Alexa

Alexa
#Membawa Kabur



Ia mulai berjalan dengan satu gelas darah segar yang baru saja dia ambil dari seekor rusa yang tersisa di dalam hutan. Dia melangkah melalui kerumunan masyarakat vampir yang pada saat itu entah hanya tinggal berapa ribu saja.


Separuh dari mereka sudah hancur terbakar di tengah-tengah pertempuran melawan bangsa serigala kemarin. Dan sekarang kekacauan akibat pertempuran kemarin itu masih terlihat membekas di kota, membuat pemandangan yang sangat tidak menyenangkan baginya.


Dia tetap melangkah, juga tidak mau terlalu peduli dengan pemandangan kota yang sudah hancur luluh berantakan itu. Fokusnya hanya satu, pada seorang wanita yang menjadi tahanannya. Dia sudah pernah berjanji pada Alexa untuk tidak membiarkan Riyana dalam bahaya, dan dia juga sudah berjanji pada Alexa bahwa dia tidak akan pernah memperlakukan Riyana dengan perlakuan yang buruk, sejauh ini, dia memang melakukan janjinya dengan baik.


Dia berjalan terus menuju ke depan, dengan kepala yang ditutupi dengan cindung dan bersembunyi dari semua vampir. Bukan karena apa, sejak hari itu, sejak pepeangan di hari itu semua vampir pasti akan mengatakan padanya kalau dia tidak ubahnya seorang pengkhianat besar.


Dia berani menentang Valheins di hari itu, dan sekarang, dia jadi harus bersembunyi dari pandangan mereka semua.


Ia masih terus berjalan, masuk ke dalam gang sempit dan kemudian membuka pintu gubuk tua dimana seorang wanita telah dia tahan selama lebih dari dua puluh tahun lamanya.


Sekilas dia melihat situasi di sekitarnya, memastikan kalau dia benar-benar datang seorang diri dan tidak ada yang membuntuti dirinya. Setalah dia memastikan kalau keadaan benar-benar aman, dia lekas berjalan masuk ke dalam gubuk tersebut dan kemudian menutup pintunya kembali.


Blam!


Sayang sekali, dia tidak pernah tahu ada seseorang yang melihat gerak-geriknya pada saat itu.


Di dalam gubuk tersebut, tampak seorang wanita yang tengah terduduk sambil mengelus tubuhnya dengan selembar kain. Sebelumnya dia telah menyediakan satu bak air untuk wanita itu mandi, setelah dia tinggal sebentar, rupanya wanita itu sekarang sudah menjadi bersih dan sangat anggun.


Sejenak dia terkesima, mengapa dia baru sadar sekarang kalau Riyana itu sungguh sangat cantik, dan wajahnya, juga sangat mirip dengan Alexa? Hanya usianya saja yang membedakan dua manusia ini, tapi untuk soal kecantikan, agaknya Alexa memang seratus persen mirip ibunya.


Dia melangkah mendekat sembari membawa segelas darah. Di sekelilingnya tampak gubuk yang semula kumuh dan hanya ditinggali oleh Riyana dan sekumpulan tikus itu sekarang sudah berubah menjadi sangat bersih dan juga rapi. Bau menyengat di hidung akibat betapa kumuhnya tempat itu pun sekarang sudah tidak tercium lagi. Dan agaknya Riyana benar-benar nyaman dengan kondisi yang seperti itu.


Wanita itu bahkan tersenyum saat mengelap tubuhnya dengan selembar kain. Dia juga merasa lebih baik dari sebelumnya, apalagi sekarang kedua kaki dan tangannya tidak dia masukkan ke dalam pasung, melainkan hanya kakinya saja yang terkunci di dalam jeratan rantai besi yang melingkar pada salah satu kakinya.


Sekarang Arsello mulai terduduk, berjongkok di hadapan Riyana, dan kemudian meletakkan segelas darah itu di hadapan Riyana.


Riyana yang merasa benci hanya mengacuhkan Arsello, meski dia setengah gila, tapi dia juga tidak lupa akan perlakuan Arsello padanya selama lebih dari dua puluh tahun, kenangan itu memang terasa sangat pahit baginya.


