
"Denada Wilims...." sahut Dena menerima uluran tangan Calista.
"Kemaren aku mendengar pemberitaan media massa. Ternyata kau merupakan kekasih tersembunyi Tuan Greyson." ucap Calista Matthew terkagum-kagum melihat kecantikan Denada.
Denada tentu saja terkejut mendengar perkataan Calista. Ia meneliti penampilan modis wanita di depannya. Dena terheran-heran mendengar perkataan kekasih tersembunyi yang keluar dari mulut gadis itu.
"Sebenarnya aku sedikit mengenal Tuan Greyson, karena pria itu merupakan ketua klan king tempat calon suamiku bekerja!" jawab Calista melihat ekspresi heran Denada.
"Apa pemberitaan di media itu hiperbola? mereka terlalu melebih-lebihkan kedekatan kalian berdua?" sambung Calista sedikit berbisik sembari melirik ke kanan dan ke kiri.
"Nona mungkin Anda salah paham!" elak Denada mengaruk kepalanya tidak gatal.
"Salah paham bagaimana? aku belum pernah melihat Tuan Greyson, mengajak seorang wanita makan malam bersamanya. Apalagi itu di tempat umum. Dan baru kamu, satu-satunya wanita yang beliau ajak makan malam diluar. Walaupun sang asisten ikut serta bersama kalian." timpal Calista penuh keyakinan.
Dena terdiam lama mendengar perkataan beruntun Calista. Sesungguhnya di dalam hati Dena, Ia cukup risih melihat tingkah sok kenal sok dekat Calista. Ia benar-benar tidak terbiasa sok kenal dan sok dekat dengan orang lain.
Calista lalu melirik sekilas ke jam di pergelangan tangannya. "Ah.... terlalu asik mengobrol dengan mu, membuatku sampai melupakan rapat penting ku...." celetuknya menepuk jidatnya.
"Ah.... ini nomor telepon ku, mana tahu kamu tiba-tiba tertarik berkencan dengan Tuan Greyson. Kau bisa menanyakan informasi pribadi yang berkaitan dengannya. Karena ada beberapa informasi penting yang tidak bisa kau temukan di media." sambung Calista mencatat nomor ponselnya.
"Bye Denada.... senang bertemu denganmu!" teriak Calista mempercepat langkahnya masuk ke dalam gedung hotel.
Dena menatap lama kertas kecil yang ada di telapak tangannya. Ia lalu memasukkan kertas itu ke dalam tasnya.
"Bukankah wanita itu tadi berkata nama terakhirnya Matthew? apa wanita itu masih punya ikatan dengan Katherine?" monolog Denada dalam hati memikirkan dugaannya.
"Kalau dugaanku benar. Aku harus berhati-hati dengan wanita itu." sambung Dena dalam hati.
Sementara Gina hanya bisa menjadi pendengar dalam perbincangan Dena dan Calista.
"Dena ayok!!" ucap Gina membuyarkan pikiran Dena.
Mereka lalu melangkah menuju parkiran mobil. Setibanya disana, Dena dan Gina langsung duduk di kursi penumpang.
"Apa kamu mau singgah di tempat tertentu?" tanya Gina memiringkan tubuhnya supaya lebih leluasa mengobrol berhadapan dengan Dena.
"Tidak, kita langsung pulang saja." sahut Denada tersenyum tipis. Dena lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela mobil menatap jalan raya.
"Langsung ke bandara ya pak." ucap Gina bersandar di kursi penumpang.
#
#
Meyer sedari dua jam lalu sudah standby di apartemen Dena. Pria itu menanti kepulangan kekasihnya dengan menyiapkan beberapa menu makan malam romantis. Ia juga menghias meja makan dengan beberapa lilin aroma terapi.
Meyer melirik sekilas jarum jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Mengapa Dena lama sekali pulang!" dengus Meyer sedikit resah dengan keterlambatan Dena.
Sejam kemudian terdengar suara pintu apartemen dibuka dari luar. Kedua mata Meyer langsung terbuka lebar mendengar suara pintu. Ia mengerjapkan matanya berulangkali, memastikan penglihatannya. Sebenarnya Meyer sangat lelah setelah seharian bekerja. Apa lagi hubungannya dengan Dena sedang berada di ujung tanduk. Minum alkohol adalah salah satu jalan pintas untuk melupakan semuanya. Dan itu lah yang dilakukan pria berusia 28 tahun tersebut.
"Mengapa baru pulang jam segini?" tanya Meyer melangkah mendekati Denada.
Dena mengacuhkan pertanyaan Meyer, karena Dena masih belum bisa melupakan kejadian sebelumnya.
"Mengapa kau mengacuhkan ku? aku hanya bertanya!" tanya Meyer meninggikan sedikit suaranya.
"Aku sedang tidak ingin bertengkar.... pulanglah...." pinta Dena masuk ke dalam kamarnya.
Sementara Meyer cukup geram dengan sikap acuh sang kekasih. Karena tidak bisanya Dena bersikap seperti itu. Meyer dengan cepat mengikuti langkah Dena masuk ke dalam kamar.
Mengingat berita gosip tadi pagi membuat darahnya tiba-tiba mendidih kembali. Ditambah sikap acuh Dena, semakin memupuk emosi Meyer.
"Apa sebegitu melelahkannya dinner malam bersama pria lain?" sindir Meyer menatap tajam wajah lelah Dena.
Meyer tahu, kalau Dena lelah mengudara dari Italia ke Kolombia selama berjam-jam. Tapi rasa kesal dihatinya, atas berita gosip yang sudah dibumbui dengan bumbu-bumbu penyedap rasa. Membuat hati dan pikiran pria itu dibutakan oleh rasa amarahnya.
"Pergilah. Bukankah kau sudah memutuskan ku? jadi sekarang, kau tidak memiliki hak apapun lagi atas diriku." imbuh Denada meletakkan kopernya di dekap lemari.
"Memutuskan mu? sejak kapan aku memutuskan hubungan kita? aku tidak pernah memutuskan mu." jelas Meyer
"Apa ini hanya sebuah terik, agar kau bisa bebas menjalani kasih dengan pria itu?"
"Apa kau sudah tidur dengan pria itu!!" tuduh Meyer emosi.
...***Bersambung***...