
Setelah menginap 3 hari di hotel. Kedua orang tua Olivia memintanya untuk membawa Dena ke kediaman mereka.
"Dena. Papa dan Mama meminta ku untuk membawa mu kembali. Aku berharap kau akan menerima menerima mereka dengan lapang dada. Karena kita tidak tahu, sebenarnya apa yang sudah terjadi di masa lalu."
"Aku juga penasaran dengan apa yang terjadi di masa lalu, Olivia."
"Jika, kau sudah siap. Maka bersiap-siaplah lah. Kita akan pulang ke rumah orang tua ku. Eh salah orang tua kita." kata Olivia tersenyum tipis.
Di kediaman keluarga Olivia
Sepasang suami istri menunggu kepulangan putrinya dengan sedikit cemas. Sudah dua jam mereka duduk menunggu kedatangan Olivia. Namun, gadis itu tak kunjung datang.
"Pa, dimana Olivia. Kenapa putri kita belum sampai juga."
"Sabar, Ma. Papa yakin sebentar lagi mereka akan sampai." jawab sang suami dengan wajah tenang. Ia masih asik membaca koran yang ada di genggamannya.
Benar saja, tak beberapa lama, terdengar suara klakson mobil dari halaman rumah. Mama Olivia melangkah tergesa-gesa menuju pintu keluar.
Pandangannya tak lepas dari pintu penumpang yang tak kunjungi dibuka. Namun, saat pintu itu sudah terbuka. Ia tersenyum hangat melihat Olivia keluar dari dalam mobil.
Ia dengan cepat melangkah menghampiri Olivia dan mendekapnya erat.
"Sayang, kenapa kamu jarang pulang akhir-akhir ini. Mama sangat merindukan kamu."
"Ma, aku menyiapkan hadiah spesial untuk anniversary pernikahan kalian." kata Olivia tersenyum tipis.
"Kami tidak butuh apa-apa, Sayang. Melihat mu pulang ke rumah dengan keadaan sehat saja sudah membuat kami bahagia." kata Mama Olivia mengelus lembut rambut panjang putrinya.
"Kalian tidak akan menolak hadiah yang kuberikan. Karena hadiah ini sudah kalian nanti-nanti sejak aku belum lahir." kata Olivia tersenyum senang.
Mama Olivia menautkan keningnya mendengar perkataan putrinya. Emang apa yang mereka nanti-nantikan sebelum kelahiran Olivia?
Tiba-tiba pintu sebelah kanan dibuka oleh seseorang. Dena keluar dari dalam mobil dengan wajah sembab. Namun, kaca mata hitam yang dikenakannya menutupi mata sembabnya.
Mama Olivia menatap Dena dengan bingung. Namun, entah kenapa saat melihat Dena, ada sesuatu yang aneh dengan detak jantungnya. Ia merasa sangat dekat dengan Dena. Meskipun ia belum melihat wajah asli Dena tanpa mengenakan kacamata.
"Mama tidak akan mengenali mu jika kau tetap mengenakan kacamata hitam itu." kata Olivia melepaskan pelukan Mamanya.
Dena melepaskan kacamata yang menutupi mata sembabnya. Ia menatap Mama Olivia dengan mata berkaca-kaca.
"Apa Mama tidak asing dengan wajahnya?" tanya Olivia tersenyum puas. Ia merasa sudah berhasil memberi kejutan anniversary pernikahan untuk Mamanya.
"Bagaimana bisa?" cicit Mama Olivia dengan terbata-bata.
"Siapa namamu?" tanya Mama Olivia dengan terbata-bata.
"Denada." cicit Dena takut-takut. Ia takut orang tua Olivia tidak menyukai keberadaannya.
"Bukankah Dena yang Mama dan Papa cari selama ini. Kalian meninggalkan ku sendiri dengan alasan perjalanan bisnis hanya untuk mencari keberadaan saudara ku. Sekarang aku sudah membawanya bersamaku. Jadi, aku berharap setelah ini. Mama dan Papa tidak akan menggunakan alasan perjalanan bisnis agar bisa meninggalkan ku sendirian. Karena menurutku tidak menyenangkan hidup sendiri tanpa kasih sayang dari kedua orang tua."
"Tapi, saat aku melihat kehidupan kecil, Denada. Aku merasa hidupku lebih beruntung. Karena kalian memfasilitasi ku dengan barang-barang mewah. Sementara ia harus hidup di panti asuhan dengan fasilitas seadanya. Aku salut dengan perjuangannya."
"Dan sekarang aku ingin Dena kembali menerangi keluarga kita. Karena aku tahu, selain membutuhkan ku. Kalian juga pasti membutuhkan anak pertama yang sudah kalian nantikan dari puluhan tahun lalu."
"Masuklah. Tidak baik mengobrol di luar rumah." potong Papa Olivia sudah berdiri didepan pintu.
Mama Olivia langsung memeluk Olivia dengan cepat. Ia merasa pertemuan itu hanya sebuah mimpi. Namun, saat merasakan sentuhan lembut tangan Denada di punggungnya. Ia jadi sadar. Jika pertemuan itu nyata dan bukan mimpi semata.
"Nak. Maafkan Mama. Mama sudah mencari mu kemana-mana. Tapi, keberadaan mu seperti ditelan bumi. Kami sudah menyewa banyak detektif swasta. Tapi, keberadaan mu tidak kunjung ditemukan."
Hiks
Hiks
Hiks
Mama Olivia menangis tersedu-sedu dipeluk kan Denada.
"Mama, Dena paham kok." kata Dena memenangkan perasaan Mama Olivia.
"Lihatlah. Sekarang aku dipertemukan kembali dengan kalian. Meskipun takdir harus memisahkan kita selama puluhan tahun." lanjut Dena.
Papa Olivia menatap Denada dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat bahagia melihat putrinya sudah tumbuh dewasa.
Dalam hati ia berjanji. Ia akan menjadi kedua putrinya sebagai ratu di istananya. Ia tidak akan membiarkan pria lain dengan mudah mendapatkan kedua putrinya.
"Masuklah. Kita mengobrol di dalam." kata Papa Olivia dengan suara bergetar. Ia juga ingin memeluk putrinya. Namun, kakinya seakan tidak sanggup melangkah mendekati putrinya.