Alexa

Alexa
#Arsello Melawan Kelompoknya Sendiri



Mereka berjalan mengarah pada Istana Valheins yang berdiri dengan kokohnya di tengah-tengah kehancuran. Ketiga orang itu terlihat terus berlari secepat yang mereka bisa, setelah mereka bertiga menyadari adanya sosok yang sangat penting bagi mereka.


Sosok yang sangat penting bagi Alexa, juga sosok yang paling penting bagi Arsello. Jika wanita itu tidak ada dalam genggaman tangannya, dia akan semakin kesulitan untuk membuat Alexa mengungkap semuanya di masa lalu.


Sejauh ini dia memang hanya bisa mempercayai Alexa, tidak pada Valheins, atau pada dirinya sendiri pun tidak. Dia hanya bisa mencoba untuk membawa kembali Riyana dari Valheins, dan dengan begitu dia akan mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan dalam benaknya.


Mereka berjalan semakin jauh saja dari pertemuan awal, di ujung tebing yang tinggi. Mereka terlihat telah tiba sampai di pelataran istana Valheins, dan sebentar mereka berdiri menatap istana yang tampak gahar berdiri dengan tegak nan menyeramkan.


Mereka takkan menyerah hanya dengan melihat kondisi istana yang sangat gelap dan mencekam itu, bukan? Atau mereka bahkan tidak lagi merasa berani untuk melangkah maju ke depan dan menemui Valheins?


"Kenapa kamu berhenti?" Tanya Arsello pada gadis di sampingnya.


Dia menatapi wajah Alexa, yang entah mengapa sekarang malah terlihat ragu. Entahlah, dia tidak bisa menolak, siapapun yang masuk ke dalam istana milik Valheins ini memang pastilah akan diselimuti dengan rasa takut. Mungkinkah hal itu juga terjadi pada Alexa?


"Apa kau takut?" Tanya Shaga pada Alexa, dia pun terlihat sedikit cemas.


Mendengar pertanyaan dari Sahga barusan, Alexa sontak menoleh. Dia menatap kedua mata Shaga meski hanya sekilas, lalu kembali menatap istana Valheins di hadapannya.


"Tidak! Aku tidak takut! Aku hanya melihat, ada peperangan besar di dalam sana.."


*Dan agaknya itu kedua orang tuaku*..


Benak Alexa melanjutkan ucapan di bibirnya. Namun dia tidak mengungkapkan semua itu di depan kedua pria ini. Dia tahu, musuh tetaplah musuh, sampai kapanpun, entah dia sudah berubah dan bergabung dengan dirinya sendiri, itu hanya topeng.


Agaknya dia sedang mencurigai Arsello. Bagaimanapun dia mengandalkan paman Arsello nya itu, tapi dia tetap tidak akan pernah bisa mempercayainya. Bukankah musuh selamanya akan tetap menjadi pembenci?


Ia tahu Arsello tidak akan melakukan semua kemauannya secara cuma-cuma, apalagi untuk menuruti setiap apa yang dia mau. Tapi dia tahu, pria ini, punya pemikiran yang jauh lebih menakutkan tentang kedua orang tuanya.


Agaknya memberikan kejutan besar di akhir cerita akan jauh lebih menyenangkan.


Tak lama setelah itu, datanglah sekelompok vampir yang menyerbu mereka. Sekitar ratusan, dan masing-masing dari mereka membawa senjata bermacam-macam, ada yang membawa pedang, tombak, dan palu bergerigi.


Alexa tersenyum miring. Dia punya ide bagus untuk melancarkan aksinya.


"Oh tidak, mereka datang.." ucap Arsello.


"Biar aku yang hadapi mereka!" Ucap Shaga dengan yakinnya.


"Tidak!" Namun Alexa malah mencegat Shaga untuk maju ke depan, dia menghalangi jalan Shaga dengan satu tangannya.


Kedua pria di sampingnya hanya bisa terdiam. Mereka dibuat bingung dengan aksi Alexa mencegat langkah kaki Shaga kali ini. Entah apa yang dipikirkan oleh Alexa, tapi sebenarnya dia punya rencana yang lebih baik.


*Karena aku ingin melihat seberapa besar kamu memiliki keinginan untuk menjadi penguasa*..


Benak Alexa berbicara. Agaknya dia mengarahkan kata-katanya itu pada salah satu sosok pria yang berdiri di sampingnya.


