
Kedatangan Meyer membuyarkan lamunan Dena.
"Sayang... kenapa kamu melamun disini? apa ada masalah? atau ada hal yang menganggu pikiran kamu?" tanya Meyer mengelus kepala Denada.
"Eh.....tidak, aku tidak memikirkan apapun."sahut Dena tersenyum tipis.
"Mandilah, terlebih dahulu. Aku mau menyiapkan makan malam untuk kita. Selagi Richardo masih tertidur pulas."
Dena langsung keluar dari kamar mandi melewati Meyer.
Meyer tetap berpikir positif mendengar perkataan kekasihnya. Ia langsung masuk ke dalam bathtub dan merilekskan tubuhnya. Pekerjaan menumpuk di kantor dan di markas tentu saja menguras energinya.
Dena terlihat masih bergelut dengan bahan-bahan makanan di dapur. Setelah Meyer selesai mandi.
"Sayang.... apa kamu membutuhkan bantuan?" tanya Meyer melangkah mendekati kekasihnya.
"Tidak usah. Aku tinggal membuat saus tiram untuk seafood di atas meja." sahut Dena tahap membalikkan tubuhnya.
Tak beberapa lama, Dena selesai membuat saus tiram untuk seafood kukus. Dena mengukus udang, kerang, dan kepiting. Lalu menyiram saus tiram di atasnya. Karena Dena lebih suka makan jenis seafood, ketimbang daging sapi.
"Sudah selesai. Ayo makan, sebelum Richardo bangun." ujar Dena meletakkan piring kosong di depan Meyer.
"Sayang.... apa aku juga harus makan nasi?" tanya Meyer menatap nasi merah di depannya.
"Iya, nasi merah tidak akan membuat tubuhmu berubah gendut. Jadi, tidak usah takut, karena perut roti sobek itu tidak akan berubah menjadi labu kuning." celetuk Dena bercanda.
Meyer tersenyum kecil mendengar celetukan Dena, wanitanya langsung paham maksud pertanyaannya.
Meyer langsung makan dengan lahap, melihat seafood masakan Denada. Masakan Denada memang khas rasa masakan Indonesia. Meskipun Denada sedari kecil tinggal di Kolombia. Namun entah mengapa rasa makanan itu akan terasa pas, jika di padukan dengan bumbu-bumbu masakan asli Indonesia. Dena juga tadi membuat seafood saos Padang, saus tiram dan lada hitam.
"Sayang.... ini enak." puji Meyer menyuapkan daging kepiting ke dalam mulutnya.
"Kalau enak habiskan." ujar Dena tersenyum tipis.
"Takut kolesterol." sahut Meyer cengengesan.
Obrolan mereka tiba-tiba terhenti ketika mendengar bunyi bel dari luar rumah.
Dahi mereka tiba-tiba berkerut, karena tidak biasanya ada tamu datang malam-malam ke kediaman mereka.
"Biar aku yang membukanya sayang. Lebih baik kamu lanjut makan." saran Meyer menyudahi makan malamnya. Lagian perutnya sudah terasa sesak, karena kekenyangan.
Dena melanjutkan makannya, setelah kepergian Meyer.
Sementara Meyer terkejut melihat asistennya berdiri di depan kediamannya.
"Mengapa kau malam-malam datang ke sini? sementara kau masih memiliki ponsel menghubungi ku." tanya Meyer menatap asistennya.
"Tuan....dari tadi saya menghubungi nomor Anda. Tapi, tak kunjung Anda angkat. Karena ada keadaan urgent, jadi saya langsung datang kesini."seru Gerry menatap Meyer.
"Ada hal urgent apa?"
Meyer tiba-tiba penasaran dengan perkataan Gerry, karena tidak biasanya pria itu bertingkat seperti itu.
"Tuan besar tiba-tiba dilarikan ke rumah sakit."
"Apa! kenapa baru mengabari ku!" marah Meyer langsung berlari ke dalam rumah.
"Sayang.... sepertinya aku harus keluar. Aku memiliki urusan penting." ujar Meyer seperti orang yang sedang tergesa-gesa.
Dena langsung mengalihkan pandangannya menatap kekasihnya.
"Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Dena menghampiri Meyer.
"Kakek dilarikan ke rumah sakit. Tolong jangan kemana-mana. Apapun yang terjadi tetap tinggal di rumah. Aku akan mengirim beberapa anak buahku menjaga kalian." seru Meyer dengan tegas menatap kedua bola mata kekasihnya.
"Apa Kakek baik-baik saja?" tanya Dena ikut khawatir dengan keadaan kakek Meyer.
"Aku yang akan menemani kakek di rumah sakit. Kamu tidak usah khawatir."kata Meyer menenangkan Dena.
"Aku pergi dulu. Jangan buka pintu, kalau ada yang datang." ulang Meyer sebelum pergi meninggalkan Dena di rumah bersama putra mereka.
"Apa Katherine melukai orang-orang yang Meyer sayangi?" gumam Dena membersihkan piring kotor di dapur.
Beberapa hari lalu Dena mendapatkan SMS dari nomor yang tidak dikenal. Nomor itu mengirim pesan pengancaman kepadanya agar Dena segera menjauhi Meyer. Dena menghiraukan pesan teror itu, karena Dena yakin, pesan itu hanya candaan semata.
...***Bersambung***...