
Dia bangkit dengan sangat gagah beraninya, memasang wajah yang sangat gahar, seakan dia bersiap meski harus mati pada saat itu juga, asalkan Valheins mati bersama dengan dirinya, lalu apa yang harus dia sesali?
"Tuan Valheins, kau hanya tengah bersembunyi di belakang omongan kamu sendiri, takut bilang saja merasa takut, kau hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk bisa lepas dari semua ini," ucap Arsello pada Valheins.
Ia kemudian membantu Alexa berdiri dari tempat terjatuhnya tadi, dan lekas berdampingan dengan Alexa untuk melawan pria tua sampah dunia itu.
"Aku akan membalas dendam kedua orang tuaku!!"
Hiyaaaa!!
Trang!
Bukk!
Blam!!
Sebuah pertempuran yang kembali terjadi, antara keponakan dan paman yang selama bertahun-tahun mengalami kondisi hubungan yang cukup baik.
Namun karena sebuah pengkhianatan, pembohongan serta penipuan, pada akhirnya kesetiaan yang telah dipupuk selama puluhan tahun itu sirna bersamaan dengan seluruh rahasia yang terungkap di masa lalu.
Pada akhirnya dendam pun berusaha dibalaskan, dengan api yang menyala-nyala, menyulut sebuah keganasan tiada termaafkan.
Sebuah cerita yang tidak akan pernah bisa terlupakan, di mana saat itu Alexa bahkan dengan gagah berani melawan kakek kandungnya sendiri, bahkan dengan hati yang tetap berharap kalau Valheins bukanlah kakek kandungnya.
Dia semakin gencar melawan Valheins, berharap pria tua itu akan segera tumbang dan berhenti mengacaukan dunia mereka.
Namun tidak ada yang namanya hasil akhir maksimal jika tidak menemukan kesulitan yang teramat sangat di dalamnya.
Dia mengalami kesulitan, karena memang benar kata orang-orang dalam bangsa serigala, Valheins bukan pria yang mudah untuk dia kalahkan.
Tapi apa dia akan menyerah begitu saja?
Tidak! dia bukan wanita lemah yang diterjunkan ke dunia lain tempat dia berasal hanya berpegang pada nasib. Dia akan membuktikan, kalau dirinya adalah perubah nasib dan juga mengubah takdir hidupnya dan hidup ribuan nyawa yang tersisa di sana.
Tujuan utama Alexa kembali adalah, menyatukan dua ras yang berbeda, menyatukan dua bangsa yang semula harus terpecah belah akibat sosok monster yang tidak bertanggung jawab seperti Valheins.
Dan dia tidak akan pernah membiarkan siapapun akan menghancurkan tujuannya ini. Dia juga tidak akan pernah membiarkan musuh utamanya menang dalam pertempuran kali ini.
"Sudah cukup ayahku memberi kamu kesempatan di masa lalu, sekarang tidak lagi!"
Trang?
Swosh!
Berulang-ulang kali Alexa menghujani serangan pada Valheins, meski seringkali dia juga harus menerima kegagalan, Valheins selalu bisa menangkis serangan darinya.
Tapi lihat saja sekarang ini, dia sudah punya kedua jiwa yang berbeda, jiwa ayah dan jiwa ibunya, sementara jiwanya terlahir dari kedua orang itu, apa lagi yang kurang sekarang?
Hanya keberanian dan kekuatan yang akan membawa dia maju ke garis depan untuk bisa melawan Valheins sampai mati!
Ya!
Sampai mati!
Dia pun semakin gagah bertempur, dengan ditemani oleh paman kandung yang selama ini rupa-rupanya juga telah berkhianat pada ibunya karena termakan bisikan Valheins.
Namun baginya sekarang membahas dendam lama ibunya terhadap pria ini bukan waktu yang tepat. Dia akan mengurus dendam itu nanti, atau mungkin, beberapa saat ke depan, selama dia melihat ibunya pergi dengan sang ayah dalam keadaan gembira, tanpa menaruh dendam pada pria ini, seharusnya dia akan baik-baik saja.
