Alexa

Alexa
#Kau Harus Bebas



Gadis itu seketika mundur, juga merasa terkejut dengan apa yang barusan dia lihat. Masa lalu mosnter menakutkan ini, masa lalunya.


"Apa yang kau lakukan?" Tanya Arsello pada gadis di sampingnya itu.


Namun Alexa masih dibuat tertegun dengan kejadian barusan. Dia sungguh tidak pernah menyangka, kalau sesungguhnya, monster ini adalah ayah kandungnya.


Tidak bisa! Dia tidak bisa memberitahukan hal ini pada Arsello, atau sesuatu yang jauh lebih besar akan terjadi. Dia tidak bisa mengatakan semuanya, kecuali, pada Paman Collab dan Tuan Wilmer keprcayaannya.



Ia berjalan dengan sangat cepat, berlari dan akhirnya menyerupai angin topan tornado yang menerpa apa saja yang dilaluinya. Dia bahkan tidak ingin menunda waktu lagi, sampai akhirnya, tibalah dia di pemukiman bangsa serigala.


Dia langsung mendapati seorang pemuda di sana, yang berdiri dengan sangat gagah pun juga berani, tengah menatapnya sejak dari kejauhan. Namun tatapan mata itu, sungguh dia abaikan.


Swosh!


Dia pun berhenti tepat di hadapan pemuda itu, "Shaga, dimana Paman Collab?" Tanya dia tak ingin basa-basi lagi.


Namun pemuda di depannya tidak menjawab satu patah katapun dari Alexa. Dia hanya terus menatap kedua netra Alexa, sampai-sampai Alexa dibuat tertegun karenanya.


Apalagi ekspresi yang ditunjukkan oleh Shaga padanya, mengapa ekspresi itu sangat mengerikan? Apa dia sedang punya masalah yang tidak bisa diselesaikan?


"Shaga, aku tidak sedang main-main, aku tanya dimana Paman Collab sekarang." Ucap Alexa lagi agaknya dia tak ingin terlalu banyak membuang waktunya dengan percuma.


Tapi Shaga malah semakin aneh. Pria itu bahkan tidak menggubris perkataan Alexa barusan, dan hanya mencoba untuk semakin mendekat ke arah Alexa, lalu mengunci tubuh gadis itu dengan pelukannya.


Hap!


"A?"


Alexa tampak tertegun, semakin tertegun apalagi Shaga tidak mendekapnya dengan hangat, melainkan dengan keras dan juga, agak kesal.


Merasa ada yang aneh dengan pemuda itu, dia pun akhirnya memilih untuk mencoba melepaskan diri dari jeratan Shaga. Dia tidak terlalu nyaman dengan posisi semacam ini, rasanya memang agak aneh saja dipeluk dengan kondisi seperti ini oleh Shaga.


"Shaga, lepaskan aku, aku mohon!" Ucap Alexa sambil berusaha melepaskan diri dari jeratan tangan Shaga.


Namun sekuat apapun dia mencoba, pada akhirnya dia tetap kalah. Kekuatan yang dimiliki oleh Shaga pada saat ini memang tidak bisa dia remehkan. Dan karena itulah dia jadi ingat akan suatu hal.


Virus itu!


"Shaga!" Panggil Alexa pada Shaga.


"Diamlah, aku hanya rindu padamu, apa aku tidak bisa memeluk kamu walau sebentar saja?" Tanya Shaga pada Alexa, bak seperti dimabuk kepayang, "seharian kamu tidak ada di sini, aku merindukan kamu, kemana kamu pergi?" Sekarang Shaga menajdi sangat aneh lagi.


Dan Alexa sungguh menyadari semuanya. Dia tahu ada yang tidak beres memang pada Shaga, dan dia sudah bisa memastikan, virus itu ada hubungannya dengan tingkah aneh Shaga itu.


"Shaga sadar! Shaga lepaskan aku!" Ucap Alexa semakin memberontak, dan pada akhirnya, pemberontakan itulah yang berhasil melepaskan dirinya dari jeratan pelukan Shaga.


"Arkh!!"


Pria itu terdengar memekik manakala mendapati gadis dalam dekapannya malah memberontak dari pelukannya, pelukan kerinduan yang tidak bisa dia ungkapkan, sekaligus pelukan kebencian dan kecemburuan yang dia rasakan setelah melihat kebersamaan Alexa dan Arsello yang semakin lengket saja.


