Alexa

Alexa
Part 17



~Happy Reading~


Di lorong rumah sakit yang sudah nampak sedikit ramai itu terdengar langkah lari dari sepasang paruh baya yang masih terlihat bugar.


“Ray…” panggil om Ardian saat melihat sang putra tengah duduk bersandar di depan ruang Alexa di rawat.


“papa!” Rayhan pun berdiri menyambut sang papa “ma..”


Rayhan berlari mendekati sang mama dan merengkuhnya erat.


“apa yang terjadi?” tante Rasty pun mengelus punggung sang putra dengan lembut, menyalurkan ketenangan kepada sang putra. Tante Rasty tau kalau kondisi putranya tak baik-baik saja, merasa khawatir sama seperti dirinya.


“Exa ma.. Exa…” ucap Rayhan terbata sembari melepas rengkuhan sang mama.


Sementara kedua pasang mata memperhatikan bagaimana Rayhan kembali terisak dalam perlukan ibunda tercinta. dan sang papa berdiri terpaku sembari menatap mereka berdua.


“Joe….” Ucap om Ardian pelan, dan masih terdengar oleh Rayhan maupun sang mama,


'apakah dia keponakan ku? anak kakak ku? tidak salahkah aku mengenalinya? '


Rayhan pun menatap sang kakak dan sang papa bergantian sembari mengusap air matanya.


“Ray… itu…?” papa menolah ke arah Rayhan meminta jawaban,


Rayhan pun mengangguk sebagai jawaban. Sementara Joe yang merasa di amati melangkah mendekati sepasang paruh baya itu.


“Om…” sapa Joe dengan berkaca-kaca saat berdiri di depan ayah Rayhan,


“Ya Allah…..!” pekik pelan om Ardian, segera ia rengkuh keponakan yang selama ini di carinya.


Sementara sang istri menangis tertahan, sangat tekejut dengan kemunculan sang keponakan, rasa haru dan bahagia yang tak bisa di uraikan dengan kata-kata, ia hanya bisa menangis dalam dekapan sang putra.


Sekali lagi drama tangis itu Devan lihat, pertemuan keluarga yang telah terpisah sekian lama, menyisakan rasa haru yang tak berkesudahan.


“syukurlah, kau masih hidup nak” tanya om Ardian dengan berkaca-kaca sembari memegang kepala sang keponakan dan mengamati wajah itu dengan cermat. Wajah yang sangat mirip dengan sang kakak yang telah tiada lebih dari 15 tahun yang lalu. Beruntungnya ia bisa langsung mengenali wajah itu, wajah yang sangat dirindukannya.


“iya om” ucap Joe sembari tersenyum haru


“Joe…” panggil tante Rasty pelan setelah melepas pelukan sang putra


Joe pun menolah berbalik memeluk sang tante. Tante yang telah dianggap seperti mamanya, sosok yang tak pernah membedakan kasih sayang antara sang putra dengan dirinya.


Mereka terisak dalam rengkuhan, menyalurkan rasa kerinduan dan bahagia yang membuncah.


Setelah cukup lama berdiri dalam isak tangis, akhirnya Devan mendekat dan kembali melerai drama tangis itu. Ia pun menyapa om Ardian dan tante Rasty kemudian memintanya untuk duduk.


“dimana kamu selama ini nak?” tanya om Ardian setelah mereka duduk berdampingan.


“Joe selama ini diasuh oleh orang tua Devan om, papa Daniel dan mama Dania”


Tante Rasty pun mengganggam tangan sang keponakan dan mengusapnya lembut.


“maafkan Joe om, tante, selama ini Joe sama sekali tidak ingat akan keluarga Joe, baru beberapa waktu lalu Joe mendapatkan ingatan Joe kembali”


Joe pun menceritakan apa yang dia alami saat kejadian penculikan itu dan bagaimana dia di asuh dan di besarkan oleh keluarga papa Daniel. Tante Rasty yang mendengar kisah pilu sang keponakan kembali meneteskan air mata, namun tak dapat dipungkiri ia begitu bersyukur karena Joe di temukan dan dirawat dengan baik olah orang yang telah menolongnya.


“om sangat bersyukur kamu kembali dengan sehat nak, hampir setiap hari om mendengar Alexa menangis merindukan mu. dulu waktu kami ajak pindah ke rumah kami yang sekarang, dia terus menangis tak mau pindah, dia terus berkata bagaimana kalau kak Joe pulang dan dia tak ada di sana, pasti kak Joe akan sedih. dia selalu berkata seperti itu” ucap om Ardian seraya mengenang kejadian lebih dari 15 tahun silam, saat keluarga om Ardian kembali ke tanah air setelah kondisi anak dan istrinya membaik,


Joe pun mendengarkan dengan seksama kenangan masa kecil Alexa tanpa dirinya, dan hal itu semakin membuatnya merasa bersalah. Adik kecil yang harusnya ia lindungi sesuai pesan sang mama, tapi nyatanya malah jauh darinya, bahkan tak ia ingat sampai ia tumbuh dewasa.


“maaf kan Joe om” Joe pun akhirnya terisak dalam dekapan sang paman.


“stt,, sudah nak, sekarang yamg terpenting kamu sudah kembali, sudah bersama kami, Alexa pasti senang.”


Joe pun mengangguk dan melepas rengkuhan sang paman.


“lalu bagaimana Alexa bisa terluka?”


“boy…!!!” panggil om Ardian pada sang putra


glek


mendengar panggilan itu membuat Rayhan menelan ludahnya kasar. Ia tau makna panggilan itu, panggilan yang sekarang ini sangat jarang digunakan kalau tak merasa kesal dengan sang putra


“jelaskan pada papa!”


