkena satu tetes air hujan pun, dan karena itulah api berkobar semakin ganas.


Hawa panas mulai menyelimuti pada para anggota vampir itu, sampai pertarungan pun agaknya kemungkinan besar akan dimenangkan oleh Wilmer. Melihat keadaan yang sudah semakin mendekat ke arah kemenangan.


"Wohoww! Jangan terlalu keras, Nak, kau masih muda, nanti tulangku bisa patah dibuatmu." Ucap Wilmer, pria itu memang suka meledek di tengah-tengah pertempuran sengitnya.


Bom!


Swosh!


Bukk!


Duashh!


Tendangan, pukulan, dan semua hal dilakukan oleh para anggota vampir itu demi bisa mengalahkan Wilmer yang hanya seorang diri saja.


Blam!!


Krrrrrtttt!


Mereka satu per satu mulai tersungkur, mundur dan tidak bisa lagi bangkit dari jatuhnya.


"Ha.. ha.. ha... Akhirnya aku masih bisa dikatakan muda," ucap Wilmer dengan sangat percaya diri.


"Tidak semudah itu tua bangka!!"


Tak tak tak tak tak!


Namun hanya sedetik saja dia merasa bangga, sebelum akhirnya dia mendengar suara seorang wanita yang pada saat dia menoleh, wanita itu tampak menatap dengan tajam kedua matanya, dengan lari yang cepat, dan semakin terdengar memburu.


"Hahh! Hanya wanita!"


Fuhhhh!


Melihat seorang wanita bertubuh kecil dan kurus tengah berlari ke arahnya, Wilmer tidak sungkan membersitkan senyuman penuh hinaan. Dia tak bisa memungkiri, wanita bukanlah lawan yang seimbang buatnya, ya, agaknya dia lupa kalau rakyat jelata para vampir pun memiliki kekuatan yang cukup untuk menjatuhkannya ke dalam jurang.


Swosh!


Bukkk!


"Ouch.."


Satu tendangan keras tanpa pamit berhasil mendarat dengan sempurna di pipi Wilmer, membuat pria itu harus memalingkan mukanya, dan terpaksa menyemburkan darahnya.


Cuih!


Dia meludah, satu gigi geraham miliknya copot, dan dia harus menerima darahnya yang mengalir cukup deras, membuat para vampir di depannya semakin dibuat kehausan, dan kemudian berubah menjadi gila.


"Ugh.. darah itu.."


"Humm, harum sekali.."


Mereka semua tampak semakin hanyut dalam aroma menusuk yang dihasilkan oleh bau anyir darah milik Wilmer.


"Sialan! Apa salah dan dosaku pada kalian? Mengapa kalian selalu tergoda dengan darahku? Kenapa kalian tidak tergoda pada ketampanan ku saja?" Dia masih bisa meledek, seperti biasanya.


Dia kemudian bersiap siaga untuk sesuatu yang lebih buruk lagi nantinya. Dia tatapi para vampir yang sudah semakin buta di depannya dengan tajam, bersiap untuk menerima serangan dari mereka.


"Awas saja kau! Berani maju, akan aku bakar sampai habis kalian semua!!"


Hahh!!


Swosh!


Lari para vampir cukup cepat juga sampai tak terasa laju mereka sekarang sudah berhasil mendekat ke arah Wilmer, dan kemudian berusaha untuk menjatuhkan Wilmer secara bersama-sama.


Tidak bisa dipungkiri, Wilmer tampak sedikit kewalahan menghadapi rombongan vampir yang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, dengan lari yang cukup cepat, dan atraksi penyerangan yang selalu berhasil mereka lakukan dengan sangat sempurna.


Apalagi kali ini penyerangan dilakukan secara bersama-sama, tentu saja pria itu akan merasa sedikit kesusahan dibuatnya. Dia bahkan harus membuat pedangnya menari-nari dan berliku-liku dengan indah demi bisa menghadapi kawanan vampir yang bisa saja dengan mudah menangkapnya dan menjadikan darahnya sebagai minuman lezat pereda rasa hausnya.


"Wow, wow, lihat kalian semua! Tidak ada sebandingnya dengan aku!!"


Hiyaaaaaaaa!!


Sling!


Swosh!


Swosh!


Splash!


Bom!


Bom!


Blam!!


Krrrrrttt


Namun agaknya dia termasuk pejuang yang bisa dikagumi. Mengahadapi kelompok menyulitkan seperti ini, nyatanya sekarang dia berhasil berdiri dengan selamat, tanpa luka dan juga tanpa lecet sedikit saja di tubuhnya.


