
Blam!
Tubuhnya malah tersungkur jauh dari Alexa, sesaat setelah sebuah serangan mengenai punggungnya, dan serangan itu berasal dari Shaga.
"Shaga?" panggil Alexa dengan lirih pada sang sahabat.
Kini pria muda itu terlihat tengah asik bernafas sampai dadanya menjadi jelas terlihat kembang kempis karena teramat kelelahan.
Dia berdiri di depan Alexa, menghalangi dan melindungi Alexa dari serangan Valheins yang tidak bisa ditebak.
"Mau menyerang kekasihku? maka langkahi dulu mayatku!" ucap Shaga menantang Valheins dengan gagah berani.
Cahaya kedamaian mulai bersinar..
Harapan akan segera datang, menjauhlah tangan-tangan berisi dendam dan kerakusan, bersatulah kebahagiaan dan kedamaian..
Seketika tubuh Riyana terlihat mulai bergerak dengan sendirinya, mulai dari bagian kaki, lalu beralih menuju ke arah kedua tangannya.
"Riyana.."
Sementara itu terlihat Sean yang begitu takjub menatap sosok Alexa yang dengan mudahnya membuat Riyana bebas dari sihir Valheins. Dan sekarang dia akhirnya bisa mendapati istrinya yang hangat kembali.
Trang!
Pedang di dalam genggaman tangan Riyana pun mulai terlepas dari tangan Riyana, terjatuh dan menimbulkan suara bising yang meskipun bising namun begitu terdengar syahdu.
Lalu kemudian terlihatlah sosok Riyana yang makin berbinar, bangun dari dalam penjaranya sendiri, dan kemudian menatap kedua mata Sean dengan penuh kerinduan.
Keduanya saling berbalas tatapan rindu, mendekat, dan kemudian bersatu menjadi sepasang suami istri kembali layaknya dahulu kala.
"Sean.." panggil Riyana dengan sangat lirih.
"Riyana, sayang, kau telah kembali.." jawab Sean.
Ingin sekali dia peluk dan dia dekap tubuh mungil nan dingin milik istrinya itu, hanya saja, dia tidak langsung mendapat pelukan kehangatan itu dari istrinya. Karena pada saat itu, Riyana malah meraba wajahnya yang telah lebat ditumbuhi bulu-bulu aneh yang juga membuat dirinya tidak bisa kembali jadi sosok manusia setengah serigala.
"Sayangku, Sean, aku tidak tahu harus berbuat apa, tapi, aku sungguh merindukan kamu.." ucap Riyana. Air matanya menetes membasahi pipinya yang tirus dan dingin. Wajahnya pucat dan dia tidaklah seperti vampir biasa yang tidak akan pernah menangis meskipun hatinya begitu terluka.
Nyatanya pertemuan dengan Sean dan juta putrinya telah berhasil membuat air matanya mengalir meski hanya terlihat satu tetesan saja.
"Sayang.." panggil Sean dengan lirih.
Keduanya kemudian saling memeluk, juga saling mengecup mesra, disaksikan oleh Alexa dan kedua mata Alexa yang telah berjanji, akan menyimpan pandangan ini di dalam memori ingatannya.
Ia tersenyum, meski senyuman di bibirnya itu tidak terlalu lebar, tapi senyuman itu menghadirkan beribu-ribu makna yang tersirat dan tidak akan mampu untuk dijelaskan.
Dia memandangi kedua orang tuanya meluapkan kerinduan lewat ciuman dan pelukan mesra itu, namun segera dia bangun, sesaat setelah menyadari kalau sahabat baiknya itu masih juga berjuang melawan Valheins di sisi lain.
Blam!
Krrrrrttt
"Arkh!" pekik Shaga setelah dirinya berhasil dijatuhkan oleh Valheins.
"Alexa, apa kau sudah selesai reuni keluarganya?" tanya Shaga di tengah-tengah kecemasan dan bahaya yang dia rasakan, "aku butuh bantuan kamu di sini, mohon datanglah dan bantu sahabat baik kamu ini!"
Alexa menajamkan kedua matanya menatap Valheins. Kebencian dan kemarahan yang sejak awal hanya dia tumpahkan pada sosok Valheins, agaknya perasaan yang bercampur dan berbaur menjadi satu itu akan lekas membuat dirinya menjadi gadis yang gagah dan berani.
