
~Happy Reading~
Malam kian sepi, semua orang tengah terlelap, hanya semilir angin yang sedikit kencang membuat setiap insan menaikan selimut mereka untuk begelung dalam kehangatan. Diluar rumah yang cukup besar, nampak sedikit terjadi kerusuhan, para penjaga berusaha untuk mencegah segerombolan orang berpakaian serba hitam untuk masuk ke dalam rumah.
Drrt…drrrt….
Getar ponsel terdengar hingga membangunkan siempunya dari tidur lelapnya,
“Hallo…” jawab pemilik ponsel dengan suara serak khas bangun tidur,
“Xa, cepat bersiap, kondisi di luar rumah tak aman!”
Seketika mata bulat Alexa melebar mendengar penuturan seseorang di seberang sana, dia pun bangkit dari ranjang dan mengintip melalui sela-sela gorden jendela, melihat situasi di luar rumah.
"siapa mereka kak?" tanya Alexa sedikit panik,
"kemungkinan orang yang tadi siang"
“Kakak sekarang di mana?”
“kakak dalam perjalanan ke sana, anak buah kakak sebagian juga sudah meluncur ke sana, jangan khawatir, tapi juga jangan ceroboh”
“baik kak,”
“aku akan evakuasi orang rumah terlebih dahulu”
“oke, ikutlah bersembunyi bersama mereka”
“baik kak”
Alexa hanya menurut akan perintah dari orang yang menghubunginya, mengingat kondisinya saat ini belum bisa melakukan penyerangan secara langsung.
Setelah mematikan sambungan telephonenya, ia bergegas ke kamar kakaknya yang berada persis di samping kamarnya. Perlahan Alexa melangkah masuk, agar tak menimbulkan suara yang mencurigakan. Takut sudah ada yang berhasil menerobos ke dalam rumah.
“kak…” panggil Alexa pelan seraya menepuk lengan sang kakak
Mendapat sentuhan di lengannya membuat Joe terlonjak waspada, seketika matanya membulat melihat sang adik sudah berdiri di sampingnya, “Xa…”
“ada penyerangan di luar, kita harus bersembunyi, bantu Exa bangunkan om dan tante, dan juga bibi, Exa akan bangunkan Rayhan, nanti kita berkumpul di ruang perpustakaan samping kamar Rayhan, jangan buat suara gaduh ya kak” ucap Alexa cepat tanpa memberikan kesempatan sang kakak untuk membantah,
"kunci kamar kakak setelah keluar" setelah mengucapkan itu Alexa pun bergegas ke kamar sang sepupu yang berada di ujung, sementara Joe bergegas ke kamar om dan tantenya yang berada di lantai bawah.
Samar-samar Joe mendengar keributan di gerbang depan, untung saja jarak antara pagar dan bangunan rumah cukup jauh, jadi pergerakan mereka masih belum diketahui, hanya berharap belum ada yang berhasil menerobos masuk ke dalam rumah. Joe pun mengetuk pelan kamar om dan tantenya, kemudian memanggil perlahan. Untung saja om Ardian langsung mendengar panggilan Joe, dan segera membukakan pintu, ada apa gerangan? hari masih gelap, kenapa Joe membangunkannya? Apa terjadi sesuatu pada Alexa? berbagai pikiran berkecamuk dalam kepala om Ardian.
“Om, tante sudah bangun?” bisik Joe
“masih tidur, kenapa Joe?” om Ardian ikut berbisik setelah mendengar sang keponakan berbisik, mulai paham kalau ada yang tidak beres,
“om dengar keributan di luar? kita harus segera bersembunyi om, tolong bangunkan tante, dan pergi ke ruang perpustakaan, Exa dan Rayhan menunggu di sana, Joe akan membangunkan bibi dulu, tolong jangan buat keributan om”
Setelahnya dengan cepat Joe membangunkan bibi pembantu rumah tangga, dan mengajaknya ke ruang yang dimaksud Alexa.
Sementara Alexa masih berusaha membangunkan sang sepupu, karena di antara semua penghuni rumah, Rayhan memang yang paling sulit untuk dibangunkan, apalagi masih tengah melam seperti ini.
“Ray… Ray….” bisik Alexa pelan sembari menepuk lengan Rayhan, yang menbuat Rayhan semakin mengeratkan pelukan pada gulingnya, menolak untuk diganggu.
