YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 6 Saran Dari Gina



Dena langsung memblokir nomor Meyer dari daftar kontak ponselnya.


"Aku mau menenangkan hati dan pikiranku untuk beberapa minggu kedepannya." ucap Dena menghela napas panjang.


Dena mengurung diri di apartemen selama berhari-hari tanpa keluar sama sekali. Beberapa hari ini sang manajer-lah yang mengambil alih mengantar kebutuhan Dena ke apartemennya.


Pemberitaan rencana pertunangan Meyer beberapa hari ini benar-benar membuat batin Dena tertekan. Media-media gosip memberitakan mengenai pertunangan megah antara kekasihnya dan saingannya.


#


#


Hari ini merupakan, hari pertunangan Meyer dan Katherine Matthew. Pertunangan mereka diberitakan di beberapa media massa terkenal. Dena kembali membuka blokiran nomor Meyer. Ia tidak menerima satupun pesan masuk dari nomor ponsel Meyer.


Dena menatap kosong keluar jendela, sementara sang manajer ikut sedih melihat kesedihan Dena.


Ting


Dena dengan cepat mengalihkan pandangannya menatap kearah layar ponselnya.


[Mari kita putus!!!]


Pesan dari nomor ponsel Meyer benar-benar menghancurkan hati Dena hingga berkeping-keping. Ia menangis tersedu-sedu membaca pesan putus dari nomor kontak Meyer. Dena menangis sejadi-jadinya hingga matanya bengkak.


"Meyer sialan!!! kau akan menyesal memperlakukan anak yatim piatu seperti ini!!!" teriak Dena penuh dendam. Gina yang mendengar teriakan Dena seketika langsung merinding.


Sang manajer tidak bisa berbuat apa-apa melihat keterpurukan sang model. Karena Dena tidak akan mau mendengar sarannya melupakan Meyer disaat lagi terpuruk seperti itu.


"Hiks, hiks, hiks Ap-apa--"


"Apa aku harus menerima kenyataan pahit ini--"


"--Agar aku bisa menemukan kebahagiaan ku?" tanya Dena dengan suara bergetar.


Gina langsung melangkah mendekap tubuh bergetar Denada. Wanita itu sudah menganggap Denada Wilims seperti adiknya sendiri. Ia mengelus lembut punggung ramping Dena supaya hati dan pikirannya lebih tenang.


"Jangan menangisi pria brengsek seperti Meyer. Pria itu sama sekali tidak memiliki pendirian dalam hidupnya. Pria itu tidak pantas memiliki wanita sebaik dan secantik kamu Denada." sambung Gina berusaha menenangkan Dena.


Dena tidak mengindahkan perkataan manajernya. Tangisnya semakin menjadi mendengar perkataan Gina.


Setelah 2 jam, Dena akhirnya bisa sedikit tenang.


"Besok siang kita akan melakukan pertemuan dengan seorang pengusaha Indo-Inggris di Italia. Kebetulan pria itu sedang melakukan perjalanan bisnis disana."


"Kuharap kau tidak membuang kesempatan ini untuk menaikkan popularitas karir mu!" nasehat Gina menghapus jejak air mata di pipi Dena.


"Bangunlah dari kenyataan ini. Aku yakin kamu bisa sukses tanpa dukungan pria itu." sambung Gina memberi semangat kepada Dena.


"Aku pulang dulu! jangan bersedih lagi! makanlah makanan yang baru saja aku bawa!" pamit Gina penuh penekanan mengingatkan Dena agar segera makan malam.


"Siapa nama pria itu?" tanya Dena menghentikan langkah Gina. Sang manajer lalu menghembuskan napasnya pelan sembari menatap Denada.


"Prince Greyson Douglas. Ia merupakan salah satu pewaris Hotel dan Perusahaan Royal." sahut Gina tersenyum tipis.


"Kedengarannya pria itu belum memiliki kekasih! kau bisa mengambil kesempatan ini untuk melupakan rasa sakit hatimu atas penghianatan Meyer!"


"Namun ingat! pria itu merupakan mafia kejam dan sedikit temperamen. Kamu tidak akan mudah menaklukkan hatinya." sambung Dena dengan suara lembut.


"Aku mendoakan yang terbaik untuk mu!" ucap Gina sebelum keluar dari apartemen Dena.


Sementara Dena termenung lama mendengar perkataan dari manajernya.


"Mungkin tidak salah mencoba saran dari mbak Gina. Aku sekarang jomblo dan tidak terikat dengan siapapun. Lebih baik aku bersenang-senang ketimbang memikirkan sepasang bajingan itu!" ketus Dena sembari melangkah ke dapur membawa makanan yang tadi dibawa Gina.


"Prince Greyson Douglas. Namanya terdengar seperti nama seorang pangeran. Apa wajahnya juga setampan gambaran pangeran-pangeran yang selama ini muncul di drama Korea dan film Disney?" celetuk Dena tiba-tiba memikirkan perkataan sang manajer.


...***Bersambung***...