Dia pun tersenyum miring, menutup kembali kepalanya dengan cindung, dan kemudian lekas berlari ke arah Valheins yang tengah asik menatapi kemesraan pasangan Sean dan Riyana.
"Sialan!" umpat Valheins menyaksikan momen yang baginya sungguh sangat memuakkan itu.
Dia hendak berlari, namun mendadak salah satu tangannya diraih oleh Alexa, dan hal itu membuat dirinya harus berhenti melangkah dengan sangat terpaksa.
"Mau kemana kau kakek tua? sudah belajar menghormati keluarga? atau kau bahkan tidak pernah bisa mengerti apa arti sebuah keluarga!"
Ucapan Alexa diatas sebenarnya sungguh menyentuh hati siapapun yang mendengarnya, tapi agaknya simbiran halus dari Alexa untuk Valheins itu masih belum cukup untuk membuat pria itu tersadar dari kesalahannya.
"Mau apa kau bocah ingusan? aku akan menghabisi kamu!"
"Coba saja kalau bisa!"
Blam!
Pukulan tangan Valheins nampak mengenai wajah Alexa, namun tidak membebaskan apapun di sana, hanya terlihat pipi Alexa yang merah merona menjadikan pipinya bak lukisan indah yang tidak ada duanya.
Valheins terkejut saat pukulan itu terasa sangat kuat baginya, tapi ternyata Alexa dengan mudahnya menahan pukulan itu bahkan masih bisa tersenyum di hadapan mata Valheins. Sejujurnya hal itu terlihat sangat mengagumkan.
"Ka-kau!?" tanya Valheins terlihat sangat terkejut dan juga tertegun dengan sikap Alexa itu.
"Heng! kenapa? kenapa denganmu? kaget? terkejut karena aku juga tidak kalah kuatnya darimu?"
"Kau bukan apa-apa dibanding denganku, jadi seribu kalipun kau mengelak dari perlawananku, suatu hari nanti kau juga pasti akan mati di tanganku, kau hanya sedang mengulur waktu kematianmu itu!"
Blam!
"Siapa bilang?"
Terdengar suara seseorang yang menyahut perkataan Valheins barusan. Dan sekarang, saat Alexa melirik ke arah kanannya, dia melihat ayah dan ibunya berdiri dengan gagah dan sangat berani melindungi sang putri.
"Jika kau ingin hadapi anakku, maka hadapi dulu ayahnya!" ucap Sean pada Valheins.
"Heng! mau melawan aku? bukankah kau hampir mati karena dengan bodohnya brusaha untuk melawanku?" tanya Valheins berbalik pada Sean.
Dia bahkan tertawa terbahak-bahak menanggapi perkataan dari Sean.
Ha.. ha.. ha..
"Aku tidak bodoh, hanya saja, takdir menuntunku untuk mengalah, karena ingin melihat dengan kedua mataku suatu hari nanti anakku yang akan menghabisi kamu!" jawab Sean tegas.
"Ayah, kamu sudah kami beri kesempatan untuk merubah dirimu menjadi lebih baik dan berguna bagi kami semua, tapi kenapa kau malah ingin menguasai dunia dan dengan teganya menginginkan jantung anak kami?" tanya Riyana, dia terlihat sangat sedih pada saat mengatakannya.
"Itu karena kau terlahir dari wanita yang tidak aku inginkan kehadirannya! itu karena kau juga tidak pernah aku harapkan kehadirannya, tapi untunglah, kau melahirkan seorang putri yang sangat berguna bagiku, jadi, beginilah cara kamu berbakti pada ayah kandung kamu ini," ucap Valheins pada putrinya.
"Berbakti?" tanya Alexa mengalihkan tatapan mata mereka, "ck, ck, ck, lucu sekali saat mendengar kata-kata itu dari mulut kamu, bisakah kau mencerna dulu apa maksud dari berbakti itu?" tanya Alexa lagi, dia bahkan terlihat sangat pandai berdebat dengan kakeknya, "jangan pernah meminta seorang anak untuk berbakti, jika dirimu saja hanya menginginkan kematian dari putrimu dan bahkan dari putrinya putrimu!"
"Yang kamu lakukan adalah pertentangan, karena kami berpikir, kau layak untuk tidak mendapat pembaktian dari kami!"
Anakku, dia sungguh sangat berani..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...