
Mereka pun mulai disibukan dengan peperangan dengan kekuatan dua kubu yang sama-sama kuat dan tidak mudah untuk di hancurkan.
Tuan Wilmer yang bekerja sama menghadapi para musuh dari kelompok vampir, yang terkenal dengan lari cepatnya, yang terkenal dengan dua gigi taring tajam mereka, juga terkenal dengan hawa dinginnya.
Meskipun mereka agaknya tak punya kekuatan lebih dari mereka para kelompok vampir, tapi mereka bukan pejuang sembarangan, yang bisa dikalahkan dengan mudah hanya dengan mendengar kata pembunuh berdarah dingin.
Hiyaaa!
Swosh!
Blam!!
Roamm!!
Mereka terus menyerang dengan gagah dan beraninya, terus maju dan menghabisi para vampir itu, memasukkan mereka ke dalam api, dan membakar para vampir itu dengan penuh kepuasan.
Seakan mereka tengah berada dalam kehausan yang teramat sangat, dan saat menghadapi para anggota vampir yang juga begitu ambisius, mereka jadi semakin tertantang.
"Hei, Nak! aku tahu ini sangat mendadak, tapi aku sudah melamar putri Sean untuk kamu!" Ucap Wilmer di tengah-tengah pertempuran.
Dan ucapan itu berhasil membuat Shaga tertegun di tempatnya, berhenti sejenak dari Peperangannya.
"Apa kau bilang?" tanya pria muda itu terlihat terkejut mendengar perkataan dari sang ayah.
*Aku bahkan belum menyiapkan cincin kawinnya*.
Gumam Shaga dalam benaknya, dia bahkan mengabaikan pertarungan yang sangat sengit di arena pertandingan, dia bahkan lupa saat ini dia sedang dicap sebagai pejuang, apa dia sungguh tertegun hanya karena ucapan dari sang ayah?
"Apa kau mau jadi patung untuk seharian? cepatlah bantu ayah, jangan pusingkan soal cincin kawin, ayah yang akan bertanggung jawab." Ucap Tuan Wilmer saat menyadari kalau putranya tengah berada dalam lamunan, dan bukankah dengan begitu dia semakin merasa sempit di tengah peperangan?
Dengan segera Shaga tersenyum, membersitkan senyum simpulnya di bibir, dan kemudian berbalik dengan gagah berani menaklukkan para vampir itu.
Agaknya mendadak dia memiliki kekuatan saat mendengar kejutan dari sang ayah. Agaknya dia sangat menyukai berita yang ayahnya berikan itu.
Dia pun kembali mengayunkan pedangnya, sejak mulai berperang dia memang berubah menjadi sosok manusia, sebenarnya tidak masalah juga kalau dia mau tetap pada tubuh berbulu lebatnya, hanya saja, dia sedang ingin menunjukkan ketangkasan dan kekuatannya saat berwujud manusia, dan itu semua hanya dia tunjukkan pada Alexa.
*Baiklah, aku juga harus membuktikan diriku*.
Dia pun menjadi begitu bersemangat, agaknya gadis bernama Alexa yang pada saat itu berhasil dia cium dan dia kuasai bibirnya itu telah membuat dirinya tenggelam dalam balutan cinta.
Seperti pemuda pada umumnya, yang jatuh cinta dan ingin memiliki seorang wanita untuk seumur hidupnya, Shaga pun sama. Meski sejak awal dia tidak pernah tahu kalau ternyata Alexa itu adalah seorang putri dari tempat dimana dia berasal, tapi memang sejak awal dia telah menaruh perhatian pada Alexa.
Terbukti saat Tuan Wilmer yang pada saat itu masih menjadi monster nan ganas, dengan amarah yang luar biasa itu tengah mencoba untuk menyantap satu gadis terakhir sebagai penutup perjalanannya, Shaga yang mulanya berniat untuk memberikan Alexa pada sang ayah pun mendadak jadi bergeming, hatinya tergerak untuk menyelamatkan gadis ini, sampai akhirnya Wilmer mengejar mereka, dan membuat mereka harus tersesat di tengah hutan, hanya berdua saja..