Sementara pada vampir itu malah tergeletak tidak berdaya di sekelilingnya, dengan luka yang parah, bahkan ada yang sampai harus tertebas lehernya dengan sangat sadis oleh Wilmer, ya, tentunya hal itu memang dengan sengaja dia lakukan.


"Lihatlah kalian semua, kalian lah sampah yang tidak berguna! Lemah!"


Ck?


Ck!


Blusss!!


Api yang berkobar pada satu jasad sebelumnya berhasil merembet pada tubuh mereka semua, dan akhirnya mulai membakar tubuh mereka semua dengan sangat memuaskan.


Tubuh mereka terbakar, dan hanya menyisakan abu yang mengotori jalanan. Dan sekarang, Wilmer akhirnya bisa tersenyum puas sambil kembali melanjutkan perjalanannya menyelamatkan sang putra tercinta.


"Anakku, aku tidak akan membiarkan kamu tewas seperti ibumu!"


Di sisi lain, pertarungan sengit di area depan pun semakin sengit terhadi. Dua kubu yang sama-sama memiliki kelemahan, api yang berkobar dan hampir melenyapkan separuh dari pasukan awal yang dikerahkan, dan sekarang, nampak Tuan Collab yang telah berdiri dengan gagah berani menjadi garda terdepan untuk kelompok kecilnya.


Mereka sangat antusias dalam penyerangan kali ini, api berkobar dimana-mana, membuat hawa panas meski hujan deras masih mengguyur masih terasa menyengat kulit para vampir yang mudah hangus.


Mereka semakin dibuat beringas, meski sang pemimpin adalah salah satu tokoh yang sangat terkenal dengan ketakutannya.


Namun kali ini Collab benar-benar membuktikan, kalau dirinya bukanlah pria yang bisa ditakut-takuti hanya dengan para manusia berwajah pucat di depannya.


Dengan gagah berani dia menebas beberapa leher para vampir, dan kemudian membuang jasadnya ke dalam bara api. Dia memilih untuk bertahan pada wujud manusianya, dan memegang pedangnya dengan sangat erat, meski dia tahu, akan sangat mudah baginya dikalahkan jika dalam keadaan tidak berbulu, tapi dia merasa lebih mudah bertarung dalam keadaan seperti itu, polos tanpa bulu-bulu yang menutupi sekujur tubuhnya.


"Arkh! Rasanya memang senang bisa bertarung dengan bebas!"


Swosh!!


Sling!!


Dia kembali menebas satu leher vampir dan seperti biasa, dia langsung membuang kepala vampir itu ke dalam api.


"Ngomong-ngomong, dimana pria tua itu? Dia kabur karena takut, atau dia sedang mencoba mencari putranya? Aku harap dia tidak menghadapi kesulitan, atau dia akan mengompol di dalam celananya," ucapnya agaknya dia tengah membicarakan soal Wilmer yang kabur dari peperangan di luar.


Dia mengelus pedangnya, sambil menatapi hasil karyanya pada puluhan vampir yang sudah dia taklukkan, tentunya juga sudah berhasil dia bakar hidup-hidup, hingga sekarang terlihat pada vampir malang itu sudah mulai berubah menjadi abu.


Ya, api memang selalu menjadi kelemahan para vampir. Meski sudah ditebas lehernya, namun jika tidak langsung dibakar, maka kepala dan tubuhnya bisa menjadi satu, dan kemudian, kembali hidup dan berjalan normal seperti semula.


Agaknya hal itu juga terjadi pada seseorang di atas tebing, di tengah-tengah pertempuran sengit antara Valheins dengan cucu perempuannya.


Mereka yang masih asik beradu kekuatan, masih setia saling melawan, dan agaknya kemenangan masih belum terlihat dengan jelas akan jatuh pada siapa.


Di sisi yang lain, tampak satu kepala yang sudah tergeletak dan memejamkan mata tampak tidak terurus. Kepala itu sudah terpisah dari badannya, dan seharusnya jika itu terjadi pada manusia, maka sudah jelas nyawanya telah melayang.


Namun hal itu tidak terjadi pada kepala Arsello yang beberapa saat yang lalu sudah ditebas oleh sang tuan, Valheins. Entah apa yang membuat kakek tua itu menebas kepalanya, jika hanya karena penolakannya untuk meredakan hujan, bukankah ucapannya seharusnya adalah benar?