Bukankah seseorang yang ingin menjadi penguasa, akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan? Baiklah, mari kita lihat, benarkah hal itu?


*Lagipula aku tidak mau kau tahu tentang monster itu lebih dulu, yang kemungkinan besar adalah ayah kandungku*..


Benak Alexa berkata-kata lagi.


"Paman Arsello, aku tahu kamu jauh lebih hebat dibanding Shaga, atasi mereka!" Ucap Alexa tanpa melirik sedikitpun ke arah Arsello.


"Apa?" Sontak Shaga dibuat terkejut. Ia merasa kali ini Alexa meremehkan dirinya yang lemah, entahlah, dia hanya berpikir demikian, "tapi Alexa.."


"Benar, kan, Paman Arsello?" Tanya Alexa pada Arsello di sampingnya, kali ini dia menatap dan bahkan tersenyum ke arah Arsello.


Arsello yang mendapat lemparan senyum dari Alexa itu hanya bisa mematung. Dia bahkan sudah mendapat pujian dan juga ucapan kepercayaan dari Alexa. Tapi sejujurnya, dia juga tidak mau menjatuhkan bangsa vampir. Tentu saja dia mau tetap berada dalam kubu mereka, bukankah selamanya dia hanya sebatas vampir?


Dia tidak bisa menolak, tapi juga tidak bisa menghabisi kelompoknya sendiri dan menghabiskan tenaganya untuk melawan kelompoknya sendiri. Meskipun mereka telah menganggap Arsello sebagai pengkhianat besar, tapi bukankah kelak dia akan membutuhkan jumlah pasukan vampir yang sangat banyak?


"Bagaimana Paman Arsello? Apa kau mau melakukannya?" Tanya Alexa sekali lagi. Bahkan gadis itu tahu apa yang tengah di pikirkan oleh Arsello.


Dia tahu paman dari pihak ibunya ini tengah dibuat bingung dan juga cemas bagaimana akan mengambil sebuah keputusan.


*Heng! Aku tidak yakin kau akan jadi pemimpin di kemudian hari, jika sikap kamu sangat lemah begini*.


"Baiklah, masuk saja ke dalam, aku akan mengatasi mereka semua." Jawab Arsello dengan sangat terpaksa.


Dia akhirnya hanya bisa mengambil keputusan yang entah salah atau benarnya sendiri dia tidak pernah tahu. Sejauh ini dia memang sangat penurut, dia berpikir jika dia bekerja sama dengan Alexa untuk mengalahkan Valheins, dia akan lebih mudah menyingkirkan musuh-musuhnya. Hanya saja, dia tak pernah tahu, kalau Alexa sebenarnya adalah musuh terbesarnya yang harus dia takuti.


"Terima kasih, Paman Arsello, kau adalah yang terbaik." Puji Alexa tanpa sungkan, "kami percayakan semuanya padamu!"


Tanpa berpikir panjang, segera saja Alexa membawa lari Shaga dari tempat tersebut, menuju ke arah pintu masuk ke dalam istana Valheins, melalui ribuan tombak yang berperang melawan mereka, sampai akhirnya mereka bisa masuk dengan mudah ke dalam istana Valheins.


Apalagi di luar sana Arsello menjadi titik utama para kaum vampir dan hal itu memang memudahkan Alexa dan Shaga untuk berjalan masuk tanpa perlawanan.


Dan sekarang dia hanya bisa berdiri bersiap-siap untuk melawan pasukannya sendiri. Dia mengambil pedang di sisi pinggang kirinya, dan kemudian mengambil posisi ancang-ancang.


"Bukankah itu Tuan Arsello?" Tanya seorang prajurit di dalam penyerangan.


"Heh! Dia benar-benar pengkhianat besar!!" Sahut satunya lagi.


"Mari kita habisi pengkhianat besar itu!!"


Hiyaaaaaa!!


"Aku hanya berdiri di atas kakiku sendiri!! Mari kita bandingkan!!"


Hiyaaaa!!!


Swosh!


Blam!


Trang!


Dan peperangan pun terjadi. Perang antara Arsello yang melawan kelompoknya sendiri, dan itu terjadi karena ide Alexa.


Gadis itu tetap berjalan meski dengan perlahan sembari mencari celah untuk bisa masuk ke dalam aula besar singgasana Valheins. Sayang sekali, dia hanya bisa mengandalkan instingnya yang kuat untuk mencari keberadaan Valheins di dalam istana ini.