Entah sejak kapan dia merasa jatuh cinta pada sosok Alexa, entah sejak dia pertama kali saat Alexa menyerang anggota Black Sweet pimpinan mendiang Muba yang tewas karena menjadi korban terkahir dari Tuan Wilmer, atau mungkin saja saat dia membawa gadis itu ke rumahnya, ia tak pernah bisa tahu.
Dan sekarang dia hanya melihat kalau Alexa begitu sempurna pada pandangan matanya. Seakan gadis itu tidak memiliki celah apapun di segala sisi, dan itu telah membuat Shaga merasa terjatuh dalam kesempurnaan Alexa.
Saat Shaga tengah asik bermain dengan para anggota vampir, di sisi lain juga terlihat Alexa yang tengah berjuang keras pun juga mati-matian untuk menjatuhkan Valheins dengan pedang leluhur di tangannya.
Di sampingnya terlihat Arsello yang juga sudah bersiap untuk segera menyerang Valheins apapun yang akan terjadi, karena bagi dirinya sekarang, dia harus membalas semua perbuatan orang-orang yang menyakiti ayah dan ibunya di masa lalu.
Entah itu seorang paman, atau mungkin seorang pria tua yang pernah mengiming-imingi dia sebuah kekuasaan.
Ia tak perang lagi merasa peduli.
Mungkin dia benar-benar sudah kecewa, dia sudah tidak mau lagi mempercayai semua bisikan-bisikan yang sengaja diucapkan oleh Valheins di kedua telinganya.
Ia tak akan pernah lagi bisa untuk dibodohi.
Dia tampak berjalan mendekat ke arah pertarungan antara Alexa dan Valheins, sembari melarak pedangnya dengan sangat gagah pun juga berani, seakan pedangnya itu telah benar-benar merasa kehausan, haus akan sebuah daging tua yang telah berusia ratusan tahun, dia benar-benar menginginkan balasan atas dendam ini.
Trang!
Bruk!
"Arkh!"
Pekik Alexa sesaat setelah dia terjatuh karena serangan yang dilakukan oleh Valheins padanya. Kebetulan dia terjatuh di kaki Arsello, membuat pria itu lekas berhenti melangkahkan kedua kakinya.
Valheins tampak tertawa, dengan sangat sombong dan juga arogannya, ia bahkan tidak ingat kalau dirinya sudah tidak pantas lagi untuk hidup.
Arsello, memberi uluran tangannya untuk Ale a, membantu gadis itu bangkit dari jatuhnya, dan kemudian berdiri lah dua orang itu berjejer di hadapan Valheins.
Ha.. ha.. ha..
"Kalian masih sangat romantis, tapi sayang sekali, Arsello, jika dia mempertahankan kamu haru ini, bisa jadi dia hanga ingin dia sendiri yang membunuh dan membakar sekujur tubuhmu," ucap Valheins, sama seperti biasa, mencoba untuk memberi bisikan menakutkan dan mengerikan di kedua telinga Arsello.
"Kemarilah, keponakanku, kita kembali merangkai impian indah dulu di masa lalu, kau sudah bersedia melakukannya untuk diriku, dan itu artinya kau telah melakukan janji di masa lalu." Ucap Valheins membujuk Arsello.
Ia tidak menampilkan wajah takutnya, tapi dia tidak bisa menahan kecemasan di dalam hatinya, cemas pun juga takut apakah mungkin dia bisa melawan dua pemuda di depan tempat dia berdiri itu.
Meskipun bagi Valheins Alexa masih belum cukup kuat untuk menyerang dirinya, tapi saat datang Arsello untuk membantunya, bukankah semuanya akan berkahir dengan sangat mudah.
Dia pasti hanya akan jatuh dalam kekalahan, karena itulah dia meminta pria itu untuk terus mengikuti dirinya, mengikuti seluruh kemauan nya hanya dengan membisikkan sebait dua bait kalimat untuk membujuknya.
Namun Arsello bukan pria yang bodoh. Sudah cukup bagi dirinya untuk dibodohi dan dibohongi dengan sihir selama bertahun-tahun lamanya, dan sekarang, sekarang adalah saatnya menunjukkan tanpa Valheins pun dia pasti bisa melakukan apapun.
*Maaf, Paman Valheins, aku harus kembali pada dendam lamaku, yaitu jangan pernah melepaskan seseorang yang telah membunuh ibuku*.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...