Karena tak kunjung bangun akhirnya Alexa mencubit pinggang sang sepupu, membuat Rayhan seketika menjerit, namun dengan cepat Alexa membekap sang sepupu agar tak menimbulkan suara
Rayhan yang terbangun karena terkejut pun sempat memberontak karena mulutnya dibekap, namun setelah mendengar suara sang sepupu, ia pun mengerjapkan matanya, meyakinkan penglihatannya, karena kondisi kamar yang gelap.
“bangun! ikut aku!” bisik Alexa pun berusaha menarik sang sepupu agar bangkit dari ranjang empuknya,
“ada apa sih Xa?” ucap Rayhan pelan, karena tak mengerti maksud sang sepupu, tengah malam membangunkannya dengan dicubit, lalu mengajaknya tanpa memberikan penjelasan, dan lagi kenapa harus berbisik-bisik.
“kau tak dengar di luar ada keributan?” ucap Alexa pelan seraya melangkah keluar kamar Rayhan dan menuju ruangan di sebelahnya, setelah mengunci kamar sang sepupu.
Rayhan pun mengikuti dengan perlahan dan sesekali mendengarkan suara yang berasal dari luar rumah, bear saja memang ada keributan, mungkin karena kamarnya berada di ujung jadi ia tak begitu memperhatikannya, dan tak membuat Rayhan terganggu dari tidur lelapnya,
Saat Alexa dan Rayhan masuk ruangan, sudah terlihat om Ardian dan tante Rasty di sana, meski pencahayaan yang remang-remang, namun Alexa masih bisa mengenali mereka.
“jangan nyalakan lampu Ray” cegah Alexa saat melihat Rayhan melangkah mendekati saklar lampu di ruangan itu.
“oh iya, maaf Xa” ucap Rayhan setelah paham akan situsi yang terjadi,
“di mana kak Joe om?”
“itu” tunjuk om Ardian yang membuat Alexa menoleh ke arah pintu, dan melihat sang kakak dan bibi sudah melangkah masuk ruangan.
“kunci pintunya kak”
Joe pun mengikuti arahan sang adik setelah memastikan semua orang sudah berada di dalam.
“Ray, kamu bawa ponsel?”
“tidak Xa, ponselku aku charge di kamar, tak sempat mengambilnya”
“ok, tak apa. Om dan tante kalau bawa tolong dimatikan dulu, atau disilent dulu, bibi juga”
Semua orang mengikuti arahan dari Alexa, setelahnya Alexa melangkah ke depan rak paling pinggir, dan meminta kakaknya untuk menggesar rak tersebut.
“Xa…” pekik om Ardian perlahan setelah melihat pintu dibalik rak yang tergeser
“semuanya masuk, nanti Exa jelaskan di dalam”
Tak menunggu lama, semua orang bergegas masuk ke dalam ruangan yang di maksud Alexa, dan saat pintu tertutup, Alexa pun menekan tuas untuk menggeser rak, agar menutup kembali, hingga menyamarkan pintu yang ada di baliknya.
“sejak kapan ini Xa?” tanya om Ardian pelan setelah mereka berada di dalam ruangan,
“hehe, maaf om, Exa rombak ruangan ini waktu kalian ke Australi tahun lalu”
“pantes saja om merasa ruangan perpus semakin sempit” om Ardian merasa heran sekaligus kagum dengan ruangan itu.
“kamu hutang penjelasan sama kakak dek” bisik Joe di telinga sang adik, ia penasaran dengan alasan Alexa membuat tempat persembunyian ini, Tempat yang mereka masuki memang tak besar, namun cukup nyaman, ada kasur lantai yang telah dibentangkan untuk alas, dan meja kecil yang berada di sudut ruangan, bahkan kulkas berukuran kecil juga ada di sana.
“kalian istirahat dulu, jangan buat keributan, agar mereka tak curiga”
Kini mereka pun sudah duduk berdekatan dan tetap bersikap waspada.
“apa yang sebenarnya terjadi Xa?” tanya Rayhan yang sedari tadi penasaran, namun belum ada kesempatan untuk bertanya, dan hanya bisa memendam rasa penasarannya,
“sepertinya orang yang menembak Alexa kemarin datang untuk menyerang kembali”
tbc