Dia dan Shaga berjalan beriringan, sambil mengawasi sekeliling, merasa was-was saja kalau-kalau ada yang menyerang mereka secara tiba-tiba.


Hosh! Hosh! Hosh!


Suara nafas Shaga sedikit terdengar keras, mungkin dia merasa gugup atau semacamnya, mengingat dia memang salah satu pria yang agak, ya, lemah.


Dia tampak berkeringat cukup deras membanjiri bagian kening dan juga dadanya yang bidang, dan hal itu membuat Alexa segera menyadarinya.


Dia menoleh ke arah Shaga, setelah indera penciumannya yang tajam mulai mencium aroma tubuh Shaga yang sangat bau itu. Semua itu diakibatkan oleh keringat dan nafas Shaga yang terdengar sangat memburu.


Jika hal itu dibiarkan begitu saja, bukankah akan mengancam posisi mereka sekarang? Bukan karena apa, jika melawan pasukan vampir yang berjumlah ribuan itu memang tidak terlalu bermasalah, hanya saja, mereka tidak punya banyak waktu untuk melawan mereka.


"Shaga, tenangkan dirimu." Ucap Alexa sambil menatap mata Shaga, dengan merapatkan tubuh mereka pada dinding.


Tak tak tak tak tak!


Suara langkah kaki terdengar di telinga mereka, suara langkah kaki yang bergerombol dan mulai mendekat ke arah mereka dari sisi yang lain. Sementara keduanya masih berdiri dan mematung di sana, dengan aroma tubuh Shaga yang semakin menusuk ke dalam hidung.


"Aku rasa aku mencium aroma anjing di sini, apa mungkin aroma ini berasal dari monster yang tengah melawan Nona Riyana di dalam aula singgasana Raja?" Tanya salah seorang vampir pada salah satu kawannya.


Sementara Alexa membekap mulut Shaga dan mencoba menenangkan Shaga. Keduanya bersembunyi di balik dinding yang lainnya, di dalam kegelapan yang mungkin saja tidak akan bisa membuat para vampir itu melihat keberadaan mereka berdua.


"Iya, itu mungkin." Sahut salah satunya lagi.


"Ngomong-ngomong soal Nona Riyana, kenapa selama ini Tuan Valheins tidak pernah membicarakan soal putrinya itu, ya? Sampai-sampai kita semua mengira kalau putri Riyana sudah tewas."


"Entahlah, semuanya serba teka-teki, kehidupan para bangsawan memang selalu saja terasa rumit." Sahut satunya lagi, mereka bahkan tidak bisa menebak kemana kiranya Putri Riyana selama ini menghilang.


Dan perbincangan mereka mulai tenggelam bersamaan dengan langkah kaki mereka yang semakin jauh saja dari tempat Alexa dan Shaga berdiam diri untuk bersembunyi.


Dan sekarang keduanya kembali merasa tenang.


Huhh!


"Aku rasa keringatku keluar semua," ucap Shaga pada Alexa.


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kelompok vampir pun tidak ada yang tahu tentang hilangnya Putri Riyana, mungkin Valheins telah menyihir otak mereka semua sampai tidak tahu hal yang seharusnya jadi trending topik di negara ini." Ucap Alexa jauh dari perbincangan yang Shaga bicarakan sebelumnya.


"Ngomong-ngomong, aku ingin tahu apa alasan kamu memilih Arsello untuk bertarung di depan sana melawan pasukannya sendiri." Ucap Shaga malah melenceng lebih jauh lagi topik perbincangannya.


"Kenapa lagi? Musuh selamanya tetaplah menjadi musuh, kenapa harus mempercayai musuh?" Jawab Alexa pada Shaga.


Keduanya kembali berjalan ke depan, "maksud kamu? Kamu tidak percaya pada Arsello?" Tanya Shaga pada Alexa, dia memang tidak terlalu pintar seperti saat dia masih di dunia manusia, "jika begitu, kenapa kamu memilih dia untuk membantu kamu? Sejak awal kamu tahu dia hanya akan menjadi musuh kamu," sambung pria itu lagi.


"Karena dia punya ambisi yang kuat, aku tidak mau mengotori tanganku sendiri untuk membunuh kakek kandungku, mengerahkan orang lain untuk melakukannya, adalah ide terbaik, bukankah membuat mereka berdua saling melawan adalah cara yang lumayan cerdas untuk menjatuhkan mereka sekaligus?"


"Wow! Kau sungguh rumit."


"Aku tahu.."


