YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 23 Makan Siang Bersama



"-menghilangkan sebagai ingatannya mengenai keadaan 3 bulan yang lalu." ucap Meyer mencengkram kepalanya memikirkan dampak dari perbuatannya.


Hubungannya dan Dena semakin hari semakin baik, Meyer juga sudah melamar Dena seminggu yang lalu tanpa sepengetahuan kakeknya. Ia tidak mau kehilangan Dena ataupun menghancurkan keluargannya.


Tiba-tiba suara dering ponsel Meyer menghentikan obrolan mereka. Meyer dengan cepat mengangkat panggilan itu ketika melihat nama si penelpon.


"Hallo?" sahut Meyer mengangkat panggilan telepon dari Dena.


[Sayang, apa kamu masih di kantor? aku baru saja selesai pemotretan. Apa aku boleh mampir ke situ? sekalian kita makan siang di kantor kamu saja. Aku mampir dulu di restoran langganan kita.] ucap Dena dari seberang sana mendudukkan bokongnya di kursi ruangan ganti pemotretan.


"Boleh sayang. Apa kau tidak lelah? aku bisa menyuruh Gerry membeli makan siang untuk kita berdua." sahut Meyer tidak mau kekasihnya kecapean mengendarai mobil kesana kemari.


[ Tidak apa-apa sayang. Aku sudah memesannya. dua puluh menit lagi aku akan tiba di situ.] ucap Dena memasukkan barang-barangnya ke dalam tasnya.


"Baiklah sayang. Hati-hati dijalan. I love you." ucap Meyer membuat bibir wanita diseberang sana langsung melengkung.


[Love you too sayang.] balas Dena memutuskan panggilannya.


Mereka tidak menyadari jika sedari awal Katherine mendengar pembicaraan mereka. Wanita itu tersenyum menyeringai menatap rekaman suara yang sudah tersimpan di ponselnya.


"Jadi selama ini kau berusaha mencari kelemahan ku? kau tidak akan pernah mendapatkannya Meyer! kau secepatnya akan menjadi milikku!" ucap Katherine berlalu dari sana.


Ia berharap kakek Meyer setuju dan sependapat dengan Katherine agar secepatnya meresmikan pesta pernikahan mereka. Agar Katherine semakin dekat dengan sang pujaan hati.


#


#


Sementara di perusahaan tempat Dena bekerja


"Cie-cie lagi flower-flower nih ya" ucap Oliva yang sedari tadi sudah berdiri di belakang kursi Dena.


"Ih! apa sih!" ucap Dena malu-malu tidak bisa menyembunyikan rona bahagia di wajah cantiknya.


"Aku pulang duluan ya Bestie!" ujar Dena cipika-cipiki dengan Olivia.


"Hati-hati dijalan!" sahut Olivia tersenyum manis menatap wajah bahagia sahabatnya.


Sementara di perusahaan


"Apa aku memiliki jadwal rapat penting hari ini?" tanya Meyer menatap asistennya.


"Tidak Tuan." jawab Gerry sebelumnya sudah mengecek jadwal Meyer untuk satu hari ini.


"Baik Ger! tolong ambilkan tiket nonton di bioskop untuk malam ini." ujar Meyer memeriksa kembali dokumen-dokumen yang perlu di tandatangani.


Gerry langsung berlalu dari sana melaksanakan perintah Meyer.


20 menit kemudian terdengar ketukan pintu dari luar ruangannya.


Tok Tok Tok


"Masuk" teriak Meyer tanpa mengalihkan pandangannya.


Dena tersenyum menatap ekspresi serius kekasihnya saat sedang bekerja. Membuat ketampanan Meyer bertambah dua kali lipat di mata Dena.


"Apa pekerjaan itu lebih penting ketimbang menatap wajah cantikku ini, Tuan muda Lendsky?"sindir Dena melangkah mendekati meja kerja kekasihnya sembari membawa satu paper bag.


"Eh.... Sayang maafkan aku. Aku tidak sadar kalau kamu sudah masuk ke dalam ruangan ku." ucap Meyer menghentikan pekerjaannya.


"Tidak apa-apa sayang. Apa pekerjaan kamu sudah selesai?" tanya Dena meletakkan paper bag yang Ia bawa di atas meja.


"Sudah sayang." sahut Meyer berdiri dari duduknya.


"Ternyata sudah jam istirahat karyawan." sambung Meyer melirik sekilas kearah jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Ayo makan siang bersama. Aku membawa makanan kesukaan kita." ucap Dena memperlihatkan paper bag yang Ia bawa tadi.


"Ayo ke sofa ruangan tamu." ujar Meyer mengambil alih paper bag yang ada di tangan Dena. Pria itu lalu merangkul pinggang kekasihnya melangkah menuju sofa.


Mereka makan saling suap-suapan membuat para benda mati di ruangan itu seakan cemburu melihat keromantisan sepasang kekasih itu. Andaikan benda mati di ruangan itu bisa berbicara, mereka mungkin akan mendapatkan ceramah sepanjang hari. Ceramah mereka tentu saja mewakili kecemburuan author sebagai penjaga nyamuk di ruangan itu.


...***Bersambung***...