
Dena melewati hari-harinya seperti biasa. Hanya saja ia tidak bisa menghilangkan perasaan khawatirnya terhadap Richardo dan Meyer. Namun, kasih sayang dari Sahara dan Dede membuat hidupnya lebih berwarna. Kedua orangtuanya memanjakannya dan merawatnya dengan baik.
Dua Minggu kemudian
Olivia melangkah buru-buru menuruni tangga kediaman kedua orangtuanya.
"Olivia! Apa yang terjadi?" tanya Denada mendekati saudaranya.
"Aku harus kembali ke mansion klan king. Ada tugas yang harus aku kerjakan." jawab Olivia meninggalkan Denada. Tampan lupa gadis itu juga berpamitan kepada kedua orangtuanya.
"Apa Mama dan Papa tidak khawatir dengan kepergian Olivia?" tanya Denada kepada kedua orangtuanya.
"Tenanglah, Nak.. Adikmu bukanlah gadis yang penakut seperti yang kau pikirkan. Kami sudah terbiasa dengan kepergiannya. Ia merupakan seorang dokter. Apa lagi sekarang Olivia diangkat sebagai dokter pribadi Tuan muda Douglas. Tentu saja permintaan itu tidak bisa ditolak oleh keluarga kita. Bagaimanapun keluarga Douglas merupakan adik ipar dari Josua Thomson."
"Josua Thomson?" cicit Denada cukup asing dengan nama tersebut.
"Josua Thomson merupakan suami dari saudari kandung dari istri tuan muda Douglas. Kudengar beberapa hari yang lalu Stevi kembali dengan suami dan putra pertamanya."jawab Dede mengelus kepala putrinya.
"Benarkah?" tanya Dena sedikit kepo.
"Ya. Tuan Thomson merupakan salah satu rekan bisnis Papa." jawab Dede menyakinkan putrinya.
"Ternyata dia sudah menikah." cicit Denada yang masih bisa di dengar oleh kedua orangtuanya.
"Siapa yang sudah menikah? Apa kamu mengenal mereka?" tanya Dede dan Sahara penasaran.
"Tidak Pa, Ma. Aku tidak mengenal mereka." jawab Denada terbata-bata.
"Apa kamu ingin jalan-jalan di taman?" tanya Dede menawarkan aktivitas lain yang tidak membosankan kepada putrinya."
"Sepertinya aku ingin menikmati rujak buah mengkal di taman belakang, Pa." cicit Denada tiba-tiba ngidam.
"Tapi, aku mau Papa yang manjat pohon mangga di depan rumah." tambah Dena berbinar bahagia.
"Tapi, Papa kamu tidak lagi sekuat waktu muda memanjat pohon setinggi itu sayang." sela Sahara mengingatkan putrinya.
"Tenang saja, Ma. Papa masih kuat kok. Bahkan lima ronde masih dalam semalam juga masih kuat." seru Dede dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Papa! jangan ngawur deh! Putri kita masih ada disini!" kata Sahara dengan wajah cemberut seperti anak muda yang sedang kesal.
"Putri kita hanya bisa bahasa latin, spanyol, Italia dan juga Prancis sayang. Mana dia tahu bahasa Indonesia." jawab Dede menaikkan sebelah alisnya menggoda istrinya.
"Udah sana! Turuti ngidam putri kita. Entar kalau tidak dituruti, cuci kita bisa-bisa ileran." cerocos Sahara mendorong pelan punggung suaminya.
Sementara Denada menatap bingung wajah kedua orangtuanya. Ia memang benar-benar tidak tahu bahasa Indonesia. Hanya saja kalimat terima kasih dan apa kabar sangat tidak asing di pendengarannya. Karena Olivia cukup sering menggunakan bahasa itu saat sedang mengobrol dengan orang-orang yang berasal dari Indonesia.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Denada penasaran.
"Ayo kita ketaman belakang. Mama akan meminta pelayan membuatkan bumbu rujak terenak untuk kamu dan cucu Mama."
Sahara mengandeng tangan Denada melangkah ke taman kediamannya. Ia tidak mau Denada bertanya hal diluar batas.
Setelah duduk di gajebo selama 20 menit. Dede datang dengan beberapa buah mangga mengkal. Denada tersenyum senang menatap buah mangga mengkal tersebut.
Buah mangga itu dikupas dan dipotong kecil-kecil oleh Sahara. Entah mengapa saat melihat buah mangga yang belum matang itu. Sahara merasa giginya ngilu. Sementara Dede cukup senang melihat raut wajah bahagia putrinya. Ia juga bersyukur Dena tidak menangis saat jauh dari ayah kandung calon cucunya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sahara merasa ngilu melihat Denada menyantap rujak itu dengan lahap.
"Enak dan rasanya sangat gurih." jawab Dena kembali memasukkan sepotong demi sepotong buah mangga ke dalam mulutnya.
"Jangan banyak-banyak sayang. Entar kamu sakit perut." kata Sahara menghentikan gerakan tangan Denada yang ingin mengupas sepotong buah mangga lagi.
"Tapi, Dena masih mau, Ma." cicit Dena dengan suara bergetar. Sifatnya tiba-tiba berubah melow seperti anak kecil. Mata hitam itu juga terlihat berkaca-kaca menatapnya penuh harapan.
"Sudah biarkan saja. Lagian ngidam putri kita tidak ekstrim sama sekali seperti saat Mama mengandung Olivia." celetuk Dede menyindir istrinya.
"Emang Mama ngidam apa, Pa?" tanya Denada tiba-tiba moodnya kembali membaik.
"Mama minta Papa mencium salah satu buaya yang ada di kebun binatang." cicit Dede tiba-tiba merinding mengingat-ingat kejadian itu.
"Ah! Bukankah buaya itu sangat imut..." lirih Denada tiba-tiba melamun membayangkan Meyer mencium seekor buaya jantan.
Hiks
Hiks
Hiks
"Tapi, Meyer tidak ada disini." kata Denada berusaha menahan tangisnya agar tidak berisik.
"Kan masih ada Papa." bujuk Sahara memenangkan perasaan putrinya.
"Ma..." sela Dede agar istrinya menghentikan candaannya. Cukup sekali saja Dede trauma dengan ngidam aneh istrinya. Bisa-bisa nyawanya melayan menuruti rasa ngidam putrinya.
"Demi putri dan cucu kita, Pa." jawab Sahara tersenyum menyeringai.
"Apa Mama tidak takut berubah status menjadi janda?" kata Dede menakut-nakuti istrinya. Ia berharap Sahara mengurungkan niatnya menghasut Denada.
"Enggak lah pa. Kan masih ada laki-laki lain yang lebih gagah dan tampan diluar sana." celetuk sahabat semakin senang menggoda suaminya.
"Ah! Mama! nyebelin!" ketus Dede tiba-tiba berubah childs.
Meskipun Denada tidak mengerti dengan arti dari pembicaraan kedua orangtuanya. Tapi, ia cukup terhibur melihat ekspresi kedua orangtuanya.