
Meyer melangkah menuju taman rumah sakit memenangkan perasaannya. Ia tidak bisa membendung air matanya. Selama ini Meyer merasa kesepian. Saat mendengar kekasihnya hamil 2 bulan, Meyer merasa hidupnya lebih berwarna lagi. Ia sudah tidak sabar mendengar suara tangisan bayi dan rengekan bayi di kediamannya. Namun Katherine.... wanita iblis itu menghancurkan semuanya. Ia menghalalkan segala cara karena obsesi dan ambisinya.
"Tuan...." panggil Gerry tiba-tiba sudah berdiri di belakang Meyer.
"Ger.... aku gagal menjadi seorang Papa.... bayi kami.... jantung bayi kami berhenti berdetak."
"Hiks....hiks.... hiks...."
"Aku gagal, Ger...."
Meyer menangis terisak-isak di depan di bangku taman rumah sakit.
"Tuan.... ini ujian. Anda harus tegar dan memberikan semangat dan kekuatan kepada Nona Dena. Mungkin Ia juga akan terguncang mendengar kematian bayi kalian." nasehat Gerry. Ia tahu ikatan batin antara ibu dan jabang bayi yang paling dekat. Bisa saja Dena akan menyalahkan dirinya atas kematian bayi mereka.
"Tapi aku takut Dena akan meninggalkan ku, Ger.... aku takut Dena pergi menjauh dari hidupku." Ia takut berada di dekat Meyer menjadi ancaman bagi Dena. Ancaman dari Katherine dan tidak pernah mendapatkan restu dari Kakek Meyer.
"Percayalah Tuan. Sejauh apapun suatu hari nanti Nona pergi. Ia akan tetap kembali ke pemiliknya. Hanya saja Anda harus sabar, kuat dan tegar menghadapi ujian hidup ini. Saya tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan. Karena saya belum pernah merasakannya." ucap Gerry pelan.
"Ya.... kau benar! ternyata aku salah tempat kalau mau curhat." ketus Meyer tiba-tiba membuat Gerry tertawa cekikikan.
"Lebih baik Anda kembali masuk ke dalam rumah sakit,Tuan. Tunggu Nona Dena hingga siuman." seru Gerry menatap Meyer.
"Kau benar! aku harus menunggunya hingga sembuh." tukas Meyer menghapus jejak air matanya. Ia langsung berdiri dari duduknya setelah mengucapkan terima kasih kepada Gerry.
"Baik, Tuan. Gaji di naikkan kan?" celetuk Gerry tersenyum lebar.
"Cih! dasar mata duitan." tukas Meyer kesal.
"Gajimu dinaikkan 10%." sambung Meyer berlalu dari taman.
Gerry tersenyum senang mendengar perkataan Meyer. Gerry kemudian berlalu dari rumah sakit menuju perusahaan. Karena Meyer meninggalkan perusahaan beberapa saat sebelum rapat dimulai.
Dua jam kemudian, dokter keluar dari ruangan UGD. Sementara Olivia sudah keluar dari ruangan UGD sejam yang lalu. Wajah gadis itu juga terlihat sedikit pucat. Meyer menyuruh seorang perawat membawa Olivia beristirahat di ruangan VIP yang sudah dipesan Meyer.
"Dokter.... bagaimana keadaan kekasih saya?"
Dokter yang bertanggung jawab atas kondisi Dena menghembuskan nafasnya pelan. "Keadaan pasien sudah stabil, Tuan. Namun turut berduka cita, karena bayi kalian tidak bisa di selamatkan." dokter itu ikut prihatin melihat kondisi tubuh bayi berusia 4 bulan itu sudah membiru.
"Bayi anda berjenis kelamin laki-laki dan bayi anda sedang di bersihkan oleh perawat. Anda bisa melihat keadaan kekasih dan bayi anda sebentar lagi setelah perawat memindahkan pasien ku kamar rawat jalan."sambung dokter itu sebelum berlalu dari sana.
Meyer merasa nafasnya berhenti berhembus mendengar perkataan dokter barusan. "Bayi laki-laki?" gumam Meyer. Air mata langsung luruh lagi dari sudut matanya.
Meyer melangkah mendekati pintu ruangan UGD, Ia bisa melihat aktivitas tiga orang perawat dari luar. "Apa aku memiliki dosa besar di masa lalu, hingga bayi kecil itu yang harus menanggung dosa ini? dia tidak tahu apa-apa.... tapi mengapa harus bayi kecil kami yang menanggung dosa orang tuanya." kata Meyer dengan lirih.
...***Bersambung***...