"Riyana, dia memintaku untuk menjaga kamu, jadi aku melakukan apa yang dia minta, sekarang minumlah darah ini, kau akan terlihat lebih segar." Ucap Arsello pada Riyana.


Namun sedikitpun wanita itu tidak bergeming dari posisinya, hanya melanjutkan acaranya dengan membelai rambutnya dan menatapnya dengan lebih rapi.


"Besok aku akan mengantar kamu pada seseorang, aku rasa memang sudah waktunya kamu aku pertemukan dengan dia." Ucap Arsello lagi.


Namun lagi dan lagi Riyana bersikap sangat acuh. Wanita itu tidak menggubris perkataan Arsello sama sekali.


Sampai pada akhirnya Arsello mulai sadar, dia tidak punya lagi kehormatan di depan wanita ini jika terus berbicara. Dia pun akhirnya memilih untuk beranjak dari duduknya, dan kemudian berdiri hendak meninggalkan Riyana di sana.


"Minumlah darah itu, supaya kamu tidak terlalu kering." Ucap Arsello beberapa saat sebelum dia memutuskan untuk pergi.


Riyana masih saja tidak menjawab. Dia hanya terus membelai rambutnya dengan sangat lembut, sampai terlihat langkah kaki Arsello yang mulai bergerak meninggalkan dirinya, dan juga gubuk tua tempat tinggalnya itu.


Pria itu terlihat membuka pintu gubuk tua itu, dan kemudian menutupnya kembali, lalu tidak lupa juga untuk menguncinya.


Dan sekarang tinggal Riyana seorang diri. Dia melirik darah dalam gelas itu, dan kemudian tanpa basa-basi langsung menyerangnya.


Hap!


Slurp!!


"Uhm.."


"Ugh.."


Gluk!


Gluk!


Gluk!


Secepat kilat dia menghabiskannya, rasanya memang sangat segar. Sepertinya dahaganya sudah terobati secara sempurna hanya dengan satu gelas darah pemberian Arsello barusan, dan sekarang, seperti yang dikatakan oleh Arsello, dia tidak terasa kering lagi seperti sebelumnya.



\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*



Tersebutlah cerita sebuah danau legenda yang terkenal mampu menyembuhkan segala penyakit, memulihkan kekuatan yang hilang, dan membersihkan virus-virus dan bakteri yang bersarang pada tubuh suatu makhluk hidup.


Cerita yang dianggap legenda yang bisa didengar oleh beberapa telinga saja. Legenda yang belum jelas entah benar atau tidaknya keberadaannya di bumi ini. Namun, seseorang seperti Sean juga mempercayai legenda tersebut.


Legenda yang diwariskan dan diceritakan secara turun temurun, mungkinkah legenda itu memang benar?


"Seharusnya dalam cerita kamu itu juga terdapat putri yang membawa kejujuran itu juga, mengapa putri itu ditenggelamkan ke dalam danau agar tidak tersentuh tangan manusia, tapi makhluk apapun jika bisa masuk ke dalam danau itu, dia akan disembuhkan dari berbagai macam penyakit, menurut kamu, apa mungkin tubuh putri yang suci itu tidak akan tersentuh tangan manusia?" Tanya Wilmer pada Collab.


"Aku tidak tahu, itu yang aku ingat dari cerita kakak, dan cerita itu yang selalu dia ceritakan padaku sejak kecil, aku tidak tahu apakah dia mengarang atau dia bercerita tentang suatu kisah nyata, yang pasti, saat Alexa mengatakan aku harus bercerita, maka artinya aku memang harus melakukannya." Jawab Collab. Entah mengapa dia sendiri tidak pernah yakin akan dongeng danau legenda tersebut.


"Tapi Tuan Wilmer, menurut aku tidak ada salahnya kalau kita berusaha untuk mencarinya, bukankah hal ini juga demi kebaikan putra anda?" Tanya Alexa pada Tuan Wilmer.


Sejenak Wilmer berpikir, tidak mungkin juga dia lekas mengambil keputusan, bukankah mengambil keputusan tidak semudah membalikkan tangan?