"Kenapa kamu mundur? Aku hanya ingin meluapkan kerinduan ini.." ucap Shaga sambil kembali mencoba meraih tubuh mungil milik Alexa.


"Alexa?" Dia pun menjadi marah, tidak tahu mengapa, sejak kemarin dia selalu mudah terpancing emosi. Dia sendiri tidak tahu apa alsannya, mungkin memang hanya Alexa dan Arsello yang tahu jawabannya.


"Shaga, kamu harus tahu sesuatu, dan aku berharap, kamu akan mengerti," ucap Alexa pada pria itu, lalu lekas lah dia berniat untuk pergi meninggalkan Shaga di sana.


Namun, saat dia hendak melangkahkan kedua kakinya, tangan kekar Shaga malah lebih dulu menggapainya.


Hap!


Dan hal itu sukses membuat Alexa berhenti melangkah.


"Jangan pergi, atau aku akan marah." Ucap Shaga sedikit memberi ancaman pada Alexa.


Mendengar perkataan Shaga barusan, Alexa tidak melemah sama sekali. Dia hanya terlihat menoleh dan kembali menatap Shaga dengan kedua matanya.


"Shaga, ini bukan kamu, cobalah sedikit sadar, kau tidak baik terus berada dalam jeratan ini," ucap Alexa, yang sejujurnya tidak dipahami oleh Shaga sama sekali.


"Apa maksud kamu? Hahh?" Tanya Shaga semakin dibuat tajam kedua matanya.


"Shaga, kekuatan itu, kekuatan yang ada dalam tubuh kamu itu, seharusnya kamu tidak memilikinya." Ucap Alexa tanpa ragu lagi memberitahu pada Shaga.


Namun Shaga agak terkejut mendengarnya. Dia pun hanya melepas tangan Alexa dari genggamannya, dan kemudian mundur beberapa langkah.


Alexa mulai mengerti, sikap yang ditunjukkan oleh Shaga padanya, sungguh suatu kekecewaan besar yang tidak bisa dilukiskan dengan apapun itu.


Dia akhirnya mulai mencoba berani untuk melangkah maju ke depan mendekati Shaga, lalu akhirnya mulai menjelaskan sesuatu untuk bisa dipahami oleh Shaga.


"Dengar, Shaga, yang membuat kamu semakin kuat dan juga semakin mudah marah itu, adalah virus yang bermutasi di tubuh kamu, dan jika dibiarkan begitu saja, mungkin nasib kamu akan menjadi seperti ayah kamu."


"Apa katamu?" tanya Shaga tidak yakin.


"Shaga, virus itu harus hilang dari tubuh kamu!"


Deg!


Jantung Shaga seakan berhenti berdetak, saat penjelasan itu terlontar dari mulut Alexa. Antara percaya dan juga tidak, dia bahkan terjebak di antara dua kata itu.


Dia tahu dahulu sang ayah memang berubah menjadi monster yang pemarah, dengan tubuh tinggi tegap dan juga sangat kuat melebihi apapun, tapi sejujurnya dia memang tidak pernah tahu bagaimana bisa ayahnya berubah menjadi seperti itu, apa karena sihir, atau karena sesuatu yang seperti sebelumnya dikatakan oleh Alexa.


*Tidak mungkin! apa mungkin aku*...


Ia malah terlihat saling menebak dengan pemikirannya sendiri. Ada rasa tak rela jika kekuatan yang super dahsyat ini harus direnggut dari tubuhnya, tapi dia juga merasa takut, takut saja kalau-kalau nasibnya akan menjadi sama seperti sang ayah di masa lalu.


Harus terdampar dan menghabiskan seratus nyawa seorang gadis yang masih suci sampai akhirnya benar-benar kembali menjadi seperti semula.


Dia asik bergelut dengan pikirannya sendiri, berputar-putar mencari solusi yang tepat, dan mencari keputusan yang seharusnya dia ambil untuk masa depannya.


Ia tak mau hancur, tapi dia juga tak bisa melepaskan kekuatan besar ini dari dalam tubuhnya. Lalu keputusan apakah yang akan diambil oleh Shaga nantinya?


*Tidak bisa! aku tidak bisa melakukannya*!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...