YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 72



Keesokan harinya


Dena terlihat sibuk mengemasi pakaian yang akan dibawa Meyer dinas keluar kota. Richardo merangkak kesana kemari menggapai apa yang menarik di matanya.


"Jangan tarik kabel itu, entar kamu kesetrum sayang..." ujar Dena mengancing resleting koper milik Meyer.


Ia langsung melangkah menghampiri putranya.


"Apa kamu tidak ngantuk? sedari tadi Mommy lihat kamu tidak mau tidur sama sekali." tukas Dena mengendong putranya.


"Sepertinya kamu tahu, kalau Papa akan berangkat sebentar lagi." timpal Dena mengelus kepala putranya. Ia sangat senang melihat Richardo tumbuh dengan baik.


Satu jam kemudian


Meyer tiba-tiba sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia tersenyum hangat menatap kekasih dan putranya.


"Sepertinya aku tidak rela meninggalkan kalian berdua. Bagaimana kalau kalian ikut aku dinas di luar kota." tawar Meyer mendekap tubuh ramping kekasihnya.


"Keberadaan kami bisa saja menganggu pekerjaan kamu. Lebih baik kamu pergi sendirian dan cepat kembali. Kami pasti menunggu kamu di rumah kita." ujar Dena membalas dekapan kekasihnya.


"Pa....Pa....." gumam Richardo merangkak kearah Dena dan Meyer. Anak itu melingkarkan tangannya di kaki Meyer.


"Pa....Pa...." panggil Richardo tersenyum lebar.


"Apa? coba ulangi?"


"Pa...." lirih Richardo tersenyum lebar.


Meyer mengigit gemas pipi cabi sang putra. Ia merasa tersentuh mendengar panggilan Papa dari mulut Richardo.


Meyer mengendong Richardo ke arah meja makan.


"Kamu di rumah bersama Mama, ya. Papa mau berangkat kerja keluar kota dulu." ujar Meyer sembari mendudukkan tubuh kecil Richardo di kursi mungil miliknya.


Tak beberapa lama, Dena keluar dari kamar dan menyeret koper milik Meyer.


"Sayang, aku sudah menyiapkan pakaian ganti untuk kamu. Semua keperluan kamu sudah ada di koper." seru Dena tersenyum hangat.


"Setelah aku pulang, mari kita menikah dan mendaftar pernikahan kita di kantor catatan sipil. Aku ingin segera meresmikan hubungan kita." ujar Meyer dengan wajah serius.


Dena terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Meyer. "Bagaimana dengan Kakek kamu? Bukankah hingga saat ini Kakek kamu masih menentang hubungan kita?" jawab Dena dengan mata berkaca-kaca.


"Aku sudah menyelidiki kejadian di masa lalu. Jangan cemas. Aku pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk keluarga kita."


"Dan jaga diri kalian baik-baik. Jangan keluar rumah tanpa sepengetahuan penjaga dan para pengawal." nasehat Meyer membelai pipi putih sang kekasih.


"Kami juga hati-hati disana. Jangan berani-berani selingkuh! Jika kamu ketahuan mendua, aku akan meninggalkan mu untuk selamanya!" ancam Dena dengan wajah serius.


"Aku hanya akan mencintai 3 orang wanita di hidupku. Ibuku, kamu dan calon putri kita." ujar Meyer tersenyum hangat tiba-tiba mengelus perut rata Dena.


Dena menatap bingung kearah tangan Meyer. "Aku tidak kunjung hamil setelah keguguran beberapa bulan yang lalu. Mengapa kamu bertingkat seperti aku sedang hamil saja?"


"Entahlah, aku merasa tanganku spontan bergerak mengelus perut rata kamu, Sayang. Ku harap seorang putri cantik segera tumbuh di dalam sana."balas Meyer tersenyum tipis.


"Tuan, sudah saatnya kita berangkat menuju bandara." ujar Arden berdiri di belakang Meyer.


"Pergilah. Cepatlah lah pulang." ujar Dena mengakhiri obrolan mereka.


"Tunggu saya di mobil. Saya mau berpamitan dengan kekasih dan putra saya." jawab Meyer menatap Arden sekilas.


Arden kemudian melangkah keluar dari kediaman Meyer. Setelah melihat kepergian Arden, Meyer dengan cepat mengecup bibir sang kekasih.


"Jatah selama aku tidak ada di rumah. Jaga diri kalian baik-baik. Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Meyer terlihat tidak rela meninggalkan Dena dan Richardo yang masih kecil.


"Aku tiba-tiba malas berangkat dinas keluar kota."


"Carilah uang sebanyak-banyaknya. Bukankah kamu juga butuh uang untuk makan."sindir Dena tersenyum tipis.


"Aku punya banyak uang. Aku juga pewaris tunggal perusahaan Lendsky. Dan sedari kecil aku tidak pernah kekurangan apapun. Jadi kenapa kamu harus takut tidak dikasih makan." jawab Meyer dengan bangga.


Raut wajah Dena tiba-tiba berubah mendengar perkataan Meyer. Mereka terlahir ditempat yang berbeda. Jadi wajar saja Meyer belum pernah merasakan bagaimana sulitnya mencari uang. Dena hanyalah anak haram yang tidak pernah merasakan kasih sayang dari kedua orang tua kandungnya.