Namun dia berpikir mungkin saja ucapan Alexa itu ada benarnya. Dia tidak bisa menolak, selama ini dia selalu mempercayai Sean, dia juga mempercayai putri Sean ini, lalu sekarang, kenapa dia malah merasa ragu untuk mempercayai ucapan Alexa?


"Hem, baiklah, tapi bagaimana kau akan membawa Shaga pergi? Jika kita semua pergi, maka kawasan kita tidak ada yang menjaganya, dan itu akan sangat berbahaya," ucap Tuan Wilmer pada Alexa.


"Kau bisa menyerahkannya padaku, aku akan mencari Shaga dan membawanya pergi bersamaku.."


Sekalian juga dengan dia..


"Baiklah, mari kita bekerja sama lagi."




Srak! Srak! Srak!


Langkah kedua kakinya terdengar sedikit bersuara, apalagi genangan air di atas tanah sangat banyak berceceran dimana-mana, dan derap langkah kakinya pun menjadi lebih bersuara saat menginjak genangan-genangan air itu.


Suara genangan air yang terinjak oleh kedua kaki Valheins.


Dia melangkah semakin dekat, hingga ditataplah sebuah gubuk tua dengan pintu terkunci rapat dari luar, namun dari luar dia bisa melihat seorang wanita yang tampak lebih baik.


Dia menghancurkan pintu yang terkunci itu dengan sangat mudah walau hanya menggunakan satu tangannya saja. Dan sekarang, dia semakin jelas melihat wanita itu terduduk dengan pakaian yang lebih rapi, juga dengan gelas kosong di depannya, mungkin saja wanita ini sehabis meminum darah dengan lahapnya.


Ia mulai berjalan mendekati sang wanita, dengan langkah yang sangat yakin dan juga pasti. Sementara wanita yang tengah terduduk dengan kaki yang terikat dengan seutas rantai besi itu mulai melihat kedatangannya.


Reflect dia bergeming, mundur dengan sangat ketakutan, dan kemudian dia terlihat meringkuk di atas kursi kayu tempat dia terduduk pada saat itu.


"Tolong, jangan mendekat, aku mohon, jangan dekati aku!" Ucap wanita itu sambil terus meringkuk dan menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya.


"Jangan mendekat, aku mohon.."


Namun langkah kaki pria tua itu malah semakin yakin, dan sekarang dia telah berada di hadapan wanita itu. Dia telah berdiri dengan gagah beraninya dan juga dengan kedua matanya yang menyilaukan kilatan dingin.


Hap!


Dia memegang dagu wanita setengah gila itu, dan kemudian mendongakkan wajah wanita itu menjadi berhadapan dengannya.


"Ayah, jangan, ayah, jangan lakukan itu.."


"Apa kau takut?" Tanya Valheins pada putri kandungnya itu.


"Ayah, aku mohon, jangan bunuh aku, aku mohon." Ucap Riyana masih terus memohon dengan penuh rasa takut.


"Aku tidak akan menyakiti kamu, tenanglah sayang." Ucap Valheins dengan tatapan mengerikannya. Dia bahkan masih saja tersenyum sinis di hadapan Riyana, dan senyuman itu, seakan mulai merenggut jiwa Riyana secara perlahan-lahan.


"Ayah, ayah.."


"Kau tersiksa di sini?" Tanya Valheins pada putrinya.


Ia pun mulai mengangguk meski harus dengan rasa takut yang tidak bisa dia tepis. Dia menganggukkan kepalanya sembari menitihkan air mata dari kedua kelopak matanya.


Kasihan sekali nasib wanita ini. Selama ini dia dikurung di sebuah gubuk tua yang kumuh dan tidak pernah bisa dijangkau oleh orang lain. Dia terasingkan meski dia sendiri lahir dari keturunan darah biru penguasa kerajaan.


Karena keserakahan sang ayah yang ingin menguasai dunia dengan kekuatan yang dimiliki oleh Alexa, dia rela menjatuhkan hukuman yang seharusnya tidak pernah ditimpakan pada Riyana.