Dan sekarang terlihat dengan jelas kedua mata Arsello mendadak terbuka dengan sangat lebar.


Sling!


Dan tubuh pemuda itu mulai bergerak mengambil kepalanya sendiri, yang terletak tak begitu jauh dari tempat berdirinya pada saat itu.


Dengan perlahan kedua tangannya mulai menyatukan kembali kepalanya dengan lehernya yang terputus beberapa saat yang lalu, sampai akhirnya, sekarang dia bisa berdiri dengan kokoh dan gahar.


"Hahh! Dasar tua bangka!" Umpatnya dengan lirih, namun umpatan yang dia lontarkan dengan lirih itu masih bisa terdengar di kedua telinga Valheins.


Menoleh saja si kakek tua ke arah belakangnya, sampai akhirnya dia mendapati sosok Arsello yang kini terlihat menatap ke arahnya dengan sangat tajam.


"Kau bangun, nak?" Panggil Valheins pada Arsello.


Namun agaknya Arsello bangkit dalam keadaan yang berbeda dari sebelumnya. Jika beberapa saat yang lalu dia hidup di kaki Valheins dengan sangat tunduk dan juga penurut, tatapan matanya pertama kali saat menatap Valheins hanyalah, kebencian!


"Kenapa? Nak, aku tidak suka bermain-main, jika kau marah padaku, maka jangan membuang waktu untuk bermain-main, segeralah bertindak, atau aku akan memulainya lebih dulu!" Ucap Valheins bahkan masih sempat melayangkan tantangan untuk Arsello.


"Kakek, kau masih punya urusan denganku, jadi selesaikan dulu permainan mengasikkan kita, bukankah kau merindukan cucu cantikmu ini?" Ucap Alexa sembari tersenyum dengan menawan.


"Aish! Aku tidak suka bermain yang tak ada ujungnya, kemarilah, biar aku habisi anak muda seperti kalian bersama-sama!!"


"Heng! Kau pikir aku bisa mati? Untung saja kau lupa membakar mayataku, karena jika tidak, aku tidak akan bisa membalas dendamku padamu!!!"


Hiyaaaaaa!!


Hiyaaaaaa!!


Swosh!!


Splash!!


Pertarungan yang lebih berat akhirnya terjadi. Dua lawan satu antara Alexa yang berkawan dengan Arsello untuk melawan Valheins yang sekarang nampaknya sudah berdiri seorang diri.


Tentunya karena dia yang terlalu ceroboh, bisa-bisanya memilih untuk membunuh Arsello hanya karena pemuda itu tidak bisa meredakan hujan. Bahkan anak kecil pun sudah pasti akan menertawakan tingkah lakunya yang sudah semakin aneh.


"Hahh! Dasar para anak muda! Kalian bisanya hanya terlena dengan kenikmatan dunia, bercerminlah pada Riyana dan Sean, yang akhirnya harus hidup sengsara karena mereka terlalu terbuai pada kenikmatan dunia!" Ucap kakek tua itu sambil terus mencoba melawan cucu dan sekaligus keponakannya.


"Sekarang aku tahu, kenapa kau memilih untuk mengkhianati keluarga kita, itu karena kau yang terlalu tamak dan juga bodoh!" Ucap Alexa agaknya dia sudah tidak peduli lagi akan ucapan menghormati yang lebih tua.


"Kau juga membiarkan kedua orang tuaku terbunuh saat itu!" Ucap Arsello sembari berhenti melawan sang paman, dan juga mencoba untuk beristirahat sejenak.


"Seharusnya aku berpikir sampai kesitu, kau juga terlibat dalam rencana kejam untuk kedua orang tuaku!" Sambung Arsello, agaknya dia mulai membuka pikirannya.


"Kau sangat salah! Orang tuamu lah yang telah mengkhianati aku! Dasar anak tidak tahu diri! Aku sudah menyelamatkan kamu, tapi kau sama sekali tidak berniat untuk membalas budi atas kebaikanku!" Jawab Valheins tak mau kalah dari Arsello.


"Oh ya? Benarkah? Bukankah kau sendiri yang meminta kedua orang tuanya untuk mencuri benda berharga milik kelompok serigala? Kakek?" Tanya Alexa.


"Apa?"


Wajah Valheins dan Arsello menampilkan rasa terkejut yang luar biasa. Mereka bahkan dibuat tertegun untuk sesaat, sebelum akhirnya Alexa membangunkan mereka dari lamunan.