Dia kemudian mendorong pedangnya ke depan, mengikuti kemauan hati kecilnya, yang mungkin saja memang sudah menginginkan kematian itu menimpa Valheins.
Namun Valheins tampak menghindar. Sementara di sisi yang lain, Arsello juga terlihat ikut menyerang Valheins dengan pedang di satu tangannya.
Meski mereka berdua telah kompak dalam melakukan serangan, tapi tetap saja, keduanya tetap tidak bisa menjatuhkan Valheins.
Blam!
"Arkh!"
Arsello dan Alexa memekik saat mereka dipaksa mundur karena rupanya serangan Valheins melukai mereka berdua.
Sejenak mereka berdua mengambil kekuatan kembali, sembari berpikir bagaimana caranya untuk mengalahkan Valheins.
"Aku punya ide yang lebih baik." Mendadak Arsello berkata-kata, membuat Alexa yang ada di sampingnya pun hanya bisa diam, agaknya memang tidak punya cara lain lagi selain mengikuti cara yang Arsello lakukan.
Keduanya saling bertatapan, dan kemudian saling mengangguk saling mengerti.
Terlihat dengan jelas Arsello yang mulai maju ke depan, berputar dan kemudian menyerang Valheins dari beberapa sisi. Dia yang larinya cukup cepat memang bisa berlari memutari Valheins sambil menyerang dengan pedang miliknya ke arah pria tua itu dengan mulus saja.
Sementara Alexa tampak terduduk di atas batu yang semula seharusnya digunakan oleh Valheins untuk melakukan persembahan.
Dia menduduki batu yang menggelepar luas itu dan kemudian melakukan sesuatu untuk memanggil hal yang dia butuhkan.
Swosh!
Mendadak suara angin bergerak menembus langit, membelah lautan awan yang berbaris dengan sangat rapi di atas sana.
Sebuah cahaya mulai menyorot ke arah bumi para vampir, cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Jika biasanya hanya beberapa saat saja permukaan bumi ini mendapat kilatan cahaya matahari yang sedemikian cerahnya, maka kali ini sebelum waktu yang ditentukan itu tiba, kilatan cahaya matahari yang membakar ubun-ubun sudah mulai menyorot.
Dan sebuah benda terbang dari langit mendadak terlihat mengepakkan sayap indahnya dengan sangat gahar.
Kepakan sayap yang tercipta dari api, hingga terlihat pada ujung-ujungnya terdapat kobaran api yang sangat panas.
Burung itu turun dan kemudian membakar seluruh permukaan bumi tempat dimana para vampir itu tinggal hanya dengan kepakkan sayapnya sendiri.
"Ah? apa ini?"
Pria tua itu terlihat menutup wajahnya, menutup sekujur tubuhnya serapat mungkin dengan kain jubah yang dia kenakan.
Tapi tetap saja hawa panas di tubuhnya akibat terkena paparan sinar matahari itu tidak bisa terabaikan.
Dia terlihat begitu kesakitan, kulitnya hampir mengelepuh, dan sekujur tubuhnya seperti hangus termakan api.
Tak berbeda pula dengan Arsello dan ribuan rakyat vampir yang lainnya. Pria itu terlihat mengelepuh, dengan kulitnya yang mulai berwarna merah padam, dan kemudian nampak pula kulit merah padamnya itu mulai mengelupas.
Alexa menatap wajah Arsello yang tersenyum sebelum kematian menjemputnya. Dia tidak bisa berkata apapun, juga tidak bisa melakukan apapun. Ini pilihan Arsello dan dirinya sendiri.
Kematian yang damai, kematian yang singkat namun kematian Arsello ini, akan menjadi pembalasan dendam atas ibunya di masa lalu.
Dia tersenyum, menatap ke arah Alexa yang tampak terdiam membisu di tempat berdirinya saat itu.
"Terima kasih, kau sudah membalaskan dendam ibu kamu padaku, aku senang akhirnya aku benar-benar akan mati." Ucap Arsello.
