
Tak beberapa lama Meyer tiba di perusahaan. Ia melangkah cepat menuju ruangan kekasihnya. Ia terkejut sekaligus khawatir melihat darah segar mengalir dari paha kekasihnya. Darah segar juga ada yang sudah menetes di atas lantai.
"Sayang.... bertahan lah. Aku akan membawa kamu ke rumah sakit." ujar Meyer mengangkat tubuh kekasihnya. Ia merasa jantungnya berhenti berdetak melihat wajah Dena berubah menjadi pucat.
"Meyer.... bayi kita.... selamatkan bayi kita...."pinta Dena meneteskan air mata. Ia merasa sakit dan panas di perut.
"Sayang.... tenanglah.... kalian pasti baik-baik saja." seru Meyer menenangkan kekasihnya.
Olivia mengikuti langkah mereka dari belakang. Ia juga ikut khawatir dengan keadaan Dena.
#
#
Setibanya di rumah sakit, Dena langsung dimasukkan ke ruangan UGD. Karena wajah kekasihnya itu benar-benar sudah pucat.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Meyer menatap tajam Olivia.
"Aku tidak tahu! setibanya aku di depan ruangan Dena, aku melihat Katherine baru saja keluar dari ruangan Dena. Aku langsung bergegas masuk ke dalam ruangan Dena untuk memastikan keadaannya. Karena aku tahu, setiap kali Katherine bertemu dengan Dena, wanita itu akan menyakitinya." ungkap Olivia dengan jujur.
"Katherine.... awas saja kau!" maki Meyer menahan amarahnya.
Tak beberapa lama seorang dokter keluar dari ruangan UGD. Ia menatap Meyer dengan wajah serius.
"Tuan, kami tidak lagi merasakan detak jantung bayi yang ada di dalam kandungan istri Anda. Jadi, kami memutuskan untuk mengoperasikannya dan mengeluarkan bayi kalian dari rahim istri Anda." ucap dokter itu takut-takut.
Tubuh Meyer tiba-tiba menegang mendengar perkataan dokter itu. Ia merasa dunianya hancur seketika. Setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Harapannya memiliki bayi di usia 28 tahun sirna seketika.
"Dan... dan kami juga membutuhkan tambahan golongan darah AB selama operasi untuk berjaga-jaga." tambah dokter itu.
"Aku akan mendonorkan darahku untuknya. Kalau kau mau menikah denganku besok pagi." seru Katherine tersenyum menyeringai.
Meyer langsung membalikkan tubuhnya mendengar suara Katherine. Bukankah wanita itu terlihat seperti iblis dan manusia yang tidak punya hati nurani. Wanita itu selalu berusaha mencari cela untuk mendapatkan raganya.
"Aku--"
"Kau tidak usah takut! aku yang akan menyelamatkan Dena! dan mendonorkan darahku untuknya! jangan dengarkan perkataan wanita iblis ini. Aku yakin wanita iblis ini yang sudah menyakiti Dena hingga bayi kalian tidak bisa di selamatkan." tuduh Olivia menghentikan ucapan Meyer. Ia yakin dan sangat yakin, kalau Katherine yang telah menyakiti Dena.
"Gelas jus masih ada di ruangan Dena. Aku yakin Katherine yang memberikan jus itu kepada Dena. Wanita iblis ini berencana membunuh bayi yang ada di kandungan Dena. Kau benar-benar keterlaluan. Aku akan membuatmu menyesal Katherine!" timpal Olivia sebelum masuk ke dalam ruangan operasi. Ia benar-benar tidak menyangka Katherine akan menghancurkan hubungan Dena dan Meyer melalui janin yang ada di kandungan sahabatnya.
"Apa benar kau yang menyakiti kekasihku?" tanya Meyer menatap tajam Katherine. Rasa amarah di hatinya sudah sampai ke ubun-ubun.
"Apa benar kau yang menyakiti kekasihku!!" bentak Meyer meninggikan suaranya.
"Tuan.... ini di rumah sakit! tolong jangan ribut." seru seorang suster yang kebetulan mendengar suara bentak kan Meyer.
"Aku akan menghabisi mu kalau sampai kekasihku kenapa-napa." bisik Meyer penuh ancaman.
Wajah Katherine tiba-tiba berubah menjadi pucat mendengar ancaman Meyer. Ia tahu ancaman pria itu tidak main-main.
"Meyer.... aku--"
"Shut up! aku tidak butuh penjelasan apapun dari mulutmu! tutup mulutmu dan pergi menjauh dari hidupku!" sela Meyer meninggalkan Katherine di depan ruangan UGD.
"Sial! lagi-lagi gue yang di salahkan!" kesal Katherine keluar dari rumah sakit.
...***Bersambung***...