
Tuan Lendsky tiba di depan sebuah kamar persalinan. Ia terdiam lama sebelum mengetuk pintu itu tiga kali.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?" tanya pemuda berusia kurang lebih 26 tahun membukakan pintu.
"Apa Anda yang bernama Dede Wildan?" tanya Tuan Lendsky tanpa ekspresi.
"Ya! Anda benar Tuan." sahut Dede tersenyum tipis.
"Anda harus mempertanggungjawabkan perbuatan Anda di kantor polisi!" ucap Tuan Lendsky tiba-tiba meninggikan nada suaranya.
Sementara Dede terkejut mendengar perkataan pria setengah baya yang ada dihadapannya.
"Apa Anda salah paham Tuan?" tanya Dede lagi semakin bingung mendengar perkataan Tuan Lendsky.
"Apa kau lupa! kau sudah menabrak mobil putra dan menantu saya yang mengakibatkan mereka harus kritis!!" terbaik Tuan Lendsky emosi.
Sementara di dalam sana istri Dede menyeritkan dahinya mendengar suara teriakan seorang pria. Dengan lembut wanita itu memeluk sang putri dan memasukkan ASI ke dalam mulut putrinya agar tidak terusik mendengar suara dari luas sana.
Dorong kuat pintu kamar persalinan itu membuat istri Dede terkejut dan sang putri tiba-tiba menangis kencang. Tubuh Dede juga ikut terdorong karena dorongan kuat Tuan Lendsky.
"Mas, Ada apa ini?" tanya istri Dede berniat mendudukkan tubuhnya sehabis melahirkan.
"Tidak apa-apa sayang. Sepertinya ada sedikit kesalahpahaman disini." ujar Dede tidak mau membuat istrinya khawatir. Apa lagi istrinya baru saja melahirkan. Takutnya masalah ini mempengaruhi kondisi Istrinya.
"Sebaiknya kita keluar Tuan. Kita menyelesaikan masalah ini sampai selesai." ujar Dede mempersilahkan Tuan Lendsky keluar dari kamar rawat istrinya.
#
#
Di luar rumah sakit
"Apa maksud Anda putra dan menantu Anda?" tanya Dede ingin mengetahui lebih lanjut lagi mengenai ucapan ngelantur yang keluar dari mulut Tuan Lendsky.
"Apa kau sudah lupa atau tidak mengingat kejadian beberapa jam yang lalu? apa kau yang menabrak mobil putra dan menantuku!!" bentak Tuan Lendsky dengan mata melotot tajam menatap wajah Dede. Ia sangat yakin kalau pria di depannya ini bukan pria keturunan Eropa.
"Maaf Tuan. Sepertinya Anda salah paham. Bukankah mobil putra Anda yang menyerempet mobil saya hingga saya harus membanting setir ke kanan. Saya membanting setir ke kanan untuk mengurangi resiko kecelakaan. Apa lagi istri saya sedang mengandung."
"Dan juga--" Dede berusaha mengingat-ingat kejadian saat sekilas tanpa sengaja pandangannya melihat mobil lain ikut melaju kencang di belakangnya.
"Saat itu bukan saya yang menabrak mobil Putra dan menantu Anda. Tapi mobil hitam yang ikut melaju kencang dibelakang saya. Saat saya membanting setir ke kanan. Saya melihat mobil putra Anda sudah mengeluarkan api. Saat saya tidak tahu harus melakukan apa. Apa saya harus menolong putra dan menantu saya atau menyelamatkan istri dan putri saya. Kebetulan saat itu ada mobil yang melintas dari arah yang berlawanan dibelakang mobil putra Anda. Jadi saya langsung tancap gas melanjutkan perjalanan kami menuju rumah sakit. Karena saya pikir pengemudi itu akan menelepon ambulan dan menyelamatkan putra Anda." ujar Dede dengan detail.
"Bukti CCTV yang saya terima tidak memperlihatkan hal seperti yang kau ucapkan! malahan CCTV itu memperlihatkan bahwa kau lari setelah menabrak mobil yang ditumpangi putra dan menantuku!!"
"Jika kondisi putra dan menantuku tidak kunjung membaik juga! aku akan memberimu pelajar!" ancam Tuan Lendsky sebelum meninggalkan Dede.