Mendengar perkataan dari Arsello barusan, Alexa menjadi tersentuh. Bukan karena apa, sebenarnya dia juga tidak dendam pada pria ini, karena ibu kandungnya tidak pernah mewariskan hal itu padanya.
Ibunya juga tidak pernah berkata kalau dirinya harus membalas dendam pada Arsello, dia tahu, seberapapun bencinya sang ibu pada pria ini, tetap saja ibunya pasti hanya terus menganggap pria ini sebagai adik kandungnya sejak dahulu kala, kalau sudah begini, apa dia patut merasa senang dan berbangga diri karena bisa menyaksikan kematian dari Arsello?
Tidak tahu juga, dia pun hanya terlihat membisu di tempat dirinya berpijak seperti semula, melihat tubuh Arsello yang kesakitan, namun dia tidak bisa melakukan apapun selain menyaksikan tubuh itu terjatuh dan tidak bisa bangkit lagi dari tempatnya. Dia benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan pada saat itu.
"Akk!"
Pekikan Arsello terdengar sangat menakutkan.
Pada akhirnya Arsello mati, terbakar sekujur tubuhnya menjadi abu yang kemudian tidak akan pernah bisa bangkit kembali.
Pria itu telah berada di alam baka, mungkin dengan hukuman yang setimpal dengan perbuatan dia selama hidupnya, termasuk dan terutama adalah pada Riyana.
Namun Alexa tidak tersenyum, juga tidak merasa bersedih. Semua ini jelas kemauannya, jelas maunya dia akan membunuh Arsello dengan kedua tangannya sendiri.
Tapi dia tidak memiliki dendam ibunya, dia hanya punya dendam dalam hati kecilnya sendiri. Bukan suatu kesalahan, karena sejak awal dia memang ingin membalas semua orang yang telah merugikan dirinya dan kedua orang tuanya.
Dan sekarang, dia benar telah mewujudkan semua itu. Selamat Alexa, sekarang kau adalah pejuang yang hebat, yang tidak akan pernah bisa dijatuhkan oleh siapapun, yang tidak akan pernah lagi menanggung dendam, kecuali tinggal sisa satu orang saja, yaitu Valheins.
"Tidak akan!"
Pria itu rupa-rupanya masih berhasil hidup. Dia terlihat menutup sekujur tubuhnya mengunakan jubah yang tengah dia kenakan pada saat itu.
Tapi sayang sekali, jubah yang dia kenakan pun sudah terbakar. Sekarang Valheins hanya mengandalkan kekuatan yang dia miliki, itu pun sisanya.
Sementara di depan Valheins, telah berdiri seorang pejuang wanita yang gagah dan berani dengan pedang yang bersemayam di tangannya, dan keberanian yang tidur di dalam hati kecilnya.
Ia datang untuk membawa kedamaian, dia datang untuk menyingkirkan kejahatan dan musuh-musuh lama kedua orang tuanya.
Entah itu paman kandungnya sendiri, atau mungkin juga kakek kandungnya sendiri, dia benar-benar tidak lagi merasa peduli.
Dia hanya ingin semua ini lekas berkahir, dia hanya ingin kembali menjalani kehidupannya secara normal, setelah Paman Collab, lalu ibunda Shaga, dan kemudian Sean dan juga Riyana, lagi, Arsello, sudah cukup bagi pria ini menghabisi mereka dan menipu mereka dengan omong kosongnya.
Dia akan membuktikan, kalau dirinya dan takdir yang dia bawa akan mendamaikan situasi di sini, akan membangun negara yang baru di sini, dan akan menjatuhkan yang jahat di tanah ini pula.
"Tuan Valheins, buktikan padaku, kalau kau tidak pantas untuk hidup!"
Swosh!
Brrrrrrtttt
Alexa mengayunkan pedangnya kembali, seketika api mulai menyala-nyala tiada henti di sepanjang sisi tajamnya. Dan sekarang, dia bersiap untuk menjatuhkan pria ini, bagaimanapun caranya.
"Aku akan membunuhmu, pak tua!!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...