Keduanya melanjutkan perjalanan, mencari dimana kiranya aula singgasana milik Valheins itu berada.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



*Ayolah, Riyana, aku mohon bangunlah*!


Benak Sean berkata-kata, tidak bisa membangunkan istri kesayangannya dengan apapun, selain dengan kata hatinya, yang mungkin akan segera membuka mata Riyana dan membuat wanita itu segera tersadar.


Namun sang istri di depannya tampak semakin mendekat ke arahnya, dengan hawa yang sangat dingin dan menusuk, meski tatapan mata Riyana itu begitu kosong.


Sean melihat jeratan itu jelas terlihat pada kedua mata Riyana. Mata yang terasa mati dan juga raga yang dikendalikan oleh Valheins.


. Kakek tua yang sangat kejam dan tidak pernah tahu kasih sayang dan cinta, atau mungkin, pria itu sengaja menutup dirinya dari dua hal tersebut di dalam hidupnya.


Yang ada pada diri Valheins hanyalah kekuasaan, kekuatan, dan hidup abadi. Dia hanya menginginkan tiga hal tersebut, dan tidak ada hal lain lagi yang dia inginkan selain ketiganya.


Riyana semakin mendekat, namun Sean masih belum juga menyadarkan sang istri.


"Riyana, bangunlah, ini aku, ini suami kamu, bangunlah Riyana, maaf aku tidak bisa menyelamatkan kamu selama ini, Riyana bangunlah.." ucap Sean masih mencoba untuk menyadarkan istrinya.


Sang istri berteriak dengan keras, meronta dan minta untuk dibebaskan, meski hal itu hanya terjadi di dalam hati kecilnya yang terpenjara di dalam dirinya sendiri.


"Sean!! tolong aku! aku tidak ingin melawan kamu! aku tahu itu kau! cobalah untuk menolongku, Sean! aku tidak bisa berhenti melangkah, aku sungguh tidak bisa!!"


Begitulah benaknya meronta ingin dibebaskan dari jeratan yang memenjarakan sekujur tubuhnya, kecuali hati kecilnya yang sangat lemah. Dia tahu monster di depan matanya itu adalah suaminya, dia bahkan ingin sekali memeluknya, namun kekuatan Valheins terlalu besar, kekuatan yang memenjarakan dirinya dan mengendalikan dirinya hanya dengan pikiran, dan dia masih harus berjalan semakin dekat untuk melawan suaminya sendiri.


"Riyana, aku mohon bangunlah!" ucap Sean sekali lagi, dan untuk yang ke sekian kalinya, Riyana tidak bisa membebaskan dirinya.


Riyana sudah di depan mata Sean. Wanita itu kemudian menatap kosong wajah Sean yang sudah menjadi si buruk rupa dengan kutukan besar di dalamnya, sampai pada akhirnya..


Swosh!


Pedang dia ayunkan, mencoba menyerang Sean dengan bisikan maut dari mulut penuh sihir milik Valheins.


"Riyana, aku tahu kau mendengarkan aku.." ucap Sean dengan lirih.


Namun otak Valheins tidak pernah berhenti merapal mantra, mantra yang sejak tadi mengendalikan Riyana dengan mudahnya, hingga akhirnya pria itu berbisik lirih pada mulutnya.


"Bunuh dia.." bisik Valheins dengan lirih, bahkan dari jarak yang cukup jauh dari Riyana.


Tapi dengan kekuatannya, bisikan itu sampai pada telinga Riyana, membuat sebuah peperangan pada akhirnya harus terjadi.


Swosh!


Trang!


Dan untuk pertama kalinya Riyana bertindak melawan suaminya yang telah dia rindukan sejak lama. Dia maju dan terus melawan suaminya dengan pedangnya, dan berusaha untuk menjatuhkan Sean serta membunuhnya kalau bisa.


Meski hatinya teramat memberontak, tapi raganya tak mampu dia kendalikan. Dia terus berada dalam kendali Valheins, dan tidak bisa berbuat apapun selain mengikuti arahan Valheins.


Trang!


"Riyana, bangunlah, ini aku suami kamu, ingatlah Riyana.."


Swosh!


Sling!


Sling!


Sean mana mungkin aku lupa siapa kamu, meski kamu datang dengan wujud yang berbeda aku tetap bisa mengenali kamu, hanya saja, aku tidak bisa menghentikan diriku sendiri!


"Riyana!!"


Cklek!


Blam!!


"Hentikan permainan ini!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...