Bukk!


"Arkh!"


Satu tendangan kaki Alexa berhasil mendarat tepat pada wajah Valheins tanpa ampun, hingga membuat pria itu tersungkur dan merasa kesakitan.


"Maaf kakek, kau tidak pernah mengajarkan cucumu ini sopan santun, maka dari itu, mulai sekarang menyesal saja, karena putrimu telah melahirkan seorang gadis yang akan mencabut nyawamu kemudian hari." Ucap Alexa sambil tersenyum ke arah kakek tuanya.


Sementara itu Arsello masih dibuat tertegun di tempatnya, bahkan sampai jatuhnya Valheins ke tanah pun, dia masih tidak sadar, atau mungkin dia memang belum bisa tersadar dari lamunannya.


"Lihat saja, anak muda ingusan seperti kamu, apanya yang bisa kau banggakan saat di depanku!"


Swosh!


Pria tua itu berlari kencang, meninggalkan Alexa dan Arsello di atas tebing yang tinggi, hingga akhirnya kini rasa canggung di antara mereka berdua pun harus terjadi.


Alexa menatapi sang kakek yang menjadi pengecut di depan cucunya sendiri. Dia tak menyangka, kalau sang kakek rupanya hanya sebujur bangkai yang sebenarnya tidak pernah berguna, hanya saja, terkadang bangkai ditutup begitu rapat, hingga tak pernah tercium sedikitpun aroma bangkai itu.


Gadis itu menata degup jantung dan nafasnya agar berirama lebih teratur, kemudian dia nampak berbalik, berniat meninggalkan tempat itu, untuk mencari keberadaan Shaga.


"Tunggu!"


Namun baru saja dia hendak berbalik, Arsello terdengar memanggilnya, dan hal itu justru membuat dirinya memaksa menghentikan langkah kakinya.


Alexa tak menjawab panggilan Arsello, dia hanya terlihat mengambil kembali kain wol milik Shaga yang sudah basah kuyup, kemudian dia beralih memerasnya.


Sementara itu, sang pria tangguh dari kalangan vampir tampak mendekat ke arahnya, kemudian menatap kedua matanya dengan seribu tanda tanya yang tidak bisa dia ungkapkan.


Dia memang tak bisa berkata-kata lagi, dia terlalu terkejut dengan pernyataan Alexa beberapa saat yang lalu. Mulutnya bahkan masih saja terkunci dengan rapatnya meskipun kakinya terus melangkah mendekat ke arah gadis di depannya.


"Kenapa? Kau bingung akan perkataan aku?" Tanya Alexa pada pria itu.


Arsello tidak menjawab pertanyaan dari Alexa, dia hanya memalingkan wajahnya, namun sejujurnya dia sangat menantikan penjelasan yang sesungguhnya dari Alexa.


"Maaf, Tuan muda yang sombong, aku tidak bisa memberi kamu penjelasan kali ini, jika kau mau mendapat penjelasan dariku, maka kau harus menolong aku," ucap Alexa, dia terlihat tengah memberi penawaran.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Mereka sudah berdiri dengan gagah berani setelah kemenangan berhasil mereka raih, ribuan jasad terbakar hangus di atas bara api yang berkobar dengan lahapnya.


Namun baru saja mereka mengatur nafas dan detak jantung mereka supaya lebih tertata, ribuan vampir yang lain kembali menyerbu, menggantikan posisi para vampir yang tumbang sebelumnya.


"Oh, tidak, kalian tidak tahu betapa lelahnya aku menghadapi ini semua?" Tanya Collab pada dirinya sendiri, "apa aku harus kabur? Baiklah, mari kita lawan dan menguasai tanah kita ini!!"


Hiyaaaaa!!


Namun semangat yang membara dan ambisi ingin menang, kembali menguasai tanah mereka yang sudah direbut oleh bangsa vampir, membuat mereka lupa rasa lelah dan penat yang telah berkepanjangan mereka semua rasakan.


Mereka akhirnya kembali maju, dan menyerang anggota vampir yang tersisa. Separuh dari mereka maju untuk bertempur, sementara separuhnya lagi, menyalakan kobaran api yang panas, mengelilingi pasukan vampir, hingga membuat mereka satu per satu pun harus kembali terbunuh dan terbakar habis-habisan.


Aaaaaaa


Bruk!?


Blussss!!


