
~Happy Reading~
Suara burung berkicau menyambut datangnya pagi, mentari bersinar dengan hangat untuk menyambut aktivitas semua insan. Terlihat di ruang tunggu rumah sakit, dua orang duduk bersandar.
“Pagi kak,” Sapa Devan saat terbangun sembari menggeliatkan badannya
“Pagi” Jawab Joe terhadap sapaan sang adik.
“kakak tidak tidur semalaman?”
“mana bisa kakak tidur Van, kondisi Alexa belum sadar sampai saat ini” Joe kembali menghela nafas dangan wajah lelahnya.
Devan mengamati wajah sang kakak, yang menyiratkan raut penuh kesedihan.
“kakak juga harus menjaga kondisi kakak, jangan sampai ikut drop, nanti malah kakak tidak akan bisa menjaga Alexa lagi”
Joe hanya diam, meresapi ucapan adiknya. Badannya lelah namun serasa pikiran dan jiwanya rasanya tak ingin di ajak istirahat.
"mama jadi datang hari ini?" lanjut Devan, setelah tak mendengar ucapan apapun dari kakaknya,
"jadi, kau dengar sendiri semalam, mama marah habis-habisan gara-gara kakak mengabaikan telponnya"
"lagian kakak sih, mentang-mentang mama keluar kota jadi tak memberi kabar, kakak tau gimana protectivenya mama sama kakak" Devan terkekeh mendengar keluhan sang kakak
"hufff... kakak ga kepikiran van, kok mama bisa tau kakak tidak di rumah?" heran Joe pada sang mama, selama ini memang mama angkatnya itu begitu menyayanginya, begitu protective pada dirinya, namun tak menyangka juga kalau bisa mengetahui keberadaan dirinya yang tak di rumah,
"ya, dari bibi lah,..." ucap Devan santai, "kakak ga tau apa? bibi itu mata dan telinga mama di rumah kalau mama lagi keluar kota"
"oh iya,.... haiisss, kakak lupa ada bi Mar" Joe menepuk jidatnya, mengingat akan kebodohannya, sementara Devan terkekeh akan sikap sang kakak.
Semalam saat menghubungi mamanya, sang mama menanyakan keberadannya, membuat Joe pada akhirnya menjelaskan semuanya, menjelaskan akan dirinya yang telah mendapatkan ingatan masa lalunya, hingga keberadaanya dirumah sakit karena Alexa, adik kandungnya terluka.
Joe selama ini sangat dekat dengan sang mama, meskipun bukan anak kandung, tapi Joe mendapatkan kasih sayang yang begitu melimpah dari kedua orang tua angkatnya, hal itu membuatnya tak bisa berbohong kepada mereka, terlebih sang mama,
Setelah menjelaskan akan kondisi Alexa, sontak saja mama Dania langsung mengatakan akan segera datang, tanpa bisa di protes, tanpa bisa di cegah, bahkan papa hanya bisa pasrah menerima permintaan sang mama.
“kalau gitu aku cari sarapan dulu kak” tawar Devan seraya berdiri,
“hmm” jawab Joe sembari mengangguk,
Tak berapa lama setelah Devan keluar, Dokter dan perawat datang melakukan pemeriksaan terhadap pasien. Joe pun berdiri dan mendekati pintu ruang rawat instensif, berharap ada kabar baik yang ia dengar menganai kondisi sang adik.
Benar saja bertepatan saat visit dokter, perlahan Alexa membuka matanya. Mata bulat cantiknya mengerjap menyesuiakan silau cahaya lampu di ruangannya.
Dokter pun mencoba mengajak komunikasi dan Alexa mengangguk pelan, pertanda kondisinya sudah jauh lebih baik. Setelah melakukan pengecekan, Dokter pun keluar ruangan.
“Bagaimana kondisi adik saya dok?” tanya Joe begitu melihat sang dokter keluar dari ruang intensif
“adik Anda sudah sadar”
“Alhamdulillah” rasa haru dan bahagia begitu terpancar saat mendengar ucapan sang dokter
“kami akan pindahkan ke ruang perawatan biasa,”
“baik dok, saya sudah bisa menjenguknya?”
“tentu, setelah kami pindahkan ke ruang rawat”
“baik dok, terimakasih banyak” senyum lebar tak surut dari bibir Joe setelah menerima penjelasan dokter yang memeriksa kondisi Alexa.
Namun di sisi lain dirinya begitu gugup, detak jantungnya berdegup kencang, seakan-akan ia tengah berlari kencang. Membayangkan wajah sang adik akan melihatnya, apakah Alexa akan mengenali dirinya? pertanyaan itu seolah mengeram dalam benak Joe Andrean
Hingga beberapa saat berlalu, Joe di panggil oleh perawat untuk mengikuti Alexa yang di pindahkan ke ruang perawatan VIP sesuai permintaannya. Alexa kembali memejamkan matanya saat ranjang tidurnya di dorong oleh 2 orang perawat.
"Mas, kenapa adik saya memejamkan mata? kata dokter tadi sudah sadar?" tanya Joe pada perawat laki-laki setelah menyelesaikan pengaturan tempat tidur sang adik di ruang rawat.
"adik Anda sedang tidur mas, efek obat sekaligus kondisinya yang masih lemah, mungkin tak lama lagi dia akan terbangun"
"ah, begitu?"