#
#
Keesokan harinya
Di depan ruangan UGD terjadi kericuhan karena keluarga terpandang itu sangat terkejut mendengar berita kematian putra dan menantunya. Dokter berkata kalau sepasang suami-istri itu sudah meninggal pukul 4 dini hari tadi.
"Rumah sakit apa ini!!"
"Menolong pasien sedang kritis saja tidak becus!!"
"Aku akan menuntut rumah sakit ini dan meratakannya!!!" teriak Tuan Lendsky marah.
"Ap-apa itu benar dokter?" tanya Nyonya Lendsky terbata-bata. Ia merasa jantungnya seakan-akan berhenti berdetak. Ia merasa dunianya hancur seketika. Perempuan paruh baya itu luruh ke lantai dan tidak sadarkan diri.
BUG
Orang-orang yang berlalu lalang disekitarnya langsung menolong Nyonya Lendsky.
Sementara Tuan Lendsky langsung membalikkan tubuhnya ketika mendengar suara istrinya. Ia melihat istrinya sudah jatuh ke lantai dan ditolong orang-orang yang berlalu lalang.
Pria setengah baya itu langsung berlari mengikuti langkah orang-orang yang membantu istrinya. Pikirannya seakan buntu tidak tahu harus melakukan apa. Ia ingin menangis dan berteriak tapi tidak bisa. Ia juga memikirkan bagaimana nantinya kondisi psikologi cucunya satu-satunya, sudah ditinggal mati kedua orangtuanya untuk selama-lamanya pikirnya.
Namun setibanya di kamar rawat istrinya, lagi-lagi Tuan Lendsky harus mendengar berita yang membuat hatinya hancur. Istrinya berhenti bernapas karena terkena serangan jantung. Air mata pria itu mengalir deras mendengar kabar buruk itu. Pria setengah baya itu menangis tersedu-sedu mengenggam tangan dingin istrinya.
"Sayang--'
"Apa kamu lebih sayang putra dan menantu kita dari pada aku dan cucu kita?"
"Mengapa kamu meninggalkan kami juga?"
"Siapa yang akan mendukung dan menguatkan ku?" tanya Tuan Lendsky mendekap tubuh kaku istrinya.
Kabar kematian istri, putra dan menantunya membuat Tuan Lendsky terpuruk. Ia merasa kabar buruk itu menghancurkan hidupnya. Ia juga merasa tubuhnya seperti ditusuk ribuan pisau. Apa yang akan Ia lakukan dimasa depan pikirnya.
Setelah puas mengeluarkan keluh kesahnya kepada istrinya. Tuan Lendsky kemudian menghapus air matanya. Ia mengepalkan kedua tangannya melampiaskan amarahnya.
Tuan Lendsky kemudian keluar dari ruangan itu, karena petugas akan memindahkan tubuh istrinya ke ruangan mayat agar diberi formalin. Pria setengah baya itu melangkah menuju kamar yang ditempati putra dan menantunya.
Namun langkahnya harus terhenti saat tanpa sengaja Ia melihat Dede dan istrinya tersenyum bahagia duduk di taman rumah sakit sembari mengendong bayi.
"Aku tidak akan membiarkan keluargamu bahagia!!" monolog Tuan Lendsky menatap penuh dendam kearah mereka.
"Hallo?"
[Hallo Tuan.] sahut seseorang dari seberang sana.
"Aku memiliki sebuah pekerjaan. Datang ke rumah sakit sekarang juga!" ujar Tun Lendsky sebelum mengakhiri panggilannya.
Tuan Lendsky lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar rawat putra dan menantunya. Lagi-lagi pria paruh baya itu tidak bisa membendung air matanya.
"Kalimat seperti apa yang harus aku katakan kepada putra kalian, ketika Meyer bertanya dimana kedua orangtuanya."
"Enzo--"
"Marisa--"
"Mengapa kalian pergi secepat ini?" lirih Tuan Lendsky benar-benar terpuruk.
Tak beberapa anak buahnya datang menghampirinya.
"Tuan! apa Anda memanggil saya?" tanya pria itu mendekati Tuan Lendsky.
"Saya mau kau melakukan satu pekerjaan untuk saya!" ucap Tuan Lendsky mengangkat kepalanya keatas menatap langit-langit lorong rumah sakit.
"Apa yang Anda ingin saya lakukan Tuan?" tanya pria itu bertanya. Ia belum tahu mengenai kematian Nyonya, Tuan muda dan Nona mudanya.
...***Bersambung***...