
Olivia mengalihkan pandangannya menatap Rosyidah. Wanita itu terlihat sibuk merapikan kamar bermain Richardo. Olivia akhirnya bisa bernapas lega ketika melihat wanita itu sibuk dengan dunianya.
Saat melihat mobil Meyer masuk ke halaman mansion. Olivia mengendap-endap keluar dari mansion tersebut. Ia melihat para anak buah Meyer sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
Dengan penuh perjuangan, Olivia memanjat pagar beton di area yang sedikit gelap.
"Akhirnya aku bisa melewati pagar itu juga." gumam Olivia bernapas lega. Tak beberapa lama, sebuah mobil berhenti di samping Olivia. Olivia langsung masuk ke dalam mobil.
"Apa CCTV sekitar sudah dihapus?" tanya Olivia kepada si pengemudi.
"Sudah, Nona." jawab pengemudi itu melirik sekilas kearah kaca spion.
"Bagus." Olivia akhirnya bisa bernapas lega.
"Anda mau diantar kemana, Nona?" tanya supir itu.
"Ke kediamanku." jawab Olivia melirik sekilas kearah jalan.
Sejam kemudian, Olivia tiba di sebuah rumah mewah. Namun, rumah itu tidak terlalu besar.
Dena terlihat duduk di ruang tamu dalam keadaan cemas.
"Dena." panggil Olivia tersenyum tipis.
Dena menghela napas panjang melihat keberadaan Olivia.
"Aku pikir rencana kita ketahuan." cicit Dena menatap Olivia.
"Mereka tidak akan menemukan keberadaan mu untuk beberapa hari ke depan. Tapi, aku tidak tahu untuk selanjutnya." kata Olivia.
Olivia tidak bisa memastikan berapa lama Dena bisa menghilang dari kehidupan Meyer. Apa lagi Meyer bukalah orang biasa. Ia merupakan laki-laki yang memiliki power dan uang. Bisa saja ia dengan mudah memerintahkan semua anak buahnya mencari keberadaan Dena.
"Sebaiknya kita berangkat malam ini juga. Kita pergi ke bandara dalam waktu yang berbeda." tukas Dena dengan perasaan cemas. Ia benar-benar takut bertemu dengan Katherine. Karena Katherine bukanlah lawan yang bisa dihadapi oleh orang lemah seperti Dena.
"Kita tidak bisa berangkat malam ini juga. Kita sudah memesan tiket ke Indonesia untuk besok sore."
"Saya bisa membantu kalian berangkat ke Indonesia malam ini juga, Nona. Karena saya memiliki seorang kenalan yang juga akan berangkat malam ini ke Indonesia." sela pengemudi yang tadi menjemput Olivia.
"Radit! apa kau tidak takut keberadaan kami terdeteksi oleh anak buah Meyer ataupun Katherine!" kata Olivia tidak setuju dengan pendapat Radit.
Olivia terdiam beberapa saat mendengar perkataan Radit. Ia tiba-tiba tersenyum tipis memikirkan sebuah ide di kepalanya.
"Kau akan berangkat ke Indonesia menggunakan jet pribadi Papa dengan identitas ku. Dan aku akan menggunakan pesawat kelas ekonomi untuk kembali ke Indonesia."
"Apa itu tidak masalah?" tanya Dena sedikit tidak yakin dengan ide Olivia.
"Kita sudah melangkah terlalu jauh. Jadi, jangan berpikir terlalu sempit. Kau akan baik-baik saja. Aku akan meminta Radit menemanimu."kata Oliva.
Namun, Radit kurang setuju dengan ide Olivia. "Bagaimana dengan Anda, Nona. Saya ditugaskan Tuan besar menjadi pengawal Anda selama pergi dari rumah."
"Aku tidak akan kenapa-napa. Lagian aku sudah dewasa." balas Olivia.
"Baiklah, sebelum berangkat. Saya akan mengantar Anda terlebih dahulu ke bandara." kata Radit mengalah.
"Baiklah." jawab Olivia menarik tangan Dena menuju kamarnya.
Di Bandara
Olivia melangkah tergesa-gesa masuk ke gate keberangkatan. Tanpa sengaja ia menabrak seorang pria yang juga berniat masuk ke dalam gate keberangkatan.
"Apa kau punya mata!" ketus Olivia tanpa menatap lawan bicaranya. Ia sibuk mengambil beberapa barang miliknya yang terjatuh dilantai.
Sementara pria itu menatap pria lain yang ada di sampingnya dengan wajah bingung.
"Apa gadis ini buta! Jelas-jelas dia yang berjalan tanpa melihat sekitarnya."
"Udah, ayok. Urusan kita lebih penting dari pada meladeni perkataan wanita itu." sela pria yang ada disampingnya.
"Tapi, aku sedikit kesal dengan perkataan ketusnya." kata pria itu ingin memarahi Olivia. Namun, temannya langsung menghentikannya.
"Apa kau mau ketinggalan pesawat?" tanya temannya dengan wajah serius.
"Tidak. Baiklah. Aku tidak akan memperbesar masalah kecil itu." cicit pria itu melangkah masuk ke gate keberangkatan.
Mereka melanjutkan langkah mereka masuk ke dalam pesawat. Mereka duduk di kelas bisnis. Sementara Olivia duduk di kelas ekonomi.