Alexa

Alexa
#Tak Kunjung Usai



Pertarungan ganas kembali terjadi, untuk yang ke sekian kalinya. Jatuh dan bangun sudah biasa dan lumrah terjadi dalam setiap pertandingan, dan agaknya, dia benar-benar tidak punya rasa ingin menyerah untuk lari atau mengalah dalam pertempuran kali ini.


Pertempuran ganas melawan kakek kandungnya sendiri. Jika pada biasanya seorang cucu akan berbakti pada kakek kandungnya, maka berbeda dengan Valesha, yang malah memiliki ambisi yang cukup kuat untuk membunuh sang kakek.


Baginya tidak peduli keluarga atau bukan, jika sudah salah dimatanya dan lebih parahnya lagi salah dimata dunia, maka buat apa dia mempertahankan nyawa makhluk seperti itu?


Dia pun tampak gagah berani mengayunkan pedangnya, terbang hanya untuk menghindari serangan Valheins, dan kemudian menendang punggung Valheins dengan salah satu kaki jenjangnya.


Bukk!


Blam!


"Arkh!"


Puffff.


Terlihat pria tua itu mengeluarkan cairan hitam dari mulutnya, mungkin itu darah vampir, entahlah sejauh ini Alexa bahkan tidak tahu kalau vampir berwujud sempurna seperti Valheins rupanya juga memilki darah.


Rambutnya terbang tertiup angin, manakala dia berputar setelah menendang punggung Valheins yang sekarang terlihat ambruk di depan kedua matanya. Agaknya kali ini dia benar-benar berhasil menjatuhkan Valheins.


Fuhhh!


Ia membuang nafasnya kembali, pertarungan ini jelas lebih melelahkan dibanding dahulu saat dia bertarung melawan Muba, atau juga dengan Arsello dan ribuan kelompok vampir.


Ngomong-ngomong soal kelompok vampir di bawah sana, terlihat kedua kubu yang mulai tidak seimbang.


Mereka semua tampak menguasai arena pertempuran, ya, kelompok serigala yang kini pada akhirnya kembali menemukan kembali sosok pejuang hebat yang kemudian akan mencetak sejarah dalam kehidupan di dunia ini untuk beberapa waktu ke depan.


Sepasang ayah dan anak yang sama-sama menjadi pemimpin, berjuang menghadapi para vampir di hadapkan mereka masing-masing, dan tanpa sesekali menghujam pedang mereka tiada ampun, seakan kedua pejuang itu sudah terasa muak dengan semua ini.


Agaknya bukan sebuah kebetulan lagi, kedua pemain di garis paling depan ini terlihat menguasai garis musuh, dan bahkan kedua pejuang itu telah berhasil menembus pertahanan musuh.


Sekarang kedua pejuang itu hanya terlihat saling bekerja sama untuk menaklukkan sisa-sisa vampir di depan mereka.


"Aish, aku lelah sekali, apa kita tidak bisa beristirahat sejenak? agaknya aku ingin sekali minum, apa kau membawa air minum?" tanya Wilmer dengan candaanya pada sang putra.


Sang putra hanya bisa membalas ucapan dari mulutnya itu sembari berperang mengayunkan pedangnya menjatuhkan para vampir di atas tanah.


"Mendadak cuaca berubah semakin panas, ini tidak seperti biasanya, apa benar dugaanku ini ayah?" tanya Shaga pada sang ayah, masih sambil mengayunkan pedangnya menjatuhkan para vampir, dan kemudian melempar jasad para vampir itu ke dalam api yang semakin bergejolak, apalagi suhu mendadak panas dan hal itu semakin memudahkan bangsa serigala untuk menjatuhkan kelompok vampir.


Bles!


Bang!


Tuan Wilmer tampak menjatuhkan lagi dua vampir yang semula menjulurkan pedang ke arahnya. Agaknya dia benar-benar pria yang bisa diandalkan.


"Lihatlah kalian! terlihat begitu tidak berdaya di bawah sinar matahari, kau pikir bisa mengalahkan aku? ck, mimpi saja sana di neraka!"


Blus!!


"Aaaaaa!!!"


Dan kemudian dia juga tampak membuang mayat vampir itu ke dalam bara api yang sangat panas.