"iya, kalau sudah tidak ada yang di tanyakan kami permisi dulu, kalau ada perlu dengan kami, bisa pencet tombol panggil di atas ranjang pasien"
"baik, terimakasih banyak"
"sama-sama, kami permisi"
kedua perawat itu segera keluar meninggalkan ruangan, sementara Joe berdiri di samping sang adik yang tertidur pulas, senyum indahnya menghiasi bibirnya yang dengan senang memandang wajah tenang sang adik.
drrt...drrrt
getar ponsel di saku celana, membuat Joe berpaling dari wajah sang adik, di raihnya ponselnya untuk melihat siapa yang menelphonennya,
"Hallo Van,.."
"kakak di mana? aku ditempat kita duduk tadi"
"kakak di ruang rawat Exa, Exa sudah di pindah di ruang VIP no 3"
"Alhamdulillah, oke kalau gitu aku ke sana"
tut
belum sempat Joe menjawab, Devan telah mematikan sambungan telphonenya,
Ia pun memilih duduk di sofa yang di sediakan di ruang rawat untuk istirahat keluarga yang menunggu pasien,
Tak berapa lama terdengar pintu terbuka dan nampak seorang pria dengan tubuh tegapnya masuk ke ruangan, sementara Joe hanya menoleh kearah pintu, dan memainkan ponselnya kembali setelah melihat sosok yang masuk ruangan.
"kak,..." Devan pun ikut duduk di samping sang kakak, dan meletakkan kantong kresek yang berisi makanan di meja depan sang kakak,
"hmm," Jawab Joe masih fokus dengan ponselnya,
"sarapan dulu,"
"hmmm"
"haish...kakak ini, lagi sibuk apa sih?"
"jawab email dari sekretaris kakak" ucap Joe tanpa menoleh,
"letakan dulu kak, sarapan dulu" ucap Devan penuh perhatian,
setelah beberapa saat Joe pun meletakkan ponselnya diatas meja kemudian membuka bungkus makanan yang di bawa Devan,
keduanya pun makan dalam keheningan, tanpa ada yang bicara,
"bagaimana kondisi Alexa kak?" ucap Devan setelah menyelesaikan makan paginya
"tadi sudah sadar, "
Joe pun ikut membereskan bungkus sisa makan mereka, kemudian membuangnya ke tempat sampah,
"benarkah?! Alexa sudah lihat kakak?" Devan begitu antusias mendengar adik dari sang kakak angkat sudah sadarkan diri
"belum, tadi waktu di bawa kemari Exa tidur, sampai sekarang, jadi belum sempat lihat kakak"
"aku pikir sudah, oh iya kakak sudah kabarin Rayhan?"
"belum, sebentar kakak telphone om Ardian saja"
Joe pun akhirnya menghubungi sang paman dan mengatakan bahwa Alexa sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Sontak saja mendengar itu om Ardian sangat senang dan akan segera ke rumah sakit.
"kakak istirahat saja dulu, aku yang akan jaga Exa" ucap Devan setelah Joe selesai menghubungi sang paman,
"kakak malah ndak ngantuk Van, rasanya gugup banget"
"ih kakak, kaya mau lamar anak orang saja, mau ketemu adik sendiri aja kaya gitu" ledek Devan berniat menghilangkan rasa gugup sang kakak, Ia sebenarnya tau, bagaimana perasaan sang kakak, bertahun-tahun tidak bertemu sang adik, dan sekali ketemu sudah dalam keadaan dewasa.
"kakak takut Exa tak mengenal kakak lagi"
"jangan nethink kak"
"tapi..." belum sempat Joe menyelesaikan ucapannya terdengar lenguhan dari ranjang Alexa
"Xa,...." sontak Joe berdiri dan mendekati sang adik, cemas akan kondisinya, apakah merasa sakit atau bagaimana
Alexa pun mengerjap, kemudian menoleh ke arah pria yang berdiri di sampingnya, mengamati wajah pria yang menatapnya dengan cemas,
"Xa..." lirih Joe dangan wajah sendunya, tatapan mereka akhirnya bertemu, penantian yang begitu lama membuat hatinya di landa rasa haru.
Perlahan butiran air menetes dari ujung mata Alexa, membuat pria yang berdiri di sampingnya kian panik,
"Xa, kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Devan yang mendengar kepanikan kak Joe pun ingin mendeket, namun terhenti saat Alexa bergumam
"kak..." lirih Alexa sambil terus mengamati wajah sang kakak
"iya..." jawab Joe pelan sambil tersenyum, ia pun paham kenapa sang adik menangis,
"kak Joe,...." lirih Alexa lagi
"iya, ini kakak" Joe pun mengenggam telapak tangan sang adik yang terbebas dari jarum infus
"kak Joe,...." ucap Alexa semakin histeris
Joe pun langsung menunduk, direngkuhnya sang adik dalam dekepannya, air matanya mengalir menujukan rasa keharuan yang membuncah,
"kak Joe," berulang - ulang Alexa menyebut nama sang kakak, yang masih mendekapnya
akhirnya kesabarannya selama ini terbayar, akhirnya rasa rindu itu tersalurkan, akhirnya sang kakak kembali mendekapnya,
tbc
yuuuhu....
yeiii, akhirnya Alexa bejumpa dengan sang kakak,....
kakak, i miss you... 😍😍😍
terimakasih atas dukungannya 🤩🤩🤩
tunggu update selanjutnya,