Aaaaaaa


Teriakan yang mengerikan pun menakutkan kembali terdengar, sampai pada titik terlemah para anggota vampir yang kini tinggal separuhnya saja, dan akhirnya Arsello meneguk ludahnya menahan rasa takut dan ngeri terhadap pertarungan menakutkan itu.


Mereka berdiri dengan gagah berani di atas jembatan yang tingginya lebih dari dua puluh meter. Mereka menatapi perkotaan para vampir yang kini terlihat berhasil dibumihanguskan oleh pasukan serigala yang jumlahnya tidak seberapa besar dibandingkan dengan kelompok vampir.


"Lihatlah, kalian bersusah-payah merebut tanah ini untuk kalian tempati, dan sekarang, pemilik sesungguhnya tanah ini, sudah datang, kau tidak bisa apa-apa," ucap Alexa pada Arsello yang gelagapan melihat pasukannya sudah hampir merata dengan tanah, menjadi abu dan bersatu dalam kobaran api yang panas.


"Bisa-bisanya kamu masih bersantai di sini, sementara mereka tengah berperang, dan kau tidak mengambil keadilan buat mereka sama sekali." Ucap Arsello, berpikir bisa menghabisi Alexa dengan perkataannya barusan.


Namun si gadis hanya terlihat menoleh, dan kemudian menatap kedua mata Arsello dengan tajam, dia bukan wanita lemah yang mudah dijatuhkan hanya dengan perkataan Arsello barusan. Baginya ucapan Arsello beberapa saat yang lalu malah menunjukkan betapa bodohnya pria yang ada di depannya itu.


"Lihatlah betapa buruknya otak kamu itu!" ucap Alexa tak mau basa-basi lagi dengan pria itu, "kau sedang nerasa takut karena setengah pasukan kamu hampir habis, dan kau malah menyalahkan aku dalam situasi ini, ck, murahan!" umpat Alexa tanpa pengampunan.


Mendengar perkataan Alexa barusan, Arsello jadi diam mematung.


"Jika kau mau pasukan kamu selamat, maka turun saja sendiri ke sana, dan katakan untuk menghentikan perang ini, begitu terdengar jauh lebih baik," ucap Alexa sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket wol milik Shaga yang kini telah dia kenakan, "tapi jujur saja, aku tidak yakin mereka akan mendengarkan kata-kata kamu, mungkin saja, mereka malah akan memanggang kamu di atas bara api itu!" ucap Alexa memberi penekanan pada Arsello.


Hal itu tentu saja membuat Arsello memaksa kedua matanya untuk menatap api yang berkobar semakin panas dan semakin banyak memakan korban vampir pasukannya. Asap yang mengepul dengan warna hitam pekat, bahkan api yang berkobar semakin panas itu tidak pernah padam meski hujan rintik-rintik masih saja turun menggenang di atas tanah.


"Aku tidak percaya Tuan Valheins bahkan mengkhianati dirimu." Ucap Alexa sekali lagi, membuat Arsello semakin merasa gemetar.


"Dan kau bahkan bukan apa-apa jika aku sudah berkuasa di sini!" sekali lagi Alexa berhasil melumpuhkan pria di sampingnya.


Pria itu mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Bahkan kehidupan barunya setelah sebelumnya dia terpenggal dan hampir lenyap itu, nyatanya masih saja sama, berada dalam kehancuran yang nyata.


"Katakan apa yang kau mau!" ucap Arsello dengan bergetar.


Mendengar pertanyaan dari Arsello barusan, Alexa akhirnya bisa menyunggingkan senyuman di bibirnya. Rupanya dia sengaja menjebak Arsello untuk mengatakan hal itu padanya. Dan akhirnya, pria itu benar-benar jatuh dalam jebakannya.


Namun Alexa tak mau buru-buru mengatakannya, bukankah langsung mengatakan poinnya adalah cara yang sangat kekanak-kanakan?


Ya, agaknya dia perlu sedikit berbasa-basi untuk berbincang lebih serius dengan pria ini. Dia pun mulai kembali menatap lautan peperangan yang ganas di perkotaan vampir, dan menyaksikan semakin menyedihkannya para vampir yang harus berjatuhan di sana dengan sangat mengenaskan.


Keduanya terdiam agak lama, sampai pada akhirnya, Alexa membuat sebuah kejutan..


"Bebaskan ibuku, aku juga tidak mau mengotori kedua tanganku untuk mengatasi kakek kandungku," ucap Alexa dengan wajah datar, tanpa ekspresi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...