Sekarang kelompok vampir tampak merasa kepanasan, mereka memang tidak diciptakan untuk hidup di bumi yang panas, mereka akan memiliki kekuatan yang cukup saya berada dalam cuaca sejuk dan lumayan dingin.


Dan karena hawa panas yang dipancarkan burung Phoenix panggilan Alexa itu, akhirnya semuanya mulai melemah, bukan hanya para kawanan vampir, tapi juga ketua mereka, Valheins.


Dari sekian banyaknya vampir yang ada di sana, memang hanya Alexa saja yang terlihat baik-baik saja, dia bahkan tidak merasa panas sedikitpun di kulitnya, hanya terlihat kulitnya saja yang mulai bersinar akibat sinar matahari yang menembus pori-pori kulitnya itu.


Sejenak Shaga mendongak ke atas, ingin melihat apakah mungkin keadaan Alexa di atas sana memungkinkan atau tidak.


Tapi dia memang dibuat tertegun, karena dia bukan hanya melihat Alexa yang berdiri dengan gagah berani di atas sana, tapi juga burung Phoenix yang bersayap api yang tengah mengepakkan kedua sayapnya di atas Alexa berdiri.


Ia jengah dibuat dengan pertempuran yang tidak ada habisnya itu. Tubuhnya memang sudah semakin penat, dan dia juga mulai merasa bosan, mungkin karena terlalu lama menghadapi pasukan vampir yang jumlahnya memang terlampau banyak, mencapai sepuluh ribuan lebih, dibandingkan dengan kelompoknya yang mungkin hanya terhitung sekitar lima ribuan, itu pun bisa saja kurang.


Hahh!


Siapa pula yang tak merasa lelah. Dan sekarang dia melihat pemandangan mengagumkan yang terjadi di atas tebing sana. Sebuah pemandangan yang sangat mengagumkan yang tercipta dari sosok Alexa yang tengah berdiri dengan gagahnya dengan jubah merah yang dia kenakan.


Aku memang tidak salah memilih calon istri.


Ungkap hatinya, malah diam-diam juga mengagumi dirinya sendiri.


Puk!


Mendadak seseorang menepuk pundaknya, dan kemudian tersenyum ke arahnya.


"Dia memang calon menantu yang sangat baik."


Ucap sang ayah yang ternyata juga diam-diam menperhatikan Alexa di atas sana.


Keduanya tersenyum sejenak, sampai pada akhirnya sebuah pedang membelah persatuan di antara mereka berdua.


Keduanya yang semula agak dekat, bahkan mendempel satu sama lain, pada akhirnya harus kembali terpisah, dan mulai kembali lagi dalam peperangan nan membosankan.


Ucap Tuan Wilmer pada sosok vampir berbadan tinggi besar, mungkin tingginya hampir mencakup tiga meter. Dan badannya mungkin bisa mencukup hidangan makan malam untuk semua anggota kelompoknya.


Sayang sekali dia dan kelompoknya sama sekali tidak menyukai daging pembunuh berdarah dingin itu.


Mungkin rasanya bisa terbilang alot. Maklum saja, usia mereka bahkan ada yang sampai tiga ratus tahun, lebih dari itu, mungkin tetua di sini juga ada yang sampai seribu tahun lamanya hidup, apa mereka tidak bosan dan berpikir untuk mati saja?


Sudahlah, berhentilah untuk bercanda. Sekarang saatnya mulai serius membicarakan pria bertubuh besar dan tinggi itu.


"Oh tidak, tubuh kamu terlalu besar, Nak, apa kamu ingin menginjak tubuh mungilku dengan kedua kakimu?" tanya Wilmer, belum apa-apa dia sudah terlihat ketakutan setengah mati.


Pria bertubuh besar dan tinggi itu terlihat mendekat ke arah Wilmer, menyingkirkan semua yang menghalangi langkah kakinya, dan kemudian menatap ke arah Wilmer dengan tatapan matanya yang tajam.


Dari dekat agaknya dia lebih mirip dengan bayi bertubuh besar. Apa mungkin dia memang sudah besar sejak dari rahim ibunya?


"Tidak dengan kedua kakiku tuan, lebih tepatnya, dengan sahabat baikku ini, Tej!"


"Tej?" tanya Wilmer sedikit kebingungan, bukan apa-apa, nama itu terdengar aneh di kedua telinganya. Apa pria itu benar-benar seorang pria yang waras?


