YOUR LOVE HURTS ME

YOUR LOVE HURTS ME
Bab 64



Meyer tiba di lokasi GPS keberadaan mobil yang dikendarai Arden. Ia melihat mobil kap belakang mobil sudah penyok dan membekas beberapa kali tembakan di kaca belakang.


Meyer langsung turun dari mobil memeriksa keadaan Dena. Meyer dengan cepat membuka pintu kursi penumpang.


"Sayang...." panggil Meyer menyentuh bahu Dena. Ia melihat tubuh kurus Dena masih gemetaran.


Meyer langsung masuk ke dalam mobil dan mendekap tubuh bergetar Dena.


"Maaf.... karena aku datang terlambat." bisik Meyer mengecup kepala kekasihnya. Meyer menyesal tidak memaksa Dena agar Ia ikut bersamanya. Andaikan Meyer ikut mengantar Dena menuju panti asuhan, pembunuh bayaran itu tidak akan berani menggertak kekasihnya.


"Meyer...."gumam Dena dengan lirih.


"Aku disini. Tidak usah takut lagi. Mereka tidak akan berani menyakitimu." kata Meyer menenangkan Dena.


"Apa kamu masih mau melanjutkan perjalanan kamu menuju panti?"


Meyer mengelus lembut punggung kurus kekasihnya. Dena menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Meyer. Meyer bisa merasakan anggukan dari Dena.


"Aku akan mengantar kamu kesana. Aku tidak menerima penolakan!"tawar Meyer tidak mau dibantah.


Dena tidak mengiyakan ataupun menolak tawaran Meyer.


"Tapi--"


"Tapi, aku tidak bisa keluar dari dalam mobil. Aku merasa perutku sedikit keram." ucap Dena dengan mata berkaca-kaca.


"Den, kau kembali saja ke markas. Aku yang akan mengantar Dena ke panti asuhan."kata Meyer menatap anak buahnya.


"Baik, Tuan."seru Arden menoleh ke belakang.


Meyer langsung mengendong kekasihnya ala bridal style keluar dari mobil. Sementara Arden masih menunggu mobil yang ditumpangi Meyer dan Dena berlalu dari sana.


Meyer mendudukkan Dena di kursi samping pengemudi. Tak lupa, Meyer memasang sabuk pengaman di tubuh Dena.


"Apa kamu merasa nyaman duduk seperti ini?" tanya Meyer menatap kekasihnya.


"Hem.... aku merasa lebih baik, duduk dengan posisi seperti ini." seru Dena menyandarkan tubuhnya kebelakang. Meyer menurunkan sedikit sandaran kursinya, agar Dena lebih nyaman tidur, bila ngantuk tengah perjalanan.


Meyer menghidupkan mobilnya, dan berlalu dari sana.


Tin


Tin


Suara klakson mobil menandakan Meyer berpamitan kepada anak buahnya. Arden melanjutkan perjalannya menuju markas setelah kepergian Meyer dan Dena.


#


#


Mereka tiba di depan gerbang panti asuhan Glora Kasih. Meyer mengalihkan pandangan ke kuris disebelahnya. Ternyata Dena masih tidur lelap.


Tin


Tin


Meyer membunyikan klakson mobil dua kali.


Tak beberapa seorang wanita paruh baya membuka gerbang panti asuhan. Wanita itu tertegun melihat Meyer datang ke panti asuhan itu.


Meyer memarkirkan mobilnya di depan panti asuhan. Ia terdiam sebentar, sebelum membangunkan kekasihnya.


"Sayang.... bangun, yuk. Kita sudah sampai." kata Meyer membangunkan kekasihnya.


Mata Dena langsung terbuka lebar mendengar perkataan Meyer. Dena langsung menegakkan tubuhnya menatap keluar jendela. Benar saja, ternyata mereka sudah tiba di depan panti asuhan.


Senyum Dena tiba-tiba mekar seperti bunga mawar putih yang indah. Dena langsung turun dari mobil, menghiraukan rasa ngilu sekaligus keram di perutnya.


"Aduh.... apa dia lupa dengan kondisi perutnya tadi." gumam Meyer menurunkan barang-barang milik Dena. Meyer memutuskan menginap beberapa hari di panti asuhan bersama Dena. Ia takut meninggalkan Dena sendiri disana. Apa lagi anak-anak di panti asuhan masih pada kecil-kecil.


"Ibu...." panggil Dena mendekap tubuh kurus Rosalie.


"Denada...." seru Rosalie membalas dekapan Dena. Beberapa tahun ini, Rosalie hanya bisa melihat wajah Denada dari layar kaca. Ia mendengar beberapa skandal dan masalah percintaan Dena.


"Sayang.... apa kamu datang dengan pria itu?" tanya Rosalie mengurangi dekapannya.


"Ibu, benar. Aku datang bersama Meyer. Tadi mobil yang ditumpangi Dena diikuti oleh pembunuhan bayaran. Untung Meyer datang dan menawarkan diri mengantar Dena ke sini." kata Dena dengan tenang membuat Rosalie menjadi cemas.


"Kamu tidak apa-apa, kan? mereka tidak melukai kamu, kan?" tanya Rosalie memeriksa kondisi tubuh Denada.


Denada tersenyum lebar melihat raut khawatir di wajah Rosalie.


"Tenanglah, Bu. Dena tidak apa-apa. Mereka hanya menggertak saja." ujar Dena tersenyum hangat.


"Apa ibu sudah makan? bagaimana dengan anak-anak? aku sangat merindukanmu mereka." celetuk Dena menganti topik pembicaraan mereka.


...***Bersambung***...