
Olivia mengandeng tangan Mamanya dan Denada dengan erat. Mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
"Apa Papa tidak bahagia dengan hadiah anniversary pernikahan yang aku berikan untuk kalian?" tanya Olivia duduk disebelah Papanya.
Papa Olivia tersenyum lebar dan mengecup kening putrinya.
"Maafkan, Papa. Papa tahu kamu anak yang kuat." Papa Olivia memeluk tubuh Olivia dengan hangat.
"Mulai dari sekarang. Papa akan lebih sering meluangkan waktu bersama kalian. Karena kalian adalah alasan Papa untuk tinggal di rumah." kata Papa Olivia.
"Baiklah. Aku akan menagihnya jika Papa kembali sibuk dengan perusahaan." kata Olivia pura-pura kesal.
"Tidak akan." kekeuh Papa Olivia dengan yakin.
Sementara Mama Olivia tersenyum bahagia mengelus kepala Denada. Ia merasa senang melihat putri kecilnya sudah kembali ke rumah. Meskipun ia tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya sedari kecil.
"Maafkan kami. Mungkin sekarang merupakan waktu yang sudah Tuhan persiapkan untuk bertemu dengan mu, sayang." lirih Mama Dena dengan mata berkaca-kaca.
Dena mengulurkan tangannya menghapus air mata Sahara. "Ma, jangan menangis. Sekarang aku sudah kembali. Hanya saja aku masih penasaran dengan peristiwa yang terjadi dimasa lalu." kata Dena dengan suara lirih. "Meskipun aku sudah mendengar sebagian kronologinya dari versi yang berbeda." lanjutnya dalam hati.
Sahara menatap suaminya dengan tatapan rumit. Ada sedikit perasaan tak nyaman di dalam hatinya mendengar pertanyaan Dena.
"Jika Mama tidak siap menceritakannya. Maka Papa yang akan menceritakan kronologi kejadian dimasa lalu." sela sang suami tersenyum hangat.
"Tapi, Mas..." sela Sahara ingin menghentikan tindakan suaminya. Ia ingin mengubur peristiwa dimasa lalu dalam-dalam. Mengingat kejadian di masa lalu membuat hidup Sahara dan suaminya terasa pilu.
"Tidak apa-apa sayang. Biarkan kedua putri kita mengetahuinya."
Papa Olivia dan Dena menatap lurus ke depan sembari mengingat-ingat kejadian dimasa lalu.
"Sebenarnya kejadian dimasa lalu hanyalah kesalahpahaman. Hanya saja kesalahpahaman itu sampai hari ini belum bisa diluruskan. Karena, kami tidak bisa lagi kembali ke Kolombia. Seseorang sepertinya sengaja melarang kami masuk ke negara itu."
"Ya, hanya kesalahpahaman. Kami dituduh sebagai pelaku atas sebuah kecelakaan puluhan tahun lalu. Sehingga membuat sepasang suami istri tewas dalam kejadian tragis itu. Saat Papa menjelaskan kronologi kejadian itu, para penegak hukum tak ada yang percaya. Sementara sebuah mobil yang melintas disaat kejadian itu tiba-tiba bungkam dan menghilang seperti ditelan bumi. Bahkan keluarga korban berani bertindak diluar batas. Hingga kami harus kehilangan mu, nak. Anak satu-satunya yang bertahun-tahun lamanya sudah kami nantikan."
Dena merasa hatinya sakit mendengar cerita ayahnya.
"Siapa korban yang tewas di kecelakaan itu, Pa?" tanya Olivia penasaran. Sementara Dena tentu saja sudah tahu siapa korban yang tewas saat kecelakaan itu.
"Kedua korban merupakan keturunan dari Mahesa Lendsky. Dari informasi yang Papa terima dari detektif swasta yang Papa sewa. Dua korban yang tewas merupakan Enzo Lendsky selaku putra pertama Mahesa dan Marisa Miller selaku menantu Mahesa. Mereka tewas di hari yang sama."
"Lendsky...." lirih Olivia menatap Denada dengan raut wajah rumit.
"Apa kau mengetahui peristiwa ini?" tanya Olivia kepada Dena.
"Ya, aku pernah mendengar semua cerita ini dari kakek Meyer. Tanpa sengaja aku menguping pembicaraan mereka." lirih Denada meneteskan air mata.
"Apa kalian mengenal pria itu?" tanya Papa mereka dengan raut wajah penasaran.
Dena memejamkan kedua matanya dan air mat mulai membanjiri pipinya.
"Maafkan aku Meyer. Harusnya aku tidak meninggalkan mu. Aku tahu bagaimana rasanya hidup tanpa kasih sayang kedua orang tua." gumam Dena dalam hati.
Dena tiba-tiba mengelus perutnya. "Tapi, keselamatan anak kita lebih penting. Aku akan menunggu mu hingga takdir mempertemukan kita kembali dengan cinta yang sama."
Melihat Dena menangis dalam diam. Olivia langsung menjawab pertanyaan Papanya.
"Ya, tentu saja kami mengenalnya . Karena cucu pria itu merupakan calon ayah dari calon cucu Papa."
"Cucu?" tanya Sahara dan Dede bersamaan.