Entahlah.


Pria bertubuh besar dan tegap itu terlihat mengangkat satu tangannya, tepatnya tangan kanannya, dan kemudian menunjukkan sebuah palu yang berukuran cukup besar, ya, agaknya bisa menghancurkan tubuh Wilmer dengan sangat mudah.


"Wow!"


Saat palu bergerigi itu ditunjukkan pada Wilmer, pria itu hanya bisa tersenyum dengan sangat kecut, tidak tahu harus bagaimana menyikapi kawan yang dimaksud oleh pria di depannya itu. Tej.


"Maksud kamu, dia Tej?" tanya Wilmer pada pria tersebut, sambil menunjuk dengan ragu palu yang ada dalam genggaman pria bertubuh besar itu.


Pria besar itu hanya terlihat tersenyum miring. Baru disadari kalau ternyata bagian leher pria besar itu terdapat bekas luka yang sangat tersembunyi keberadaannya.


Entahlah, bahkan Wilmer juga tidak sengaja menemukan luka tersebut. Agaknya dia juga tidak peduli. Luka di leher pria ini pasti bekas gigitan anjing, atau mungkin bekas gigitan seorang wanita.


Ya, sejauh ini tebakan Wilmer benar-benar dangkal.


"He.. he.. ya, dialah kawan baikku, selain dia, tidak ada yang bisa memuaskan aku.."


Swosh!!


Palu diangkat dengan sekuat tenaga, lalu kemudian akan dia arahkan menuju ke tempat Wilmer berdiri.


"Oh tidak, aku mohon jangan." Gumam Wilmer dengan lirih.


Pria itu dengan cepat mengarah kepada dirinya, membuat dia yang pada saat itu masih tertegun pun hanya bisa pasrah, apalagi saat palu itu sudah berada di depan mata.


"Ayah!!"


Teriak Shaga dari kejauhan, rupanya sang anak pun melihat ayahnya selama masa kebodohannya.


Huhh!


Blam!!


Namun belum juga Shaga bergerak dari tempatnya, atau mungkin Wilmer yang bergeming dari posisinya, palu itu terlihat sudah menghantam tanah, membuat sebuah getaran yang bisa mereka rasakan dari jarak sepuluh meter.


"Ayah? no!! ayah!!!" teriak Shaga beberapa saat, sebelum dia mendapat jawaban dari siapapun itu, termasuk dari pria besar itu pula jika perlu.


Dia menundukkan kepalanya, manakala dia tidak mendengar sahutan dari sang ayah, ia pikir ayahnya sudah mati.


Tapi saat dia mendongak, dia melihat seorang pria yang tengah berjalan sempoyongan, dengan sekujur tubuh yang gemetar hebat tiada bisa berhenti.


Ia terdiam sejenak, heran dan merasa bingung. Bagaimana bisa ayahnya selamat dari palu besi yang sangat besar itu?


"Ayah?"


Panggil Shaga sembari melarak sang ayah menjauh dari pria besar yang kini tengah dibuat sibuk mencoba mencabut gerigi tajam palu miliknya yang tertancap di dalam tanah.


"Ayah, kenapa kau masih hidup?" tanya Shaga agaknya kurang konsentrasi.


Memang benar shock ternyata, bagaimana tidak, dia pikir ayahnya akan remuk dihancurkan oleh pria berpalu gerigi itu, tapi jangankan remuk, lecet pun tidak. Hanya terlihat wajah ayahnya yang sangat shock, pun berkeringat cukup banyak.


"Entah mengapa dia meleset." Jawab sang ayah singkat saja, kedua kakinya masih gemetar tidak mau berhenti.


"Syukurlah, jika tidak, aku tidak tahu bagaimana cara memakamkan ayah dalam kondisi hancur." Sambung Shaga dengan celotehnya.


Hiyaaaa!!


Hingga kemudian kedua orang itu masih kembali dikejutkan dengan sosok pria besar di belakang mereka kembali, yang rupanya sudah berhasil menyelesaikan kesibukannya sendiri.


Dan sekarang pria itu tengah kembali mengangkat palunya tinggi-tinggi, hendak dia gunakan untuk menyerang Wilmer dan Shaga.


"Shaga, kakiku kram." Ucap Tuan Wilmer gugup.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...