Namun apalah daya, Riyana hanya wanita biasa yang sudah terkurung lebih dari dua puluh tahun lamanya dengan perlakuan tidak mengenakan dari sosok Arsello. Bertahun-tahun dia hidup dalam genggaman tangan Arsello, dan juga dengan ancaman yang diberikan oleh ayah kandungnya.


Hal itulah yang membuat Riyana sedikit tidak waras. Wanita itu juga tidak bisa lagi hidup seperti para vampir pada umumnya. Dia tidak memiliki kekuatan apapun semenjak dia gila, dan sekarang, dia lebih menjadi lemah lagi setelah bertahun-tahun lamanya terkurung di dalam penjara gubuk tua itu.


Cup!


Pria tua itu dengan mahir mengecup punggung tangan Riyana, menyiratkan sebuah perasaan kasih sayang yang tidak pernah dia lakukan selama lebih dari dua puluh tahun.


Dia bahkan menampilkan wajah penuh penyesalan di hadapan Riyana, dan hal itu membuat Riyana tersentak meski dia masih dalam keadaan setengah tidak waras.


"Sayang, maafkan ayah kamu ini, ayah tahu ayah memang bersalah." Ucap Valheins pada putrinya, agaknya dialah yang paling pintar dalam bersandiwara.


Riyana hanya bisa terdiam, mau menjawab pun rasanya lidahnya makin dibuat kelu. Dia hanya bisa menatap sang ayah dengan tatapan penuh ketakutan, namun juga agak tergoda dengan permintaan maaf dari mulut Valheins.


"Sayang, jika kau mau, kau bisa kembali ke istana, biarkan ayah kamu ini membalaskan dendam kamu pada anak itu, kau mau?"


Pria itu semakin terlihat mengiming-imingi Riyana dengan berbagai hal yang menjanjikan, menghipnotis Riyana dengan kebahagiaan dan juga kelembutan menjadikan kehangatan dan juga kelembutan itu sebagai racun yang sangat mujarab untuk membujuk Riyana.


Wanita itu masih melongo tidak karuan. Kekangan dan nasib buruk yang terjadi selama puluhan tahun terkahir memang membuat dirinya merasa sangat trauma. Dia yang kemudian menjadi gila, pada akhirnya hanya bisa terdiam menyetujui ajakan dari Valheins.


"Bagaimana? Kau mau memberi ayah kesempatan kedua?"


Dengan polosnya dia mengangguk secara perlahan, bangun dan memeluk sang ayah dengan perasaan yang sangat aneh, seakan dendam dan ketakutan semula pada sang ayah mulai menghilang, dan sekarang, yang dia lihat di depan kedua matanya hanyalah sebuah kegelapan.


"Terima kasih, Nak, kita akan sama-sama membalas dendam pada pria itu, ayah janji."


Valheins mulai melepaskan jeratan rantai yang menahan kaki putrinya itu dengan kekuatan yang dia miliki, lalu mulai membebaskan putrinya dari kekangan dan juga tekanan rantai itu.


Slang!


Dan sekarang Putri Riyana sudah terbebas dari jeratan tali rantai yang mengikatnya. Dia pun mulai mengulas senyuman di bibirnya, menatap sang ayah tanpa adanya keraguan lagi seperti pada menit sebelumnya. Agaknya dia benar-benar tersihir oleh ucapan maut dari seorang buaya seperti Valheins.


Sekarang dia bahkan tidak segan lagi untuk menyambut uluran tangan Valheins padanya, disambutlah tangan Valheins olehnya dengan penuh kehangatan, seakan dia telah melupakan kejadian masa lalu antara dirinya dengan pria tua biadab ini.


Dia memang terlihat telah melupakan segalanya, entah karena memang sejak awal dirinya yang sudah gila, atau memang ada satu hal lain yang membuat dirinya lupa.


Mereka berdua mulai berjalan keluar dari gubuk tua itu, dan menutup pintunya. Tapi Valheins sengaja meninggalkan pintu itu dalam keadaan tidak terkunci. Dia ingin memberikan kejutan hebat untuk Arsello.


He.. he.. he...


*Mau membawa Riyana untuk bertemu dengan putrinya? jangan harap, dia hanya akan bertemu dengan Riyana menjelang akhir hayatnya, aku berani menjamin hal itu untuknya*.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...