“maaf kan Ray pa, Ray tak bisa menjaga Exa dengan baik, Ray benar-benar minta maaf”


Akhirnya dengan sedikit terbata Rayhan pun menceritkan kronologi kejadian di camping ground hingga Alexa teluka dan di bawa ke rumah sakit. Mereka berempat pun mendengarkan dengan seksama tanpa memotong sedikit pun.


“kurang a***r!” umpat om Rayhan setelah mendengar nama pembunuh sang kakak disebut dalam cerita putranya.


“lalu apakah kalian sudah melaporkan kepada polisi kejadian ini?”


“sudah om, semuanya sudah di tangani. Aku dan Devan yang akan mengurusnya om” ucap Joe menanggapi pertanyaan sang paman.


Om Ardian pun menolah ke arah Devan yang sedari tadi diam tak besuara setelah meminta mereka duduk.


“nak Devan, om ucapkan terimakasih karena kamu dan kedua orang tua mu sudah merawat Joe dengan baik selama ini”


“saya yang meminta orang tua saya untuk menjadikan kak Joe sebgaai kakak saya, dan saya memang menginginkan seorang kakak dan di kabulkan kedua orang tua saya dengan adanya kak Joe”


“apapun itu, om sangat berterimakasih, kalau saja orang tua mu tak menemukan Joe, entah apa yang akan terjadi dengannya, mungkin sampai saat ini kami tak akan bertemu kembali”


Devan pun mengangguk tesenyum, tak tau harus menanggapi bagaimana lagi ucapan dari paman kakak angkatnya.


***


Hari telah beranjak gelap ketika Devan kembali dari mengembalikan mobil polisi yang ia bawa. Tadi siang ia memutuskan untuk kembali ke kantor polisi untuk mengembalikan mobil yang di pinjamnya dan Rayhan pun turut serta untuk mengambil hanphone nya kemudian mengambil mobilnya yang masih terparkir di area camping ground.


Saat mereka sampai di camping ground, mereka masih sempat bertemu dengan Rizal dan rombongan yang tengah membereskan barang-barangnya. Bagas dan Dedy pun menghampiri mereka menanyakan kondisi Alexa yang masih terbaring di rumah sakit.


Akhirnya setelah selesai membereskan barangnya dan Alexa di bantu anak-anak lainnya, Rayhan pun kembali ke rumah sakit bersama dengan Devan.


“kak, kita beli makan dulu yu?” ajak Rayhan saat hampir tiba di rumah sakit tempat Alexa di rawat


“oke, kita beli untuk kedua orang tuamu juga”


Devan pun mengarahkan mobil Rayhan yang ia kemudikan ke arah warung makan tenda di pinggir jalan.


***


“kak, ma, pa… kita makan dulu” ajak Rayhan sesaat setelah sampai di ruang tunggu


Kini kondisi rumah sakit kembali sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang di lorong rumah sakit.


“iya Ray, terimakasih”


Mereka pun memaksakan diri untuk makan, walau sulit mereka harus tetap menjaga kondisi tubuh mereka.


“om dan tante sebaiknya pulang istirahat dulu, biar Joe yang tunggu Alexa” ucap Joe setelah mereka selesai makan malam


“huh,…” om Ardian menghela nafas “om dan tante akan cari penginapan sekitar sini, terlalu jauh kalau pulang ke rumah”


“baik om,”


“Ray, ikut papa pulang dulu, nanti gantian dengan Joe setelah kamu istirahat, kita harus bergantian menjaga Exa”


“baik pa” ucap Rayhan tanpa membantah, kalau boleh jujur, badannya terasa lelah, ditambah kurangnya tidur karena ikut kegiatan susur malam,


“Devan tidak pulang dulu?” tanya tante Rasty yang memperhatikan adik dari keponakannya itu tetap duduk tenang tanpa menunjukan rasa lelah.


“tidak tan, Devan di sini bersama kak Joe”


“baiklah, nanti bisa gantian dengan Ray, jaga kondisi kalian” ucap om Ardian sambal berdiri diikuti istri dan putranya.


“baik om”


“kabarin om apapun perkembangan Exa”


“baik om, selamat beristirahat” ucap Joe berdiri dan menatap keluarga yang baru saja ia temui berlalu meninggalkan rumah sakit.


“kakak tak ingin mengabari papa dan mama?” tanya Devan setelah kondisi kembali sepi


“kakak tak tau harus bilang bagaimana” Joe duduk dengan menunduk seraya menutup muka dengan kedua telapak tangannya.


“ya tinggal cerita aja kalau kakak sudah ingat semuanya, dari kamarin kakak tak di rumah, pasti mama cemas mencari kakak, kalau aku kan sudah biasa tak di rumah, jadi mama tak akan khawatir”


Huff


“kau benar, sedari tadi mama telpon kakak, tapi tidak kakak angkat”


"nah tuh kan, aduh, pasti nanti ngomel kaya kereta itu kalau sudah ketemu kakak" canda Devan sambil terkekeh


"buruan gih kak, telpon mama, mau nanti papa ikut turun tangan?!"


"eh, eh,..." Joe pun jadi gelagapan sendiri mendengar ucapan sang adik, 'bisa gawat kalau sampai papa ikut turun tangan, ga bakal kelar semalam'


setelah menyiapkan mentalnya akhirnya Joe pun menghubungi sang mama,


"assalamu'alaikum ma..."


"Joe!!!!!!"


tbc


hai... hai


wah Joe kena semprotkan kan tuh, 🤭🤭🤭


makanya kalau pergi bilang mama ya... biar mama ga khawatir,


terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩


tunggu update selanjutnya...