
Meyer mendudukkan tubuh Dena di atas meja. "Padahal aku belum cuci muka." seru Dena bergumam pelan.
"Kamu tetap cantik kok sayang.... apa lagi semenjak kamu hamil. Kamu terlihat dua kali lipat lebih cantik." puji Meyer.
"Jika suatu hari nanti tubuhku berubah menjadi gemuk, apa kamu masih tetap mencintaiku?" tanya Dena menatap kosong kearah lantai.
"Hey, lihat aku.... aku mencintaimu karena kamu! Bukan karena bentuk tubuhmu." ujar Meyer mengelus pipi kekasihnya.
"Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak. Aku mencintaimu apa adanya. Aku mencintaimu bukan karena kamu seorang model atau memiliki tubuh yang bagus. Aku mencintaimu karena kamu adalah Denada Wilims. Wanita pertama yang mampu menggetarkan hati seorang Meyer Lendsky." terang Meyer.
"Aku akan membuat pie daging sapi permintaan kamu." sambung Meyer tersenyum hangat.
Sejam lebih Meyer bergelut di dapur membuat menu makan malam untuk mereka. Meyer tidak merasa keberatan memenuhi ngidam kekasihnya. Ia malahan sangat senang, jika kekasihnya mengandalkannya di masa-masa kehamilannya.
Meyer tidak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaannya, saat membayangkan bagaimana rasanya memiliki bayi kecil di dalam hidupnya. Beberapa bulan ke depan Ia akan memiliki seorang anak dan menjadi seorang ayah untuk pertama kalinya. Ia sama sekali tidak peduli dengan jenis kelamin bayi mereka nanti. Yang penting bayi mereka lahir dengan selamat dan kekasihnya juga sehat-sehat setelah melahirkan.
Meyer meletakkan sepiring pie daging di atas meja. Tidak lupa beberapa potong buah segar dan segelas susu ibu hamil. Sementara untuk dirinya, Meyer hanya membuat makaroni panggang dengan topping keju mozzarella.
"Sayang.... makanlah. Jangan sampai bayi kita kelaparan." seru Meyer mengangkat tubuh kekasihnya dari atas meja.
Meyer mendudukkan bokongnya di kursi miliknya setelah Olivia duduk dengan nyaman di atas kursi.
Tiba-tiba Olivia berlari ke arah wastafel cuci piring ketika mencium aroma makaroni dari piring Meyer.
Hoek Hoek Hoek
"Sayang.... kamu kenapa jadi muntah-muntah begini?" ujar Meyer melangkah mendekati kekasihnya. Meyer memijit tengkuk Olivia agar rasa mualnya sedikit berkurang.
"Aku tidak apa-apa." sahut Dena mencuci wajahnya agar terlihat lebih segar.
"Kenapa wajah kamu berubah pucat begini? apa kita ke rumah sakit aja, untuk memastikan keadaan kamu?" tanya Meyer menatap raut wajah kekasihnya dengan teliti. Ia takut Dena dan bayi mereka kenapa-napa.
"Aku tidak apa-apa." kata Dena memenangkan Meyer.
"Aroma apa? apa pie dagingnya?" tanya Meyer memastikan ucapan kekasihnya.
"Bukan.... bukan aroma pie. Aku tidak suka mencium aroma makaroni yang kamu makan." ucap Dena takut-takut. Ia takut perkataannya menyinggung perasaan kekasihnya.
"Baiklah. Aku makan sebentar lagi saja. Lebih baik kamu duduk kembali. Dan habiskan pie daging sapi yang ada di atas meja." ujar Meyer merangkul bahu kekasihnya.
Meyer lalu menutup makaroni miliknya dengan kertas aluminium. Sebentarnya Ia sangat lapar, namun Ia masih bisa menahannya sampai kekasihnya selesai makan.
"Makanlah.... aku tidak apa-apa. Yang penting kamu dan bayi kita bisa kenyang. Lagian aku juga belum terlalu lapar." ujar Meyer sedikit berbohong.
"Apa kamu mau aku suap?" tanya Meyer menatap wajah pucat kekasihnya.
"Hem.... bolehkah?" tanya Dena menatap Meyer.
"Anything for you honey." seru Meyer mengarahkan pie daging ke mulut kekasihnya.
"Aaa...."
Dean tersenyum senang melihat pie daging yang ada di tangan Meyer. Ia langsung membuka mulutnya menerima suapan dari kekasihnya. Meyer sangat bahagia merasakan bagaimana manjanya kekasihnya saat sedang hamil muda.
"Apa enak?" tanya Meyer tersenyum hangat.
Dena menghentikan kunyahan-nya, lalu berkata. "Hem..... ini enak 10/10...." seru Dena tersenyum tipis memberikan penilaian untuk masakan kekasihnya.
"Jangan memendam apapun yang ingin kamu makan. Aku pasti akan memenuhi keinginan ngidam kamu." ujar Meyer.
Dena menganggukkan kepalanya mendengar ucapan kekasihnya. Ia merasa Meyer benar-benar mencintainya dan bayinya. Dena yakin seiring berjalannya waktu, Kakek Meyer akan merestui hubungan mereka.
...***Bersambung***...